Pendekar Pedang Harimau Surgawi

Pendekar Pedang Harimau Surgawi
Manisan


__ADS_3

Hao Zhao sudah kembali ke tempat turnamen di gelar bersama Yang Gao ketika turnamen yang sempat di jeda kini mulai kembali berjalan, di mana tidak butuh waktu lama hingga dua orang peserta di panggil naik ke atas arena yang salah satu dari mereka Hao Zhao kenali orangnya.


“Kak Zhao, bisakah kau menemaniku pergi dari sini?" tanya Yue Yie tiba-tiba.


“Kemana? Bahkan aku baru datang dan pertandingannya akan segera dimulai," ucap Hao Zhao tidak mengerti alasan Yue Yie mengajaknya pergi dari sana.


“Kemana saja selain di sini," ucap Yue Yie seraya berdecak kesal.


Hao Zhao hanya menaikan alisnya sebelum teringat jika Meng Dali lah yang akan bertanding membuat segalanya menjadi jelas.


“Baik, jika itu keinginanmu," ucap Hao Zhao membuat wajah Yue Yie berubah cerah di balik kain tipis yang menutupi sebagian wajahnya.


“Kak Zhao setuju pergi denganku?" tanya Yue Yie mencoba memastikan.


“Tentu saja, apa memangnya yang tidak untuk gadis secantik dirimu?" Hao Zhao seraya menaikan alisnya.


Wajah Yue Yie jelas segera memerah, sebelum meraih lengan Hao Zhao untuk menariknya pergi dari sana.


“Hey, kalian ingin kemana?" tanya Yang Gao menyadari keduanya yang ingin pergi.


“Hmphhh, Guru tidak perlu tau. Aku saja tidak dibiarkan tau kemana Guru dan Kak Zhao pergi sebelumnya," ucap Yue Yie seraya membuang wajahnya.


Yang Gao segera terkekeh setelah melihat tingkah muridnya, jelas amat terlihat kalau muridnya itu mengarahkan kecemburuan padanya membuat dirinya merasa tergelitik.


“Baiklah, pergilah kemana pun kalian suka. Satu hal yang perlu dirimu ingat, yaitu dengan jangan membuat Nak Zhao merasa kerepotan, " ucap Yang Gao seraya tertawa pelan.


“Guru, berhenti mengatakan sesuatu seolah Murid mu ini seseorang yang merepotkan," ucap Yue Yie sebelum mengambil langkah bersama Hao Zhao untuk pergi dari sana.


Hao Zhao sendiri hanya ikut saja kemanapun Yue Yie menariknya, hingga dirinya sampai di luar area turnamen, segera terlihat sekian banyak penduduk yang tengah mencoba menjajakan dagangan mereka di sana.


Hao Zhao segera terkejut melihat hal itu, sudah lama dirinya mengetahui ada hal seperti itu tetapi baru pertama kali dirinya benar-benar menaruh perhatian pada hal tersebut.

__ADS_1


Seperti sebuah festival memang bagaimana deretan pedagang yang berjualan, di tambah ada sekian banyak orang juga yang berlalu lalang dengan senyum cerah di wajah mereka membuat segalanya menjadi begitu nyaman di mata Hao Zhao.


“Hal seperti ini hampir tidak pernah ada di kehidupanku dua ratus tahun lalu," gumam Hao Zhao tanpa sadar.


Yue Yie sendiri sama sekali tidak memedulikan Hao Zhao lebih sibuk menarik Hao Zhao ke sana kemari mengajaknya menghampiri beberapa dari sekian banyak pedagang, ekspresinya begitu antusias yang mana hal seperti ini amat begitu jarang wanita itu perlihatkan.


“Apa dirimu ingin mencoba manisan di sana?" tanya Hao Zhao seraya menunjuk salah satu tempat cukup banyak manisan dijajakan


“Mau!" Yue Yie penuh semangat.


“Kalau begitu ayo, biar aku belikan manisan itu untukmu," ucap Hao Zhao seraya berjalan bersama Yue Yie menghampiri tempat penjual manisan itu.


“Tuan Muda, Nona Muda adakah sesuatu yang bisa aku bantu?" tanya penjual manisan dengan senyum ramahnya.


“Berikan kami satu buah manisan yang kau jual, berapa harganya?" tanya Hao Zhao.


“Oh, ini hanya beberapa keping perunggu Tuan Muda."


“Ambil saja seluruhnya," ucap Hao Zhao sebelum pergi dari sana bersama Yue Yie membuat pedagang itu terpaku.


“Terimakasih, Tuan Muda!"


Seruan pedagang manisan itu kencang terdengar, di mana hanya tersenyum kecil saja Hao Zhao seraya terus melanjutkan langkahnya bersama Yue Yie di sampingnya.


Hao Zhao sendiri tidak memiliki masalah sedikitpun mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk sebuah manisan, selain karena memang hanya keping emas yang dirinya bawa, fakta kalau manisan itu bisa membawa kebahagiaan untuk Yue Yie membuat segalanya terasa semakin setimpal untuk Hao Zhao.


Yue Yie memang amat begitu Hao Zhao sadari tengah begitu senang dari sorot matanya, membuat tertutupnya sebagian wajah gadis itu tidak sama sekali menghambat Hao Zhao untuk mengetahuinya.


“Sayang sekali aku tidak bisa melihatmu tumbuh menjadi gadis cantik sepertinya," gumam Hao Zhao yang tiba-tiba teringat seseorang ketika melihat Yue Yie.


Yue Yie menyadari bagaimana tatapan Hao Zhao padanya segera tersipu malu sebelum berkata, “Apa ada sesuatu di wajahku, Kak Zhao?"

__ADS_1


Hao Zhao hanya menggeleng pelan sebagai bentuk jawaban, di mana segera Hao Zhao tunjuk manisan di tangan Yue Yie yang hanya dipegang dan tidak sedikit pun Yue Yie makan.


“Apa kau tidak akan memakannya?" tanya Hao Zhao.


Yue Yie segera menatap manisan di tangannya sejenak sebelum kembali menatap Hao Zhao, setelahnya berkata, “Haruskah?"


Hao Zhao hanya menaikan alisnya, tidak sama sekali mengerti apa kegunaan lain dari sebuah manisan jika tidak untuk dinikmati rasa manisnya.


“Tentu, lagipula bukankah memang itu tujuan manisan dibuat?" Hao Zhao penuh tanda tanya.


“Ta— tapi ini hal pertama yang kau berikan padaku, Kak Zhao," ucap Yue Yie merasa begitu sayang jika dirinya memakan manisan pemberian Hao Zhao.


Hao Zhao sempat terkejut sebelum tersenyum tipis, setelahnya berkata, “Makan saja, aku bisa membelikan banyak hal lain jika dirimu mau."


“Benarkah? Aku anggap ucapan mu benar, Kak Zhao. Awas saja jika dirimu berbohong padaku," ucap Yue Yie penuh ancaman.


Hao Zhao hanya tertawa kecil sebelum mengangguk, membuat Yue Yie bisa tanpa ragu segera melepas kain tipis yang selalu menutupi sebagian wajahnya untuk memakan manisan pemberian Hao Zhao.


Senyum penuh kebahagiaan, itulah yang Hao Zhao sadari sesaat setelah melihat wajah Yue Yie sepenuhnya. Di mana hal itu entah mengapa membuat Hao Zhao merasakan kehangatan teramat sangat di hatinya, hingga tanpa sadar sudah meletakan tangannya di atas kepala Yue Yie untuk mengelusnya lembut.


“Xua ..." gumam Hao Zhao tanpa sadar.


Yue Yie hanya menaikan alisnya setelah sempat mendengar Hao Zhao menyebut nama yang tidak sama sekali dikenalnya, meski begitu tidak sedikit pun Yue Yie coba pedulikan memilih untuk menikmati saja momen hangat itu bersama Hao Zhao di sisinya.


“Oh ... maaf. Aku tanpa sadar melakukannya," ucap Hao Zhao seraya menarik tangannya dari kepala Yue Yie.


Yue Yie hanya tersenyum sebelum meraih tangan Hao Zhao untuk meletakan nya kembali di atas kepalanya, setelahnya berkata,“ Tidak apa, Kak Zhao bisa menganggap aku ... Xua, apa benar itu namanya? Apapun itu aku sama sekali tidak masalah Kak Zhao menganggap aku sebagai dirinya."


Hao Zhao sempat tersentak sebelum tersenyum tipis, setelahnya berkata,“ Xua ... Hao Xua, dia adikku. Aku hanya tengah begitu rindu saja padanya hingga bisa menganggap dirimu sebagai dirinya."


Yue Yie hanya terpaku mendengar hal itu, belum lagi bagaimana cara Hao Zhao tersenyum membuat Yue Yie amat yakin jika sepertinya sosok Hao Xua memanglah begitu berarti untuk Hao Zhao.

__ADS_1


“Senyumnya, aku tidak pernah menyangka Kak Zhao ternyata bisa tersenyum setulus ini sebelumnya," gumam Yue Yie pelan hampir tidak terdengar.


__ADS_2