
Hao Zhao tengah duduk di tengah gua bersama anak kecil yang ternyata merupakan pemilik kucing Mata Emas bernama Cang, dirinya jelaskan alasan kenapa bisa sampai di sana juga apa yang Cang telah lakukan hingga membuat desa di dekat sana merasa keberatan dengan kehadirannya.
“Tetapi Cang hanya mencari makan, apa itu merupakan sebuah kejahatan?" tanya Anak di hadapan Hao Zhao dengan wajah tanpa ekspresi.
Hao Zhao sempat terdiam, sudah sedari lama dirinya perhatikan bocah di hadapannya dan menyadari ada sesuatu yang tidak beres dari bocah tersebut.
“Itu salah, bagaimanapun kau tetap tidak bisa membiarkan Cang begitu saja melakukan sesuatu yang merugikan orang lain bahkan walau untuk makanannya," ucap Hao Zhao mencoba ramah seolah tidak ada keanehan.
Cang di dekapan bocah itu seolah mengerti Hao Zhao menjelekannya segera mengerang seraya menatap Hao Zhao bengis, semakin meyakinkan Hao Zhao kalau Cang bukanlah binatang spiritual biasa.
“Maaf kalau begitu, bagaimanapun aku tidak memiliki apapun untuk memberi makan Cang sehingga membiarkannya mencari makanan seorang diri hingga bisa terjadi hal seperti ini," ucap bocah di hadapan Hao Zhao terdengar menyesal, meski begitu tidak ada perubahan berarti dari ekspresinya yang terkesan tidak peduli.
“Apa itu karena dirinya hanya anak-anak sehingga tidak tau mana yang baik dan buruk?" gumam Hao Zhao, mencoba menganggap bocah di hadapannya sebagai anak polos yang tidak tau apa-apa tentang dunia walau itu sulit.
Bocah dihadapan Hao Zhao seolah mengetahui tengah diperhatikan segera membuka mulutnya, “Aku sudah tinggal di sini sejauh ingatanku, tanpa orang tua juga keluarga. Hanya Cang yang aku miliki sehingga aku tidak ingin dirinya menderita."
Hao Zhao hanya menatap lekat bocah itu, ceritanya cukup menyedihkan tetapi tidak sama sekali membuat diri Hao Zhao tergerak.
“Oh, aku Li Chen. Siapa namamu, Kak?" Bocah itu dengan senyum yang tiba-tiba muncul diwajahnya.
Hao Zhao menyadari perubahan ekspresi anak itu yang terlalu cepat dan tidak sama sekali natural mengingatkannya pada kucing bernama Cang, membuat Hao Zhao menyadari satu hal lain dari bocah di hadapannya.
"Aku Hao Zhao, senang bertemu denganmu," ucap Hao Zhao dengan senyum ramah.
Bocah bernama Li Chen sempat menatap Hao Zhao lekat seperti penuh selidik, setelahnya melebarkan senyumnya seolah berhasil memastikan sesuatu.
“Oh, Kak Zhao. Ini sudah malam, maukah dirimu bermalam di sini?" ucap Li Chen.
Hao Zhao segera mengerutkan dahi. Tidak berapa lama lalu Li Chen masih bersikap acuh padanya, kini tiba-tiba menawarkan untuk bermalam di gua tempatnya tinggal jelas patut dicurigai.
“Bolehkah? Kalau begitu maaf karena aku merepotkan mu," ucap Hao Zhao.
“Tidak merepotkan sama sekali, Kak Zhao. Aku malah senang kini ada orang selain aku yang akan bermalam di sini," timpal Li Chen dengan senyum lebar bak bocah yang tengah senang sehabis dibelikan mainan.
__ADS_1
Hao Zhao hanya tersenyum menanggapinya, meski di kepalanya tengah menerka-nerka terkait apa yang Li Chen coba lakukan dengan menawarkannya bermalam di sana.
“Bocah ini jelas punya banyak akal, tidak akan terkejut aku jika kucing miliknya ternyata belajar berpikir picik darinya," gumam Hao Zhao, menantikan rencana yang ingin bocah itu lakukan.
***
Sudah larut malam ketika Li Chen juga Cang nampak telah tertidur.
Hao Zhao hanya menyandarkan tubuhnya di tembok gua dengan matanya yang tidak sedikitpun lepas dari tempat Li Chen berada, waspada tentu saja sebab kali ini dirinya tengah menjadi target bocah juga kucing yang jelas sama sekali tidak biasa.
Di tengah kewaspadaan Hao Zhao tersebut, dirinya akhirnya memejamkan mata sebab lelah dengan perjalanannya beberapa waktu terakhir.
Awalnya hanya hening yang Hao Zhao rasakan dari suasana di dalam gua, sampai telah cukup lama Hao Zhao terpejam tetapi belum tertidur, dirinya mendengar suara berbisik dari bocah Li Chen tidak jauh darinya.
“Apa? Kau berkata dirinya adalah pendekar Jiwa?"
“Bagaimana bisa seorang pendekar Jiwa ada di sekitar tempat ini?"
“Kau tidak tau? Hufthh, ini menyebalkan mengetahui kau tidak berhati-hati hingga mengundang seorang yang berbahaya sepertinya kemari."
“Cang, jangan takut. Lagipula dia bodoh hingga bisa tertipu tingkah polos ku, jika sudah seperti ini maka dia tidak ada bedanya dengan setiap pendekar yang telah kita habisi karena berani mengusik kita."
Suara Li Chen yang terus menerus berbicara seorang diri, seolah tengah berbincang dengan seseorang meski tidak ada sama sekali sautan.
“Oh, ini sosok asli bocah Chen ini?" batin Hao Zhao.
Suara langkah kaki terdengar mendekat ke arahnya Hao Zhao sadari, yang mana semakin dekat langkah kaki tersebut, dirinya juga sudah siap bergerak untuk memberi kejutan pada Li Chen yang pasti mengira rencananya telah berhasil.
Suara langkah kaki berhenti terdengar bersamaan dengan Hao Zhao yang telah mengetahui Li Chen tengah ada tidak jauh dari hadapannya, membuka mata dengan tiba-tiba sebelum dapat melihat Li Chen dengan belati kecil yang telah terangkat siap dihujamkan ke arahnya.
“Hei, kau sedang apa?" tanya Hao Zhao dengan sorot mata tajam.
Li Chen nampak terkejut mengetahui Hao Zhao ternyata tidak tertidur, meski begitu tetap tanpa rasa bimbang Li Chen ayunkan belati di tangannya untuk menghabisi Hao Zhao.
__ADS_1
“Mati," ucap Li Chen.
Hao Zhao sebelum belati tersebut menghujam nya sudah lebih dahulu menghilang dari pandangan Li Chen, semua itu terlalu cepat hingga Li Chen tidak menyadarinya.
Swushhh!!!
Li Chen sempat tersenyum puas berpikir tikaman nya berhasil menyasar Hao Zhao, sebelum seketika bungkam karena belatinya hanya menghujam udara.
“Sialan, kemana si bodoh i—"
Li Chen belum berhasil menyelesaikan ucapannya ketika sebilah pedang sudah menempel lehernya dari arah belakang, tidak perlu menebak untuk mengetahui milik siapa pedang itu.
“K— Kak Zhao, ini salah paham ...."
Suara Li Chen berubah demikian pesatnya dari yang awalnya percaya diri menjadi tidak, bergetar bahkan tubuhnya jelas sadar akan kebodohannya.
“Salah paham? Sepertinya tidak ada hal seperti itu dari seorang bocah pemilik kucing Mata Emas berusia 50 tahun lebih, belum lagi ... kau seorang pendekar Pembentukan Jiwa, Bocah," ucap Hao Zhao.
Li Chen hanya bisa bungkam, dirinya mengira Hao Zhao tidak sama sekali menaruh waspada padanya karena berpikir dirinya hanya bocah biasa.
Ternyata Hao Zhao telah mengetahui segala hal tentang dirinya, jelas Li Chen sadar dirinya tidak bisa lagi terus berpura-pura.
“Memikirkan apa? Sekarang istirahatlah terlebih dahulu, tidak baik untuk bocah sepertimu terjaga hingga larut malam seperti ini," ucap Hao Zhao.
“Tu— tunggu ...."
Li Chen belum selesai dengan ucapannya ketika gagang pedang telah terlebih dahulu menghantamnya, membuatnya ambruk saat itu juga dengan kesadarannya yang entah telah melayang ke mana.
Hao Zhao meski sudah berhasil menjatuhkan Li Chen tidak begitu saja bisa tenang.
Memang kucing Mata Emas bernama Cang segera melompat untuk menerkamnya tidak berapa lama pemiliknya berhasil dilumpuhkan.
Di mana dalam kesempatan ini, Hao Zhao ingin melampiaskan kekesalannya pada kucing nakal tersebut.
__ADS_1
“Binatang spiritual setara pendekar Jiwa, aku penasaran sekuat apa dirinya," gumam Hao Zhao dengan perasaan menggebu, siap meladeni terkaman kucing itu yang kali ini akan ditanggapinya secara serius.