
Slashhh!!!
“Sialan, apa yang kalian berdua lakukan?!!" seru Tang Jiri pada dua patriak sekte bawahan, ketika tubuhnya terhempas sesaat menerima cakaran yang beberapa kali lebih besar dari tubuhnya.
Dua patriak sekte bawahan yang sempat termenung segera tersadar, mereka mengerti kalau sepertinya arahan dari Tang Jiri tidak sempat mereka lakukan.
“Aku sudah katakan sebelumnya untuk membantuku menyerang dari beberapa arah berbeda, kenapa kalian hanya diam saja ketika aku sudah bergerak untuk melakukannya?!!'
Dua patriak sekte bawahan sontak membungkuk pada Tang Jiri yang baru saja bangkit setelah sempat terhempas, keduanya sudah mencoba melakukan sesuai arahan tetapi auman serigala dengan tinggi belasan kaki memunculkan keraguan di dalam diri mereka.
“Maafkan kami, Wakil Patriak Jiri. Ini kesalahan kami karena tidak bisa melakukan sesuatu sesuai arahan mu, meski begitu bukankah lebih baik kita mundur saja terlebih dahulu?"
“Apa? Kau bicara apa, cepat katakan sekali lagi!!!" seru Tang Jiri pada salah satu patriak sekte bawahan yang berbicara.
“Mohon jangan marah, Wakil Patriak Jiri. Aku hanya merasa kita tidak akan pernah bisa mendapatkan apapun jika terus memaksa melawannya."
“Benar, Wakil Patriak Jiri. Segalanya akan berbahaya untuk kita jika terus seperti ini."
Tang Jiri mendengar dua patriak sekte bawahan secara bersamaan membujuknya tentu merasa kesal, menganggap mereka hanya dua orang penakut dengan berbagai macam alasan.
“Wakil Patriak Jiri, jangan lupakan apa yang baru saja terjadi pada mereka."
“Benar, kita bahkan tidak bisa melakukan apapun saat nyawa mereka menghilang di hadapan kita."
Dua patriak sekte bawahan secara bersamaan menunjuk hamparan jasad setiap pendekar yang ikut bersama mereka, patriak sekte Tanda Pedang merupakan salah satunya yang mana tubuhnya bahkan masih tertancap di dahan sebuah pohon demikian besarnya.
Tang Jiri hanya bisa mendengus kesal, tidak berapa lama lalu kedua patriak itu masih terlihat mempercayainya dan kini mulai menentangnya tentu membuatnya jengah.
“Jadi intinya adalah kalian ingin kita mundur, benar seperti itu?" tanya Tang Jiri.
Dua patriak sekte bawahan segera mengangguk, keberanian mereka sudah benar-benar luntur setelah melihat Tang Jiri yang paling kuat di antara mereka saja seperti tidak bisa berbuat banyak di hadapan binatang spiritual yang berjaga.
“Sialan, kalian harus ingat kalau-kalau saat kita kembali Bunga Kehidupannya sudah lebih dahulu menghilang, kalian harus membayarnya dengan nyawa kalian," ucap Tang Jiri dengan berat hati.
__ADS_1
Dua patriak sekte bawahan dengan segera bernafas lega, merasa beruntung tentu saja Tang Jiri bersedia menerima saran mereka.
“Kita hanya kembali sejenak untuk mengumpulkan lebih banyak kekuatan, Wakil Patriak Jiri."
“Benar, Wakil Patriak Jiri. Seharusnya tidak butuh waktu lama hingga kita kembali lagi ke sini dengan persiapan lebih dari sekarang."
“Sudahlah, berharap saja binatang spiritual itu hanya akan menjaga Bunga Kehidupan dan tidak memakannya," ucap Tang Jiri yang nampak masih tidak bisa menerima harus mundur dari sana.
Tanpa dua patriak sekte bawahan sadari, Tang Jiri mulai menghembuskan napas lega setelahnya.
“Sialan, binatang spiritual ini memanglah sangat berbahaya. Kami jelas benar akan mati jika terus memaksa menghadapinya," gumam Tang Jiri pelan, tidak ingin dua patriak sekte bawahan mendengarnya.
“Auuu!!!"
Gelegar auman kembali terdengar nyaring menggetarkan seisi bukit, tidak lama disusul hawa panas yang tidak lain berasal dari serigala bertinggi belasan kaki.
“Apa-apaan ...."
Mata Tang Jiri melebar setelah melihat kilauan energi kebiruan sudah berkumpul di salah satu setiap cakar kaki serigala itu, kilauan tersebut semakin membesar sebelum secara tiba-tiba melesat ke arahnya.
“Ini lesatan tenaga dalam, cepat gunakan tenaga dalam kalian untuk menghalaunya," Tang Jiri dengan pedangnya yang sudah terangkat.
Tang Jiri juga dua patriak sekte bawahan secara bersamaan mengalirkan tenaga dalam ke pedang mereka, berharap itu cukup untuk menghalau lesatan tenaga dalam dari binatang spiritual yang kini sudah begitu dekat ingin menggapai mereka.
Bummm!!!
Ledakan dahsyat membumbung tinggi di puncak bukit tersebut, bukti dari sebesar apa kekuatan serangan yang binatang spiritual baru lakukan.
“Uhukkk, sial ...."
Tang Jiri dengan mulutnya yang terus mengeluarkan darah, setelah sempat terhempas puluhan meter jauhnya akibat ledakan tenaga dalam yang baru terjadi.
“Jadi ... pada akhirnya hanya tersisa aku seorang diri?" Tang Jiri yang menemukan dua patriak sekte bawahan telah kehilangan nyawa, menyusul mereka yang lain sebab ketidakmampuan mereka.
__ADS_1
Tang Jiri sempat menoleh ke arah binatang spiritual sebelumnya berada sebelum terpaku, binatang spiritual yang merupakan serigala setinggi belasan kaki itu memang tengah melompat tinggi ke arahnya membuat Tang Jiri bingung harus melakukan apa.
Drakkk!!!
Tanah disekitar Tang Jiri seolah ambles sesaat binatang spiritual itu mendarat tidak jauh darinya, menatap Tang Jiri penuh haus darah tidak lama setelahnya.
“Ti— tidak, aku mohon. Tolong lepaskan aku, aku sadar aku ceroboh karena sudah berani mengganggu waktu istirahatmu ...."
Tang Jiri sudah berlutut dengan kepalanya yang mengarah ke atas melihat serigala dengan tinggi tidak main-main itu, memang jarak antara dirinya dengan serigala tersebut tidaklah seberapa jauh membuatnya semakin panik.
Lari jelas tidak bisa apalagi melawan, sehingga Tang Jiri hanya bisa memohon dengan harapan binatang spiritual itu mengerti setiap ucapannya.
“Oh, benar ... Bunga Kehidupan, kau bisa memilikinya jadi mohon lepaskan aku ...."
Binatang spiritual hanya bungkam tidak mengindahkan ucapan Tang Jiri sedikitpun, membuat Tang Jiri semakin putus asa dibuatnya.
“Ti— tidak ... aku mohon jangan...."
Tang Jiri mulai semakin panik setelah melihat serigala di hadapannya telah mengangkat cakar-cakarnya, seolah sudah begitu siap menghabisinya dengan satu ayunan cakar-cakar tersebut.
Bummm!!!
Tang Jiri terperangah melihat hal tidak terduga yang baru terjadi di hadapannya, bagaimana tidak jika kini binatang spiritual yang sempat ingin membunuhnya sudah terlempar begitu jauh entah karena hal apa.
“Haha, lihat? Serangan kita bertiga sudah cukup untuk membuatnya terluka," ucap Li Chen seraya menadahkan tangannya guna menangkap Cang yang baru saja melompat bersamanya.
“Kau benar, meski begitu harus aku katakan dengan jujur kalau serangan Cang jauh lebih berpengaruh dari pada serangan mu," timpal Hao Zhao yang baru saja mendarat dengan pedang ditangannya.
“Hei, kau mencoba memberitahu apa dari perkataan mu itu?"
“Aku hanya mencoba memberitahu jika kau tidak ikut menyerang pun aku dan Cang tetap akan berhasil memukul mundurnya, jadi jangan terlalu menganggap dirimu berguna," ucap Hao Zhao dengan senyum sinis.
“Sialan, kata-katamu itu sudah benar-benar berlebihan!!!" seru Li Chen yang jelas merasa terinjak walau hanya karena sebuah perkataan.
__ADS_1
Tang Jiri hanya bisa memerhatikan semua perdebatan itu dalam diam sembari menatap tidak percaya, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi meski amat sangat sulit untuknya.
“Seorang pemuda tanggung, seorang bocah dan seekor kucing kecil ... apa mereka yang baru saja berhasil membuat binatang spiritual itu terlempar?" Tang Jiri dengan penuh tanda tanya.