
Hao Zhao baru sampai di kota Bunga Biru atas permintaan Li Chen, itu merupakan kota kecil yang lebih cocok disebut desa besar daripada sebuah kota.
Hao Zhao bisa sampai di sana setelah melakukan perjalanan tanpa henti beberapa hari, kotanya memang ada cukup dekat dengan ibukota kekaisaran yang mana jaraknya cukup jauh dari kota Pusat Pedang.
“Jadi apa ada hal baik di kota ini hingga kau memaksa mengajakku kemari?" tanya Hao Zhao setelah lolos pemeriksaan memasuki kota.
Li Chen segera memaparkan apa maksud tujuannya mengajak Hao Zhao ke sana yang masih ada kaitan dengan keinginan balas budinya, di dekat kota itu dikatakan tiba-tiba muncul kabut misterius yang areanya dilingkupi oleh formasi asing.
Kabar terkait itu sudah sedari lama menyebar dan dalam waktu dekat ini sudah banyak sekte mengirim anggota mereka untuk menyelidiki kabut tersebut, hal semacam ini memang merupakan tanda munculnya sebuah sumber daya atau pusaka jadi normal hal itu membuat kehebohan.
“Entah apapun yang akan kita dapatkan dari kabut ini kau lah pemiliknya," ucap Li Chen menutup penjelasannya.
Hao Zhao hanya mengangguk menanggapinya, Hao Zhao, Li Chen juga Cang segera menuju pusat kota untuk mencari penginapan sebelum memperbanyak informasi terkait kabutnya.
Penginapan biasa yang seharusnya memiliki biaya menginap tidak seberapa saat itu tiba-tiba menjadi mahal, amat terlihat jelas bagaimana warga kota Bunga Biru yang ingin memanfaatkan kehadiran sekian banyak pendekar di sana.
“Sial, bagaimana bisa harga menginap satu malam bisa semahal ini di penginapan hampir rubuh itu," ucap Li Chen setelah selesai mengurus tempat mereka bermalam di kota tersebut.
“Bagaimana lagi, hanya kamar di penginapan itu yang tersisa karena penginapan lain bahkan rumah warga sudah ada pendekar yang menyewa," timpal Hao Zhao tidak memusingkan, karena harga penginapan tidak seberapa jika dibandingkan dengan harta yang baru didapatnya dari cincin tetua Bangau Emas.
Jalanan kota yang sedang dilalui Hao Zhao tengah dipenuhi oleh sekian banyak pendekar, mereka kebanyakan membicarakan kabut yang menjadi alasan kedatangan mereka membuat Hao Zhao cukup tertarik.
“Jika mereka begitu yakin ada harta di dalam kabut itu mengapa tidak pergi untuk langsung mengambilnya ketimbang berkumpul di kota ini?" Hao Zhao penuh tanda tanya.
Hampir setiap pendekar di sana datang dengan rekan sekte mereka sehingga tidak perlu risau akan bahaya, apalagi jika menilik sifat asli manusia yang lekat dengan serakah membuat Hao Zhao merasa aneh tidak ada satupun dari mereka mengambil tindakan pertama untuk mendapat keuntungan lebih dari kabutnya.
__ADS_1
“Kebanyakan dari pendekar yang datang merupakan anggota sekte bawahan Empat Sekte Ternama, mereka tidak diperbolehkan melakukan itu kecuali Empat Sekte Ternama mengijinkannya," jelas Li Chen.
Masuk akal kini keanehan tersebut dapat terjadi menurut Hao Zhao, dibanding datang dengan niat menguasai harta yang ada di dalam kabut kebanyakan pendekar yang datang ternyata hanya ingin ikut ambil bagian agar mendapatkan jatah.
“Jadi adakah satu dari Empat Sekte Ternama yang telah kau ketahui akan datang untuk mengurus kabutnya?" tanya Hao Zhao.
“Aku belum tau, tetapi melihat kebanyakan dari pendekar yang hadir adalah bagian dari sekte Kecil juga Menengah, seharusnya Empat Sekte Ternama sudah memastikan tidak ada harta tingkat tinggi di dalam kabutnya," jawab Li Chen.
“Oh, jadi meski Empat Sekte Ternama mengirim orang sekalipun tidak akan merepotkan untuk kita mencuri hartanya dari mereka?"
“Tepat," ucap Li Chen singkat.
Hao Zhao bersama Li Chen memasuki restoran yang ada di dekat penginapan mereka, karena tempat semacam ini diketahui keduanya sebagai sumber aliran informasi banyak tersebar.
Setiap meja dari restoran tersebut kebanyakan telah diisi, hanya tersisa satu di paling ujung yang mau tidak mau Hao Zhao juga Li Chen duduk di sana.
Hao Zhao juga Li Chen baru saja duduk ketika pemuda itu membuat keributan, langsung Hao Zhao juga Li Chen periksa tentu saja siapa pemuda yang memiliki keberanian sekian besar hingga tidak ragu bersinggungan dengan mereka.
“Oh, bocah ini. Aku mengenalnya," bisik Li Chen.
Fang Du, murid Utama sekte Tombak Jiwa. Memiliki perawakan kekar jelas terlatih membuat pemuda itu terlihat jauh lebih dewasa dari usia aslinya.
“Jadi dirinya orang yang dipercaya Empat Sekte Ternama mengurus kabut di dekat kota ini?" Hao Zhao memastikan.
“Melihat hanya ada dirinya dan tidak ada murid utama dari Empat Sekte Ternama lain kemungkinan iya, jelas mudah kalau saingan kita untuk memperebutkan hartanya adalah seorang generasi muda," timpal Li Chen.
__ADS_1
Fang Du segera menggebrak meja ketika Hao Zhao juga Li Chen lebih asik berbicara dibanding menanggapi ucapannya, dirinya merasa Hao Zhao juga Li Chen meremehkannya.
Memang dalam sudut pandang Fang Du bagaimana Hao Zhao juga Li Chen terlihat tidak beda dengan kebanyakan generasi muda yang di cap olehnya hanyalah sampah, mengira juga Hao Zhao dan Li Chen adalah generasi muda sekte bawahan sehingga menganggap keduanya lancang berani tidak menghiraukan perintahnya.
“Hei, dari sekte mana kalian?!! Kenapa tidak mengindahkan ucapan ku ketika aku minta kalian menyingkir dari mejaku?!!"
Fang Du kembali menggebrak meja yang mana kali ini jauh lebih keras, menyadarkan Hao Zhao juga Li Chen yang sempat asik sendiri.
“Hei, jika ingin duduk maka duduk saja. Lagipula bangku yang tersisa masih ada sehingga tidak perlu mengusir kami seperti ini," ucap Hao Zhao pada Fang Du.
“Aku? Duduk bersama anggota sekte bawahan seperti kalian? Jangan mimpi!!!"
Fang Du segera menarik tombak yang ada di punggungnya ketika mengatakan itu, bermaksud memberi intimidasi pada Hao Zhao juga Li Chen agar tidak sembarangan membantah atau melawan ucapannya.
“Aku Fang Du, murid Utama sekte Tombak Jiwa. Berani sekali kalian tidak menghormati ku yang satu dari beberapa jenius langka generasi ini," ucap Fang Du sudah mengacungkan ujung tombaknya pada Hao juga Li Chen.
Hao Zhao segera melirik Li Chen dalam diam, Li Chen segera mengangguk seolah mengerti sebelum keduanya secara bersamaan berdiri dengan senjata masing-masing sudah menempel di leher Fang Du.
“Hei, bocah. Berhenti membuat kami kesal," ucap Li Chen yang mulai menekan belatinya untuk menggores leher Fang Du.
“Sialan, generasi muda sekte bawahan kurang ajar!!!" seru Fang Du sebelum menusukkan tombaknya pada Li Chen yang telah melukai lehernya.
Ctankkk!!!
“Hei, kau bisa berhenti membuat keributan tidak? Jika kau terus memperpanjang ini maka jangan harap bisa melihat esok hari," ucap Hao Zhao yang berhasil membantu Li Chen menepis tombak Fang Du, tidak lama setelahnya segera kembali Hao Zhao tempelkan pedangnya ke arah leher Fang Du.
__ADS_1
Fang Du hanya bisa menelan ludah ketika di sisi kanan dan kiri lehernya sudah ada senjata tajam yang akan menebasnya jika dirinya menoleh sedikit saja, hal ini cukup membuat Fang Du membatu sebab tidak menyangka dua orang yang sempat dirinya anggap bukan siapa-siapa ternyata bisa melakukan hal sejenis ini padanya.