
Hao Zhao terus melesat mencoba memangkas jarak dengan bayangan hitam yang tengah berlari jauh di depannya, hal tersebut berhasil Hao Zhao lakukan walau dengan susah payah dengan menggunakan seluruh kecepatan geraknya.
Semakin Hao Zhao mendekat juga semakin terlihat jelas sosok asli dari bayangan hitam tersebut, seekor kucing dengan bulu hitam pekat dan mata bewarna keemasan, dapat Hao Zhao pastikan jika yang dikejarnya memang merupakan kucing Mata Emas.
“Beruntung sekali aku, padahal aku memiliki rencana untuk tinggal di desa ini sementara waktu untuk menangkap mu ... siapa sangka kau malah datang di malam pertama aku ada di sini," gumam Hao Zhao.
Hao Zhao yang kecepatannya ternyata masih unggul dari kucing Mata Emas berhasil terus mendekat dari waktu ke waktu, sampai di rasa jarak antara mereka tidak seberapa jauh, segera melompat Hao Zhao untuk menangkap kucing itu.
Ngrawrrr!!!!
Brukkkkk!!!
“Tidak ...."
Bersamaan dengan Hao Zhao yang melompat, kucing Mata Emas juga secara bersamaan melakukan hal serupa membuat Hao Zhao gagal menangkapnya bahkan harus tersungkur.
Tidak menunggu Hao Zhao bangkit, kucing Mata Emas sudah terlebih dahulu kembali bergerak memasuki rimbunan pepohonan yang ada di sekitar desa.
“Kau pikir bisa lari kemana?" Hao Zhao yang segera saat itu juga kembali mencoba mengejar.
Memasuki rimbunan pepohonan, jarak pandang Hao Zhao menjadi terhalang. Bukan hanya karena gelapnya malam, banyaknya dahan pohon di depan Hao Zhao juga ikut ambil bagian membuat Hao Zhao sulit melihat gerak kucing Mata Emas.
“Aku tidak menyangka akan sesulit ini," gumam Hao Zhao sebelum mengeluarkan pedangnya dari cincin ruang.
Seraya bergerak, Hao Zhao juga mengalirkan tenaga dalam ke pedangnya. Hingga tenaga dalam yang ada di pedangnya terasa cukup, segera Hao Zhao tebaskan pedang tersebut ke depannya.
Lesatan energi kebiruan bergerak cepat menebas setiap dahan pohon yang menghalangi lajunya, membuat kebanyakan pohon itu tumbang hampir secara bersamaan.
Ngrawrrr!!!
Suara pekikan kucing Mata Meas yang Hao Zhao kejar terdengar nyaring, karena kebanyakan dahan pohon yang sebelumnya menghalangi pandangan Hao Zhao juga sudah tidak ada membuat Hao Zhao bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi pada kucing yang dikejarnya.
__ADS_1
Lesatan energi yang baru Hao Zhao tebas kan ternyata berhasil menjangkau kucing Mata Emas, terlihat dari dua kaki belakang kucing tersebut yang mulai mengeluarkan darah sehingga kecepatan geraknya melambat.
Hao Zhao tidak menyia-nyiakan kesempatan itu segera menambah kecepatan geraknya, ingin menangkap kucing Mata Emas selagi kucing itu terluka.
“Ingin lari kemana kau sekarang, kucing nakal?" Hao Zhao yang telah ada tepat dibelakang kucing Mata Emas.
Kucing Mata Emas seolah sadar Hao Zhao sudah ada dekat dibelakangnya, membuat naluri muncul dalam diri kucing tersebut sebagai bentuk pertahanan diri.
Kucing Mata Emas secara tiba-tiba berbalik sebelum melompat menerkam Hao Zhao dengan setiap cakar di kakinya, membuat Hao Zhao yang tidak siap bermaksud menerima saja terkaman itu, berpikir bisa dengan mudah dirinya tangkap jika kucing tersebut melakukan hal itu.
“Apa-apaan ...." Hao Zhao terbelalak melihat di ujung cakar kucing Mata Emas yang siap menerkam sudah ada energi kebiruan.
Hao Zhao sempat lupa kalau yang sedari tadi dikejarnya merupakan binatang spiritual, menerima serangan darinya begitu saja jelas sama dengan menerima serangan dari seorang pendekar.
“Tenaga dalamnya ada setara dengan pendekar Jiwa, jangan bilang kalau itu memang kekuatan yang dimiliki kucing ini ...."
Slashhh!!!
Hao Zhao yang tidak ingin pengorbanan luka di wajahnya menjadi percuma dengan segera menangkap kucing yang baru ingin mendarat ke tanah, hal tersebut berhasil Hao Zhao lakukan walau cakaran lain harus diterimanya sebab melakukan itu.
“Hei, bisakah kau tenang?" Hao Zhao yang merasa sedikit kesal mulai memperkuat genggamannya pada kucing tersebut.
“Rrrr" Kucing digenggaman tangan Hao Zhao menatap Hao Zhao bengis.
Hao Zhao hanya menaikan alisnya menyadari tatapan kucing itu padanya, sesaat kemudian menambah kekuatan genggamannya pada kucing tersebut untuk memberinya hukuman.
“Meong?" Kucing digenggaman tangan Hao Zhao secara mengejutkan berubah menatap Hao Zhao polos tanpa rasa bersalah.
Bulu hitam pekat juga mata keemasan kucing itu seolah menyihir Hao Zhao, membuatnya tidak tega entah mengapa sehingga tanpa sadar melepaskan genggamannya.
“Ngrawrrr" Kucing Mata Emas yang kini kembali terlepas sempat mencakar kaki Hao Zhao sesaat mendarat di tanah, setelahnya segera kembali berlari untuk pergi dari sana.
__ADS_1
Hao Zhao hanya bisa menghela napas panjang melihat hal tersebut, sempat geram sebenarnya tetapi tidak terlalu Hao Zhao pikirkan.
“Jadi kau mulai bermain kotor dengan memanfaatkan keimutanmu sebagai senjata ... kau akan menyesal, kucing nakal," gumam Hao Zhao.
Hao Zhao kembali bergerak untuk mencari kemana perginya kucing Mata Emas, karena darah dari luka di kaki kucing itu meninggalkan jejak geraknya, membuat Hao Zhao bisa dengan mudah mengetahui kemana sekiranya kucing itu pergi.
Berbeda dengan sebelumnya, Hao Zhao kini bergerak dengan hati-hati. Tidak ingin lagi memang mengejar secara terang-terangan seperti sebelumnya sebab sadar kalau sepertinya kucing Mata Emas cukup pintar untuk mengecoh nya.
“Aku sempat mendengar dahulu jika ada binatang spiritual yang berhasil mengembangkan akalnya, apa kucing Mata Emas ini merupakan salah satunya?" Hao Zhao yang sesaat kemudian menepuk dahinya.
Masih tidak menduga memang akan ada saat dirinya bisa tertipu oleh otak picik seekor kucing yang jelas ini melukai harga dirinya.
Hao Zhao terus bergerak mengikuti jejak darah yang tertinggal sampai akhirnya keluar dari rimbunan pepohonan, setelahnya disambut dirinya oleh sebuah tebing tinggi tidak jauh dari sana.
Jejak darahnya sendiri terus mengarah ke tebing itu, awalnya tidak jelas menuju kemana jejak tersebut sebab gelapnya malam hingga Hao Zhao melihat sebuah celah kecil di antara tebing menjulang tersebut.
“Jadi kau bersembunyi di sini, kucing nakal?" Hao Zhao yang tanpa ragu mulai melangkah untuk melewati celah kecil tersebut.
Awalnya Hao Zhao sempat tidak yakin apakah dirinya bisa melewati celah itu atau tidak sebelum bisa bernapas lega sebab celahnya tidak sekecil yang dikira, itu bisa dilewati pria dewasa menurutnya terbukti dari bagaimana dirinya bisa dengan mudah sampai di sisi lain celahnya.
Sebuah gua luas segera tertangkap mata Hao Zhao, ada cukup banyak air merembes dari dindingnya bahkan ada tempat yang di buat seperti kolam untuk menampung rembesan air tersebut.
“Apa ada seseorang yang tinggal di sini?" gumam Hao Zhao setelah melihat rerumputan yang ditumpuk membentuk sebuah kasur.
Hao Zhao baru menduga-duga seraya memperhatikan lebih jauh gua yang didatanginya sebelum mendengar suara langkah kaki yang bergema.
“Apa tujuanmu datang kemari, mengapa kau melukai Cang?"
Hao Zhao segera menoleh ke arah sumber suara sebelum melihat seorang bocah tampak berusia delapan tahun, tangannya tengah mendekap kucing Mata Emas yang terpejam nampak menikmati dekapannya.
“Kucing itu, miliknya?" gumam Hao Zhao seraya menatap penuh waspada.
__ADS_1