
Setelah acara sambutan, penentuan lawan tanding adalah tahap berikutnya dari turnamen tersebut.
Di mana meski seharusnya turnamen sudah dimulai dari semenjak penentuan lawan tanding selesai, hal itu tidak bisa dilakukan sebab arena pertarungan yang perlu perbaikan setelah naiknya Hao Zhao ke atas arena membuat arena itu mengalami kerusakan cukup parah.
Untungnya pembetulan arena tidak memakan waktu cukup lama, di mana Meng Kiao selaku penguasa kota bisa mengurus hal tersebut cukup baik membuat siang harinya semua yang telah direncanakan untuk turnamen tersebut mulai bisa dilakukan.
Pengumuman informasi terkait siapa menjadi lawan siapa mulai di sampaikan oleh Meng Kiao dari atas arena pertarungan, membuat sekitar ratusan peserta kini telah mengetahui siapa lawan mereka di turnamen nanti.
Sebagian dari para peserta ada yang merasa puas juga ada yang tidak puas dengan pembagian lawannya, di mana di antara mereka yang tidak puas terdapat satu orang yang seolah tertimpa gunung sebab harus menjadi lawan Hao Zhao di pertarungan pertamanya.
Turnamen di kota Dahan Gugur sendiri memiliki ketentuan eliminasi, kalah sekali berarti kalah sepenuhnya membuat keberuntungan juga ikut ambil bagian dari seberapa jauh seorang peserta bisa melangkah.
“Sialan, apa-apaan ini. Dari sekian banyak orang kenapa harus aku yang menjadi lawannya, belum lagi pertarungan ku di tempatkan sebagai pertandingan pertama? Jangan bercanda," seorang peserta yang menjadi lawan Hao Zhao, begitu buruk bagaimana ekspresinya ketika namanya di panggil untuk menaiki arena.
Di atas arena sendiri sudah ada satu orang prajurit kekaisaran yang akan menjadi pengawas dari pertandingannya, di mana suasana riuh terdengar tidak lama setelahnya sebab Hao Zhao mulai berdiri dari bangkunya untuk juga naik ke atas arena.
“Kak Zhao, semangat!" seru Yue Yie mencoba memberi dukungannya.
“Aku masih ada di dekatmu, kenapa malah berteriak?" Hao Zhao dengan kupingnya yang terasa sedikit sakit.
“Hehe, maaf. Aku hanya terlalu bersemangat saja,"ucap Yue Yie dengan senyum canggung.
Hao Zhao hanya menghela napas pelan sebelum melirik ke arah Yang Gao, di mana pria tua itu segera mengungkapkan beberapa hal tanpa suara pada Hao Zhao.
Hao Zhao hanya mengangguk memahami apa yang Yang Gao sampaikan padanya dengan membaca gerak bibir Yang Gao, di mana apa yang Yang Gao minta untuknya lakukan dapat Hao Zhao sanggupi sebab tidaklah sama sekali sulit hal tersebut.
“Hao Zhao dari Lentera Harta, di harap segera menaiki arena pertarungan!"
Seruan terdengar dari prajurit kekaisaran di atas arena, di mana lawan Hao Zhao telah ada di sana tetapi tidak dengan Hao Zhao yang pertarungannya sudah begitu dinanti-nanti oleh setiap dari para peserta juga penonton yang hadir.
Hao Zhao mendengar namanya di panggil dengan segera melompat ke atas arena, membuat sekian banyak orang termasuk Meng Kiao panik takut-takut arena pertarungan akan sekali lagi hancur sebab apa yang Hao Zhao lakukan.
“Sialan, apakah kita harus sekali lagi menunggu arenanya diperbaiki setelah ini?"
__ADS_1
“Seperti itu juga tidak apa, lagipula lawan ku kuat sehingga aku membutuhkan waktu untuk memikirkan cara melawannya."
“Hey, jangan berkata seperti itu. Memangnya kau mau harus selalu menunggu perbaikan arena setiap dirinya selesai bertarung?"
Pembicaraan di antara peserta, teringat akan apa yang terjadi saat Hao Zhao pertama kali menaiki arenanya.
Berbeda dengan dugaan cukup banyak orang terkait arena yang akan sekali lagi hancur sebab naiknya Hao Zhao ke sana, apa yang sebenarnya terjadi begitu berbeda membuat setiap orang yang melihat Hao Zhao dengan segera terpana.
Hao Zhao seolah berjalan di udara saat mendarat dari lompatan yang dilakukannya, membuat dirinya bisa dengan mulus sampai di atas arena tanpa meninggalkan sedikit pun kerusakan di sana.
“Apa? Bagaiman bisa seorang generasi muda melakukan itu?"
“Sialan, ini benar-benar tidak masuk akal!"
Pembicaraan kembali terdengar setelah apa yang Hao Zhao lakukan, di mana kali ini buka dari para peserta melainkan mereka para tetua yang mendampingi generasi muda mereka untuk mengikuti turnamen tersebut.
Tetua yang hampir seluruhnya merupakan pendekar Pemurnian tersebut sadar akan apa yang Hao Zhao baru saja berhasil lakukan, di mana itu membutuhkan penguasaan tenaga dalam amat tinggi untuk melakukannya dan tidak ada dari setiap tetua itu yang bisa melakukan hal tersebut membuat mereka dipenuhi tanda tanya.
“Hanya perlu mengaliri telapak kaki dengan tenaga dalam membuat menapaki udara seolah berjalan di atasnya, apa yang kalian ributkan dari hal sederhana itu?" gumam Hal Zhao sempat mendengar pembicaraan terkait dirinya.
“Aturannya mudah, buat lawan kalian keluar dari arena atau menyerah. Apa kalian mengerti?" tanya prajurit kekaisaran yang memiliki tanggung jawab mengawasi keselamatan para peserta yang bertanding setelah Hao Zhao menaiki arena.
Hao Zhao dan pendekar muda yang menjadi lawannya dengan segera mengangguk, tidak mempermasalahkan hal itu sebab memang hal umum peraturan seperti itu dalam sebuah turnamen.
“Bagus, jadi apa kalian siap?" tanya Prajurit kekaisaran setelahnya.
“Aku siap," ucap Hao Zhao singkat.
“A— aku ... siap" pendekar muda yang menjadi lawan Hao Zhao, mengatakan hal itu penuh keraguan.
Prajurit kekaisaran sempat menaikan alisnya, sadar kalau sepertinya orang yang menjadi lawan Hao Zhao sama sekali tidak memiliki kesiapan berbanding terbalik dari ucapannya.
“Kalau begitu silahkan bertarung!" seru prajurit kekaisaran tidak sama sekali peduli akan hal itu karena tanggung jawabnya hanya menjadi pengawas atau wasit di pertandingan tersebut.
__ADS_1
Hao Zhao tidak sama sekali bereaksi bahkan setelah pertandingannya resmi di mulai, hanya berdiri saja di tempatnya tanpa sedikitpun menunjukan posisi siap bertarungnya.
Pendekar muda yang menjadi lawan Hao Zhao hanya menatap Hao Zhao aneh, dirinya sudah siap dengan pedang di tangannya tetapi begitu ragu untuk mulai bergerak menyerang.
“Hei, apa kau hanya akan diam saja seperti itu?" tanya Hao Zhao setelah cukup lama menunggu serangan dari lawannya.
“Senjata mu, kenapa kau tidak menggunakannya?" Pendekar muda yang menjadi lawan Hao Zhao sempat merasa itu kesempatannya melihat Hao Zhao yang tanpa senjata, meski begitu tidak dirinya ambil kesempatan tersebut takut itu hanya jebakan yang Hao Zhao siapkan untuknya.
Hao Zhao hanya menatap lawannya dalam diam sebelum berkata, “Memang aku memerlukannya?"
“Sialan, salahkan dirimu sendiri berani meremehkan ku seperti ini!" Pendekar muda yang menjadi lawan Hao Zhao meski penuh keraguan akhirnya terpaksa bergerak, mencoba menerjang Hao Zhao dengan pedang di tangannya yang sudah begitu siap dihujamkan.
Hao Zhao hanya diam ditempatnya menunggu lawannya terus mendekat ke arahnya, sebelum tiba-tiba menghilang dari pandangan lawannya entah kemana.
“Sialan! Lari kemana kau?!" Pendekar muda yang menjadi lawan Hao Zhao segera merasa terkejut, ketika target hujaman pedangnya tiba-tiba menghilang membuat pedangnya hanya menghujam angin alih-alih Hao Zhao.
“Siapa yang lari?" Hao Zhao secara tiba-tiba muncul di samping pendekar muda tersebut, sebelum mengayunkan kepalan tangannya tepat di wajah pendekar muda itu.
Buaghhh!!!
Suara renyah benturan kepalan tangan dengan wajah terdengar, setelahnya pendekar muda yang menjadi lawan Hao Zhao seolah melayang di udara sebab terlempar demikian jauhnya dari arena.
“Hei, menyingkir!"
"Dirinya terlempar ke arah kita, ini berbahaya!"
Sekian banyak penonton yang menyaksikan turnamen di salah satu sisi arena segera merasa panik setelah melihat tubuh peserta yang tengah bertanding kini terhempas ke arah mereka.
Beruntung untuk mereka ketika beberapa Prajurit kekaisaran yang memang ada di sekitar arena secara tepat waktu bergerak untuk menangkap tubuh pemuda itu agar tidak menghantam penonton, walau itu berarti menjadikan mereka pengganti yang harus menahan hantaman terhempasnya tubuh pemuda itu.
Brakkk!!!
Sekitar dua orang prajurit kekaisaran yang berusaha menangkap tubuh pemuda itu sempat ikut terhempas tidak sanggup menahan laju tubuhnya, sebelum akhirnya berhasil melakukan itu dengan penuh susah payah.
__ADS_1
Apa yang baru saja terjadi dengan segera menjadi sumber keterkejutan baru untuk setiap dari mereka yang menyaksikan, membuat sosok Hao Zhao di mata mereka menjadi lebih luar biasa dari yang sebelumnya.
“Mengalahkan setiap lawan dengan kesan mendominasi yang luar biasa, itu hal mudah," gumam Hao Zhao teringat pesan yang disampaikan oleh Yang Gao.