
“Hei, apa kalian sudah dengar jika sekte Pedang Corak dikatakan baru mendapatkan sumber daya Bunga Kehidupan?"
“Oh, aku mendengarnya. Dikatakan juga mereka tidak sama sekali melaporkan keberadaan bunga ini pada Empat Sekte Ternama, entah apa yang mereka pikirkan hingga bisa seberani ini."
“Apa yang mereka pikirkan bukankah sudah jelas? Mereka hanya ingin mendapatkan Bunga Kehidupan untuk diri mereka sendiri, lagipula sudah lama patriak sekte Pedang Corak tertahan di tingkat pendekar Pembentukan Jiwa tahap Puncak. Bunga Kehidupan jelas bisa membantunya naik menjadi pendekar Jiwa."
Pembicaraan ramai terdengar di jalanan kota Pusat Pedang pagi itu, hampir seluruhnya membahas rumor terkait sekte Pedang Corak yang entah datang dari mana informasi tersebut.
Di antara ramainya orang di jalanan saat itu, Ma Feng dengan ekspresi buruk mengepalkan tangannya tampak geram.
Ma Feng memang belum sama sekali istirahat setelah sampai di kota tersebut, guna memenuhi perintah nona muda Bangau Emas untuk mencari informasi seorang pemuda yang jelas amat begitu sulit untuknya.
Di tengah rasa putus asa tidak dapat melakukan apa yang nona mudanya minta, kini mendengar tindakan kurang ajar sekte Pedang Corak jelas menyulut emosinya.
“Sekumpulan serangga, berani sekali kalian menghiraukan perjanjian untuk melaporkan segala hal pada Empat Sekte Ternama," ucap Ma Feng.
Ma Feng segera kembali ke bangunan Bangau Emas tempat nona mudanya berada, menghiraukan perintah yang diberikan padanya sebab merasa apa yang didengarnya lebih penting untuk Bao Yu ketahui.
Bunga Kehidupan merupakan sumber daya langka dengan harga amat tinggi, jika melihat ketentuannya apa yang ditemukan sekte bawahan Empat Sekte Ternama akan menjadi hak milik Empat Sekte Ternama itu sendiri sementara yang menemukannya hanya akan mendapat imbalan sebagai gantinya.
“Kau ingin mengambil keuntungan dari Bunga Kehidupan? Tidak akan aku biarkan bahkan di mimpimu sekalipun!!!" seru Ma Feng.
***
Sekte Pedang Corak pagi itu tengah sangat ramai orang seolah sedang merayakan sesuatu, sebuah pesta kembalinya Tang Jiri yang berhasil mendapatkan Bunga Kehidupan yang memang telah begitu mereka nantikan.
Di antara setiap anggota sekte yang berkumpul baik itu tetua maupun murid sekte, Tang Jiri yang menjadi sorotan utama pesta itu tidak bisa berhenti tersenyum sebab berbagai pujian yang dilayangkan untuknya.
“Saudara Jiri, aku tau dirimu bisa diandalkan," ucap seorang pria sepuh dengan jubah paling memukau di antara yang lain.
__ADS_1
Berbeda dengan kebanyakan orang di sana yang memanggil Tang Jiri dengan sebutan wakil patriak, pria sepuh tersebut memanggilnya saudara dan Tang Jiri tidak sama sekali berani mempermasalahkannya.
Jung Pin merupakan namanya, sosok paling dihormati di sekte Pedang Corak sebab dirinyalah patriak sekte tersebut.
“Saudara Pin, aku harap yang terbaik untukmu saat menyerap Bunga Kehidupannya," ucap Tang Jiri cepat seraya memberi hormat.
“Huahaha, aku terima ucapan baikmu. Di samping itu, tidakkah ada hadiah yang sekiranya kau inginkan untuk imbalan keberhasilan mu?"
Tang Jiri hanya menggeleng, apa yang dilakukannya murni untuk pertumbuhan sekte yang mana itulah hadiah yang paling dirinya inginkan.
“Melihat sekte kita menjadi sekte Besar, itu sudah hadiah paling memukau untukku," ucap Tang Jiri.
Jung Pin sempat terdiam, sesaat setelahnya tertawa begitu keras jelas puas akan sosok wakilnya.
“Ini yang aku suka darimu, saudara Jiri. Tunggu aku naik menjadi pendekar Jiwa, maka akan aku usahakan untukmu bisa melakukan hal serupa," ucap Jung Pin menepuk bahu Tang Jiri beberapa kali.
Tang Jiri segera mengangguk dengan senyumnya yang mengembang, bohong kalau dirinya tidak tertarik akan hal tersebut sebab dirinya juga tengah tertahan di tingkat pendekar Pembentukan Jiwa tahap Puncak.
Jung Douli, murid Utama sekte Pedang Corak sekaligus cucu dari Jung Pin lah pemuda tersebut.
“Kakek, ini berbahaya ...."
Nafas Jung Douli benar-benar terengah, meski begitu dirinya tidak pedulikan karena ada hal yang jauh lebih penting ketimbang rasa lelahnya.
“Muridku, apa ada yang terjadi padamu?" tanya Tang Jiri nampak khawatir, sebab Jung Douli memang merupakan murid langsungnya.
“Guru, ini berbahaya." Jung Douli dengan ekspresinya yang begitu buruk, keringat dingin bahkan tampak membasahi tubuhnya.
Tang Jiri juga Jung Pin dengan segera melirik satu sama lain, semenjak kejadian hilangnya satu tangan Jung Douli, pemuda tersebut hampir tidak pernah menghabiskan waktunya di sekte.
__ADS_1
Di mana menurut kabar hanya bersenang-senanglah yang Jung Douli lakukan di kota Pusat Pedang, sama sekali tidak pernah memikirkan terkait pelatihannya lagi.
“Apa kau terlibat masalah? Katakanlah siapa yang berani mengganggumu, biar Kakek sendiri yang turun tangan menghabisinya," ucap Jung Pin.
“Benar Muridku, katakan siapa di kota Pusat Pedang yang berani padamu. Hanya karena hilangnya satu tanganmu kini mereka mulai berani berurusan denganmu, biar aku lihat dengan cara apa orang itu mau menderita," timpal Tang Jiri.
Jung Douli hanya mengerutkan dahi mendengar hal tersebut, dirinya sadar kalau memang amat gemar terlibat masalah beberapa waktu terakhir tetapi yang kali ini bukan sebab hal itu dirinya mengadu.
“Bukan itu," ucap Jung Douli.
Tang Jiri juga Jung Pin segera menatap Jung Douli penasaran, menunggu pemuda tersebut menjelaskan maksudnya.
“Kabar terkait Bunga Kehidupan sudah menyebar, ada kemungkinan orang-orang dari Empat Sekte Ternama telah mendengar hal ini. Ini berbahaya, itu sebabnya aku datang untuk memberitahukannya kepada Kakek dan Guru," ucap Jung Douli.
Wajah Jung Pin seketika memburuk, setelahnya menoleh ke arah Tang Jiri sebab hanya wakilnya itu yang dipercaya bertanggung jawab atas bunga tersebut.
“Tidak, Saudara Pin. Aku bisa pastikan tidak ada seorang pun tau terkait hal ini. Dirimu juga sudah tau bukan jika setiap orang yang ikut denganku telah meregang nyawa? Bagaimana bisa mayat mereka menyebar luaskan informasi terkait Bunga Kehidupan, kecuali ...."
Jung Pin menaikan alis menunggu Tang Jiri menyelesaikan ucapannya, hal terkait tiga patriak sekte bawahan juga orang-orangnya yang meregang nyawa sudah dirinya ketahui tetapi tidak dengan apa yang seperti ingin Tang Jiri sampaikan.
“Dua orang yang membantuku mendapatkan bunga itu," lanjut Tang Jiri.
“Apa?!! Ada hal seperti ini dan kau tidak memberitahukannya padaku?!!" Jung Pin dengan nada tinggi.
Tang Jiri hanya menunduk di bentak seperti itu oleh Jung Pin, dirinya tidak memiliki maksud lain hanya ingin menyembunyikan saja keterlibatan dua pendekar asing yang menolongnya.
Siapa sangka ternyata orang yang dianggapnya penolong malah melakukan hal sejenis ini, yang jelas amat membahayakan untuk sekte nya sebab membuat Empat Sekte Ternama murka.
“Sudahlah, cepat bubarkan pestanya. Aku harus segera menyerap Bunga Kehidupan sebelum orang-orang dari Empat Sekte Ternama datang untuk mengambilnya." Jung Pin sebelum melompat demikian tinggi menuju suatu tempat.
__ADS_1
Tang Jiri segera melakukan apa yang Jung Pin perintahkan, membuat pesta yang telah digelar beberapa hari tersebut terhenti berganti dengan suasana tegang sebab Tang Jiri memerintahkan setiap dari anggota sekte waspada.
“Tingkatkan penjagaan disekitar sekte mulai dari sekarang, jangan biarkan satu pun orang masuk bahkan walau anggota sekte yang tengah ada di luar!!!" seru Tang Jiri.