Pendekar Pedang Harimau Surgawi

Pendekar Pedang Harimau Surgawi
Ketidakpuasan


__ADS_3

Slashhh!!!


Suara tebasan pedang kembali terdengar entah sudah yang ke berapa kalinya, yang mana semua itu berasal dari serangan yang dilakukan Hao Zhao pada Li Kao sebagai lawannya.


“Hei, apa tidak apa membiarkannya terus bertarung seperti ini?"


“Aku tidak tau, fakta bahwa giok pelindungnya tidak bereaksi memiliki arti semua tebasan itu belum mengancam nyawanya."


“Memang benar seperti itu, tetapi ... bagaimana bisa terus membiarkan pertarungan dilanjutkan jika salah satu pesertanya sudah terluka separah ini."


Pembicaraan di antara mereka yang hadir, begitu ngeri mereka yang secara bersamaan juga terpukau melihat pertandingan yang lebih mirip pembantaian kini tengah tersaji.


Li Kao memang sudah tersungkur di posisinya, tidak lagi sanggup bangkit sebab kedua tangan dan kakinya telah menerima luka cukup serius dari tebasan tanpa henti yang hampir selalu berhasil Hao Zhao lakukan.


Di mana anehnya meski sudah separah itu giok yang di simpan Li Kao tidak memberikan perlindungannya sama sekali, tanda Hao Zhao masih bisa melakukan apapun pada lawannya tersebut.


“Penguasa kota Kiao, tidakkah seharusnya kita hentikan saja pertandingan ini?"


Seorang pria paruh baya dengan jubah sekte Tanda Pedang melompat ke salah satu sisi arena tempat Meng Kiao sebagai pengawas pertandingan berada, tidak tega jelas dirinya harus melihat murid Utama sekte nya tampak amat menderita.


“Tidak, ini sudah aturannya. Jika aturan secara tiba-tiba berubah bukankah terlihat tidak adil dan akan menimbulkan banyak tanda tanya nantinya?" Meng Kiao mengucapkan itu sedikit tidak yakin.


Meng Kiao sendiri sama sekali tidak bisa menyangkal sebenarnya terkait pertandingan yang memang sudah semestinya harus dihentikan, tetapi sebab takut akan ada banyak orang yang mempertanyakan keputusannya membuat dirinya mengurungkan mengambil keputusan tersebut.


“Aturan apa? Murid Kao akan terlebih dahulu kehilangan nyawa jika pertandingannya tetap dibiarkan berlangsung seperti ini!" seru tetua pendamping Li Kao tersebut, di mana sudah mengambil langkah bahkan dirinya untuk turun tangan sendiri menghentikan pertandingan final tersebut.


Belum tetua itu berhasil melakukan hal yang ingin dilakukannya, sudah lebih dahulu langkahnya terhenti terhalang oleh cukup banyak prajurit kekaisaran.

__ADS_1


Tetua pendamping Li Kao segera menoleh pada Meng Kiao setelahnya, mempertanyakan apa maksud tindakan setiap prajurit itu mengingat mereka semua ada di bawah perintah Meng Kiao.


“Perhatikan sedikit lebih lama lagi, jika terasa sudah begitu genting aku berjanji akan menghentikan pertandingannya atas perintah ku sendiri," ucap Meng Kiao mencoba menenangkan tetua tersebut.


Tetua pendamping Li Kao sendiri hanya bisa berdecak kesal, tidak bisa mempertanyakan lebih jauh memang dirinya mengingat kekuatannya masih di bawah setiap prajurit Kekaisaran tersebut sehingga tidak bisa melakukan apapun.


Di atas arena sendiri Hao Zhao seolah tanpa perlawanan terus melancarkan serangan menggunakan pedangnya, yang mana hal tersebut jelas membuat kondisi Li Kao menjadi semakin buruk setiap waktunya.


“Be— berhenti, Sialan. Kau ingin menghabisi aku atau apa?!!" seru Li Kao dengan sorot mata gentar, melihat pedang Hao Zhao sudah kembali ingin diayunkan.


Hao Zhao hanya menyeringai mendengar ucapan Li Kao, di mana seolah tanpa beban kembali dirinya ayunkan pedang tersebut menyasar salah satu bagian tubuh Li Kao.


Slashhh!!!


“Arghhh!!!" teriak Li Kao penuh penderitaan, nampak sudah begitu pasrah menerima luka yang entah sudah ke berapa bersarang di tubuhnya.


“Ka— kau membicarakan apa, Sialan? Jangan bicara tidak jelas seperti itu seolah aku melakukan sebuah kesalahan padamu!!!" seru Li Kao, bukan mencoba menyangkal sebab faktanya dirinya sama sekali tidak tau siapa yang Hao Zhao maksud.


Hao Zhao mendengar ucapan Li Kao dengan segera berdecak kesal, tidak menyangka akan sekeras kepala itu Li Kao hingga menjawab pertanyaan mudah darinya saja amat enggan.


“T— tidak, aku serius. Aku sama sekali tidak mengetahui siapa orang yang kau maksud," ucap Li Kao cepat setelah menyadari sorot mata Hao Zhao yang membuat seluruh tubuhnya bergidik ngeri.


Hao Zhao sempat mengerutkan dahinya tidak begitu saja percaya sebelum berkata, “Jian San, kau mencoba menghabisinya saat pertandingan hari itu."


“A— apa, bocah beruntung itu?" Li Kao yang ekspresinya seketika semakin memburuk.


“Kau pikir siapa lagi? Dia orang ku, kau berani menyentuhnya berarti berani berurusan denganku," ucap Hao Zhao yang sudah kembali mengambil ancang-ancang menebaskan pedangnya.

__ADS_1


“A— aku hanya menerima perintah dari seseorang saat itu, bisa aku pastikan juga ketika aku melakukannya diriku sama sekali tidak tau kalau ternyata dirinya masih terkait denganmu," ucap Li Kao yang tidak ingin sekali lagi merasakan tebasan Hao Zhao menyasar tubuhnya.


Hao Zhao sempat terdiam sesaat mendengar hal tersebut, berpikir sejenak sebelum kembali mengayunkan pedangnya merasa tidak sama sekali puas dengan jawaban semacam itu dari mulut Li Kao.


“Tidak, aku mohon jangan lagi!" Li Kao dengan suara tinggi penuh keputusasaan, sudah hilang sepenuhnya memang kini ekspresi sombong juga congkaknya berganti penuh ketakutan.


“Jangan lagi? Tidak peduli kau melakukannya karena kau ingin atau hanya karena kau diperintah itu tidak merubah fakta kalau kau tetap harus menderita," ucap Hao Zhao dengan senyum seringai di wajahnya seraya memainkan pedangnya sebelum kembali menebaskan pedangnya ke arah Li Kao.


Li Kao di posisinya hanya bisa terpaku melihat bilah pedang sudah kembali menyasar dirinya. Ketakutan juga keputusasaan, itulah yang dirinya rasakan saat itu tidak pernah menyangka akan ada saat di mana dirinya benar-benar tampak tidak berdaya dihadapan seseorang seumurannya.


Bagaimana Hao Zhao terlihat dihadapannya memang sudah sama sekali berbeda sekarang, sorot mata Hao Zhao yang tajam seolah begitu mengerikan untuk Li Kao membuat keberanian Li Kao menguap entah kemana dan hanya berharap Hao Zhao mengasihani dirinya.


Dendamnya pada Hao Zhao juga keinginannya memberi Hao Zhao pelajaran karena sudah berani membuat Meng Dali berpaling darinya juga sudah tidak ada, yang ada sekarang dari bagian terdalam Li Kao hanyalah harapan kalau Hao Zhao mau berhenti dengan apa yang tengah dilakukannya.


Berbeda dengan Li Kao, Hao Zhao dengan senyum di wajahnya nampak amat sangat puas dengan bagaimana ketakutan terpampang di wajah Li Kao. Bisa dikatakan juga kalau memang itu yang dirinya inginkan, membuat seorang pemuda yang memiliki harga diri tinggi berubah menjadi seseorang yang amat sangat berharap dikasihani.


“Selamat tinggal," ucap Hao Zhao pelan, sadar dirinya kalau setelah serangannya giok pelindung yang dipegang Li Kao pasti akan segera bereaksi.


Sudah cukup banyak memang Hao Zhao memberi serangan, di mana setiap serangan itu sudah dirinya perhitungkan untuk tidak memicu giok pelindung.


Hal tersebut terbukti berhasil melihat giok pelindung tetap tidak bereaksi bahkan walau Li Kao sudah terluka separah ini. Di mana cukup sampai di sana saja menurut Hao Zhao dirinya bisa memanfaatkan celah dari giok pelindung tersebut, mengingat serangannya yang sekarang akan benar-benar diarahkan untuk mengancam nyawa Li Kao.


Ctankkk!!!


Pedang Hao Zhao bahkan belum menyentuh tubuh Li Kao ketika beberapa pedang tiba-tiba muncul untuk menghalau tebasan nya.


Beberapa orang sudah berdiri di depan Li Kao seolah melindunginya, di mana tidak lain merupakan prajurit kekaisaran terlihat dari zirah lengkap mereka.

__ADS_1


“Oh, apa ini? Apakah sekarang prajurit kekaisaran bahkan tidak ragu untuk ikut campur dalam turnamennya ketika peraturan sudah jelas disampaikan sebelumnya?" tanya Hao Zhao jelas merasa tidak puas sebab tidak berhasil mengakhiri pertandingan sesuai keinginannya.


__ADS_2