
Mengetahui tewasnya Ki Jamprang dan Gautama para prajurit pun akhirnya bertekuk lutut dan menjatuhkan senjatanya.
Mereka berfikir menyerah lebih baik jika harus berperang tanpa pemimpin dengan begitu nyawa pun terjamin keamanannya.
Patih Guntoro segera mengumpulkan para prajurit yang menyerah itu di halaman depan istana dan menunggu keputusan dari Rangga apa yang akan di lakukan terhadap mereka.
Sementara itu Ariani Dewi segera membawa Lingga ke dalam istana untuk memberikan pertolongan padanya luka di punggungnya.
"Kau tenang saja setelah ku taburi dengan obat ini luka mu akan segera kering"ucap Ariani Dewi sambil membalut punggung lingga.
"Saya benar-benar belum cukup kuat untuk menjadi senopati seperti nya aku akan mengecewakan Gusti Patih karena belum bisa menggantikan senopati Tunggul Jaya"ucap Lingga merasa lemah.
"Tak usah merasa kecil hati masih banyak waktu untuk memperbaiki diri Lingga"ucap Ariani Dewi dengan lembut.
Mendengar perkataan Ariani Dewi itu Lingga merasa sejuk dan membenarkan nya.
"benar juga ya kenapa aku tidak berfikir demikian "ucap Lingga.
"Bagaimana kalau nanti saya bicarakan pada Gusti prabu untuk melatih mu lingga"usul Ariani Dewi,
"jangan... jangan...kau jangan buat aku malu Ariani "ucap Lingga dengan gugup.
"haaa... haaa.....haaa.... kenapa kau gugup begitu "ucap Ariani Dewi.
"sudah jangan kau bahas lagi masalah itu biar aku atasi sendiri urusan ku"ucap Lingga.
Di halaman depan istana tampak nya semua orang sudah berkumpul tanpa ada yang tertinggal untuk mendengarkan keputusan Rangga hari itu.
"Kepada seluruh para prajurit bulan merah yang tersisa saya Rangga raja kerajaan Martapura hari ini saya akan memberikan kebebasan pada kalian untuk untuk pergi kemana pun yang kalian suka , silahkan"ucap Rangga.
"Aku tahu kalian semua adalah korban dari keserakahan raja kalian ,jika kalian berminat aku bersedia menampung kalian untuk menjadi prajurit prajurit ku"lanjut Rangga
mendengar perkataan Rangga itu para prajurit bulan merah pun tampak berbisik bisik tidak jelas bicara apa.
lalu ada seorang prajurit yang memberanikan dirinya untuk bertanya pada Rangga.
"maaf gusti hamba mau bertanya "ucap salah seorang prajurit,
"silahkan apa pertanyaan mu prajurit"jawab Rangga,
"begini apakah benar Gusti akan membiarkan kami pergi begitu saja dan apakah kami akan mendapatkan hak yang sama jika mengabdi pada Gusti"tanya prajurit itu.
"ya benar aku menjamin kebebasan kalian dan jika kalian mengabdi pada ku tentu kalian akan mendapatkan hak yang sama seperti para prajurit lainnya"terang Rangga.
"Tapi jika kalian kembali ke bulan merah dan kita bertemu lagi di Medan perang maka saat itu juga kalian di pastikan mati di tangan para prajurit ku atau bisa juga mati oleh tangan ku sendiri"ucap Rangga.
"Kalau begitu hamba saat ini juga putuskan untuk mengabdi pada Gusti prabu karena saya terkesan dengan sikap Gusti yang mau mengampuni kami dengan suka rela"ucap prajurit itu.
Setelah mendengar ucapan temannya itu para prajurit bulan merah yang lainnya pun juga langsung mengikuti nya untuk mengabdi pada Martapura.
"Baiklah aku senang mendengar keputusan kalian semua ,tapi ingat jika kalian ada yang mencoba untuk berkhianat maka dengan pedang inilah aku akan menghukum kalian"ucap Rangga sambil mengeluarkan pedang kembar dua mutiara dari kedua tangannya,para prajurit yang melihat pedang menyala putih itu pun segera bertekuk lutut tunduk pada Rangga.
"kami tidak berani Gusti ,kami bersumpah untuk selalu setia pada Gusti"ucap para prajurit secara serempak.
"Kalau begitu segera lah kalian bersiap siap karena kita akan segera berangkat ke Argara"ucap Rangga.
Patih Guntoro, Senopati Wijaya, Ariani Dewi dan juga Lingga benar benar kagum dan takjub dengan Pedang itu juga dengan keputusan Rangga yang di nilai sangat bijak itu.
"Paman Guntoro segera mungkin hari ini juga kita berangkat ke Argara"ucap Rangga, mengakhiri pembicaraan nya.
Kemudian Rangga dan seluruh para prajuritnya pun segera meninggalkan istana Kumaya dan menuju ke Argara.
...****************...
Di Martapura
"Lapor Gusti Patih ternyata benar kalau ada sebuah pasukan besar menuju kemari"ucap prajurit tilik sandi .
"kira kira kapan mereka akan sampai di sini"tanya Arya Soma.
"sekitar tiga sampai empat hari Gusti"jawab prajurit telik sandi itu.
"Baiklah segera lanjutkan tugas mu"perintah Arya Soma.
"baik Gusti"ucap prajurit telik sandi segera pergi.
"prajurit segera panggil paman Kencana Loka dan paman Wiro Kusumo kemari"ucap Arya Soma memerintah seorang prajurit yang berjaga di depan.
"baik Gusti Patih"ucap prajurit itu dan segera berlalu.
"Ternyata omongan Sarpo menang benar, tampak nya aku harus menghilangkan keraguan ku padanya "gumam Arya Soma.
"Apa yang terjadi pada Gusti prabu kenapa dia belum juga kembali dan kenapa di saat saat begini selalu saja ada hal hal lain di Argara aku benar-benar tak habis pikir"ucap Arya Soma tampak mondar-mandir.
Tidak lama kemudian Wiro Kusumo dan Kencana Loka pun tiba di Kepatihan.
"Hamba menghadap Gusti Patih "ucap Kencana Loka dan Wiro Kusumo.
"Duduklah paman berdua sekarang keadaan tampak gawat"ucap Arya Soma.
"Apakah ini tentang kerajaan bulan merah itu Gusti "tanya Wiro Kusumo.
"Benar paman mereka sudah bergerak menuju kemari"ucap Arya Soma.
"Tampaknya kali ini akan terjadi perang besar besaran Gusti "ucap Kencana Loka.
"Aku juga merasa demikian paman makanya dari kemarin aku menyuruh paman untuk menyiapkan pasukan untuk berjaga-jaga"ucap Arya Soma.
"Apakah kita akan menghadang mereka atau menunggu di sini Gusti Patih"tanya Wiro Kusumo.
"Aku berencana akan menunggu mu mereka di sini paman karena tujuan mereka adalah untuk merebut Martapura"ucap Arya Soma.
"Kalau begitu berarti kita harus mengungsikan para penduduk di sekitar istana ini Gusti"tanya Wiro Kusumo.
"Untuk itulah aku memanggil paman berdua ke sini, supaya cepat cepat memerintah para penduduk untuk mengungsi"jawab Arya Soma.
"Lalu bagaimana dengan Gusti prabu kapan dia akan kembali Gusti Patih"tanya Kencana Loka.
"Mengenai itu aku kurang tahu paman karena prajurit yang ku utus ke Argara belum juga kembali sampai sekarang "jawab Arya Soma.
"Sebaiknya paman berdua segera bergerak untuk mengungsi kan para penduduk ke desa sebelah karena hanya desa itulah yang cukup aman menurut ku "ucap Arya Soma,
"Maksud Gusti Patih desa kembang Sari"tanya Wiro Kusumo,
"benar paman walaupun sedikit jauh tapi desa itulah yang terbaik menurut ku"ucap Arya Soma.
__ADS_1
"Kalau begitu kami berdua mohon pamit Gusti"ucap Wiro Kusumo,
"tunggu paman "cegah Arya Soma.
"Ada apa lagi Gusti Patih"tanya Wiro Kusumo.
"tolong suruh Sarpo menghadap saya"ucap Arya Soma.
"baik Gusti kami mohon diri"ucap Wiro Kusumo.
"Silahkan paman"ucap Arya Soma.
Setelah Wiro Kusumo pergi selang beberapa saat datang lah Sarpo menghadap Arya Soma.
"hamba menghadap Gusti Patih"ucap Sarpo sambil membungkuk kan badan nya.
"duduklah Sarpo ada yang aku tanya beberapa hal pada mu"ucap Arya Soma.
"silahkan Gusti "ucap Sarpo.
"Begini Sarpo Martapura saat ini belum tahu tentang peta kekuatan Bulan Merah apa kau bisa menjelaskan seberapa kuat mereka itu "ucap Arya Soma.
Sarpo tidak langsung menjawab pertanyaan dari Arya Soma itu tampaknya ia sedang mengingat tentang orang-orang terkuat yang ada di Bulan Merah.
Tak lama kemudian ia pun menjawab pertanyaan itu dan menjelaskan secara gamblang tentang orang orang terkuat yang ada di bulan merah mulai dari raja Kala Murka sampai ke yang lainnya.
"Jadi begitu ,lalu apakah kau tahu tentang siasat mereka"tanya Arya Soma.
"Soal itu maaf gusti hamba kurang tahu"jawab Sarpo,
"kalau begitu aku tugaskan kamu untuk menyelidiki mereka apakah kau sanggup"tanya Arya Soma,
"suatu kehormatan jika Gusti Patih mempercayakan tugas ini pada hamba, akan hamba lakukan sebaik-baiknya Gusti"ucap Sarpo dengan bangga.
"kalau begitu berangkat lah kamu sekarang juga"perintah Arya Soma.
"baik Gusti"ucap Sarpo langsung pergi.
Sementara itu Kencana Loka , Wiro Kusumo dan beberapa orang prajurit segera pergi ke desa-desa untuk memerintahkan para penduduk desa untuk mengungsi,
Awalnya para penduduk merasa enggan untuk meninggalkan tempat tinggalnya karena mereka kepikiran tentang sawah dan ladang mereka,tapi setelah kencana Loka dan Wiro Kusumo menjelaskan akhirnya mereka semua pun menuruti perintah nya untuk meninggalkan desa sementara waktu.
Hingga hari tengah malam akhirnya mereka pun tiba di istana setelah menyelesaikan tugas untuk mendatangi sekian banyak desa.
Di malam itu suasana di Martapura tampak tenang dan sepi hanya suara jangkrik yang terdengar sementara di sudut halaman istana tampak prajurit ronda terlihat dua orang sedang berjalan mengelilingi istana untuk memastikan bahwa keadaan aman aman saja.
Sementara itu Patih Lanang Seta dan pasukannya telah tiba di sebuah hutan wilayah kekuasaan Martapura mereka mendirikan tenda-tenda untuk beristirahat di sana sambil menunggu pasukan dari Kumaya datang bergabung.
Di dalam tendanya Patih Lanang Seta dan Ramapati tampaknya sedang terlibat pembicaraan yang serius.
"Sepertinya ini bakal menjadi peperangan yang besar Ramapati karena paduka raja sampai mau turun tangan "ucap Patih Lanang Seta,
"Apakah Martapura benar benar kuat Gusti Patih "tanya Ramapati.
"Saya kurang tahu mengenai itu Ramapati tapi yang jelas mereka adalah kerajaan besar yang menaungi kerajaan kerajaan kecil di sekitarnya"ucap Patih Lanang Seta.
"Saya merasa penasaran dengan kekuatan mereka Gusti ,jika Gusti mengizinkan malam ini juga akan segera ke sana Gusti"ucap Ramapati terlalu meremehkan Martapura.
"Kau jangan gegabah Ramapati sikapmu itu bisa membunuh diri mu dan juga pasukan mu"ucap Patih Lanang Seta.
"Maaf gusti bukan maksud hamba..
"baik Gusti"ucap Ramapati,
"lapor Gusti Patih paduka raja telah datang"ucap prajurit datang melapor,
"Baiklah aku akan segera menyambutnya, Ramapati ayo kita temui paduka raja"ucap Patih Lanang seraya bangkit dari duduknya dan melangkah keluar tenda dengan di iringi Ramapati.
ternyata Raja Kala Murka tiba dengan di temani oleh Cakra Lembayung dan Ki Balung Waja mereka tiba lebih cepat dari yang Patih Lanang Seta perkirakan.
"Selamat datang paduka "ucap Lanang Seta dan Ramapati sambil membungkuk.
"Bagaimana keadaan di sini Lanang Seta"tanya raja Kala Murka lalu turun dari kudanya
"Aman aman saja paduka raja"ucap Patih Lanang Seta dan segera membawa raja Kala Murka masuk ke dalam tenda bersama Cakra Lembayung dan Ki Balung Waja.
"Kenapa pasukan dari Kumaya belum datang Lanang Seta bukan kah sebentar lagi kita tiba di Martapura"tanya raja Kala Murka.
"Mungkin mereka di jalan menemukan hambatan Gusti ,tapi hamba sudah kirim kan prajurit untuk menyusul mereka paduka"ucap Patih Lanang Seta,
"Kalau begitu sebaliknya kita istirahat untuk memulihkan tenaga kita sambil menunggu mereka datang"ucap raja Kala Murka.
"Baiklah paduka "ucap Patih Lanang Seta kemudian ia pun segera kembali ke tendanya bersama Ramapati.
...****************...
Rangga dan seluruh pasukan akhirnya tiba di Argara pagi itu,raja Bargola sangat antusias menyambut kedatangan mereka ,ia benar-benar bangga pada Rangga karena bisa memenangkan peperangan itu.
"Selamat anak Prabu romo benar benar gembira anak Prabu dapat kembali dengan selamat"ucap raja Bargola.
"Ini semua berkat semua pasukan yang juga berjuang dengan keras romo"ucap Rangga.
"ya..ya..Romo tahu itu tapi tanpa pemimpin yang hebat saya rasa para prajurit tidak akan berarti apa apa anak prabu"ucap raja Bargola.
"Oh ya anak prabu ada prajurit dari Martapura yang di utus Arya Soma ke sini seperti ada sesuatu yang sangat penting "ucap raja Bargola kemudian.
"Pasti ada apa apa dengan Martapura saat ini , sekarang dimana dia romo "tanya Rangga.
"sabarlah anak prabu dia ada di kamar tamu biarlah saya suruh prajurit untuk memanggilnya dan sebaiknya kita tunggu di Balairung istana saja "ucap raja Bargola kemudian memerintah prajurit untuk memanggil prajurit utusan itu sambil menunju ke Balairung istana .
Mendengar suasana ramai Pandan Wangi yang ada di kamarnya pun segera keluar untuk melihat.
Ia pun segera menuju ke halaman depan istana dan melihat Ariani Dewi dan Lingga di sana yang tampak sedang kelelahan.
"syukur lah kau kembali dengan selamat Ariani"ucap Pandan Wangi,
"oh kamu Wangi , kenapa keluar kamar bukan kah kamu belum sehat "tanya Ariani Dewi,
"Aku merasa baik baik saja jadi tenanglah tak usah memikirkan aku Ariani"ucap Pandan Wangi.
"hai kalian berdua bisa antar aku ke kamar tidak"ucap Lingga tiba tiba,
"memangnya dia kenapa Ariani "tanya Pandan Wangi,
"sampai lupa dia terluka wangi mari kita bantu dia "ucap Ariani Dewi,
__ADS_1
"baiklah "ucap Pandan Wangi, mereka berdua pun mengantar kan Lingga sampai ke kamarnya,
"Ariani jangan lupa suruh tabib ke sini rasanya sakit sekali punggung ku "ucap Lingga,
"baiklah tunggu di sini biar nanti aku panggil kan "ucap Ariani Dewi, segera keluar dari kamar lingga bersama Pandan Wangi.
"Apakah kamu baik baik saja Wangi kelihatannya wajah mu masih terlihat sedikit pucat"tanya Ariani Dewi,
"Aku sudah agak baikan Ariani tidak perlu mengkhawatirkan aku"ucap Pandan Wangi .
"Tapi menurut ku kamu tidak tampak seperti orang sehat Wangi", ucap Ariani Dewi.
"Sudahlah Ariani aku tidak mau membuat Gusti prabu khawatir dengan berdiam di kamar saja"ucap Pandan Wangi.
" Apakah kamu sudah bisa menggunakan tenaga dalam mu Wangi "tanya Ariani.
Mendengar pertanyaan Ariani Dewi itu Pandan Wangi hanya menggeleng kan kepalanya.
"Ternyata luka mu masih belum sembuh benar Pandan Wangi kau harus banyak istirahat ayo kembali ke kamar mu"ucap Ariani Dewi,
"tunggu Ariani "ucap Pandan Wangi.
"Aku mau menghadap Gusti prabu Ariani ada yang ingin aku sampaikan"ucap Pandan Wangi,
"tidak perlu biarlah nanti aku yang meminta Gusti prabu ke kamar mu"ucap Ariani Dewi,
"tapi ... Ariani"ucap Pandan Wangi..merasa tidak enak,
"sudahlah Pandan Wangi turuti saja kata kata ku"ucap Ariani Dewi sedikit galak.
"baiklah Ariani"ucap Pandan Wangi , kemudian ia pun segera menuju ke kamarnya dengan di temani Ariani Dewi.
"Mulai sekarang kau tidak usah keluar kamar Wangi jika ada apa apa bilang saja pada ku"ucap Ariani Dewi setelah di dalam kamar.
"ingat Wangi jika sampai terjadi sesuatu pada mu ,aku tidak akan punya muka di hadapan Gusti prabu karena dia menyuruh ku untuk menjaga mu"ucap Ariani Dewi.
"baik lah Ariani akan turuti perkataan mu itu"ucap Pandan Wangi.
"begitu lebih baik sekarang aku tinggal dulu nanti aku kemari lagi"ucap Ariani Dewi segera berlalu dari kamar Pandan Wangi.
Di Balairung istana Rangga benar benar merasa terkejut mendengar kabar yang di bawa prajurit itu ia tidak menyangka Martapura adalah sasaran berikut nya.
"baiklah sekarang sampai kan pada kanda Arya Soma bahwa aku secepatnya akan segera kembali ke Martapura"ucap Rangga.
"Baik Gusti prabu"ucap prajurit itu dan segera berangkat ke Martapura.
"Sebaiknya anak Prabu jangan terlalu mengawatirkan Martapura karena di sana masih ada Arya Soma "ucap raja Bargola.
"Iya Romo aku rasa untuk saat ini belum terjadi apa apa dengan Martapura , karena keris pulang Geni belum bereaksi apa-apa"ucap Rangga sambil memegang dadanya.
"hormat saya Gusti prabu"ucap Ariani Dewi datang menghadap.
"Ada apa Ariani"tanya Rangga,
"begini Gusti prabu, Pandan Wangi ingin bicara dengan Gusti prabu"ucap Ariani Dewi,
"baiklah mari kita ke kamar Pandan Wangi,Romo saya tinggal dulu"ucap Rangga.
"Silahkan anak Prabu"ucap raja Bargola sambil menatap Rangga pergi dari hadapannya.
Sesaat kemudian mereka pun sampai di dalam kamar Pandan Wangi.
Melihat siapa yang datang Pandan Wangi pun segera bangun dari pembaringan nya,
"hormat saya Gusti prabu"ucap Pandan Wangi.
"bagaimana keadaan mu Wangi "tanya Rangga,
"hamba baik baik saja Gusti"jawab Pandan Wangi,
"Sepertinya luka mu belum pulih Wangi kau harus banyak istirahat dan jangan kau pikirkan tugas mu sebagai Senopati sebelum kau benar benar sembuh "ucap Rangga.
"Tapi sepertinya pengabdian ku pada Martapura berakhir sampai di sini Gusti prabu "ucap Pandan Wangi tiba tiba.
Rangga dan Ariani pun tercekat mendengar penuturan Pandan Wangi itu.
"Kenapa kau berkata seperti itu Wangi apa kau sudah tidak mau berjuang dengan ku juga dengan Ariani lagi"tanya Rangga.
"bukan begitu Gusti prabu ,semenjak hamba terluka sepertinya seluruh ilmu Kanuragan hamba musnah Gusti prabu"ucap Pandan Wangi nampak sedih,
"Apa...!!!!"kenapa kau mengatakan seperti itu Wangi"tanya Rangga dengan terkejut.
"karena hamba telah mencoba mengerahkan tenaga dalam tapi hamba tidak merasakan apa apa di sekitar tubuh hamba Gusti prabu"terang Pandan Wangi,
" apakah benar begitu orang yang kehilangan ilmu Kanuragan nya Gusti prabu"tanya Ariani Dewi,
"kita akan tahu setelah memeriksa nya"ucap Rangga,
"berbaliklah Pandan Wangi aku akan coba memeriksa nya"ucap Rangga .
Pandan Wangi pun segera membalikkan badannya sesuai perintah Rangga, kemudian Rangga pun menempelkan tangannya pada punggung Pandan Wangi sambil mengerahkan tenaga dalamnya .
Ariani Dewi tampak cemas jika yang di katakan Pandan Wangi itu benar benar terjadi.
Tak lama kemudian Rangga pun mengangkat tangan nya dari punggung Pandan Wangi.
"Bagaimana Gusti prabu "tanya Ariani Dewi dengan tidak sabar,
mendengar pertanyaan Ariani Dewi itu Rangga hanya menggeleng kan kepalanya,
Mengetahui hal itu Ariani Dewi pun sok dan menyandarkan dirinya pada dinding kamar itu.
"Apakah tidak ada jalan lain untuk mengembalikan kekuatan Pandan Wangi Gusti prabu"tanya Ariani Dewi.
Rangga hanya terdiam mendengarkan pertanyaan dari Pandan Wangi itu, tampak nya ia sedang memikirkan sesuatu tapi entah apa itu.
Ariani Dewi segera mendekati Pandan Wangi yang tampak sedih itu,
"Percayalah Wangi Gusti prabu pasti menemukan jalan keluarnya ,jadi bersabarlah"ucap Ariani Dewi sambil memeluk Pandan Wangi.
"Kalian berdua bersiaplah besok kita berangkat ke Martapura karena saat ini Martapura sedang terancam bahaya, mengenai masalah mu Pandan Wangi kau jangan sedih, aku sudah tahu jalan keluarnya"ucap Rangga kemudian.
"Benar kah itu Gusti prabu "tanya Ariani Dewi,
"percayalah padaku "ucap Rangga segera meninggalkan mereka,
__ADS_1
"kalau kekuatan Pandan Wangi tidak bisa pulih kembali ini bisa mempengaruhi kekuatan Martapura ini bisa gawat, karena dia adalah Senopati terkuat bersama Ariani Dewi yang di miliki Martapura"ucap Rangga sambil menuju ke kamarnya untuk beristirahat.
Sebenarnya Rangga pun tidak tahu bagaimana caranya untuk menolong Pandan Wangi, ia berbicara begitu hanya sekedar untuk membesarkan hatinya agar tidak merasa terlalu sedih.