
Hao Zhao pada akhirnya memilih untuk mengajak pria entah siapa itu yang mengaku mengenalnya, di mana restoran di sekitar pusat kota dekat sana lah tempat tujuan Hao Zhao mengajaknya.
Setelah memesan beberapa hidangan makanan untuk membuat perasaan pria itu menjadi lebih baik, akhirnya Hao Zhao tanyakan siapa pria itu sebenarnya hingga bisa terlihat amat kecewa setelah mengetahui dirinya tidak mengenalnya.
“Sebelum itu, biar aku ucapkan rasa terimakasih ku padamu Tuan Muda. Hehe, sebab tidak biasanya ada seseorang sebaik Anda hingga bersedia mentraktirku seperti ini, " ucap pria itu dengan senyum senang.
Hao Zhao hanya mengangguk mendengar ucapannya, sebelum berkata, “Tidak perlu memikirkan itu, aku melakukan ini sebab takut kau merupakan orang yang penting untukku tetapi tidak aku ingat. Sekarang bisa kau katakan siapa dirimu? Agar aku bisa mengambil sikap terkait kehadiranmu yang cukup mengganggu waktu luangku."
Pria di hadapan Hao Zhao mendengar itu dengan segera menelan ludah, melihat betapa dingin Hao Zhao ketika mengatakan itu semua tanda kata-katanya merupakan keseriusan.
“Oh ... haha, aku memang orang yang cukup penting untukmu Tuan Muda. Jadi tidak perlu untukmu memikirkan hal tersebut," ucap pria itu dengan keringat dingin yang mulai mengucur deras.
Hao Zhao sempat menaikan alisnya, sebelum berkata, “Sepenting apa?"
Pria di hadapan Hao Zhao sempat membisu, nampak menyesal sebelumnya berani begitu sok akrab dengan Hao Zhao yang faktanya sama sekali tidak.
“A— apa Anda ingat kejadian di depan Lentera Harta beberapa waktu lalu?" tanya pria itu dengan terbata.
Hao Zhao segera mencoba mengingat kejadian apa yang pria itu maksud, sebelum menggeleng pelan tidak merasa ada hal menarik dari apa yang diingatnya.
“Oh, aku adalah pria yang saat itu sempat menyinggung Anda. Aku akui aku mungkin tidak penting untuk Anda, tetapi Anda begitu penting untukku. jadi aku mohon tolong bantu aku Tuan Muda, untuk melepas daftar hitam yang saat ini telah melekat padaku." Pria itu sudah berlutut di hadapan Hao Zhao, membuat beberapa pengunjung restoran lain menoleh untuk mengetahui apa yang tengah terjadi.
Hao Zhao tentu mengingat sekiranya siapa pria di hadapannya ini, yaitu seseorang yang sekarang masuk daftar hitam Lentera Harta karena berani menghambatnya. Satu hal yang Hao Zhao tidak mengerti adalah kenapa pria itu malah berusaha meminta tolong padanya dan bukan mereka yang terkait dengan Lentera Harta secara langsung.
__ADS_1
Dirinya memang memiliki sebagian kepemilikan Lentera Harta, tetapi hal itu tidak semerta-merta membuat Hao Zhao bisa seenaknya mencampuri apa yang telah menjadi keputusan Lentera Harta itu sendiri.
“Jadi intinya kau tidak penting, tetapi karena kau tidak memiliki maksud jahat. Aku bisa mencoba menganggap kelancanganmu ini tidak ada," ucap Hao Zhao seraya berdiri dari duduknya, merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian para pengunjung di sana.
“Tidak, Tuan Muda. Tolong dengarkan aku terlebih dahulu, aku bisa melakukan apapun untukmu asal kau bisa membantu aku lepas dari daftar hitam ini," ucap pria itu, sudah beberapa kali bahkan membenturkan kepalanya ke lantai berharap Hao Zhao mau membantunya.
Hao Zhao tidak sama sekali peduli pada awalnya, sampai Hao Zhao tidak sengaja teringat dua pria bertopeng, barulah Hao Zhao rela kembali duduk di bangkunya dengan senyum kecil di wajahnya.
“Melakukan apapun untukku?" tanya Hao Zhao untuk memastikan.
Pria di hadapan Hao Zhao dengan segera mengangguk seraya bernafas lega, berpikir Hao Zhao akan mau menolongnya walau pada saat yang sama juga merasa tidak nyaman sebab senyum di wajah Hao Zhao yang entah mengapa terasa mengerikan menurutnya.
“Kenapa? Apa kau tidak mau aku tolong?" tanya Hao Zhao, menyadari ada keraguan dari bagaimana ekspresi pria itu tertampak.
“Tentu saja, tetapi sebelum itu bisa kau katakan padaku siapa namamu?" tanya Hao Zhao, ketika pria di hadapannya telah kembali duduk di bangkunya.
“Namaku Jian San, Tuan Muda." Pria itu dengan pasrah.
Hao Zhao setelah mendengar nama pria itu dengan segera memperhatikannya lebih jauh, jubah sederhana dengan sebilah pedang yang ada di pinggangnya, Hao Zhao bisa ambil kesimpulan jika pria itu merupakan pendekar tanpa sekte jika menilik juga tingkat kekuatan pria tersebut yang tidak seberapa.
“Kau hanya pendekar Pelatihan Tubuh tahap Menengah, apa yang bisa kau lakukan untukku memangnya?"Hao Zhao setelah tidak berapa lama diam.
Jian San setelah mendengar ucapan Hao Zhao hanya bisa bungkam, tidak berpikir ada hal yang bisa dirinya lakukan dan tampak bernilai dengan kekuatannya di hadapan sosok seperti Hao Zhao.
__ADS_1
“Dengan kekuatanmu yang sekarang, bahkan untuk menakuti seekor tikus saja kau tidak bisa. Selemah itulah dirimu," ucap Hao Zhao seraya menggeleng pelan seolah kecewa.
Jian San menerima ucapan pedas seperti itu dari mulut Hao Zhao tentu merasa tidak terima, walau pada akhirnya hanya bisa dirinya coba hiraukan rasa tidak terima itu sebab memang dirinya tidak bisa melakukan apa-apa pada Hao Zhao.
“Aku tau aku lemah, itu sebabnya aku amat sangat butuh sumber daya untuk peningkatan kekuatanku. Jadi ... aku akan melakukan apapun untuk Anda jika itu berarti aku bisa membeli sesuatu dari Lentera Harta," ucap Jian San penuh keyakinan.
Hao Zhao mendengar itu dengan segera mengangguk puas, tentu paham dirinya kenapa Jian San bisa seceroboh itu asal menerima saja tanpa mencari tau lebih jauh apa yang akan dirinya minta.
“Berurusan dengan pendekar Bebas memang menyenangkan," gumam Hao Zhao dengan senyum kecil.
Pendekar tanpa sekte atau lebih dikenal sebagai pendekar Bebas, merupakan sebutan untuk pendekar yang hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk bisa bertambah kuat.
Berbeda dengan pendekar yang bergabung dengan sekte atau kelompok tertentu yang kebanyakan perkembangannya di sokong oleh kekuatan tempat mereka bernaung, pendekar Bebas tidak bisa mengharapkan apapun dari orang lain selain diri mereka sendiri.
Sebab hal ini, kebanyakan pendekar Bebas cenderung begitu mudah di tebak jalan pikirannya. Di mana hal ini lah yang membuat Hao Zhao bisa begitu yakin dapat memanfaatkan Jian San dengan sedikit dorongan kecil saja.
“Cukup janjikan sumber daya, maka dirinya akan mau melakukan apapun untukku," gumam Hao Zhao dengan tawa kecil, di mana tawanya tersebut tentu membuat Jian San yang mendengarnya bergidik.
“Untuk kasus pria ini, itu spesial sebab aku tidak perlu menjanjikan apapun yang berarti ini mutlak merupakan keuntunganku," gumam Hao Zhao sekali lagi, jelas merasa beruntung bisa bertemu Jian San ketika keberadaan Jian San di sana tengah begitu dibutuhkannya.
“Ehemm, Tuan Muda. Bisakah berhenti menatapku seraya menyeringai seperti itu? Aku merasa amat terancam entah kenapa sebab hal tersebut," ucap Jian San setelah berhasil mengumpulkan keberaniannya.
Hao Zhao hanya menaikan alisnya mendengar ucapan Jian San, sebelum berkata, “Kau tidak nyaman? Maafkan aku kalau begitu, sekarang bisa kita bicarakan saja kesepakatannya jika kau ingin aku membantumu?"
__ADS_1
“Te— tentu saja, Tuan Muda. Itu yang aku tunggu sedari tadi," ucap Jian San seraya mengangguk cepat.