
Siang harinya, Hao Zhao mengantar Yue Yie ke penginapan yang ada di kota Dahan Gugur. Hao Zhao mengetahui jika Yue Yie sama sekali belum beristirahat sejak kemarin malam membuat Hao Zhao cukup khawatir.
Terlebih fakta kalau setiap kamar tempat Yue Yie juga para pekerja Lentera Harta tinggal kini masih baru memulai tahap awal renovasi, membuat tidak banyak pilihan lain untuk Yue Yie dapat beristirahat jika bukan di sebuah penginapan.
“Tuan Muda Zhao, aku bisa pergi ke sini seorang diri." Yue Yie setelah sampai di salah satu penginapan yang ada di pusat kota tidak jauh dari bangunan Lentera Harta berada.
“Aku tau, tetapi tidak pantas tampaknya membiarkan seorang wanita berjalan seorang diri terlebih wanita secantik dirimu," ucap Hao Zhao tanpa maksud lain dalam ucapannya, hanya mengatakan yang sejujurnya saja.
“Wanita secantik aku?" Yue Yie dengan wajahnya yang sontak memerah, tidak pernah menyangka Hao Zhao ternyata menganggapnya seperti itu, di samping sikap Hao Zhao yang seperti terus mencoba menempatkan diri sebagai sosok kakak di hadapannya selama ini.
Hao Zhao melihat wajah merah merona Yue Yie dengan segera mengerutkan dahi, mempertanyakan kenapa Yue Yie sering kali terlihat seperti itu yang Hao Zhao kira pastilah karena Yue Yie sedang sakit.
“Kau tidak apa ...."
Hao Zhao baru ingin memeriksa suhu badan Yue Yie, di mana Yue Yie lebih dahulu cepat menghindar agar dahinya tidak berhasil Hao Zhao gapai.
“Kenapa?" Hao Zhao mempertanyakan.
“Ti ... tidak apa Tuan Muda Zhao, aku hanya ingin segera beristirahat saja," ucap Yue Yie sebelum melangkah cepat memasuki penginapan meninggalkan Hao Zhao.
Hao Zhao melihat itu hanya menggaruk kepala bingung, merasa begitu aneh melihat tingkah Yue Yie yang jelas sama sekali tidak normal.
“Sudahlah, suka-suka dirinya saja." Hao Zhao dengan gelengan pelan, di mana segera melesat Hao Zhao keluar dari kota Dahan Gugur untuk menuju suatu tempat.
Markas utama bandit yang telah lama menjadi target Hao Zhao lah tempat tujuan Hao Zhao saat itu, di mana Hao Zhao sudah begitu dekat untuk sampai sana sebelum melihat sesuatu yang membuat Hao Zhao harus menghentikan langkahnya.
Sekitar belasan bandit membawa beberapa gerobak yang mereka tarik menuju tempat markas utama berada, tidak ada yang salah karena itu merupakan gerobak biasa tetapi menjadi masalah sebab Hao Zhao melihat sendiri apa isi gerobaknya.
Cukup banyak anak kecil tengah menangis seraya memanggil-manggil orang tua mereka, setiap dari anak-anak itu juga mencoba meminta pertolongan, tetapi sayang tempat mereka berada cukup jauh dari pemukiman sehingga kesempatan untuk teriakan mereka dapat terdengar amatlah begitu kecil.
__ADS_1
Setiap anak-anak itu sendiri tengah di bawa oleh para bandit dengan gerobak yang sama tempat cukup banyak hasil panen juga beberapa peti berisi kepingan uang berada.
“Hahaha, kali ini merupakan tangkapan besar."
“Kau benar, siapa sangka selain hasil ladang kita juga bisa mendapatkan anak-anak cengeng ini."
“Dengar tangisan mereka? Ini merupakan melodi terindah sebelum datangnya uang besar hasil penjualan mereka."
Belasan bandit itu terus menunjukan senyum lebar selama perjalanan mereka, nampak begitu puas dengan hasil yang mereka dapat setelah melancarkan aksi mereka di desa terdekat.
Hao Zhao ada tidak jauh dari sana ketika itu semua terjadi, mencoba memahami situasi lebih jauh sebelum mengambil tindakan untuk mengurus belasan bandit tersebut.
“Kalian benar-benar sampah." Hao Zhao yang sudah begitu tidak tahan melihat itu semua akhirnya bergerak, sebelum berdiri tepat di depan jalan yang akan dilalui oleh belasan bandit tersebut.
“Apa? Siapa dia?"
“Tidak tau, orang yang tidak sengaja lewat mungkin?"
Belasan bandit saling menatap satu sama lain, mempertanyakan siapa pemuda yang tiba-tiba muncul menghadang jalan mereka.
“Hey, Bocah. Menyingkir dari sana, jangan buat kami kesal atau kau akan menyesal!"
“Benar Bocah, entah siapa kau dan apa alasanmu menghadang jalan kami seperti ini. Akan kami maafkan jika kau memutuskan untuk pergi!"
Dua dari belasan bandit mulai bersuara, memberi peringatan pada Hao Zhao untuk tidak berani-berani mencampuri urusan mereka.
“Memaafkan aku? Sayang sekali aku tidak butuh kata maaf dari kalian." Hao Zhao dengan pedangnya yang mulai muncul dari kehampaan.
Belasan bandit melihat hal itu jelas terkejut, sebab apa yang baru mereka lihat amatlah begitu asing untuk mereka.
__ADS_1
“Hey, apa mataku yang buram atau apa? Kenapa aku seperti melihat sebilah pedang muncul secara tiba-tiba di tangannya?"
“Aku juga melihat hal serupa, entah itu trik atau apa tindakannya jelas merupakan bentuk tantangan untuk kita."
Para bandit mulai berdiskusi antara satu sama lain, mencoba menakar terlebih dahulu kemampuan pemuda yang jelas merupakan seorang pendekar jika melihat dari pedang ditangannya.
“Entah trik apa yang dia gunakan untuk memunculkan pedangnya, dia pasti hanya pendekar tingkat rendah melihat dari umurnya yang masih begitu muda."
“Kau benar, lagipula dia hanya seorang diri sementara kita beramai-ramai. Menghabisinya seharusnya merupakan hal mudah."
Belasan bandit mulai mengambil keputusan. Di mana menurut mereka, tidaklah perlu terlalu mengkhawatirkan Hao Zhao melihat jumlah mereka yang jelas jauh lebih banyak.
Hao Zhao hanya menghela napas pelan melihat belasan bandit mulai mengacungkan kapak ke arahnya, kapak yang sama dengan yang sering Hao Zhao lihat membuat Hao Zhao muak sendiri karenanya.
“Kapak itu lagi? Apa perlu aku cari pembuatnya agar para bandit ini tidak pernah bisa lagi melakukan kejahatan dengan kapak serupa?" Hao Zhao mulai memainkan pedangnya, tidak lama pedang itu terselimuti energi bewarna kebiruan hasil dari tenaga dalam yang Hao Zhao alirkan.
“Itu? Dirinya merupakan pendekar tingkat tinggi!"
“Mundur, kita tidak mungkin bisa melawannya!"
Belasan bandit segera merasa panik setelah melihat energi di sekitar pedang Hao Zhao, bagaimana tidak ketika seluruh dari mereka hanyalah pendekar Pelatihan Tubuh.
Untuk dapat bebas menggunakan tenaga dalam sebagai energi pedang, hanya bisa dilakukan oleh pendekar tingkat Pemurnian juga di atasnya. Hal tersebut membuat para bandit merasa gentar, bahkan walau belum sama sekali merasakan serangan dari Hao Zhao.
Belasan bandit masih sibuk mencoba lari ketika energi pedang di tangan Hao Zhao sudah menjadi semakin pekat, menandakan cukup banyak tenaga dalam telah berhasil Hao Zhao alirkan ke pedangnya tersebut.
“Tidak perlu mencoba kabur karena itu percuma," ucap Hao Zhao sebelum mengayunkan pedangnya.
Energi kebiruan yang sebelumnya terkumpul di pedang Hao Zhao dengan segera melesat cepat setelah sempat melebar, di mana lesatan energi itu menembus tubuh masing-masing dari belasan bandit secara hampir bersamaan.
__ADS_1
Belasan bandit dengan segera ambruk kehilangan nyawa mereka, di mana tubuh seluruh dari mereka telah terbelah menjadi dua sebab lesatan energi dari ayunan pedang Hao Zhao sebelumnya.
“Kematian seperti ini pantas untuk orang-orang seperti kalian," ucap Hao Zhao pelan, nampak sama sekali belum puas walau telah menghabisi belasan nyawa para bandit tersebut.