
“Saudari Yie, sepertinya kunjunganku ke sini harus aku sudahi sekarang. Sekali lagi terimakasih karena sudah mau hadir sebagai tamu kehormatan di turnamen nanti apapun alasannya," ucap Meng Dali, memilih menyudahi pembicaraannya sebab matahari mulai naik tanda siang akan segera datang.
“Oh? Apa seperti itu? Aku pikir Saudari Dali ingin setidaknya ada di sini lebih lama lagi," ucap Yue Yie dengan senyum sinis di balik kain tipisnya.
“Aku ingin sebenarnya, tetapi sepertinya akan ada yang kesal jika hal seperti itu benar terjadi," ucap Meng Dali dengan senyum meledek, setelahnya berdiri dari duduknya untuk menghampiri Hao Zhao.
Hao Zhao hanya menatap Meng Dali dalam diam tidak sedikit pun beranjak dari kursinya, seperti menunggu saja apa sekiranya yang ingin Meng Dali lakukan atau sampaikan padanya.
“Tuan Muda Zhao, aku sudah tau Anda akan mengikuti turnamen tersebut. Aku juga hanya ingin mengatakan kalau aku mengharapkan sesuatu yang luar biasa dari Tuan Muda Lentera Harta seperti Anda," Meng Dali seraya membungkuk menunjukan kesopanannya, di mana sorot matanya terlihat cukup terpesona bersamaan dengan itu.
“Aku terima maksud baikmu mengharapkan hal baik untukku." Hao Zhao hanya mengangguk kecil, sebelum mengalihkan pandangannya dari Meng Dali tampak tidak sama sekali tertarik.
Meng Dali sempat terkejut menyadari hal tersebut, setelahnya hanya berpamitan saja sebelum keluar dari sana dengan langkah cepat terlihat sedikit kesal.
“Menyebalkan, pergi sana dan jangan pernah sekali pun datang ke sini lagi," ucap Yue Yie tepat setelah keluarnya Meng Dali dari ruangan tersebut.
Hao Zhao hanya menaikan alisnya mendengar hal tersebut, setelahnya segera melangkah untuk duduk di seberang sofa kayu tempat Yue Yie berada.
“Kenapa kau tampak kesal? Apa ada yang terjadi hingga kau bisa menjadi seperti ini?" Hao Zhao yang telah memendam rasa penasarannya sedari tadi, sebab tidak biasanya melihat Yue Yie seperti begitu sulit menyembunyikan apa yang dirasanya.
Seingat Hao Zhao, Yue Yie biasanya selalu berusaha menyembunyikan sebisa mungkin apa yang tengah dirasakannya. Baik itu kesal, senang atau pun marah, meski terkadang samar masih dapat Hao Zhao lihat tetapi setidaknya ada usaha untuk Yue Yie melakukan hal itu yang mana hal tersebut tidak Yue Yie lakukan sekarang.
Hal seperti menyembunyikan perasaan sendiri amat berguna untuk seseorang yang menjalani bisnis seperti Yue Yie, di mana dengan melakukan hal tersebut berarti rekan atau lawan bisnis akan kesulitan untuk menebak apa sekiranya yang tengah Yue Yie pikirkan.
Kini Yue Yie seperti kehilangan kemampuan melakukan hal tersebut, membuat Hao Zhao khawatir Lentera Harta akan mengalami penurunan yang berarti saham miliknya juga akan mengalami penurunan serupa.
__ADS_1
Satu hal yang Hao Zhao tidak ketahui, kalau Yue Yie menjadi seperti itu bukan karena hal terkait bisnis atau sejenisnya melainkan sesuatu yang lain. Di mana untuk seorang master dalam mengendalikan wajah sekali pun akan kesulitan jika ada di posisi Yue Yie.
“Bagaimana aku tidak kesal, wanita tadi benar-benar menyebalkan," ucap Yue Yie seraya berdecak kesal.
Hao Zhao hanya menaikan alisnya, sebelum berkata, “Semenyebalkan apa?"
“Amat menyebalkan, tidakkah Tuan Muda Zhao mengetahuinya? Dia terus saja mencoba mencuri pandang padamu, dia juga jelas terlihat begitu tertarik padamu. Aku tidak suka ini," Yue Yie dengan pipinya yang telah mengembung, terlihat jelas dari tonjolan kain tipis yang menutupi sebagian wajahnya.
Hao Zhao mendengar ucapan Yue Yie segera merasa bingung, dirinya sadar dengan apa yang Yue Yie ucapkan di mana itu merupakan kebenaran. Meski begitu, Hao Zhao tidak paham di mana letak sumber kekesalan Yue Yie dari hal tersebut.
“Dia tertarik padaku bukankah itu haknya? Lagipula tidak ada yang bisa aku lakukan terkait hal itu," ucap Hao Zhao seraya menggeleng pelan.
“Ishhh, apa Tuan Muda Zhao senang dirinya tertarik padamu? Hmphh, aku tidak menyangka Tuan Muda Zhao adalah tipe orang seperti itu," ucap Yue Yie seraya membuang wajahnya.
“Yie, bisa kau katakan kenapa kau tampak marah padaku?" tanya Hao Zhao, entah mengapa merasa tidak nyaman melihat Yue Yie yang biasanya selalu tampak riang di hadapannya kini menjadi seperti sekarang.
Yue Yie tidak menjawab, hanya sesekali mencuri pandang ke arah Hao Zhao seperti ingin membuktikan dirinya tengah benar-benar kesal.
Hao Zhao menyadari hal itu jelas menjadi semakin bingung, bahkan mulai menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
Yue Yie setelah sekian lama diam sempat tertawa kecil, setelahnya berkata, “ Tuan Muda Zhao, jika lain kali wanita tadi mencoba mendekatimu. Bisakah kau menolaknya?"
“Menolak? Untuk apa? Dia bahkan tidak sama sekali meminta sesuatu dariku," ucap Hao Zhao menatap Yue Yie penuh tanda tanya.
“Ishhh, tolak saja. Apa Tuan Muda Zhao tidak bisa melakukan itu?" Yue Yie seraya berkacak pinggang.
__ADS_1
“Aku bisa melakukannya, apa dengan itu cukup membuatmu senang?" Hao Zhao yang tidak mau ambil pusing, berpikir dapat melihat Yue Yie yang seperti biasa saja sudah senang dirinya.
“Hehe, tentu saja aku senang," Yue Yie dengan tawa riang, setelahnya mulai kembali bersikap seperti yang seharusnya di hadapan Hao Zhao.
Hao Zhao menyadari hal itu hanya bisa mempertanyakan dalam diamnya, terkait apakah setiap wanita memang tidak akan senang jika melihat seorang pria yang dikenalnya dekat dengan wanita lain atau bagaimana.
Hao Zhao di sepanjang hidupnya amatlah begitu jarang bahkan hampir tidak pernah sekali pun dekat dengan wanita, di mana sekalinya ada kesempatan pun itu Hao Zhao lakukan di tengah peperangan yang mana sama sekali tidak ada waktu untuk bertukar sapa karena masing-masing dari mereka sibuk mencoba mengambil nyawa musuh mereka.
Kini di masa hidupnya yang sekarang bisa memiliki cukup banyak kesempatan berbicara juga dekat dengan wanita, hal ini jelas amat begitu asing untuk Hao Zhao.
“Oh iya, Tuan Muda Zhao. Apa benar tidak ada sama sekali hal hingga dirimu datang ke ruangan ku?" tanya Yue Yie, setelah sempat membereskan berkas yang terhampar di mejanya.
“Ada, aku hanya ingin bertanya. Apa Lentera Harta telah memiliki daftar mereka yang akan berpartisipasi di turnamen mendatang?" tanya Hao Zhao.
Yue Yie setelah mendengar hal itu segera mencari salah satu dari sekian banyak berkas yang baru saja dirapihkan olehnya, sebelum memberikannya pada Hao Zhao setelah menemukan apa yang dicarinya.
“Ini, di dalamnya telah tertera lengkap terkait nama, umur, kekuatan juga asal dari setiap peserta yang ikut kompetisinya. Meski begitu, apakah Tuan Muda Zhao masih membutuhkannya?" tanya Yue Yie, jelas berpikir dengan kekuatan yang Hao Zhao miliki seharusnya tidak perlu repot Hao Zhao melakukan semua itu.
“Tentu butuh, bagaimana pun mengetahui informasi lawan meski sedikit selalu lebih baik daripada tidak sama sekali. Oh iya, ngomong-ngomong apa Paman Gao masih ada di kota ini?" tanya Hao Zhao yang hampir tidak pernah sekali pun melihat Yang Gao setelah pembicaraan terakhir kali.
“Tentu saja, tetapi guru tengah melakukan sesuatu yang membuatnya hampir tidak pernah kembali ke Lentera Harta," ucap Yue Yie ingin menjelaskan lebih jelasnya tetapi tidak bisa sebab dirinya juga tidak mengetahui apa yang gurunya tengah coba lakukan.
“Jadi seperti itu, baiklah. Aku pamit terlebih dahulu jika begitu," ucap Hao Zhao seraya berdiri dari duduknya untuk kembali ke kamarnya.
“Tunggu, Tuan Muda Zhao. Guruku sempat meninggalkan pesan padamu, jika ada waktu ... bisakah kau membantuku?" tanya Yue Yie dengan sorot mata penuh harap.
__ADS_1