Pendekar Pedang Harimau Surgawi

Pendekar Pedang Harimau Surgawi
Keputusasaan Para Peserta


__ADS_3

Hao Zhao hanya berdiri dalam diam di atas arena pertarungan, menatap sekitarnya dengan canggung sebab hanya itu yang bisa Hao Zhao lakukan.


“Bagus, itu sempurna."


Hao Zhao melirik ke arah Yang Gao yang berbisik di sampingnya, menatap aneh sebab tidak mengerti apa hal sempurna yang telah dilakukannya.


Hao Zhao hanya datang sesuai dengan arahan Yang Gao, mengatakan juga apa yang Yang Gao pinta untuk dirinya katakan. Satu hal yang Hao Zhao rasakan setelah melakukan itu, yaitu malu.


“Tidak, tolong jangan meminta aku melakukan hal sejenis ini lagi di masa depan," ucap Hao Zhao sebelum melompat ke arah bangku tempatnya berada.


Di sana sudah ada Yue Yie yang menatapnya dengan tatapan kosong, Hao Zhao berusaha tidak memedulikan itu dan hanya duduk saja di bangkunya. Meski hal itu tidak sesuai harapan Hao Zhao sebab bagaimana cara Yue Yie menatapnya membuat Hao Zhao merasa tidak nyaman.


“Apa?" tanya Hao Zhao seraya menatap Yue Yie balik.


Yue Yie hanya menatap Hao Zhao dalam diam sebelum berkata, “Apa menyenangkan melakukan sesuatu yang menarik perhatian seperti itu?"


Hao Zhao hanya mengerutkan dahi mempertanyakan maksud ucapan Yue Yie, sebelum tersadar jika kini hampir setiap sorot mata mereka yang hadir tengah terarah padanya bahkan setelah dirinya pergi dari atas arena.


Hampir setiap sorot mata itu Hao Zhao sadari berisi kekaguman, terkhusus mereka para wanita yang menatapnya dengan cara sulit dijelaskan tidak terkecuali Meng Dali.


Anak perempuan dari penguasa kota itu terus menatapnya dalam diam, membuat Hao Zhao paham kalau sepertinya hal inilah yang membuat Yue Yie kesal.


“Ishhh, jangan menatapnya balik," ucap Yue Yie dengan wajah cemberut.


Hao Zhao hanya bisa menggaruk kepalanya saja ketika tangan Yue Yie telah menyentuh wajahnya untuk mengalihkan pandangannya dari Meng Dali, sebelum mengiyakan saja ucapan Yue Yie tidak ingin membuat gadis itu semakin kesal yang nanti malah akan merepotkan untuknya.


“Hahaha, lihat betapa terkejutnya setiap orang di sini setelah melihat kehadiranmu," ucap Yang Gao setelah tiba-tiba muncul di samping Hao Zhao.

__ADS_1


“Guru, jangan mengajarkan Kak Zhao sesuatu yang tidak-tidak," ucap Yue Yie dengan cepat menimpali.


Yang Gao sendiri hanya terkekeh pelan mendengar ucapan Yue Yie, tentu paham dirinya apa sekiranya yang membuat muridnya itu kesal.


“Lihat, Murid ku sepertinya cemburu karena banyak wanita di sini mengagumimu, Nak Zhao," ucap Yang Gao dengan senyum meledek.


“Bu— bukan seperti itu!" Yue Yie berusaha menyangkal, sayangnya sangkalan itu tidak berguna sebab tingkahnya pada Hao Zhao sudah menjelaskan semuanya.


Hao Zhao sendiri memilih diam saja membiarkan guru dan murid itu menyelesaikan urusan mereka, ingin berterimakasih bahkan dirinya pada Yang Gao yang rela ikut campur membuat kekesalan Yue Yie teralih darinya.


Hao Zhao setelahnya lebih memilih memperhatikan bagaimana setiap orang di sana menanggapi kehadirannya juga fakta dirinya akan ikut dalam turnamen yang akan digelar, di mana dapat Hao Zhao ketahui setelahnya jika kebanyakan dari mereka tidak senang akan hal tersebut.


“Apa-apaan ini, bagaimana bisa seorang murid Utama dari sekte Besar mengikuti turnamen perebutan undangan ketika mereka telah menerima satu secara langsung undangan tersebut dari kekaisaran?"


“Sial, aku tidak setuju sebenarnya. Meski begitu tidak ada yang bisa kita lakukan mengingat hal seperti ini tidak hanya sekali dua kali pernah terjadi."


“Kau benar, tetapi kenapa harus di kota Dahan Gugur tempat kita mengikuti turnamennya?"


Setiap dari yang mengikuti turnamen di kota Dahan Gugur hanyalah murid Utama sekte Kecil juga para pendekar Bebas. Mengetahui di turnamen itu mereka harus menghadapi murid Utama dari sekte Besar tentu sudah lebih dahulu membuat mereka merasa gentar, sebab sadar kalau sokongan untuk murid Utama sekte Besar pastilah amat besar membuat jarak kekuatannya dengan mereka akan sama besarnya pula.


“Belum lagi ... ini murid Utama sekte Lentera Harta tempat di mana sumber daya berlimpah ruah mereka miliki, jelas sudah akan betapa jauh perbedaan kekuatan antara kita dengannya."


“Kau benar, ini benar-benar hari sial untuk kita."


“Sialan, berhenti membicarakannya. Mendengar kalian berbicara sesuatu terkait dirinya membuat aku teringat akan mimpiku selama ini yang telah hancur."


“Memangnya apa mimpimu?"

__ADS_1


“Memenangkan turnamen perebutan undangan sebelum mengikuti turnamen utamanya di ibu kota."


“Lalu ... kapan mimpimu itu hancur?"


“Barusan ...."


Satu dari sekian banyak pembicaraan penuh keputusasaan yang terdengar di antara para peserta, mereka jelas tidak menyetujui fakta jika Hao Zhao akan mengikuti turnamennya. Meski begitu tidak ada yang bisa mereka lakukan sebab tidak ada larangan tertulis terkait hal tersebut.


Hao Zhao hanya tersenyum kecil di bangkunya setelah sempat mengalirkan tenaga dalam ke telinganya agar bisa memfokuskan pendengaran pada apa yang dirinya ingin dengar saja di tengah keriuhan yang terjadi, di mana setelah mendengar sekian dari banyaknya pembicaraan entah mengapa Hao Zhao merasa lucu.


“Dibanding menyalahkan ketidakmampuan kalian, kalian lebih memilih menyalahkan apa yang tidak bisa kalian lakukan. Tidak bisa dan tidak memiliki keyakinan untuk bisa mengalahkan aku maka salahkan diri kalian sendiri, bukan malah menunjukan jari kalian padaku seolah-olah akulah yang salah di sini," ucap Hao Zhao pelan tanpa sadar seraya tersenyum kecil


“Kak Zhao, senyummu mulai berubah mengerikan. Apa sebenarnya yang tengah kau pikirkan?" tanya Yue Yie menyadari senyum di wajah Hao Zhao.


“Eh? Bukan apa-apa," ucap Hao Zhao cepat.


“Benarkah? Kak Zhao tidak memikirkan yang tidak-tidak terkait seorang wanita bukan?" Yue Yie dengan sorot mata penuh selidik.


Hao Zhao hanya tertawa kecil mendengar ucapan Yue Yie, tidak paham lagi dirinya kenapa seperti selalu terarah ke sana pikiran Yue Yie jika sudah ada hal yang bersangkutan dengannya.


“Kenapa tertawa? Apa ada hal yang lucu?" tanya Yue Yie cepat.


“Ada ... dirimu," ucap Hao Zhao tanpa sadar, di mana seperti keluar begitu saja kalimat itu dari mulutnya entah kenapa.


“Eh? Hmmm ... jangan katakan hal sejenis itu lagi di masa depan," ucap Yue Yie sebelum mengalihkan pandangannya dari Hao Zhao, di mana wajahnya telah berubah merah merona sebab ungkapan Hao Zhao tersebut.


“Yie, kau sakit." Hao Zhao setelahnya, menyadari memerahnya wajah Yue Yie.

__ADS_1


“Jangan menyentuh dahi ku, Kak Zhao," ucap Yue Yie cepat penuh ancaman, sudah begitu siap untuk menampik tangan Hao Zhao kalau-kalau terarah ke dahinya.


Hao Zhao hanya menatap Yue Yie tanpa kata sebelum tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan Yue Yie tersebut.


__ADS_2