
Suasana sekitar arena sudah begitu ramai pagi itu, di mana sekian banyak orang seperti rela berhimpitan menggambarkan betapa tingginya antusiasme mereka pada pertandingan puncak turnamen yang akan segera digelar.
Semua orang merasa antusias, begitu pula untuk mereka para peserta yang telah gugur di mana meski langkah mereka di turnamen harus berakhir menyedihkan, hal tersebut tidak menghentikan rasa semangat mereka untuk mengetahui siapa yang akan menjadi pemenang turnamennya.
Dari sekian banyak orang dengan antusias mereka yang luar biasa ingin mengetahui pemenangnya, Hao Zhao merasa hal serupa meski sedikit berbeda.
Hao Zhao memang antusias menunggu momen itu, amat antusias bahkan hingga gejolak di sekitar dada Hao Zhao seperti sudah begitu menggebu seolah hampir tidak tertahan.
“Kemarin malam, aku amat sangat ingin menghabisinya. Meski begitu semua itu berhasil aku tahan untuk hari ini ... hari di mana kau akan hancur sepenuhnya sebab sudah berani menempatkan tanganmu ke orang yang salah," gumam Hao Zhao dengan senyum seringai yang entah sudah sedari kapan kini sudah kembali muncul di wajahnya.
Menghabisi Li Kao memang hal yang mudah untuk Hao Zhao, tetapi tidak dengan menghabisinya secara serupa seperti apa yang coba Li Kao lakukan pada Jian San.
Di tambah itu semua terjadi di hadapan Meng Dali yang pastilah akan melihatnya, membuat segalanya akan tampak begitu setimpal menurut Hao Zhao walau harus menunggu.
“Tidak bisa melakukan apapun di hadapan wanita yang kau cintai, tampak menyedihkan di hadapan wanita yang kau cintai dan melihat wanita yang kau cintai tidak peduli padamu ... haha, betapa menyenangkan bahkan walau hanya membayangkannya saja," gumam Hao Zhao di mana sorot matanya sudah berubah begitu berbeda dari normalnya.
Plakkk!!!
Hao Zhao harus merasakan tepukan cukup keras di wajahnya, di mana itu merupakan tangan Yue Yie yang entah mengapa bisa tiba-tiba melayang menyasar dirinya.
“Apa?" Hao Zhao yang tidak bisa sama sekali marah entah mengapa pada Yue Yie.
“Eskpresi mu berubah menyeramkan, Kak Zhao. Aku takut," ucap Yue Yie dengan sorot mata yang tampak sedikit bergetar.
Hao Zhao sempat menaikan alisnya tidak mengerti, setelahnya tersenyum tipis sebelum menepuk lembut kepala Yue Yie beberapa kali mencoba menenangkannya.
“Maaf, aku tidak bisa mengendalikan diriku sebelumnya," ucap Hao Zhao, merasa aneh pada dirinya sendiri sebab perasaan menggebu yang biasanya hanya muncul ketika pertarungan kini bahkan sudah terasa saat pertarungannya bahkan belum sama sekali di mulai.
__ADS_1
“Jangan sentuh aku, kau masihlah seorang pembohong jadi jangan bertingkah seperti itu seolah ingin mempengaruhiku. Aku masih marah, Kak Zhao," ucap Yue Yie menampik tangan Hao Zhao sebelum membuang wajahnya.
Hao Zhao hanya bisa tersenyum canggung, di mana hanya bisa menunggu saja setelahnya hingga pertandingan finalnya dimulai.
Di tengah menunggunya Hao Zhao, Yang Gao tengah melirik dirinya dengan ekspresi serius sebelum memberi isyarat tangan entah pada siapa.
“Sisi kejamnya ... itu nyata," gumam Yang Gao setelahnya.
Tidak berapa lama sejak saat itu, Meng Kiao sebagai penguasa kota telah menaiki arena pertarungannya.
Di mana sebagai penguasa kota dirinyalah orang yang akan menjadi pengawas pertandingan puncak tersebut secara langsung, meski tentu saja didampingi juga dirinya oleh sekian banyak prajurit kekaisaran yang mengitari arenanya mengingat Meng Kiao bukanlah seorang pendekar.
Meng Kiao sendiri sempat memberi sambutan singkat untuk mereka yang hadir, di mana tidak lama setelah itu dengan segera Meng Kiao persilahkan untuk Li Kao juga Hao Zhao menaiki arena pertarungannya.
Hao Zhao dengan lompatannya seperti biasa hanya butuh waktu beberapa saat saja hingga akhirnya sampai di atas arena, di mana baru disusul Li Kao setelahnya yang seolah tidak mau kalah melesat secepat yang dirinya bisa untuk sampai di sana.
“Penguasa kota Kiao," Hao Zhao memberi sapaannya dengan sedikit anggukan, di mana Meng Kiao seperti masih tidak terbiasa dengan hal ini sehingga mendengus kesal.
“Nak Kao, dirimu sepertinya sudah bertambah kuat sejak terakhir kali," ucap Meng Kiao menepuk pundak Li Kao.
“Tentu saja Paman Kiao, lagipula aku tidak boleh tertinggal begitu jauh dari Saudari Dali yang di masa depan akan menjadi pendamping hidupku," ucap Li Kao.
Meng Kiao sendiri hanya tertawa kencang saja sebagai bentuk tanggapannya sebelum berkata, “Kau masih tidak berubah, terus perjuangkan Putriku seperti itu. Aku yakin ada saatnya dia akan membuka hatinya untukmu."
“Tentu saja Paman Kiao," ucap Li Kao dengan senyum sinis seraya melirik Hao Zhao, seolah memamerkan kedekatannya dengan Meng Kiao.
Hao Zhao sendiri melihat hal tersebut tiba-tiba ingin tertawa entah mengapa, begitu menghibur menurutnya melihat Li Kao yang seolah menganggapnya sebagai saingan padahal faktanya sama sekali tidak.
__ADS_1
Belum lagi jika melihat Meng Kiao yang seolah begitu membanggakan Li Kao, entah mengapa agak miris melihatnya menurut pandangan Hao Zhao yang telah mengetahui terkait apa yang Li Kao coba lakukan kemarin malam.
“Pemuda itu kemarin malam mencoba melakukan suatu hal buruk pada Putrimu, Bodoh," gumam Hao Zhao.
Tidak berapa lama setelah pembicaraan bertemu rindu antara Li Kao dengan Meng Kiao sendiri akhirnya pertandingan mulai dipersiapkan untuk dilaksanakan, di mana Meng Kiao jelaskan peraturannya yang kali ini sedikit berbeda dengan babak sebelumnya.
Baik Li Kao juga Hao Zhao di beri satu buah batu giok kecil, di mana ini merupakan giok pertahanan yang baru akan bereaksi untuk melindungi saat pemiliknya mendapat luka mengancam nyawa.
Tidak ada lagi batasan arena di pertandingan puncak ini, di mana itu berarti pertandingan akan terus dilakukan bahkan walau pertarungannya harus melebar di tempat penonton berada sekalipun.
“Lakukan apapun yang kalian bisa untuk membuat giok pertahanan terpicu melindungi lawan kalian, mereka yang kehilangan giok nya terlebih dahulu akan kalah, apa kalian mengerti?" tanya Meng Kiao pada Hao Zhao juga Li Kao.
“Kami mengerti," ucap Hao Zhao juga Li Kao secara bersamaan.
“Kalau begitu pertandingannya dimulai!!!" seru Meng Kiao.
Sesaat setelah dimulainya pertandingan, Hao Zhao seolah menghilang dari tempatnya berada membuat setiap dari mereka yang menonton bertanya-tanya.
Mengalami kebingungan serupa, Li Kao sebagai lawannya bahkan sudah menoleh ke sana kemari untuk mencari keberadaan Hao Zhao tetapi tidak terlihat sedikit pun keberadaan Hao Zhao di arena tersebut.
“Pergi ke mana kau, Sialan!!! Kemari dan hadapi aku secara langsung, apa kau sepenakut ini hingga harus bersembunyi?!!" seru Li Kao, di mana dirinya memang sudah menunggu kesempatan hingga hari itu untuk memberi Hao Zhao pelajaran.
Sesaat setelah apa yang Li Kao baru ucapkan, Hao Zhao entah datang dari mana tiba-tiba muncul di hadapan Li Kao dengan pedangnya sebelum menebaskan pedang itu di ke salah satu kaki Li Kao.
Slashhh!!!
“Arghhh!!!" Suara teriakan penuh penderitaan terdengar dari mulut Li Kao.
__ADS_1
Di mana bahkan sudah jatuh berlutut saat itu Li Kao seraya memegangi salah satu kakinya yang menerima tebasan begitu dalam, membuat koyakan terlihat diikuti kucuran darah yang seolah menolak berhenti mengalir.
“Hei, biar aku tanya sesuatu. Apa kau bahkan tau siapa pemuda yang sempat ingin dirimu coba habisi hari itu?" Hao Zhao yang tangannya sudah mencengkram erat kepala Li Kao ketika membisikan semua itu.