Pendekar Pedang Harimau Surgawi

Pendekar Pedang Harimau Surgawi
Seorang Kakak


__ADS_3

Menjelang malam di mana bulan sudah sedikit menampakan diri, Hao Zhao juga Yue Yie akhirnya memutuskan untuk menghentikan latihan mereka.


Dalam perjalanan kembali ke kota Dahan Gugur, Yue Yie terus menerus bersenandung senang membuat Hao Zhao sedikit merasa aneh mendengarnya.


“Yie, apa ada hal bagus yang terjadi padamu hingga dirimu bisa terlihat begitu senang seperti ini?" tanya Hao Zhao, tidak pernah ingat Yue Yie yang saat awal bertemu dengannya begitu dingin ternyata bisa memiliki sisi seperti itu di dalam dirinya.


“Oh, apa begitu terlihat? Hehe, aku hanya tengah senang saja karena bisa menghabiskan waktu beberapa hari terakhir bersamamu, Tuan Muda Zhao." Yue Yie dengan wajahnya yang mulai berubah merah merona.


Hao Zhao menaikan alisnya, menatap Yue Yie penuh selidik sebelum tangan Yue Yie secara tiba-tiba menepuk wajahnya.


“Apa?" Hao Zhao menaikan alisnya, sama sekali tidak menyangka Yue Yie akan menepuk wajahnya seperti itu.


Yue Yie terlihat sedikit panik, tidak mengerti juga dirinya kenapa tangannya bisa seperti bergerak sendiri untuk melakukan hal tersebut.


“Hehe, maaf Tuan Muda Zhao. Aku hanya merasa sedikit tidak nyaman ditatap dengan cara seperti itu olehmu," ucap Yue Yie, di mana pandangan matanya terus tertuju ke arah tanah sebab menunduk.


Hao Zhao melihat hal tersebut dengan segera mengerutkan dahi, sebelum berkata, “Yie, apa kau sakit?"


“Tidak, aku baik-baik saja," ucap Yue Yie cepat.


“Lalu kenapa wajahmu terlihat begitu merah?" Hao Zhao menaikan alisnya, begitu menunggu apa sekiranya jawaban Yue Yie dari pertanyaannya tersebut.


“A— aku hanya ... begitu senang?" Yue Yie dengan sedikit tidak yakin.


Hao Zhao mendengar hal tersebut menjadi semakin bertanya-tanya, tidak berpikir cara melatih pedangnya yang membuat Yue Yie senang sebab Yue Yie jelas tidak berapa lama lalu masih terlihat kesal ketika berlatih pedang dengannya.


“Apa cara aku melatih mu pedang yang membuatmu senang seperti ini?" tanya Hao Zhao, mencoba memastikan.


Yue Yie dari yang awalnya tersenyum cerah segera memburuk ekspresi wajahnya, teringat betapa menyebalkan Hao Zhao selama enam hari terakhir menurutnya. Di mana jelas, bukanlah hal tersebut yang membuat Yue Yie senang seperti sekarang.


Yue Yie bukanlah siapa-siapa dahulu, dirinya hanya seorang anak yang tinggal di sebuah desa kecil bersama keluarga kecilnya yang terdiri dari ayah, ibu satu satu kakak laki-lakinya.

__ADS_1


Di umur Yue Yie yang kelima tahun, sesuatu tidak diinginkan terjadi pada keluarganya. Entah datang dari mana, segerombolan bandit menyerang desanya untuk menjarah juga bertindak seenaknya.


Desa itu hancur sebab ulah para bandit tersebut, begitu pula dengan keluarganya yang harus menjadi korban keganasan gerombolan bandit tersebut.


Ayah, ibu juga kakak Yue Yie harus meregang nyawa karena peristiwa tersebut, membuat Yue Yie kecil harus hidup sebatang kara yang mengandalkan dirinya sendiri untuk mencari makanan.


Sampai Yue Yie bertemu oleh Yang Gao secara tidak sengaja, membuat Yang Gao yang dapat melihat bakat Yue Yie mengajak Yue Yie ikut dengannya sebelum mengangkatnya sebagai murid.


Yue Yie tumbuh penuh dengan perhatian juga kasih sayang dari Yang Gao setelahnya, secara bersamaan Yue Yie juga dikelilingi oleh orang-orang yang begitu menaruh hormat padanya sebab statusnya sebagai murid dari patriak Lentera Harta.


Hal tersebut membuat Yue Yie perlahan bisa melupakan kejadian kelam yang menimpa keluarganya, tetapi tidak dengan luka di dalam hatinya.


Sakit di hati dari kehilangan kedua orang tuanya, masih bisa Yue Yie coba sembuhkan sebab sekarang dirinya memiliki Yang Gao sebagai sosok baru pengisi kepergian kedua orang tuanya. Berbeda dengan itu, rasa sakit dari kehilangan sosok kakak masihlah begitu mengganggu untuk Yue Yie bahkan hingga sekarang.


Semua hal tersebut Yue Yie sampaikan pada Hao Zhao, di mana Yue Yie juga menyampaikan jika dirinya entah mengapa mulai bisa menyingkirkan sedikit demi sedikit rasa sakit dari kehilangan kakaknya semenjak kedatangan Hao Zhao.


“Mungkin tidak seharusnya aku menceritakan hal ini padamu, Tuan Muda Zhao. Meski begitu ... aku tidak menyesal sebab aku merasa sedikit lega setelah melakukannya," ucap Yue Yie dengan senyum getir di wajahnya.


“Pasti berat untukmu memendam semuanya selama ini, kau hebat," ucap Hao Zhao, di mana tangannya sudah begitu saja terangkat untuk menepuk pelan beberapa kali kepala Yue Yie.


“Eh? A— apa yang kau lakukan Tuan Muda Zhao?" tanya Yue Yie seraya menatap Hao Zhao tidak percaya.


“Aku? Hanya mencoba membuatmu merasa lebih baik," Hao Zhao menatap balik Yue Yie dengan lekat.


Yue Yie segera mengalihkan pandangannya, setelahnya hanya bisa diam saja seraya melanjutkan langkahnya.


Hao Zhao segera meraih tangan Yue Yie membuat langkah Yue Yie terhenti, setelahnya Hao Zhao tarik lembut membuat Yue Yie berpaling menatap balik Hao Zhao yang masih menatapnya lekat.


“Yie, dirimu bisa menganggap aku sebagai kakakmu mulai sekarang," ucap Hao Zhao pelan.


Yue Yie segera terkejut tidak sama sekali percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari Hao Zhao merupakan kebenaran, seperti bagaimana bisa Hao Zhao tiba-tiba mengungkapkan hal sejenis itu padanya.

__ADS_1


“A— apa itu benar, Tuan Muda Zhao?" tanya Yue Yie mencoba memastikan.


“Tentu saja, jadi berhenti memanggilku dengan sebutan seperti ... Tuan Muda? Tidak seharusnya seorang adik memanggil kakaknya seperti itu," ucap Hao Zhao.


Yue Yie semakin terpaku setelah mendengar hal itu, dirinya merasa aneh tetapi entah mengapa dirinya juga merasa senang karenanya.


“Ada apa? Apa dirimu tidak menyukainya?" tanya Hao Zhao, setelah melihat Yue Yie hanya terdiam setelah ucapannya.


“A— aku mau, Ka— kakak Zhao ...."


Yue Yie setelahnya menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Hao Zhao, sebelum berjalan cepat untuk pergi dari sana dengan wajah merah merona nya.


Hao Zhao hanya menaikan alisnya, tidak tau harus berbuat apa sehingga hanya membiarkan saja Yue Yie pergi meninggalkannya.


“Hmm, apa sakitnya kambuh lagi?" Hao Zhao bertanya-tanya, setelahnya hanya menggeleng pelan memilih untuk tidak memusingkan hal tersebut.


Tidak berapa lama hingga akhirnya Hao Zhao sampai di kota Dahan Gugur. Di mana entah perasaanya saja atau bagaimana, di depan gerbang memasuki kota tersebut tampak seperti jauh lebih ramai dari biasanya.


Hao Zhao menyadari beberapa hal dari keanehan tersebut, salah satunya adalah sebagian dari kebanyakan yang ingin memasuki kota memiliki tenaga dalam di tubuh mereka.


“Apa ada hal yang terjadi hingga cukup banyak pendekar memutuskan datang ke kota ini?" Hao Zhao ketika baru saja berhasil memasuki gerbang kota Dahan Gugur, di mana tidak ada satu penjaga kota pun yang berani mempersulit nya entah mengapa.


Tidak berapa lama Hao Zhao memasuki kota, segera Hao Zhao sadari satu hal lain setelah melihat suasana jalanan kota sore menjelang malam tersebut.


“Kebanyakan dari jubah mereka para pendekar yang datang serupa, jelas mereka pendekar yang berasal dari berbagai sekte berbeda," gumam Hao Zhao.


“Tuan Muda Zhao!"


Sebuah seruan terdengar, membuat Hao Zhao menoleh sebelum menyadari keberadaan Jian San tengah berlari cepat mencoba menghampirinya.


“Kebetulan, aku bisa bertanya padanya terkait semua hal aneh ini," gumam Hao Zhao, berpikir pastilah Jian San mengetahui apa sekiranya alasan cukup banyak pendekar dengan jubah sekte berbeda datang ke sana.

__ADS_1


__ADS_2