
Di ruang bawah tanah yang terletak di kediaman besar milik patriak, Jung Pin tengah duduk bersila dengan mata terpejam.
Di hadapannya telah ada Bunga Kehidupan yang terus menerus memancarkan energi tidak main-main jumlahnya, hanya tinggal mengkonsumsinya saja untuk menyerap energi itu dan membantu Jung Pin menaiki tingkat pendekar Jiwa walau sayang itu tidak bisa Jung Pin lakukan.
Bunga Kehidupan yang ada di hadapan Jung Pin memang tidak biasa kondisinya, ada tanda yang ditinggalkan entah oleh siapa membuat Jung Pin tidak bisa sembarangan mengkonsumsi sumber daya tersebut.
“Sialan, tenaga dalam asing milik siapa yang tertinggal di Bunga Kehidupan ini hingga bisa begitu sulit untuk aku hilangkan!!!" Jung Pin dengan ekspresi geram.
Jung Pin sudah sedari pagi memiliki keinginan mengkonsumsi Bunga Kehidupan tersebut, sayang itu tidak dapat Jung Pin lakukan sesaat setelah menyadari ada tanda berupa tenaga dalam yang tertinggal di sana.
Mencoba menghilangkan tenaga dalam asing tersebut dengan seluruh kemampuannya, itu hal yang tidak sama sekali mudah sampai malam datang saja Jung Pin masih gagal melakukannya.
“Apa aku hiraukan saja tenaga dalam asing yang tertinggal di Bunga Kehidupan ini?" gumam Jung Pin penuh keraguan.
Sadar situasinya tengah begitu buruk karena terancam akan menerima serangan dari Empat Sekte Ternama, Jung Pin perlahan merasa putus asa dan seolah siapa menerima apapun konsekuensinya dengan langsung mengkonsumsi sumber daya tersebut.
“Tidak, itu malah akan menjadi pedang bermata dua untukku," gumam Jung Pin seraya menggeleng pelan.
Seorang pendekar memiliki kendali penuh atas tenaga dalam miliknya, hal serupa juga berlaku untuk tenaga dalam asing yang tertinggal di Bunga Kehidupan.
Di mana jika Jung Pin nekat langsung mengkonsumsi Bunga Kehidupan tanpa terlebih dahulu menghilangkan tenaga dalam tersebut, maka pemilik tenaga dalam bisa melakukan apapun pada tenaga dalam miliknya yang telah masuk ke dalam tubuh Jung Pin bersamaan dengan Bunga Kehidupannya.
Entah menggerogoti tubuh Jung Pin macam penyakit ataupun meledakan tubuh tersebut, hal itu Jung Pin sadari bukan tidak mungkin dapat terjadi sehingga mengurungkan rasa nekatnya.
“Aku mungkin terdesak tetapi aku tidak bodoh, aku harus mencari cara lain untuk menghilangkan tenaga dalam yang menandai Bunga Kehidupan ini," ucap Jung Pin seraya membuka matanya, tidak lagi mencoba membersihkan Bunga Kehidupan dari tenaga dalam asing dengan tenaga dalam miliknya.
Jung Pin sadar mau sekeras apapun berusaha tenaga dalam miliknya tidak akan bisa membersihkan Bunga Kehidupan tersebut, sebab tenaga dalam asing yang tertinggal di sana baik secara kemurnian ataupun kekuatan Jung Pin sadari ada jauh di atas miliknya.
Jung Pin sendiri setelahnya hanya melangkah tanpa arah mengitari ruang bawah tanah tempatnya berada, sembari memikirkan cara yang sekiranya bisa untuknya lakukan pada Bunga Kehidupan agar bisa mengkonsumsinya.
“Sialan, lagipula pendekar macam mana yang meninggalkan tanda ini dan bagaimana bisa tenaga dalamnya memiliki kemurnian juga kekuatan setingkat ini," gumam Jung Pin dengan ekspresi geram merasa dipermainkan.
“Oh, dua pendekar yang membantu Tang Jiri. Bisa jadi salah satu dari mereka yang menandai Bunga Kehidupan ini ... sialan, betapa bodoh Tang Jiri hingga bisa percaya begitu saja pada mereka dan tidak memeriksa terlebih dahulu Bunga Kehidupan sebelum memberikannya padaku," gumam Jung Pin dengan jemarinya yang mulai terkepal erat.
__ADS_1
Di tengah rasa kesal Jung Pin sebab kebodohan Tang Jiri yang menurutnya sudah tidak tertolong, dirinya merasakan kehadiran beberapa orang mendekat ke arahnya.
Jung Pin mengerutkan dahi sebab tempatnya berada bisa dikatakan amat tersembunyi juga jarang ada orang tau, belum lagi di tempatnya berada telah terpasang formasi warisan leluhur yang bisa membuat bahkan pendekar tingkat tinggi sekalipun kesulitan mendeteksinya.
“Apa yang datang merupakan Tang Jiri juga beberapa orang tetua yang aku tugaskan berjaga di luar?" Jung Pin penuh tanda tanya.
Jung Pin baru ingin pergi untuk memeriksa ketika dari lorong menuju ruangannya telah tampak dua orang dan satu ekor binatang, Jung Pin jelas mempertanyakan siapa mereka sebelum terkejut setelah bisa melihat jelas rupa ketiganya.
Satu orang pemuda, satu bocah dan kucing dengan bulu lebat berwarna hitam pekat berjalan dengan begitu santai menghampirinya.
“Siapa kalian?!!" seru Jung Pin yang sudah menarik pedang dari sarungnya.
Ketiga yang datang tidak lain merupakan Hao Zhao, Li Chen juga Cang, ketiganya nampak menaikan alis mereka melihat Jung Pin sudah menaruh sikap waspada siap untuk menyerang.
“Oh, inikah patriak sekte Pedang Corak?" tanya Hao Zhao.
“Benar, seingat ku namanya Jung Pin atau apalah itu aku tidak terlalu peduli ... tidak penting juga," timpal Li Chen dengan senyum lebar.
Ada kumpulan bocah entah siapa bersama kucingnya berani mengatakan hal sejenis itu yang jelas meremehkannya tentu membuat Jung Pin murka, dirinya sudah kadung kesal sebab kebodohan Tang Jiri kini harus menerima hinaan semacam itu tentu membuat emosinya meledak.
“Aku tidak tau bagaimana kumpulan bocah macam kalian bisa sampai kemari, satu hal yang harus kalian tau adalah kalian akan mati sebab berani mengusikku di waktu yang tidak tepat," ucap Jung Pin sebelum melesat maju menghampiri ketiganya.
Jung Pin tidak terlalu memikirkan siapa ketiganya juga bagaimana mereka bisa sampai di sana, yang Jung Pin pikirkan saat itu hanyalah bagaimana dirinya bisa melampiaskan emosi yang sudah sedari pagi tertumpuk dalam dirinya.
“Hei, dia menyerang," ucap Hao Zhao dengan wajah datar seolah tidak sama sekali peduli.
“Peduli apa?" tanya Li Chen.
“Aku juga tidak peduli sebenarnya, aku bersedia datang kemari pun sebab kau terus merengek minta aku bantu," timpal Hao Zhao yang kali ini tersenyum sinis.
Jung Pin sempat mendengar pembicaraan keduanya, dirinya jelas menjadi semakin jengkel karena baik Hao Zhao maupun Li Chen sama sekali tidak menganggapnya.
“Kalian akan mati karena sudah berani meremehkan aku sejauh ini!!!" seru Jung Pin.
__ADS_1
Jung Pin tidak berapa lama sudah ada begitu dekat dengan Hao Zhao, Li Chen juga Cang, pedangnya segera diayunkan sesaat kemudian ingin menumbangkan salah satu dari ketiganya sebagai langkah awal.
“Ayunan Pedang Corak!!!" seru Jung Pin ketika pedangnya sudah begitu dekat ingin menggapai Hao Zhao sebagai targetnya.
Hao Zhao hanya menghela napas panjang mendengar itu, sudah sempat berurusan dengan jurus tersebut yang bisa membuat bagian tubuh yang terkena lumpuh jadi tidak gegabah mau begitu saja menerimanya.
Ketika pedang Jung Pin sudah ada tepat di dekat leher Hao Zhao, Hao Zhao menarik mundur kepalanya membuat pedang itu hanya menebas angin. Tidak sama sekali sulit menurut Hao Zhao melakukan hal tersebut karena kecepatan serang Jung Pin yang tidak seberapa.
Buaghhh!!!
Hao Zhao tidak sama sekali menarik pedangnya saat sudah berhasil menghindari ayunan pedang Jung Pin, hanya memukulkan tinjunya saja ke arah wajah Jung Pin membuat pria itu terjengkang ke belakang sebab kerasnya pukulan tersebut.
“Sialan ...."
Jung Pin belum menyelesaikan perkataannya ketika serangan lain sudah mendarat di tubuhnya, itu merupakan tendangan demikian keras tidak jauh berbeda dengan pukulan yang baru diterimanya.
Buaghhh!!!
Li Chen hanya tersenyum meledek ketika tendangannya berhasil mendarat tepat di perut Jung Pin, dirinya sempat melompat ketika melakukan hal tersebut sehingga daya dorong dari tendangannya jauh lebih kuat dari yang seharusnya.
Jung Pin baru berusaha menjaga keseimbangannya agar tidak jatuh setelah menerima serangan dua kali berturut-turut, tetapi belum dirinya sempat melakukan hal tersebut Cang telah lebih dahulu melompat sebelum memberi beberapa cakaran ke arah wajah Jung Pin.
Slashhh!!!
Darah mengucur deras dari bekas cakaran Cang, perasaan Jung Pin begitu campur aduk sebab tidak menyangka kalau tiga orang yang dianggapnya sepele bisa melakukan hal sejenis itu padanya.
“Hei, kau pikir kami hanya orang acak yang kebetulan lewat atau apa hingga berpikir bisa menangani kami dengan tingkat kekuatanmu yang tidak seberapa semacam itu?" tanya Li Chen dengan senyum lebar di wajahnya.
“Tingkat kekuatannya setara denganmu jika kau tidak ingat," ucap Hao Zhao pada Li Chen.
“Meong!!!" Cang seolah mendukung ucapan Hao Zhao.
Li Chen hanya bisa menarik napas dalam sebelum menghembuskan nya mencoba menenangkan diri agar amarahnya tidak pecah, setelah merasa cukup tenang dirinya berkata, “Berisik."
__ADS_1