Pendekar Pedang Harimau Surgawi

Pendekar Pedang Harimau Surgawi
Hari Keenam Berlatih Pedang


__ADS_3

Dedaunan berjatuhan siang menjelang sore hari itu, di mana pepohonan di sekitar memang diterpa angin cukup kencang di tengah latihan pedang yang tengah Hao Zhao juga Yue Yie lakukan.


“Beri tekanan lebih pada setiap ayunan pedangmu, itu bisa membuat serangan mu lebih bertenaga, Yie," ucap Hao Zhao, setelah menyambut ayunan pedang Yue Yie entah sudah yang ke berapa kalinya.


Wajah Yue Yie perlahan mulai berubah merah padam di balik kain tipisnya, bukan karena terpana akan Hao Zhao melainkan kesal pada dirinya sendiri.


“Aku sudah melakukannya, tetapi kenapa ayunan pedangku tetap tidak juga bisa sekali pun menyentuhmu Tuan Muda Zhao?" tanya Yue Yie seraya sekali lagi mencoba mengayunkan pedangnya untuk menyerang Hao Zhao.


“Tidak, bukan seperti ini. Gunakan lebih banyak tenaga, ayunan pedang setara ini bahkan untuk membunuh serangga pun tidak akan bisa," ucap Hao Zhao ketika pedangnya sudah membelokkan arah serangan Yue Yie.


“Ishhh, menyebalkan. Jangan gunakan kata-kata seperti itu Tuan Muda Zhao, itu melukai harga diriku sebagai seorang pendekar," ucap Yue Yie dengan pipinya yang telah mengembung.


Hao Zhao hanya tertawa kecil mendengar ucapan Yue Yie, entah mengapa merasakan kesenangan tersendiri ketika melihat Yue Yie kesal.


“Tuan Muda Zhao, aku awalnya bertanya-tanya kenapa dirimu hampir tidak pernah sekali pun menunjukan emosi sebelumnya ... tetapi sekarang aku paham," ucap Yue Yie penuh keseriusan setelah melihat Hao Zhao tertawa.


“Oh, apa benar seperti itu? Lalu apa kau bisa katakan padaku apa yang kau pahami?" tanya Hao Zhao, ikut merasa penasaran sebab dirinya juga tidak mengerti mengapa sering kali wajahnya terasa kaku membuatnya tampak seperti tanpa emosi.


"Itu karena ... entah mengapa ekspresi yang Tuan Muda Zhao tunjukan selalu saja dapat membuat aku kesal!" seru Yue Yie sembari melompat menerjang Hao Zhao dengan pedang di tangannya.


Yue Yie juga tidak mengerti mengapa setiap kali melihat Hao Zhao tertawa atau tersenyum malah terasa aneh menurutnya, di mana setiap ekspresi di wajah Hao Zhao Yue Yie sadari begitu lekat dengan kesan merendahkan walau mungkin tidak Hao Zhao maksudkan untuk itu. Di mana yang pasti, Yue Yie tidak sama sekali nyaman dengan hal itu.


Hao Zhao hanya menaikan alisnya, setelahnya tertawa kecil merasa geli sendiri dengan apa yang Yue Yie sampaikan.


“Yie, jika aku berkata dirimu bukan orang pertama yang mengatakan itu padaku. Apa kau akan percaya?" tanya Hao Zhao, sudah begitu siap dengan pedang kayu di tangannya menyambut terjangan Yue Yie.


“Eh? Benarkah? Kalau begitu bukankah perasaanku benar-benar nyata?" tanya Yue Yie cukup terkejut, sebab awalnya begitu mempertanyakan kenapa di balik wajah rupawan Hao Zhao yang tidak masuk akal dirinya bisa merasa kesal.


"Mungkin? Meski begitu, kenapa dirimu memusingkan hal lain di dalam pertarungan?" Hao Zhao sudah melangkah mendekat ke arah Yue Yie yang tengah mencoba menerjangnya, di mana segera Hao Zhao benturkan secara langsung pedang kayu di tangannya ke arah ayunan pedang Yue Yie yang masih belum sempurna.

__ADS_1


Kedua bilah pedang segera bertemu, sebelum suara retakan cukup keras terdengar.


Yue Yie segera berdecak kesal setelahnya, menyadari suara apa sekiranya yang baru terdengar itu.


“Ishhh, menyebalkan sekali! Kenapa harus pedang ku lagi yang retak!" seru Yue Yie jelas merasa kesal, memandangi pedangnya yang telah terlihat retakan cukup besar di sana.


“Retak? Jangan pikir aku akan sebaik itu," ucap Hao Zhao pelan, setelahnya segara menurunkan pedangnya sebelum melangkah menghampiri Yue Yie.


“Apa ...."


Yue Yie baru ingin mempertanyakan apa maksud ucapan Hao Zhao, sebelum suara retakan kembali terdengar yang setelahnya pedang di tangan Yue Yie pecah berkeping-keping bak sebuah kaca.


Yue Yie melihat itu segera menoleh ke arah Hao Zhao dengan sorot mata kosong, entah ingin mengatakan apa lagi pada Hao Zhao sebab kejadian seperti itu bukanlah yang pertama kalinya.


“Ada apa? Apa kau ingin aku bantu menaruh pedangmu di tempatnya?" tanya Hao Zhao, seraya melirik salah satu pohon di dekat sana.


Di bawah pohon itu sendiri sudah ada tumpukan pedang yang telah hancur, di mana seluruhnya merupakan milik Yue Yie yang terkumpul setelah hampir satu minggu berlatih bersama Hao Zhao.


“Tidak, kenapa setiap pedang milikku hampir pasti akan hancur setelah beradu dengan pedang kayu milikmu, Tuan Muda Zhao?" tanya Yue Yie, di mana matanya telah tertuju pada pedang kayu di tangan Hao Zhao yang nampak masih begitu mulus seolah tidak pernah digunakan untuk bertarung sekali pun.


“Apa dirimu lebih memilih mempertanyakan hal itu di banding kenapa setiap serangan mu tidak pernah sekali pun menggapai tubuhku? Enam hari memang cukup singkat, tetapi enam hari tanpa meninggalkan bekas serangan sedikit pun pada lawan mu? Hmmm ...."


Mata Hao Zhao sudah melirik ke atas seolah berpikir, di mana hal itu tentu membuat wajah merah padam Yue Yie berubah semakin memerah karena marah.


“Hufthh, aku tau diriku tidak bisa menorehkan satu serangan pun pada Tuan Muda Zhao, tetapi bukankah normal jika seorang pendekar Pemurnian sepertiku kesulitan melakukan itu jika lawannya merupakan pendekar Jiwa sepertimu?" tanya Yue Yie mencoba mencari pembelaan.


Hao Zhao segera balik menatap Yue Yie lekat, tidak berpikir apa yang Yue Yie ucapkan benar sebab satu alasan pasti.


“Tetapi tingkat kekuatanku sekarang telah aku tekan, kekuatanku setara denganmu," ucap Hao Zhao seolah tanpa beban.

__ADS_1


Yue Yie mendengar hal itu segera berkacak pinggang sebelum berkata, “Aku tau... ishhh, Tuan Muda Zhao seharusnya melatihku, bukan merundung aku seperti ini."


“Merundung? Hmm, itu salah." Hao Zhao seraya menggeleng pelan.


Yue Yie melihat gelengan Hao Zhao segera membuang muka, wajahnya murung seperti sudah begitu lelah.


“Yie, apa kau marah?" tanya Hao Zhao mencoba memastikan.


“Tidak," ucap Yue Yie singkat.


“Baik, jadi dirimu marah. Sekarang coba katakan padaku, sudah berapa lama kau menjadikan pedang sebagai senjata mu? Mungkin aku bisa membantumu menjadi semakin mahir menggunakan pedang jika kau memberi tau," ucap Hao Zhao, memilih menyudahi saja permainan yang seminggu terakhir dirinya coba terus lakukan.


“Benarkah? Aku sudah menggunakan pedang sedari kecil," ucap Yue Yie, di mana wajahnya telah berubah menjadi begitu antusias.


“Sedari kecil? Melihat caramu menggunakan pedang ... aku tidak berpikir hal itu benar," ucap Hao Zhao seraya menggeleng pelan, tidak sama sekali bisa percaya kalau Yue Yie ternyata telah menggunakan pedang sedari kecilnya.


“Memang pedang merupakan senjata yang aku gunakan, tetapi karena guruku tidak sama sekali menyuruhku berfokus pada pedang membuatku tidak mahir sama sekali dalam menggunakannya." Yue Yie yang teringat gurunya lebih mengedepankan berbisnis juga penyerapan tenaga dalam sebagai hal yang harus dipelajarinya.


Hao Zhao segera mengangguk pelan, tidak lagi merasa aneh kenapa cara berpedang Yue Yie terasa begitu sangat buruk ketika latih tanding dengannya.


“Ambil ini, pelajari terlebih dahulu semua yang tertera di dalam buku ini. Jika dirimu sudah berhasil melakukannya, mungkin aku bisa mengajarimu lebih jauh agar bisa memiliki kemampuan berpedang setara denganku," ucap Hao Zhao seraya memberikan satu buah buku bela diri dari cincin Ruang miliknya.


Yue Yie awalnya tersenyum senang menerima buku bela diri pemberian Hao Zhao, berpikir itu bukan buku bela diri biasa sebelum terlihat kecewa setelahnya.


“Ada apa?" tanya Hao Zhao setelah menyadari wajah murung Yue Yie.


“Ini buku bela diri cara dasar menggunakan pedang, aku punya banyak di ruangan ku jika untuk buku sejenis ini," ucap Yue Yie seraya menatap Hao Zhao penuh tanda tanya.


“Benarkah? Kenapa tidak coba melihat isi dalam bukunya terlebih dahulu sebelum mengambil kesimpulan?" Hao Zhao seraya melangkah ke salah satu pohon di dekat sana sebelum bersandar di bawahnya.

__ADS_1


Yue Yie melakukan apa yang Hao Zhao katakan, setelahnya ekspresi wajah Yue Yie segera berubah kembali begitu cerah memahami maksud perkataan Hao Zhao.


“Ini ... luar biasa," ucap Yue Yie seraya menatap Hao Zhao tidak percaya.


__ADS_2