
Jalanan kota tengah amat ramai pagi itu, bukan hanya penduduk kota saja yang banyak ada di sana tetapi juga mereka para pendekar terlihat dari senjata yang mereka bawa baik di pinggang ataupun punggung mereka.
Entah itu pendekar Bebas ataupun pendekar yang berasal dari sekte, ekspresi antusias hampir pasti terlihat di wajah mereka tanda mereka sudah amat begitu menyambut digelarnya turnamen tidak lama lagi.
Hao Zhao, Yue Yie juga Yang Gao menjadi salah satu dari mereka yang meramaikan jalanan kota. Di mana setiap dari mereka tengah menuju satu tempat turnamennya dikatakan akan digelar.
Hao Zhao sepanjang perjalanannya ke sana, terus menerus dibuat merasa tidak nyaman dengan bagaimana Yue Yie tampak begitu mengkhawatirkan ketika berjalan bersamanya.
Wajah Yue Yue terlihat begitu merah ronanya, tidak peduli walau sebagian wajah Yue Yie tertutup kain sekalipun, tetap dapat Hao Zhao sadari hal itu sebab kain tipis tersebut tidak dapat menutupi sepenuhnya rona wajah tersebut.
“Yie, kau sakit. Lebih baik dirimu tetap di Lentera Harta saja, tidak baik memaksakan diri seperti ini," ucap Hao Zhao.
Yue Yie sempat tersentak mendengar ucapan Hao Zhao sebelum berkata, “Aku tidak apa, Kak Zhao. Jangan khawatir."
“Benarkah? Meski kau terlihat seperti ini? Aku yakin setidaknya suhu badanmu pastilah tinggi hingga wajahmu bisa memerah separah ini," ucap Hao Zhao mengungkapkan apa yang menjadi sumber kekhawatirannya pada Yue Yie.
Yue Yie segera menoleh untuk menatap Hao Zhao, tatapannya terlihat mempertanyakan sebelum tersenyum geli. Mulai mengerti dirinya jika Hao Zhao sepertinya salah paham akan sesuatu.
“Kak Zhao, wajahku memerah seperti ini bukan karena sakit atau sejenisnya melainkan ...."
Yue Yie tidak melanjutkan perkataannya karena bingung harus bagaimana mengatakannya pada Hao Zhao.
“Melainkan apa?" tanya Hao Zhao yang telah begitu penasaran.
“Jubah kita ... serupa," ucap Yue Yie pelan hampir tidak terdengar.
Hao Zhao hanya menaikan alisnya, tentu paham dirinya apa yang Yue Yie maksud. Yue Yie biasanya selalu mengenakan gaun cantik untuk kesehariannya, kini Yue Yie menggantinya dengan jubah murid Utama yang serupa dengan apa yang dikenakannya. Satu hal yang Hao Zhao tidak mengerti adalah apa hubungannya antara jubah serupa dengan wajah memerah.
__ADS_1
Yue Yie menyadari tatapan mempertanyakan Hao Zhao padanya, di mana hal ini jelas membuat Yue Yie kesal tidak mengerti bagaimana Hao Zhao bisa begitu tidak peka akan perasaannya.
“Yie, kain tipis yang menutupi wajahmu berubah. Apa kau tengah cemberut sekarang?" tanya Hao Zhao.
“Diam, Kak Zhao. Jangan buat aku semakin kesal," ucap Yue Yie seraya membuang wajahnya, di mana kedua pipinya memang telah mengembung sebab jengkel.
Hao Zhao pada akhirnya hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebab tingkah Yue Yie, tidak mengerti dirinya di mana perkataan atau tindakannya yang salah sampai Yue Yie bisa marah.
“Buahaha, tidak pernah aku sangka di umurku ini masih bisa begitu terhibur melihat percintaan sepasang generasi muda," ucap Yang Gao seraya terkekeh pelan setelah ikut mendengar pembicaraan antara Yue Yie dengan Hao Zhao.
Hao Zhao sendiri pada akhirnya lebih memilih diam setelahnya, tidak ingin mencoba lagi berbicara takut Yue Yie semakin marah padanya.
Setelahnya tidak perlu waktu lama sampai Hao Zhao, Yue Yie juga Yang Gao sampai di pusat kota tempat setiap orang di kota Dahan Gugur sepertinya berada.
Di sana memang telah begitu ramai orang mengitari sebuah panggung sederhana cukup besar di tengah jalanan kotanya.
Di sekitar arena pertarungan sendiri sudah tersedia tempat duduk berbeda-beda yang telah disiapkan untuk individu atau kelompok berbeda juga.
Satu area yang paling mewah ada begitu dekat dengan arena pertarungannya, di mana di sana telah terlihat beberapa orang yang Hao Zhao kenali dua darinya sebagai penguasa kota juga anak perempuannya.
Untuk area tempat duduk itu sendiri masihlah ada yang masih kosong, seperti sengaja dikosongkan untuk sekitar tiga orang entah siapa.
Di samping tempat duduk mewah tersebut, area tempat duduk yang lain telah di isi penuh oleh pemiliknya. Di mana dapat Hao Zhao tebak hanya dengan melihat sekilas jika mereka kebanyakan merupakan bagian dari sekte kecil yang generasi mudanya akan mengikuti turnamen.
Di area tempat duduk yang paling sederhana juga serupa penuhnya, di mana hampir seluruh dari mereka adalah para pendekar Bebas yang akan mengikuti turnamen. Hal itu dapat Hao Zhao ketahui sebab Hao Zhao mengenali salah satu dari mereka yang tidak lain merupakan Jian San tengah duduk di salah satu kursinya.
“Pendekar Bebas ternyata masihlah tidak di anggap begitu bernilai bahkan hingga sekarang," gumam Hao Zhao menyadari betapa timpangnya tempat duduk yang disediakan untuk mereka dengan para pendekar dari sekte.
__ADS_1
Di luar mereka yang berhak duduk, para penonton yang kebanyakan merupakan penduduk kota juga mereka para pendatang yang sengaja hadir untuk menyaksikan, harus berdiri setiap dari mereka di sekitar arena pertarungan dengan pembatas agar tidak terlalu dekat guna keselamatan mereka sendiri.
Hao Zhao sendiri hanya mengikuti langkah Yang Gao saja saat itu, tidak paham memang dirinya harus pergi atau duduk di mana sehingga hanya itu yang bisa dilakukannya.
“Kak Zhao, jangan bersikap ramah padanya," ucap Yue Yie.
Hao Zhao segera menaikan alisnya mendengar ucapan tiba-tiba Yue Yie, baru ingin mempertanyakan apa maksudnya segera Hao Zhao ketahui apa sekiranya alasan Yue Yie mengatakan hal itu.
Tidak jauh di depannya sudah ada penguasa kota bersama anak perempuannya tengah tersenyum ramah menyambutnya, Yue Yie juga Yang Gao yang memang tengah menghampiri mereka.
“Tuan Gao, aku awalnya mempertanyakan apa yang dikatakan Putriku merupakan kebenaran atau tidak kalau Anda akan datang. Siapa sangka itu merupakan kebenaran sehingga tidak salah aku menyiapkan tiga bangku ini untuk Anda juga Tuan Muda dan Nona Muda dari sekte Anda," ucap Meng Kiao seraya membungkuk memberi hormat.
Apa yang Meng Kiao lakukan segera diikuti oleh putrinya Meng Dali, begitu pula dengan prajurit kekaisaran yang ada di sana untuk menjaga keduanya.
“Hahaha, tidak perlu berlebihan. Aku datang hanya untuk menyaksikan salah satu murid Utama sekte ku mengikuti perebutan undangan turnamen Bibit Muda lagipula," ucap Yang Gao seraya melirik Hao Zhao di sampingnya.
Hao Zhao hanya mengangguk pada Meng Kiao sebagai bentuk tanggapan atas hormat yang diberikannya, membuat kesan perbedaan posisi begitu jelas terlihat di sana.
Meng Kiao segera menaikan alisnya menyadari Hao Zhao hanya memberikan anggukan sebagai bentuk balasan dan bukan hormat balik padanya, hal itu jelas mengganggunya walau tidak bisa menunjukan ketidaksenangannya sebab ada Yang Gao di sana.
“Sialan, generasi muda sepertimu berani sekali tidak menaruh rasa hormat padaku," gumam Meng Kiao.
Yang Gao menyadari perubahan ekspresi Meng Kiao setelah apa yang Hao Zhao lakukan dengan segera tertawa kencang, tidak berpikir apa yang Hao Zhao lakukan salah sebab sekte Lentera Harta memanglah jauh lebih besar dari keluarga bangsawan Meng itu sendiri sehingga apa yang Hao Zhao lakukan merupakan hal normal dengan hanya memberi hormat pada mereka yang setara juga mereka yang ada di atasnya.
“Para bangsawan ini memang selalu menganggap diri mereka lebih tinggi dari yang lain dan ini menyebalkan, tidak pernah berubah bahkan dari dahulu," ucap Yang Gao pelan mencoba memberi pengertian pada Hao Zhao.
“Kau benar, Paman Gao," ucap Hao Zhao menimpali ucapan Yang Gao, memang sengaja dirinya melakukan itu untuk memeriksa sekiranya seperti apa perangai penguasa kota yang baru dan sepertinya tidak banyak berbeda dari bangsawan kebanyakan.
__ADS_1