
"Jika guru sudah berkata begitu baiklah "ucap Warok Singa .
"Kalian berdua ikuti aku kita lewat atap saja "ucap Darkala kepada Warok Singa dan Kala Weling.
Darkala kemudian melesat dari atap ke atap dengan di ikuti oleh kedua muridnya, beberapa saat kemudian ia pun menghentikan langkahnya setelah melihat para prajurit membawa dua orang yang tidak lain adalah Rangga dan Arya Soma.
"Kalian lihat kedua orang yang di tangkap para prajurit itu"tanya Darkala.
"ya guru kalau tidak salah itu kan Arya Soma lalu siapa lagi yang satunya"ucap Warok Singa.
"Buka mata kalian lebar lebar,itu Rangga raja Martapura"ucap Darkala .
"Apa....!!! bukankah dia sudah meninggal beberapa tahun lalu guru"ucap Kala Weling dengan terkejut.
"Lalu apa yang mereka perbuat sehingga mereka bisa tertangkap oleh para prajurit prajurit itu guru"tanya Warok Singa.
"Itulah yang harus kita cari tahu mungkin ada hubungannya dengan pedang itu"ucap Darkala.
"Guru bukankah Rangga dan Arya Soma itu terkenal sakti mandraguna kenapa bisa tertangkap semudah itu oleh mereka"tanya Warok Singa.
"Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres dengan mereka sebaiknya kita awasi mereka berdua dari jauh"ucap Darkala dengan rasa curiga.
Sementara di dalam istana nyai Durgandana yang saat itu bersama maharaja Dawung, Raja Batara Derja serta Ratu Durgapali memaki maki tidak jelas setelah mengetahui perisai pelindung buatannya hancur ,ia pun segera menyuruh Dunggala untuk memeriksa.
"Hanya orang yang punya kesakitan tinggi saja yang bisa menghancurkan perisai buatan ku , siapa kira-kira orang yang telah menerobos kemari "ucap nyai Durgandana.
"Apakah mungkin ini perbuatan Rangga ibu "tanya Durgapali.
"Entahlah yang jelas pasti bukan orang sembarangan yang bisa menghancurkan perisai ku itu"ucap nyai Durgandana.
"Aku yakin ini perbuatan adalah Rangga"ucap maharaja Dawung.
"Ibu seperti nya Dunggala membawa kabar lihat lah dia berjalan sangat terburu-buru kemari"ucap Durgapali ketika kedatangan nya.
"Cepat sekali dia kembali padahal aku suruh untuk menyelidiki orang yang menghancurkan perisai itu apakah dia sudah menemukan nya "ucap Durgandana.
"Lapor nyai Durgandana ternyata orang yang menghancurkan perisai itu adalah Rangga dan Arya Soma ,tapi sekarang mereka sudah berhasil di tangkap "ucap Dunggala.
Mendengar laporan Dunggala itu raja Batara Derja dan maharaja Dawung bangkit dari tempat duduknya mereka sangat terkejut mendengar kabar itu.
"Apa...!!! kamu bilang Rangga ,lalu dimana dia sekarang"tanya maharaja Dawung.
"Sekarang dia ada di depan Gusti "jawab Dunggala.
"Inilah saat yang ku tunggu tunggu"ucap raja Batara Derja segera keluar dengan diikuti oleh maharaja Dawung,nyai Durgandana dan ratu Durgapali.
Begitu melihat Rangga dan Arya Soma nyai Durgandana langsung timbul kemarahan nya karena teringat kencana Wungu cucu kesayangannya.
"Jadi kau rupanya orang bernama Rangga yang telah membunuh cucu ku itu"ucap nyai Durgandana dengan melotot tajam ke arah Rangga.
"Benar akulah Rangga, soal terbunuhnya cucu mu tidak ada sangkut pautnya dengan Arum Putri ku kenapa kau menculik nya"tanya Rangga merasa geram.
"Siapa bilang tidak ada, tentu saja ada hubungannya karena dia adalah putri mu"ucap raja Batara Derja.
"Lalu di mana putri ku sekarang "tanya Rangga.
"Putri mu akan baik baik saja ,jika kau membawa pedang naga seperti yang aku minta dalam surat itu Rangga"ujar raja Batara Derja.
"Ya pedang itu ada pada ku ,lepaskan putri ku sekarang "ucap Rangga.
"Aku akan melepaskan putri mu tapi tunjukkan dulu pedang itu pada ku"pinta Raja Batara Derja.
Rangga tersenyum kecut mendengar perkataan raja Batara Derja itu.
"Tidak bisa tunjukkan dulu Putri ku, setelah itu akan ku tunjukan pedang naga itu pada kalian"ucap Rangga tidak mau kalah.
"Dunggala cepat kau bawa Arum ke sini "perintah Raja Batara Derja.
Dunggala segera masuk ke dalam untuk menjemput Arum yang saat itu di tempat kan di penjara bawah tanah.
Darkala dan kedua muridnya yang mengintai dari atas atap akhirnya mengetahui titik persoalannya setelah mendengar percakapan Rangga dan Raja Batara Derja tadi.
"Rupanya pedang itu masih ada di tangan Rangga guru dia datang kemari untuk menebus putrinya yang di culik oleh mereka"ucap Warok Singa.
"Ya setelah pedang itu ia keluar kan secepatnya kita harus merebut nya"ucap Darkala.
"Apa tidak terlalu berbahaya guru , bukan kah di sana selain raja Batara Derja juga ada maharaja Dawung dan nyai Durgandana"ucap Warok Singa.
"Soal itu kita pikirkan nanti sebaiknya kita lihat dulu apa yang akan terjadi selanjutnya"ucap Darkala.
Sesaat kemudian Dunggala pun sudah keluar dengan membawa Arum yang dalam keadaan terikat ke hadapan raja Batara Derja.
__ADS_1
"Romo"teriak Arum begitu melihat Rangga berada di tempat itu.
"Arum"gumam Rangga.
"Kau sudah melihat Arum Putri mu Rangga,sekarang berikan pedang itu"ucap raja Batara Derja.
"Aku ingin kita saling tukar,bagaimana"ucap Rangga.
"Kau tidak berhak untuk tawar menawar disini Rangga, cepat serahkan pedang itu atau nyawa putri mu akan melayang"ucap maharaja Dawung menodongkan sebuah pedang ke lehernya.
Mendapatkan ancaman seperti itu Rangga pun sudah tidak punya pilihan lain mau tidak mau ia pun mengikuti ke inginkan mereka.Ranggs pun akhirnya mengeluarkan dua pedang naga itu
"Ini pedang yang kalian inginkan"ucap Rangga kemudian melempar kan dua pedang itu.
"Dunggala ambil pedang itu dan cepat bawa ke sini"perintah raja Batara Derja.
Dunggala segera pergi menghampiri Rangga untuk mengambil dua pedang itu.
Namun tanpa di duga oleh semua orang yang ada di situ tiba-tiba muncul sebuah kabut tebal yang langsung menyelimuti tempat itu sehingga membuat semua orang yang ada di situ tidak bisa melihat satu sama lainnya.
Makin lama kabut itu makin tebal hingga tempat itu seperti suasana di puncak gunung.
Di dalam kabut itu ada sebuah bayangan berkelebat sangat cepat tanpa di sadari oleh semua orang yang ada di situ.
"Akh.... terdengar teriakan dari Dunggala yang jatuh terlempar setelah sebuah pukulan mengenai dirinya .
"Kurang ajar dari mana datangnya kabut ini"maki raja Batara Derja.
Melihat ada kesempatan baik Rangga segera mengajak Arya Soma untuk segera bergerak menyelamatkan Arum di tengah kabut tebal itu.
Duuug.... desssss.... sebuah pukulan menyerang maharaja Dawung hingga terdengar teriakan dari mulutnya.
"Maharaja apa yang terjadi"teriak nyai Durgandana segera menghampirinya.
"Kurang ajar perbuatan siapa ini"maki maha raja Dawung begitu merasakan sakit luar biasa di dadanya.
Di atas atap Darkala dan kedua muridnya yang dari tadi mengamati kejadian itu juga tidak tahu dari mana asalnya kabut tebal itu.
"Perbuatan siapa ini guru "ucap Kala Weling sambil mengamati orang orang yang tampak panik di depan istana.
"Sepertinya kita keduluan seseorang Warok Singa"ucap Darkala .
"Sebaiknya kita kejar orang itu guru"usul Warok Singa.
Beberapa saat kemudian kabut pun semakin lama semakin menipis lalu hilang sama sekali hingga keadaan seperti semula lagi.
"Kurang ajar perbuatan siapa tadi beraninya macam macam dengan ku"ucap nyai Durgandana setelah melihat keadaan di tempat itu,ia pun bertambah marah setelah tidak mendapati Rangga dan Arya Soma juga Arum lagi di tempat nya.
"Pedang itu juga raib kurang ajar gagal sudah rencana kita untuk membunuh Rangga dan putrinya"ucap nyai Durgandana dengan rasa kecewa.
" Sepertinya tadi Rangga yang menyerang ku"ucap maharaja Dawung setelah selesai mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghilangkan rasa sakit di dadanya.
"Romo sebaiknya kita kejar mereka pasti belum jauh dari sini"ucap Raja Batara Derja.
"Batara segera perintah kan prajurit untuk mengejar mereka"ucap maharaja Dawung.
"Narapala dan Tawang Sono cepat bawa prajurit untuk mengejar Rangga dan tutup semua pintu keluar" teriak Raja Batara Derja.
Mereka berdua segera menjalankan perintah raja Batara Derja dengan menyiapkan seluruh para prajurit nya.
"Kita berempat ayo bergerak kita kejar mereka"ucap maharaja Dawung.
"Ya kita cari mereka sampai dapat"ucap nyai Durgandana lalu melesat pergi dengan diiringi maharaja Dawung, Batara Derja dan Durgapali.
Di tempatnya Darkala dan murid nya masih belum juga bergerak mereka memikirkan tentang raib nya pedang naga itu.
"Apakah mungkin Rangga yang membawa pedang itu guru"tanya Warok Singa.
"Untuk mengetahui nya ayo kita ikut mengejar mereka"ucap Darkala lalu melesat pergi.
Rangga, Arya Soma dan Arum yang saat itu sampai di hutan langsung di kejutkan oleh sebuah serangan yang datang tiba-tiba dari arah depan, mereka bertiga segera menghentikan langkahnya..
"Haaa....haaa... mau pergi kemana kalian"ucap suara itu.
"Gondo Mayit , ternyata dia juga menginginkan pedang itu"ucap Arya Soma.
"Kakang Patih cepat bawa Arum pergi dari sini aku yakin Batara Derja dan prajuritnya pasti mengejar kita"perintah Rangga.
"Baiklah Gusti prabu"ucap Arya Soma.
"Hati hati Romo"ucap Arum.
__ADS_1
"ya, pergilah cepat dengan kakang Arya Soma nanti aku menyusul kalian"ucap Rangga.
"Ayo tuan putri cepat pergi dari sini"ucap Arya.
Arum dan Arya Soma segera meninggalkan tempat itu sementara Rangga bermaksud menghadapi Gondo Mayit yang menghadang di depannya.
"Cepat serahkan pedang itu"ucap Gondo Mayit.
"Pedang itu tidak ada pada ku Gondo Mayit kau salah orang"ucap Rangga.
"Jangan membual kau Rangga aku tahu kau membawa pedang itu untuk membebaskan putri mu"ucap Gondo Mayit.
"Kalau kau sudah tahu begitu kenapa masih meminta nya pada ku ,sudah tentu pedang itu saat ini ada istana siluman"ucap Rangga.
"Haaa.....haaaa...kau boleh membodohi yang lainnya tapi tidak dengan aku, karena aku yakin pedang itu masih berada di tangan mu"ucap Gondo Mayit tidak percaya dengan perkataan Rangga.
"Aku tidak punya banyak waktu berdebat dengan mu Gondo Mayit jadi minggirlah "ucap Rangga .
"Kau boleh pergi dari sini setelah menyerahkan pedang itu pada ku "ucap Gondo Mayit.
"Jika kau masih tidak percaya baiklah akan ku singkirkan diri mu dengan paksa"ucap Rangga.
Tiba-tiba dalam tempat itu muncullah puluhan pasukan bertubuh kecil dengan muka seram yang mulutnya di penuhi oleh gigi tajam yang runcing.
"Anak anak serang dia"perintah Gondo Mayit.
Pasukan kecil kecil tersebut segera menyerang Rangga secara bersamaan mereka langsung melompat menerkamnya.
"pulang Geni "teriak Rangga
Keris penjaga Martapura itu langsung muncul di tangan nya slaaap.... Rangga segera melesat menyambut kedatangan pasukan bertubuh kecil itu.
Dengan keris itu Rangga langsung membabat satu persatu pasukan Gondo Mayit itu crash... crash... mereka langsung bertumbangan seketika.
Rangga mempercepat serangan nya hingga dalam waktu singkat puluhan pasukan bertubuh kecil itu tewas di ujung kerisnya.
Namun beberapa saat kemudian para pasukan itu muncul lagi seperti tidak ada habisnya.
"Apa...!!"ucap Rangga ketika melihat pasukan itu makin lama makin bertambah banyak.
"Kurang ajar kalau terus begini aku tidak punya waktu untuk menyusul Arum dan kakang Arya Soma"gumam Rangga.
"Haaa...haaa... hancurkan mereka sebanyak yang kau mampu Rangga"ucap Gondo Mayit disela sela tawanya sambil memperhatikan pasukannya itu.
"Andana dan Andini keluar lah kalian "ucap Rangga dan seketika itu juga muncullah dua pedang kembar melayang di hadapannya .
"Kalian berdua serang Gondo Mayit sekarang"perintah Rangga.
Pedang kembar dua mustika itu langsung meluncur deras ke arah Gondo Mayit yang sedang memperhatikan pasukannya.
"Apa...!!!"teriak Gondo Mayit ketika melihat dua pedang meluncur ke arahnya.
Ia pun langsung melepaskan pukulannya kearah pedang itu wuuusss.... pukulan Gondo Mayit tempat mengenai dua pedang Jaka itu duuuaaarrr ... duuuaaarrr ....namun pukulannya itu tidak mampu untuk menghentikan laju pedang itu.
Rangga yang menghadapi pasukan bertubuh kecil itu tidak mau berlama-lama ia segera mengeluarkan pukulan badai menerjang ombaknya ke arah pasukan itu wuuusss
.. wuusss... duuuaaarrr... duuuaaarrr... api terlihat menyala nyala setelah pukulan Rangga mengenai sekumpulan pasukan Gondo mayit itu.
Rangga memperhatikan usahanya tadi apakah berhasil atau tidak pukulannya menghancurkan para pasukan itu.
"Ku rasa aku berhasil menghancurkan mereka semua"ucap Rangga setelah melihat tidak ada gerakan apa pun.
Tapi tiba-tiba tubuh pasukan bertubuh kecil yang telah hancur berkeping keping itu bergerak-gerak menyatu kembali , tanpa membutuhkan waktu lama tubuh mereka pun kembali utuh seperti semula.
"Mahluk seperti apa sebenarnya mereka"ucap Rangga kesal.
"Gusti prabu sepertinya kita harus mengalahkan tuannya"ucap pulang Geni.
"Mmmm...jadi begitu rupanya baiklah "ucap Rangga kemudian melesat menuju Gondo Mayit yang sedang sibuk menghadapi pedang kembar dua mustika miliknya.
Begitu Rangga pergi pasukan bertubuh kecil itu pun langsung mengejar nya.
Gondo Mayit terlihat sibuk menghadapi serangan dari andana dan Andini.
Dalam hatinya ia memaki maki karena setiap kali pedangnya berbenturan dengan dua mustika itu tangannya seperti menebas tembok besi tebal yang kokoh.
"Hiiiaat... Rangga langsung mengirimkan tendangan nya ke arah Gondo Mayit yang sedang sibuk bertarung dengan Andana dan Andini bugg... tendangan Rangga tepat mengenai Gondo Mayit hingga membuatnya terlempar beberapa tombak ke belakang.
"Akh..."teriak Gondo Mayit sambil memegangi dadanya yang terasa sangat sakit
Rangga pun bermaksud ingin menghabisinya tapi tiba-tiba dari arah belakang terdengar teriakan.
__ADS_1
"Serang mereka "ucap Narapala.