
Pagi itu Rangga keluar dari istana dengan berpakaian seperti layaknya seorang pendekar biasa, tanpa ada embel embel kerajaan yang melekat pada diri nya.
Ia memacu kudanya dengan cepat menuju ke arah timur karena ingin mengetahui keadaan penduduk di sana, karena setelah menjadi raja ia merasa punya tanggung jawab penuh atas kemakmuran dan keadaannya rakyatnya.
Panas terik matahari tidak membuat semangatnya kendur ia merasa bagaikan burung terbang bebas yang hidup di alam terbuka tanpa adanya dinding pemisah seperti di istana.
Rangga benar benar bagaikan pengembara kala itu , karena kalau malam ia tidur di atas pohon atau di gubug sawah makan pun seadanya kadang singkong bakar atau ayam hutan hasil buruan nya, kehidupan seperti itu sebenarnya yang ia sukai.
Setelah lama menempuh perjalanan sampailah ia di sebuah desa yang begitu padat penduduknya yaitu desa Jatisari.
Jatisari adalah salah satu desa yang merupakan desa terpencil yang jarang di jamah oleh pejabat kerajaan karena letak dan medannya yang sangat sulit ,kalau ingin ke Martapura butuh waktu berhari hari atau sekitar lima hari perjalanan dengan naik kuda.
"Sepertinya aku harus singgah beberapa hari di desa ini"ucap Rangga dalam hati
lalu ia pun turun dari kuda tunggangan nya dan berjalan kaki sambil melihat lihat keadaan desa itu .
ia bermaksud menuju ke salah satu rumah warga untuk menumpang beristirahat namun dari arah belakang tiba-tiba terdengar teriakkan keras dan kasar padanya.
"minggir...minggir.... kereta Demang mau lewat" kata seorang pengawal dengan kasar kepada Rangga karena kudanya menghalangi jalan yang akan di lewatinya , namun Rangga tak bergeming dan tidak memperdulikannya.
"Hai..apa kamu sudah tuli" kata seorang pengawal itu dengan marah,lalu Rangga pun akhirnya menepi ,
"untung kesabaran saya belum habis,kalau sudah ku hajar kau,"kata pengawal itu dengan garangnya sambil mengacungkan pedangnya.
"Ada apa pengawal "kata orang dalam kereta yang tak lain adalah seorang Demang.
"cuma ada gembel yang menganggu perjalanan kita Ki Demang"jawab pengawal itu.
"Cepatlah kau bereskan dia jangan sampai aku terlambat ke rumah"ucap Demang itu.
"Sudah Ki Demang dia sudah ku bereskan"jawab pengawal itu.
Setelah beberapa saat kemudian rombongan Demang pun berlalu.
"Kau tidak apa apa Raden" tanya seorang kakek tiba tiba,
"saya tidak apa apa Kek",kata Rangga dengan tersenyum,
"itu tadi siapa Kek"tanya Rangga,
__ADS_1
"itu tadi Demang Karto den"jawab si kakek,
"apakah semua pengawalnya Demang Karto itu orangnya seperti itu kasar kasar kek"tanya Rangga.
"Benar den , selain kasar mereka juga kejam ,apa lagi dengan warga desa yang telat membayar pajak dan akhir akhir ini pajak pun semakin tinggi ,"jawab si kakek .
"Apakah ada yang pernah melaporkan tindakan mereka ke kerajaan kek,"tanya Rangga.
"Tidak ada yang berani den takut,"jawab kakek itu.
"lalu apakah pernah ada pihak kerajaan Martapura yang pernah meninjau kemari kek"tanya Rangga,
"Sudah pernah den , biarpun desa ini jauh tapi raja Dungga tidak melupakan kami"ucap kakek itu, Rangga hanya mengangguk angguk perkataan kakek itu mendengar itu .
"Bagaimana perlakuan Demang Karto pada penduduk desa ini kek, apakah seperti tadi yang saya alami kek"tanya Rangga ingin tahu secara pasti dan jelas.
"Benar den bahkan bisa lebih jauh dari pada itu"jawab si kakek.
"Kalau begitu aku harus menyelidiki masalah ini akan ku beri pelajaran Demang itu"kata Rangga dalam hati.
"seperti nya Raden ini orang jauh ? "tanya kakek,
"benar saya adalah seorang pengembara yang kebetulan lewat sini kek,"jawab Rangga berbohong.
"Baiklah kek maaf sebelumnya kalau merepotkan,"jawab Rangga.
"Tidak usah sungkan begitu anak muda"ucap si kakek.
Lalu Rangga pun berjalan mengikuti si kakek itu menuju ke rumahnya .
Tak berapa lama kemudian tampaklah sebuah gubug dengan atap ilalang dengan keadaan yang memperhatikan ,itu lah rumah kakek itu.
Rangga benar benar tercengang melihat itu , ia merasa berdosa melihat rakyat dalam keadaan seperti itu.
"Kita sudah sampai den mari masuk"ucap kakek itu, den kita sudah sampai"ulang kakek itu.
"ba... baik..kek"jawab Rangga dengan gugup karena saking terkejutnya.
"Nek tolong siapkan minuman ada tamu" ,kata si kakek, menyuruh istrinya.
__ADS_1
"Iya kek" jawab si nenek dari dalam.
"Kalau boleh saya tahu Raden ini siapa dan mau kemana,"tanya si kakek,
"Nama saya Rangga kek", jawabnya,
"saya hanya seorang pengembara yang mengikuti kemana langkah kaki berjalan kek "jawab Rangga menjelaskan.
Sesaat kemudian datanglah nenek dari dalam dengan membawa minuman dan ketela rebus yang masih panas
"ini minumannya kek ,"kata si nenek, sambil meletakkan nya di depan si kakek ,
"silahkan di minum nak Rangga,"kata Kakek itu,
"ya terimakasih kek,"jawab Rangga.
"Maaf kek ,kalau tidak merepotkan saya ingin menginap di sini mungkin dua atau tiga hari,"kata Rangga.
"Oh tentu tidak apa apa nak Rangga saya malah senang,karena ada teman ngobrol kebetulan kami cuma berdua di rumah ini"jawab kakek itu menerangkan.
Setelah lama bincang bincang dengan si kakek Rangga pun pamit mau keluar sebentar, Rangga bermaksud untuk melihat lihat kehidupan di desa itu.
Rangga merasa marah dengan tindakan Demang Karto yang sewenang wenang itu,lalu ia memutuskan untuk pergi ke rumahnya dan akan memberikan pelajaran padanya
Dengan mengendarai kudanya sampailah Rangga di depan rumah Demang Karto,
"siapa kamu dan mau apa?"tanya seorang pengawal.
"Saya mau ketemu Demang Karto,"jawab Rangga, dengan melangkah masuk ke dalam rumah ,
"hai berhenti !!!, teriak pengawal tadi itu ,namun tanpa menghiraukan perkataan pengawal itu Rangga pun terus melangkah masuk , pengawal itu pun segera menyerang dari belakang ,tahu dari arah belakang ada yang menyerangnya ,Rangga pun memutar badannya lalu menendang penyerang itu hingga terpental puluhan tombak dan si penyerang itu pun tergeletak tak tahu nasibnya masih hidup atau tidak.
Tak lama kemudian sejumlah pengawal yang lain pun berdatangan dengan pedang terhunus di tangan nya,
"hai siapa kamu berani membuat keributan di sini,?" tanya salah salah satu pengawal yang baru datang itu,
"aku hanya mau bertemu dengan Demang kalian, kalau kalian ingin bernasib sama seperti teman kalian itu silahkan halangi saya,"kata Rangga mengancam.
Akhirnya para pengawal itu pun membiarkan Rangga masuk ke dalam karena tidak ingin mengalami nasib yang sama seperti temannya itu.
__ADS_1
Lalu dari dalam keluarlah para pengawal yang lain " siapa kamu beraninya masuk sembarangan ?"tanya pengawal itu.
"Saya cuma mau bertemu dengan Demang Karto,"jawab Rangga dingin.