
“Auuu!!!"
Suara auman terdengar kencang menggetarkan seisi bukit, binatang spiritual berbentuk serigala dengan tinggi belasan kaki sudah menegakan badannya yang bahkan kebanyakan pohon di sana tidak ada yang dapat menyaingi tingginya.
Tang Jiri juga setiap orang yang dibawanya segera melompat mundur setelah sebelumnya sempat mencoba memberikan serangan tiba-tiba, keberadaan serigala itu sudah diketahuinya sedari lama bersamaan dengan Bunga Kehidupan yang kedapatan tumbuh di sana.
“Wakil Patriak Jiri, apakah benar kita dapat mengalahkannya hanya dengan orang yang kita bawa saat ini?" tanya salah satu dari tiga patriak sekte bawahan.
Tang Jiri hanya bungkam, sudah mendengar kabarnya tetapi tidak menyangka kalau binatang spiritual yang berjaga sekuat itu.
Tang Jiri sempat ragu pada awalnya sampai menyadari kelopak Bunga Kehidupan telah mekar sepenuhnya. Patriak sekte Corak Pedang sudah sedari lama menunggu bunga itu mekar, sehingga hanya mendapatkannya lah satu-satunya yang bisa Tang Jiri lakukan.
“Patriak menugaskan aku langsung kemari untuk mendapatkan bunga itu. Jika aku kembali tanpa hasil, apa itu bisa diterima?" tanya Tang Jiri pada tiga patriak sekte bawahan juga mereka yang lain.
Tiga patriak sekte bawahan pada awalnya ingin menentang setelah melihat binatang spiritual yang berjaga, tetapi mendengar patriak sekte Pedang Corak langsung yang memberi perintahnya, membuat mereka tidak berani melakukan hal tersebut.
“Jika Patriak Besar yang memintanya maka tidak ada pilihan lain. Kalian, bersiaplah!!!" seru serempak tiga patriak sekte bawahan pada anggota sekte yang ikut.
Kebanyakan mereka anggota sekte yang ikut adalah tetua, kisaran kekuatan mereka antara pendekar Pemurnian tahap Menengah hingga Tinggi sehingga tidak sama sekali berani menentang kehendak Tang Jiri yang merupakan pendekar Pembentukan Jiwa tahap Puncak.
“Kalian pasti sudah mendengarnya sendiri betapa patriak sekte Pedang Corak amat menginginkan bunga ini untuk membantunya menembus pendekar Jiwa, jadi jangan sia-siakan kepercayaan yang diberikannya pada kalian!!!" seru Tang Jiri, sesaat melihat keraguan amat jelas terlihat dari setiap anggota sekte bawahannya.
“Kami mengerti, Wakil Patriak Jiri!!!" seru serempak setiap anggota yang ikut dengan keraguan yang mulai menghilang.
Auuu!!!
Baru mental orang-orang di pihak Tang Jiri terbentuk, sudah harus kembali hancur sebab kebanyakan dari mereka merasakan sakit luar biasa di pendengaran akibat auman binatang spiritual yang berjaga.
“Lindungi pendengaran kalian dengan tenaga dalam, ini bukan auman biasa melainkan serangan!!!" seru Tang Jiri pada setiap orang-orangnya.
Apes untuk Tang Jiri ketika seruannya tidak sebanding keras dengan auman yang terdengar, membuat mereka yang kebanyakan tengah merasakan sakit luar biasa malah sibuk panik sendiri.
__ADS_1
Gendang telinga kebanyakan dari mereka seolah ingin pecah mendengar auman tersebut, beberapa bahkan mulai jatuh kehilangan kesadaran yang semakin waktu berlalu, semakin banyak juga orang yang tumbang.
“Wakil Patriak Jiri, harus apa kita?"
“Beri arahan Wakil Patriak Jiri, binatang Spiritual ini jelas tidaklah sebanding dengan kekuatan kita semua. Tolong sampaikan arahan mu agar ada banyak setidaknya orang yang bisa bertahan!"
“Sialan, jika seperti ini sama saja dengan bunuh diri!"
Tiga patriak sekte bawahan mulai tidak bisa berpikir jernih, lagipula siapa memang yang akan bisa mempertahankan ketenangannya setelah melihat cukup banyak tetua sekte mereka jatuh hanya karena sebuah suara.
Ketiga patriak sekte bawahan beruntung masih sempat melindungi pendengaran mereka sebab pengalaman bertarung, karena jika tidak, sudah jelas mereka akan tumbang juga seperti kebanyakan orang yang mereka bawa.
“Kalian tuli atau apa?!! Aku sudah beritahukan untuk melindungi pendengaran kalian!!!" seru Tang Jiri sekali lagi, merasa marah melihat ketidakbecusan orang-orang dari sekte bawahannya.
Ketiga patriak sekte bawahan jelas ciut menyadari ekspresi geram yang Tang Jiri tunjukan, sehingga ingin segera memberitahukan apa yang Tang Jiri sampaikan pada mereka yang lain sebelum sadar kalau itu sudah terlambat.
Seluruh tetua yang masing-masing ketiga sekte bawa kini telah tergeletak di tanah dengan darah keluar dari kuping mereka, amat jelas terlihat kalau sepertinya gendang telinga mereka mengalami kerusakan yang demikian parah.
“Sialan, tidak berguna!!!" pekik Tang Jiri setelah melihat semua hal tersebut.
Bummm!!!
Binatang spritual berbentuk serigala dengan tinggi belasan kaki entah sudah sedari kapan melompat sebelum mendarat di tempat Tang Jiri juga tiga patriak sekte bawahan berada, membuat tanah berlubang terbentuk akibat tancapan setiap cakar kakinya yang tiba-tiba menancap.
Brakkk!!!
Tang Jiri juga tiga patriak sekte bawahan yang sengaja menghindar sebelum cakar binatang spiritual tersebut melukai mereka harus terlempar, amat begitu jauh hingga saat mendarat saja mereka tetap menerima luka sebab benturannya.
“Sial, apa-apaan ini?" Patriak sekte Tanda Pedang dengan tangan bergetar, mencoba menyentuh dadanya yang secara kebetulan tertembus dahan pohon runcing dengan ukuran cukup besar.
Tang Jiri melihat hal tersebut segera membuang wajahnya, jelas dirinya tidak merasa harus memedulikan apa yang terjadi pada orang lain ketika nyawanya sendiri juga tengah terancam.
__ADS_1
“Wa— wakil Patriak Jiri, tolong selamatkan aku," ucap patriak sekte Tanda Pedang dengan terbata-bata.
“Lupakan saja, jasamu akan diingat sekte Pedang Corak jadi matilah dengan bangga. Kalian berdua yang masih bisa bertarung, cepat ikut aku untuk menyerang binatang kurang ajar ini," ucap Tang Jiri pada dua patriak sekte bawahan yang tersisa.
“Ti— tidak, aku masih akan bisa selamat jika kalian membantuku melepas hujaman dahan ini ...."
Ucapan patriak sekte Tanda Pedang seolah tidak sama sekali dipedulikan baik itu oleh Tang Jiri ataupun dua patriak lain, mereka hanya berjalan menjauhinya menuju bintang spiritual yang sebelumnya melancarkan serangan.
“Jangan terlalu menghiraukannya, jika kita benar membantunya maka binatang spiritual akan menggunakan kesempatan itu untuk kembali menyerang kita," ucap Tang Jiri, mencoba menghilangkan ekspresi bersalah yang kini tertampak dari wajah dua patriak sekte bawahan yang tersisa.
“Baik, Wakil Patriak Jiri. Bagaimanapun kewajiban sekte Ragam Pedang hanyalah menuruti perintah sosok seperti Anda."
“Benar, Wakil Patriak Jiri. Begitupula dengan sekte Warna Pedang ku."
Tang Jiri mendengar hal tersebut segera tersenyum lebar, jelas merasa puas dengan kepatuhan yang dua patriak tersisa tunjukan.
“Bagus kalau begitu, sekarang bekerja samalah denganku untuk menyingkirkan binatang sialan ini sebelum mengamankan Bunga Kehidupan," ucap Tang Jiri yang setelahnya mempercepat langkah dengan pedang yang sudah siap kapan saja diayunkan.
Dua patriak sekte bawahan yang tersisa segera mengekor Tang Jiri, seraya bersiap mencari celah juga waktu yang tepat kapan sekiranya mereka bisa melancarkan serangan.
Masih di semak yang sama tidak jauh dari sana, baik Hao Zhao ataupun Li Chen hanya bisa menghela napas panjang di tengah diamnya mereka.
“Sial, mereka lemah. Jika seperti ini keberadaan mereka hanya akan dianggap sesuatu tidak penting oleh binatang spritual itu," ucap Li Chen dengan decakan kesal.
“Sepertinya memang benar aku tidak bisa percaya begitu saja padamu, lihat sendiri kan bagaimana jalannya rencana yang kau banggakan itu?" Hao Zhao dengan senyum tipis juga lirikan sinis pada Li Chen.
“Apa? Ini rencana mu juga, Bocah Sialan. bagaimana bisa kau memiliki pikiran untuk melimpahkan ketidakmampuan mereka padaku?!!"
“Oh, benarkah? Aku tidak ingat pernah memiliki pikiran kalau sampah seperti mereka bisa membuat lelah binatang spiritual setingkat ini," ucap Hao Zhao masih dengan kesan sinis.
“Sialan, Bocah Menyebalkan." Li Chen dengan gelengan kepala pelan mencoba menahan jengkel.
__ADS_1
“Meoww!!!" Cang yang tiba-tiba penuh semangat menatap Hao Zhao juga Li Chen secara bergantian.
Li Chen menyadari tatapan Cang dengan segera mengerutkan dahi sebelum berkata, “Apa? Kau berkata kami berdua memang sudah seharusnya seperti ini?"