Pendekar Pedang Harimau Surgawi

Pendekar Pedang Harimau Surgawi
Kehadiran Yang Gao


__ADS_3

Jian San sudah menatap Hao Zhao penuh harap, menunggu Hao Zhao menyampaikan apa yang dimintanya untuk dirinya lakukan. Di mana di sepanjang waktu Jian San menunggu, dirinya hampir tidak pernah bisa tenang sebab senyum di wajah Hao Zhao yang jelas begitu terlihat ingin memintanya melakukan hal yang tidak biasa.


“Apa kau tau terkait dua pria bertopeng besi yang ada di kota ini?" tanya Hao Zhao setelah cukup lama diam.


Jian San mendengar hal tersebut dengan segera terbelalak, mulai mengerti ke mana sekiranya arah pembicaraan itu akan tertuju membuatnya menjadi semakin tidak bisa tenang.


“Tuan Muda, jika dirimu memintaku untuk berurusan dengan mereka juga prajurit kekaisaran yang lain, maka lebih baik kau bunuh saja aku," ucap Jian San dengan lemas.


“Membunuhmu? Aku sama sekali tidak tertarik untuk melakukan itu, memangnya kau mengetahui siapa yang aku maksud hingga bisa setakut ini?" tanya Hao Zhao, cukup terkejut melihat ketakutan hebat di wajah Jian San.


“Tentu aku tau, Tuan Muda ...."


Jian San sesaat setelahnya segera menyampaikan apa yang diketahuinya terkait dua pria bertopeng tersebut, di mana kabar mengenai mereka memang sudah cukup umum untuk diketahui oleh para pendekar termasuk pendekar Bebas sepertinya di kota tersebut.


“Menarik," ucap Hao Zhao stelah mendengar penjelasan Jian San.


Topeng Besi merupakan pasukan elit di kekaisaran saat ini, di mana dikatakan setiap anggotanya merupakan para pendekar tingkat tinggi pilihan dan bekerja di bawah perintah langsung sang kaisar. Itulah yang Hao Zhao dengar dari Jian San, belum lagi fakta jika para bangsawan saja diharuskan oleh kaisar untuk menghormati setiap anggota topeng besi, membuat segalanya menjadi masuk akal untuk Hao Zhao.


“Tidak aneh kalau begitu, melihat dua bangsawan sebelumnya sampai menundukkan kepala mereka di hadapan dua pengguna topeng besi ini," ucap Hao Zhao, nampak cukup puas berhasil mendapat informasi yang sebelumnya sempat membuatnya begitu penasaran.


“Oh, apa Tuan Muda juga menyaksikan kedatangan keluarga bangsawan penguasa baru kota ini sebelumnya?" tanya Jian San, sebab dirinya juga sempat melihat hal serupa sebelum bertemu Hao Zhao.


“Tentu saja, lagipula kedatangan mereka cukup menghebohkan," ucap Hao Zhao, sebelum menjelaskan kalau dirinya hanya tidak sengaja lewat ketika melihat semua itu.


“Oh, seperti itu ...."

__ADS_1


Jian San setelahnya bungkam, tidak tau harus mengatakan apa lagi pada Hao Zhao sebab dirinya yang selalu saja begitu merasa tertekan ketika ada di dekat Hao Zhao.


Hao Zhao bukan tidak menyadari hal itu, dirinya amat sangat mengetahui betapa Jian San tampak begitu takut padanya. Di mana hal ini tidak terlalu Hao Zhao pikirkan, melainkan lebih seperti ingin Hao Zhao manfaatkan agar Jian San tidak berani macam-macam.


“Cari informasi lebih jelas terkait dua pria bertopeng juga keluarga bangsawan yang akan menjadi penguasa baru kota ini, awasi juga mereka dan laporkan semua yang kau lihat juga ketahui padaku, lakukan ini jika kau ingin namamu bebas dari daftar hitam Lentera Harta," ucap Hao Zhao seraya menyeringai, tidak berpikir Jian San akan berani menolaknya sebab Lentera Harta telah Hao Zhao ketahui amat sangat penting untuk kebanyakan pendekar bebas seperti Jian San.


“Ti— tidak Tuan Muda, aku tidak berani jika seperti ...."


“Lakukan atau kau mau secara sukarela mengeluarkan uang lebih untuk membeli sumber daya di tempat lain, hanya itu pilihanmu. Jangan kau kira aku akan rela menolongmu secara cuma-cuma." Hao Zhao seraya berdiri dari duduknya, setelahnya mengibaskan tangan sebelum beberapa sumber daya muncul di meja tempatnya berada.


Jian San melihat hal tersebut tentu terkejut, mempertanyakan apa maksud tindakan Hao Zhao melakukan itu.


“Itu uang muka untuk tugas dariku, perlu kau ingat jika aku bukan tipe orang yang akan memanfaatkan penderitaan orang lain hanya untuk kepentinganku." Hao Zhao setelahnya melangkah pergi dari sana, meninggalkan Jian San yang masih begitu terpaku di tempatnya.


Pendekar Bebas hanya bisa berkembang tergantung dengan keberuntungan juga kesempatan, Jian San paham hal tersebut. Di mana Jian San lebih suka menganggap tugas Hao Zhao sebagai kesempatan untuknya, kesempatan besar dengan bayaran setara besarnya walau nyawanya sendiri adalah taruhannya.


“Aku bisa mati dengan mudah di tangan dua anggota topeng besi itu jika ketahuan menyelidiki mereka, tetapi siapa peduli," ucap Jian San penuh tekad, setelahnya segera menyimpan beberapa sumber daya pemberian Hao Zhao tersebut di balik jubahnya sebelum pergi dari sana.


***


Hao Zhao sudah ada di kamarnya malam itu, menatapi langit malam dari balik jendelanya yang terbuka, pikiran Hao Zhao sudah melayang entah kemana.


“Selalu seperti ini, sepertinya aku memang masih belum bisa melupakan masa lalu bahkan sedikit saja ketika memiliki waktu tenang," gumam Hao Zhao, tersadar dari lamunan panjang seolah terhanyut ke dalam ingatan kejadian di masa lalu yang sempat dirinya alami.


Hao Zhao sadar jika peperangan di masa lalu masih amat begitu membekas untuknya, bagaimana tidak jika semua kekacauan itulah yang mengitari Hao Zhao melalui kesehariannya dahulu.

__ADS_1


Setelah merasakan sendiri apa arti kedamaian juga ketenangan meski bukan sesuatu yang mutlak, Hao Zhao telah memiliki tekad untuk tidak membiarkan apa yang sempat terjadi di masanya hidup dahulu terulang di masa sekarang.


“Untuk mencegah hal sejenis agar tidak kembali terjadi aku butuh kekuatan, kekuatan yang jauh lebih besar bahkan dari jajaran pendekar hebat di masa sekarang," gumam Hao Zhao, mengerti entah di masa mana pun dirinya hidup, tetaplah kekuatan hal yang paling mutlak harus dimiliki seseorang dengan harapan.


Hao Zhao sendiri setelahnya dengan segera memilih untuk melanjutkan penyerapan tenaga dalamnya, yang hampir selalu Hao Zhao lakukan setiap malam sampai pagi menjelang.


“Untuk pergerakan dua pria bertopeng bisa aku hiraukan untuk sekarang, sebab ada Jian San yang bisa mengawasi mereka untukku. Sehingga apa yang harus aku lakukan sekarang, hanyalah membiasakan diriku dengan tingkat kekuatan baruku ini," ucap Hao Zhao pelan, setelahnya duduk bersila sembari memejamkan mata.


Belum lama Hao Zhao mencoba melakukan meditasi untuk penyerapan tenaga dalamnya, pintu kamar Hao Zhao tiba-tiba diketuk membuat Hao Zhao secara terpaksa harus menyudahi terlebih dahulu meditasinya untuk melihat siapa yang datang.


Pintu terbuka, di mana Yue Yie sudah ada di sana bersama satu pria tua yang begitu tidak asing diingatan Hao Zhao.


“Tuan Muda Zhao, maafkan aku mengganggu waktu istirahat Anda. Tetapi ada hal penting yang Guruku ingin bicarakan, bersediakah Anda mendengarnya?" tanya Yue Yie dengan wajahnya yang terus menunduk, mencoba menyembunyikan rona wajahnya yang telah memerah.


“Guru?" Hao Zhao sempat menaikan alisnya, setelahnya melirik pria tua di samping Yue Yie mencoba mengingat siapa pria itu.


“Yang Gao?" gumam Hao Zhao yang akhirnya bisa ingat siapa pria tua tersebut.


“Nak, sudah cukup lama kita tidak bertemu semenjak pertemuan pertama kita," ucap Yang Gao dengan senyum hangat di wajahnya.


“Anda benar Paman Gao, belum lagi karena pertemuan pertama kita yang tidak memiliki kesan baik ... biarkan aku meminta maaf jika Anda masih tersinggung akan kejadian terakhir kali," ucap Hao Zhao seraya membungkuk memberi hormat, pada pria tua yang jelas memiliki andil besar terkait kesembuhan Hao Zhao dari luka dalamnya.


“Haha, tidak perlu berlebihan seperti itu Nak, kau harusnya mengerti jika aku tidak melakukan hal itu secara cuma-cuma," Yang Gao seraya terkekeh, tentu paham apa sekiranya yang membuat Hao Zhao bisa begitu menaruh hormat padanya.


Hao Zhao mendengar ucapan Yang Gao sempat terkejut, sebelum tersenyum kecil seraya berkata, “Tentu saja aku mengetahuinya."

__ADS_1


__ADS_2