Pendekar Pedang Harimau Surgawi

Pendekar Pedang Harimau Surgawi
Bertepuk Sebelah Tangan


__ADS_3

Hao Zhao baru keluar dari area arena ketika malam menjelang dan suasana di sana sudah cukup sepi, orang-orang memang telah meninggalkan tempat turnamen digelar sedari lama termasuk Yang Gao membuat seolah hanya tinggal Hao Zhao seorang saja di sana.


“Suasana malam kota Dahan Gugur memang tidak pernah mengecewakan aku," gumam Hao Zhao ketika tengah menyusuri jalanan kota di malam hari itu.


Masih cukup ramai memang mereka yang beraktifitas meski malam telah menjelang, belum lagi karena menyebarnya nama Hao Zhao akhir-akhir ini seolah menarik semakin banyak orang luar untuk datang ke sana guna memenuhi rasa penasaran mereka.


“Besok adalah hari puncaknya dari turnamen yang kota ini gelar, tidak aneh juga kalau pengunjung yang datang menjadi semakin banyak hingga malam hari saja bisa seramai ini," ucap Hao Zhao pelan seraya memperhatikan setiap apa yang di tangkap matanya.


Awalnya Hao Zhao melakukan itu sebagai bentuk pelepas penatnya karena entah mengapa seolah tidak pernah bosan dirinya melihat kedamaian semu di matanya, sampai mata Hao Zhao menangkap dua orang yang dikenalinya barulah dirinya sepenuhnya teralih pada mereka.


Keduanya sendiri tengah menyusuri jalanan kecil cukup sepi jika di bandingkan dengan jalan utama kota tersebut, di mana dapat Hao Zhao dengar juga terkait keduanya yang tengah melakukan pembicaraan di tengah setiap langkah mereka.


Keduanya sendiri tidak lain merupakan Li Kao juga Meng Dali. Di mana Hao Zhao merasa sedikit tertarik sebab meski sudah mengetahui kalau keduanya saling mengenal, tetapi tidak menyangka ternyata keduanya sedekat itu hingga bisa menghabiskan waktu bersama di tengah senggangnya mereka.


Hao Zhao sendiri awalnya hanya ingin mencari tau apakah Meng Dali juga mengetahui terkait rencana Li Kao yang ingin menghabisi Jian San, sebab bagaimanapun keluarga Meng juga secara tidak langsung ada kaitannya dengan hal ini.


“Kegelisahan Meng Kiao pagi tadi karena menghilangnya dua Anggota Topeng Besi bisa jadi hanya kepura-puraan Meng Kiao saja agar mereka tidak terseret, sehingga tidak menutup kemungkinan kalau ternyata dirinya mengetahui segalanya tentang aku yang menjadi target dua anggota Topeng Besi. Belum lagi melihat Li Kao dan Meng Dali yang sedekat ini ..." Hao Zhao bergumam pelan mencoba menerka.


Hao Zhao memang bukan orang yang akan puas hanya dengan sesuatu tidak pasti, di mana dirinya baru akan bisa benar-benar tenang setelah mengetahui semuanya secara jelas untuk memastikan langkah tanpa hambatan kedepannya.


“Jika memang keluarga Meng telah mengetahui kalau akulah orang yang tengah di jadikan incaran oleh anggota Topeng Besi sebelum hilangnya mereka, maka aku tidak keberatan menghapus keluarga Meng juga," ucap Hao Zhao tanpa sedikitpun perubahan di ekspresinya.


Hao Zhao sendiri setelahnya hanya memfokuskan pendengarannya untuk mendengar pembicaraan di antara keduanya, di mana semakin lama Hao Zhao mendengarkan entah mengapa dirinya menjadi semakin tidak nyaman.


Memang apa yang Hao Zhao dengar bukanlah sesuatu terkait hubungan keluarga Meng dengan Tang Pei juga sekte Tanda Pedang tempat Li Kao berasal, melainkan sesuatu yang lain yang bisa di katakan cukup pribadi terkait mereka.

__ADS_1


Keluarga Meng sebelum datangnya ke kota Dahan Gugur ternyata membawahi kota lain yang kebetulan ada di dekat sekte Tanda Pedang, di mana sebab inilah bagaimana Meng Dali juga Li Kao bisa dekat karena sudah sedari kecil mereka saling mengenal.


Sampai keluarga Meng dipindahkan untuk mengurus kota Dahan Gugur, barulah mereka kembali bertemu yang sebenarnya tidak berapa lama semenjak mereka berpisah tetapi ucapan Li Kao yang Hao Zhao dengar seolah sudah ratusan tahun saja. Itulah setidaknya apa yang Hao Zhao berhasil tangkap dari pembicaraan keduanya.


“Tidak, apa yang terjadi di antara mereka bukanlah sesuatu yang penting untukku," ucap Hao Zhao yang setelahnya ingin mengambil langkah untuk pergi dari sana.


Hao Zhao baru ingin mengambil langkah untuk berhenti mendengarkan pembicaraan tidak penting keduanya, tetapi Hao Zhao urungkan hal tersebut karena ucapan Li Kao yang begitu tiba-tiba.


“Apa? Kenapa dirimu menolak aku Saudari Dali? Bukankah dirimu selama ini juga menyukai aku?" ucap Li Kao menatap Meng Dali penuh rasa tidak percaya.


Meng Dali hanya terdiam tidak mengatakan hal apapun, di mana wajahnya terus tertunduk seolah menolak menatap balik Li Kao.


“Saudari Dali, katakan padaku apa alasanmu menolak aku?!" Li Kao yang mulai meninggikan suaranya, di mana kedua tangannya juga sudah mencengkram kencang bahu Meng Dali untuk memaksanya berbicara.


Meng Dali sempat terkejut, eskpresi wajahnya juga telah berubah sebab menahan sakit cengkraman di bahunya.


Meng Dali mendengar teriakan Li Kao segera terperanjat, di mana seperti tidak menyangka dirinya kalau ternyata Li Kao punya sisi seburuk itu di dalam dirinya.


“Saudara Kao hentikan, ini menyakitiku," ucap Meng Dali pelan, nampak mencoba memberi pengertian pada Li Kao jika apa yang dilakukannya sudah keterlaluan.


Li Kao sama sekali tidak memedulikan ucapan Meng Dali malah semakin mempererat cengkraman tangannya, di mana bersamaan dengan itu sorot matanya juga berubah bengis nampak terkandung sekian banyak amarah.


“Apa ini karena pemuda dari Lentera Harta itu? Kau menyukainya bukan?" Li Kao dengan nada suara menahan geram.


Meng Dali sempat ragu menjawabnya, di mana hal ini di tangkap Li Kao sebagai tanda pembenaran dari pertanyaannya.

__ADS_1


“Sialan, kau sudah keterlaluan!!! Kau menolak aku yang sudah sedari kecil terus bersamamu untuk bersama bajingan itu?!!" Li Kao seraya menghempas tubuh Meng Dali membuatnya terjatuh cukup parah.


Meng Dali hanya bisa menahan rasa sakit akibat luka di kakinya sebab terjatuh, di mana segera menatap Li Kao dalam diam dirinya tidak merasa mengenal Li Kao yang seperti ini.


Li Kao yang dianggapnya sebagai teman baik yang hampir selalu ada kini tengah melangkah ke arahnya dengan tatapan mata bengis, di mana hal ini tentu membuat Meng Dali takut.


“T— tidak, tolong jangan mendekat ..." Meng Dali terbata-bata.


“Jangan mendekat? Hahaha, kau harus aku buat menderita dasar Sialan. Beraninya kau menghiraukan rasa sukaku hanya karena bajingan tidak jelas i—"


Brukkk!!!


Li Kao belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika tiba-tiba terjatuh, di mana sorot mata Meng Dali segera melebar mengetahui siapa orang yang membuat Li Kao menjadi seperti itu.


Hao Zhao dengan wajah tanpa ekspresi memang tengah ada di belakang Li Kao sesaat pemuda itu hilang kesadaran, di mana salah satu tangannya bahkan masih terkepal sebab apa yang baru dilakukannya.


“Apa ini yang dinamakan cinta bertepuk sebelah tangan? Betapa menyedihkan, tetapi di samping itu bisakah kau berhenti menyebutku bajingan? Orang lain bisa salah paham sebab sebutan itu," ucap Hao Zhao seolah tidak peduli walau Li Kao tidak bisa mendengarnya.


Hao Zhao sendiri setelahnya segera menoleh pada Meng Dali yang tengah menatapnya dalam penuh arti, di mana hanya bisa menggeleng pelan saja dirinya sebab kebodohan gadis itu.


“Kau seorang pendekar Pemurnian sementara dirinya hanya pendekar Pelatihan Tubuh, kenapa tidak kau manfaatkan saja kekuatanmu untuk menghajarnya saat dirinya berani kurang ajar padamu?" Hao Zhao yang bersamaan dengan pertanyaan tersebut mengambil langkah untuk pergi dari sana, tidak sama sekali tertarik mendengar jawaban dari pertanyaannya.


Meng Dali hanya bisa terdiam saja melihat Hao Zhao yang semakin menjauh, mengerti juga bisa dirinya lakukan hal tersebut bahkan walau Hao Zhao tidak mengatakannya.


Meski begitu hal tersebut tidak kuasa Meng Dali lakukan sebab rasa bersalah menolak pernyataan cinta Li Kao, belum lagi jika mengingat sudah sedekat apa pertemanan mereka selama ini yang membuat Meng Dali semakin tidak tega.

__ADS_1


“Maaf, Tuan Muda Zhao. Aku jadi merepotkan mu sebab rasa bersalah bodoh ini," gumam Meng Dali pelan jelas tidak berani membayangkan, akan berani bertindak sejauh apa Li Kao jika Hao Zhao tidak menghentikannya.


__ADS_2