
"Jadi kau berkeyakinan bahwa Gusti prabu masih hidup"tanya Pandan Wangi.
"benar Wangi ,aku yakin Gusti prabu belum meninggal "jawab Ariani Dewi penuh keyakinan.
"Kenapa kau bisa tampak yakin begitu Ariani bukan Gusti Patih sudah menyatakan bahwa Gusti sudah gugur dalam pertempuran melawan Kala Murka"tanya Pandan Wangi.
"Gusti patih memang mengatakan begitu tapi kita semua belum tahu kenyataan yang sebenarnya"ucap Ariani Dewi.
Pandan Wangi pun terdiam dengan penuturan Ariani Dewi itu ,ia membenarkan juga apa yang di katakan oleh Ariani Dewi .
"Bagaimana kalau kita tanya kan saja pada Arum tentang siapa yang mengajarinya jurus itu padanya"usul Pandan Wangi.
Ariani Dewi tidak langsung menjawab pertanyaan Pandan Wangi itu , tampak nya ia sedang memikirkan sesuatu.
"Sebaiknya jangan dulu Wangi karena sepertinya orang yang yang mengajari jurus itu tidak ingin identitas nya di ketahui"jawab Ariani Dewi.
"Tapi saya rasa tidak ada salahnya kalau kita bertanya padanya , Ariani"ucap Pandan Wangi.
"Menurut saya jangan wangi ,suatu saat kita pasti akan tahu siapa orang yang melatih Arum selama ini selain kamu"ucap Ariani Dewi.
"Apakah kita akan menunggu sampai orang itu menampakkan dirinya pada kita Ariani"ujar Pandan Wangi .
"Benar ,jadi bersabarlah kurasa tidak lama lagi"ucap Ariani Dewi.
"Jika itu yang terbaik menurut mu ya sudah kurasa sebaiknya kita kembali ke kamar untuk istirahat , karena kita besok harus melanjutkan perjalanan"ucap Pandan Wangi tidak mau berdebat lagi dengan Ariani Dewi.
"Baiklah "ucap Ariani Dewi segera masuk kembali kedalam kedai.
...----------------...
Sementara itu setelah tiba di istana Siluman ular, Ratu Kencana Wungu segera melaporkan kejadian sore tadi itu kepada Ayah dan ibunya yang merupakan Raja dan Ratu di kerajaan siluman itu.
Mendengar keluh kesah anaknya itu Batara Derja dan Ratu Durgapali sangat murka mereka benar benar tidak terima dengan perlakuan Ariani Dewi terhadap putri semata wayangnya itu.
"Brojo Segoro dan Bajang Samudera kalian berdua benar-benar tidak berguna "ucap Raja Batara Derja dengan menatap tajam penuh kemarahan.
"Mohon ampun paduka raja, ternyata mereka bukan wanita wanita sembarangan"ucap Brojo Segoro dengan menunduk ketakutan.
"Benar apa yang di katakan oleh Brojo Segoro paduka mereka adalah para pendekar yang berilmu tinggi"tambah Bajang Samudera.
"Kurang ajar kalian berani beraninya memuji mereka di hadapan ku "ucap raja Batara Derja .
"Ampun paduka bukan maksud hamba berdua memuji mereka tapi memang itu kenyataan nya"ucap Brojo Segoro.
"Cukup ,aku merasa harus menghukum kalian berdua "teriak raja Batara Derja sambil mengangkat tangan kanannya yang sudah membara merah untuk memukul mereka berdua.
"Maaf Romo kurasa ini bukan kesalahan mereka jadi saya harap Romo ampunilah mereka berdua"ucap Kencana Wungu.
Mendengar permintaan Kencana Wungu itu akhirnya kemarahan Batara Derja pun reda dan tidak jadi menghukum mereka berdua.
"Kalian berdua beruntung karena kencana Wungu membela kalian"ucap Batara Derja.
"Terima kasih paduka sudah mengampuni kami berdua"ucap Brojo Segoro dan Bajang Samudera.
"Tapi kalau lain kali kejadian ini sampai terulang lagi aku tidak segan segan menghukum kalian"ucap raja Batara Derja.
"Oh ya Romo, ternyata dua di antara tiga perempuan itu ada yang membawa pedang pusaka yang selama ini Romo cari cari"ucap Kencana Wungu.
"Maksud kamu pedang naga mas dan pedang naga hijau Wungu"ucap Raja Batara Derja tersentak .
"Iya Romo kedua pusaka itu ada pada mereka berdua.
"Apa kamu tidak salah lalu lihat Wungu"tanya raja Batara Derja tambah penasaran.
"Sama sekali tidak Romo dari ciri-ciri nya persis seperti yang pernah Romo katakan waktu itu"ucap Kencana Wungu.
"Kakang Prabu jika ucapan Wungu itu benar inilah kesempatan kita untuk mendapatkan ke dua pedang itu agar kita bisa secepatnya membuka pintu gua naga itu"ucap Ratu Durgapali.
"Benar kita tidak boleh melewatkan kesempatan yang baik ini"ucap Raja Batara Derja.
"Wungu cepat katakan di mana orang yang membawa dua pedang itu"tanya raja Batara Derja.
"Tadi sore kami bertemu dengan mereka di sebuah kedai di desa Purbasari dan sebaiknya Romo Prabu cepat berangkat ,sebelum mereka pergi karena saya yakin saat ini mereka masih di sana untuk bermalam"ucap Kencana Wungu.
"Cepat kita berangkat ke desa Purbasari"ucap raja Batara Derja setelah mendengar keterangan Kencana Wungu itu.
"Maaf Romo sepertinya saya tidak bisa ikut dengan Romo, karena kedatangan saya ke sini untuk mengambil cambuk angin yang pernah kanjeng ibu pernah janjikan kepada saya "ucap Ratu Kencana Wungu.
"Kalau begitu cepat Kau berikan cambuk angin itu dinda Durga , karena kita harus segera berangkat"ucap raja Batara Derja.
"Tunggu sebentar Wungu akan ibu ambilkan"ucap Ratu Durgapali , kemudian ia segera pergi ke kamar nya.
"Apakah kedatangan mu ke sini hanya untuk mengambilnya cambuk angin itu saja Wungu"tanya raja Batara Derja.
"Benar Romo sepertinya aku tidak bisa berlama-lama di sini , sesegera mungkin aku harus kembali ke istana ku"ucap Kencana Wungu.
"Apakah di istana pasir putih sedang ada ada ancaman anak ku sehingga kau mengambil cambuk angin itu"tanya raja Batara Derja.
"Tidak romo , saat ini istana pasir putih baik baik saja tapi firasat ku mengatakan sesuatu bakal terjadi di sana,jadi untuk berjaga-jaga aku mengambil cambuk angin itu lebih cepat dari yang aku perkirakan"ucap Kencana Loka.
Tidak lama kemudian datanglah Ratu Durgapali dengan membawa sebuah kotak di tangan nya.
"Kencana Wungu anak ku, terimalah cambuk angin ini"kata Ratu Durgapali sambil menyerahkan kotak di tangan nya.
"Terima kasih kanjeng ibu, dengan cambuk ini di tangan ku ,maka tak akan ada lagi yang berani macam-macam dengan kerajaan pasir putih"ucap Kencana Wungu.
"Benar Kencana Wungu dengan cambuk itu kau akan bertambah kuat, karena cambuk itu bukanlah cambuk biasa , senjata apapun tidak bisa menandingi keampuhan cambuk itu kecuali pedang kembar dua mustika"ucap Ratu Durgapali.
"Pedang kembar dua mustika bukan kah pedang itu kini sudah menjadi legenda saja kanjeng ibu"ucap Kencana Wungu.
"Benar anak ku pedang itu sudah tidak ibu dengar lagi selama hampir seratus tahun terakhir ini"ucap ratu Durgapali.
"Baiklah kanjeng ibu sekarang juga aku mohon diri untuk kembali ke istana pasir putih"ucap Ratu Kencana Wungu.
"Hati hatilah Wungu dalam perjalanan mu"ucap Ratu Durgapali.
"Baik kanjeng ibu"ucap Ratu Kencana Wungu.
"Romo saya mohon pamit"ucap Ratu Kencana Wungu pada ayahnya.
"Jaga dirimu baik-baik putri ku"ucap Raja Batara Derja.
"Iya Romo"ucap ratu Kencana Wungu ,dan segera pergi meninggalkan istana Siluman dengan di iringi oleh Brojo Segoro dan Bajang Samudera serta beberapa para prajuritnya.
__ADS_1
"Istri ku Durgapali ayo cepat kita berangkat ke desa Purbasari kita dapat kan pedang itu"ucap raja Batara Derja dengan sudah tidak sabar.
"Apakah kita mesti turun tangan sendiri kanda prabu, kenapa kita tidak menyuruh Narapala dan Dunggala saja bukan kah kemampuan Senopati kembar itu sudah cukup"tanya Durgapali.
"Aku tidak meragukan kemampuan mereka dinda Durga tapi aku ingin sendiri yang merebut pedang itu sekaligus membalas perbuatan mereka pada putri kita "ucap Raja Batara Derja.
"Jika itu keputusan Kanda Prabu baiklah cepat kita berangkat"ucap Durgapali.
Lalu raja Batara Derja dan Ratu Durgapali pun melesat terbang menuju ke desa Purbasari di mana Arum, Ariani Dewi dan Pandan Wangi berada.
...----------------...
Seperti yang telah di rencanakan sebelumnya Kelima orang pentolan aliran hitam yaitu Warok Singa, Kala Weling, Rupaksa Dara, tengkorak putih dan Karang Bolong malam itu mereka berlima bergegas menuju ke Martapura.
Mereka berencana akan mengobrak abrik Martapura sebagai bentuk peringatan atas tindakan Martapura yang selama ini selalu merintangi mereka untuk menguasai dunia persilatan.
Hingga tepat hari tengah malam sampai lah mereka di Martapura karena tidak ingin membuang membuang waktu kelima orang itu segera langsung menuju ke istana.
Malam itu suasana di Martapura tampak sepi lengang bagaikan kota mati karena orang orang sudah tertidur semua.
Dengan menggunakan ilmu lari cepat tidak lama kemudian sampailah Warok Singa dan teman temannya di depan istana Martapura.
Melihat beberapa prajurit penjaga pintu gerbang Warok Singa tanpa di komando pun segera mengerahkan ilmu sirep tingkat tingginya , seketika itu para prajurit penjaga pun langsung tertidur dengan pulas dengan sendirinya.
"Bagus Warok Singa dengan begitu kita tidak perlu buang buang tenaga"ucap Rupaksa Dara.
Mendengar perkataan Rupaksa Dara itu Warok Singa cuma tersenyum sambil memperhatikan keadaan sekitar nya.
Kala Weling yang merasa sudah tidak sabar itu langsung berkelebat masuk ke dalam melalui pagar istana dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai taraf sempurna dan huuup... ia pun mendarat tanpa mengeluarkan bunyi jejak kaki nya sedikit pun.
Keempat temannya hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Kala Weling itu dan segera mengikuti nya.
"Arya Soma keluar lah aku kala weling ingin buat perhitungan dengan mu malam ini"teriak Kala Weling dengan suara yang menggelar.
Keempat kawannya saling pandang dengan sikap Kala Weling itu dan sambil bersiap siap menanti kedatangan orang yang di panggil oleh Kala Weling itu.
"Arya Soma keluar lah"teriak Kala Weling lagi.
"Apakah Arya Soma juga ikut tertidur oleh ajian sirep mu itu Warok Singa"tanya Rupaksa Dara.
"Aku rasa tidak Rupaksa tidak mungkin Arya Soma yang terkenal hebat itu bisa dengan mudah terpengaruh oleh ilmu sirep ku"ucap Warok Singa.
"Bagaimana Kalau kita langsung masuk ke dalam istana dan kita obral abrik isi dalam istana ini"usul Karang Bolong.
"Baiklah mari kita masuk"ucap tengkorak putih sambil melangkah masuk.
Namun di saat mereka berlima sedang melangkah masuk tiba-tiba selarik sinar putih yang datangnya dari dalam meluncur mengarah ke mereka.
"Awas ada serangan" teriak Rupaksa Dara memperingatkan teman temannya.
Duuuaaarrr......sinar itu pun hanya mengenai tempat kosong.
"Hampir saja hilang kepala ku"ucap tengkorak putih.
"Sama aku juga hampir kehilangan kepala ku tengkorak putih untung peringatan Rupaksa Dara tidak terlambat"ucap Karang Bolong.
Kelima orang itu menatap tajam ke dalam istana mencari cari orang yang melepaskan pukulan tadi itu, namun mereka tidak menemukan siapa pun.
"Sepertinya ada yang mau main main dengan kita Warok Singa"ucap Karang Bolong merasa jengkel.
"Baiklah cepat lakukan aku ingin tahu siapa orang yang berani macam-macam dengan kita"ucap Karang Bolong.
Warok Singa kemudian mengangkat tangan kanannya ke atas sambil mengerahkan tenaga dalamnya dan muncullah gumpalan cahaya kemerahan yang berbentuk seperti Cakra lalu ia pun segera melepaskan cakra ke dalam istana wuuusss....., Warok Singa dan ke empat temannya pun menunggu apa yang bakal terjadi di dalam istana itu.
Tiba-tiba saja duuuaaarrr.... duuuaaarrr.... ledakan pun terjadi sebelum pukulan Warok Singa masuk kedalam istana.
"Haaa....haaa....haaa..... terdengar suara tawa keras memekik telinga , hingga membuat Warok Singa dan teman temannya harus segera mengerahkan tenaga dalam untuk membentengi dirinya.
"Kurang ajar kuat sekali tenaga dalam ini , siapakah pemilik nya"gerutu tengkorak putih.
"Tunjukkan diri mu jangan seperti pengecut yang hanya bersembunyi"ucap Warok Singa dengan setengah berteriak.
Tak lama kemudian seberkas cahaya putih muncul di hadapan mereka , cahaya itu sangat menyilaukan mata hingga membuat Warok Singa dan teman temannya harus menutup mata mereka dan cahaya itu pun kemudian lenyap berganti seorang kakek berjubah putih dengan tongkat di tangan nya.
"Beraninya kalian berlima mengusik ketenangan ku"ucap kakek berjubah putih itu.
"Kau siapa tua Bangka beraninya menghalangi kami berlima apakah kau belum tahu nama besar kami"ucap Rupaksa Dara dengan sombongnya.
"haaa ...haaa...haaa... aku begawan Atmaja penjaga istana ini dan siapa yang tidak kenal dengan cecunguk macam kalian,yang tinggal di lembah Kematian itu"ucap Kakek jubah putih itu dengan kata kata mengejek.
"Ku peringkat kan pada kalian berlima pergilah jangan paksa aku untuk bertindak kasar pada kalian"lanjut begawan Atmaja.
"Warok Singa tidak usah banyak cakap mari kita hajar kakek tua itu"ucap Rupaksa Dara.
"Kau benar Rupaksa Dara kita jangan buang waktu cepat kita habisi kakek tua itu"ucap Karang Bolong.
Hiiiaat... wuusss..Kala Weling melepaskan pukulan menyerang begawan Atmaja tepat mengenai tubuhnya namun pukulannya itu tidak melukainya .
"Apa ..!!!!" kenapa pukulan ku bisa seperti menembus bayangan"ucap Kala Weling dengan tersentak.
"Sebenarnya dia orang atau hantu"ucap Kala Weling .
"Untuk memastikan akan ku belah tubuh "ucap tengkorak putih langsung berkelebat menyerang dengan pedangnya.
Tebasan tebasan pedang Kala Weling seperti mengenai bayangan ketika menyentuh tubuh begawan Atmaja ia pun segera menarik diri dan kembali pada teman-teman nya.
"Pergilah kalian jangan sampai kesabaran ku habis "ucap begawan Atmaja.
"Warok Singa apakah kau tahu cara menghadapi dia"tanya Karang Bolong.
"Cepat kalian gunakan jurus melepas sukma agar kita bisa menghadapi dia"ucap Warok Singa.
"Jadi kakek tua itu hanya sebuah arwah"tanya Karang Bolong,
"Benar cepat lah jangan banyak tanya gunakan jurus melepas sukma"ulang Warok Singa.
Mendengar perkataan Warok Singa itu Kala Weling, Rupaksa Dara,Karang Bolong dan Tengkorak Putih segera bersemedi sementara Warok Singa bertugas menjaga tubuh mereka berempat.
Tubuh mereka pun bergetar lalu wuuusss...ruh keempat orang itu pun keluar dari badannya dan langsung menyerang begawan Atmaja.
Melihat jurus mereka itu begawan Atmaja terkejut tidak mengira bahwa jurus terlarang itu masih ada.
Hiiiaat... Rupaksa Dara melepaskan selendang ke arah begawan Atmaja wuusss... begawan Atmaja menangkis dengan tongkatnya duuuaaarrr... Rupaksa Dara terpental lima tombak dan bergetar lah tubuh Rupaksa Dara yang sedang semedi itu dengan di sertai keluar darah dari mulut nya akibat benturan tadi itu sementara begawan Atmaja hanya mundur dua langkah.
__ADS_1
"Benar benar bukan omong kosong ternyata mereka cukup tangguh"ucap begawan Atmaja setelah benturan tadi.
Melihat Rupaksa Dara terpental Kala Weling dan Karang Bolong segera maju bersama menyerang begawan Atmaja dengan pedangnya.
Begawan Atmaja meliuk-liuk menghindari sabetan sabetan pedang mereka berdua, sementara Tengkorak Putih masih berdiri mengamati pertarungan itu.
Begawan Atmaja segera memutar tongkatnya dan hawa panas pun terasa di sekitar area pertarungan itu.
Kala Weling dan Karang Bolong segera melipat gandakan tenaga dalamnya untuk meredam hawa panas itu namun sia sia tak mengubah apa pun sehingga tubuh kasar mereka berdua basah berkeringat.
"Kala Weling sebaiknya kita percepat pertarungan ini jangan sampai aura panas ini semakin menguras tenaga dalam kita"ucap Karang Bolong.
"Aku juga berfikir seperti itu Karang Bolong "ucap Kala Weling , ia pun segera kembali menerjang begawan Atmaja .
Kala Weling terus mencecar begawan Atmaja dengan ganasnya,Karang Bolong pun merengsek maju untuk membantunya.
Meladeni dua orang itu begawan Atmaja kembali memutar tongkatnya dengan cepat hawa panas pun menjadi berlipat ganda di area itu.
Makin lama keringat makin banyak membasahi tubuh Karang Bolong dan Kala Weling yang sedang semedi itu.
"Tengkorak Putih cepat bantu mereka berdua"teriak Warok Singa setelah melihat tubuh Karang Bolong dan Warok Singa yang basah berkeringat itu.
"Seandainya aku tidak khawatir dengan tubuh mereka ini ingin rasanya aku membantu mereka"ucap Warok Singa tampak gusar.
Tengkorak putih segera terjun ke dalam pertempuran itu ,namun ia mengurungkan niatnya setelah merasakan hawa panas yang begitu hebat di sekitar area pertempuran itu.
"Kurang ajar rupanya tinggi sekali tenaga dalam orang tua itu"ucap Tengkorak Putih segera mengerahkan tenaga dalamnya sampai puncak akhir.
Ia pun segera melibatkan dirinya dalam pertempuran itu untuk membantu Karang Bolong dan Kala Weling.
Karang Bolong dan Kala Weling yang terdesak itu merasa lega setelah melihat kedatangan Tengkorak Putih untuk membantu nya.
"Cepat selesai kan pertarungan kalian karena sebentar lagi menjelang pagi "teriak Warok Singa.
Mendengar teriakkan Warok Singa itu mereka bertiga pun langsung menyerang begawan Atmaja dengan gencar.
Menghadapi tiga orang itu begawan Atmaja pun juga meningkatkan tempo serangan nya,
Tongkat begawan Atmaja bagaikan ular yang menari nari mematuk mangsa , walaupun tidak mengenai sasaran tapi cukup membuat tiga orang itu harus berhati-hati, karena mengeluarkan hawa panas yang teramat sangat.
"Sangat merepotkan hawa panas ini keluh" Tengkorak Putih.
Begawan Atmaja meliuk-liuk menghindari sabetan pedang mereka bertiga tongkat dan pedang pun saling beradu, ketiga orang lawannya itu bergetar merasakan benturan dengan tongkat begawan Atmaja.
Namun di saat yang tidak terduga sebuah pukulan tepat mengenai punggung begawan Atmaja hingga membuat nya terpental dan tongkat nya pun terlepas dari tangannya seketika juga hawa panas pun lenyap.
"Kerja bagus Rupaksa Dara"ucap Karang Bolong.
Rupanya Rupaksa Dara dari tadi memperhatikan jalannya pertarungan itu dan menunggu saat yang tepat untuk menyerang begawan Atmaja dan saat dia sedang sibuk menghindari serangan mereka bertiga lalu dengan licik ia melepaskan pukulan nya.
"Cepat kita habisi tua bangka itu"ucap Tengkorak Putih.
Keempat orang itu pun langsung mendekati begawan Atmaja yang tergeletak itu ,
"matilah kau orang tua !!!"teriak Karang Bolong dengan di sertai kemarahan.
Duuuaaarrr.... duuuaaarrr... duuuaaarrr... tiba-tiba sebuah pukulan menyambut keempat orang itu dan mereka semua pun terpental jatuh ke tanah.
"Kurang ajar perbuatan siapa ini"maki Karang Bolong.
Warok Singa terkejut melihat tubuh keempat temannya mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Sepertinya aku juga harus turun tangan"ucap Warok Singa,ia pun segera bersemedi dan saat itu pula Sukma nya pun keluar dari tubuhnya.
"Apa kalian tidak apa apa"tanya Warok Singa.
"Kami baik baik saja Warok Singa"jawab Tengkorak Putih.
"Perbuatan siapa ini "tanya Warok Singa sambil mengedarkan pandangannya dan ia melihat dua orang laki laki dan perempuan yang sedang menolong begawan Atmaja.
"Rupanya mereka berdua "ucap Warok Singa dengan marah.
"Siapa kalian !!!"teriak Warok Singa dengan marah.
Namun kedua orang itu tak memberi kan jawaban ,Warok Singa pun langsung melepaskan pukulan nya ke arah dua orang itu wuusss... duuuaaarrr.....
"Hentikan perbuatan kalian pergilah segera dari sini"ucap laki-laki yang baru datang itu setelah dengan santai menghalau pukulan Warok Singa.
"Memang siapa kamu beraninya menyuruh kami"jawab Warok Singa , dalam hatinya ia merasa gentar setelah melihat pukulannya dapat tepis dengan mudah.
"Aku Andana dan Andini sebaiknya cepat kalian berlima pergi"ucap Andana .
"Kurang ajar "ucap Warok Singa langsung melesat menyerang mereka .
"Andini hadapi dia aku akan mengurus yang empat itu"ucap Andana.
"Pulang Geni kau beristirahat sementara aku akan memberikan pelajaran kepada orang ini"ucap Andini memanggil begawan Atmaja dengan nama Pulang Geni ,karena begawan Atmaja sebenarnya adalah arwah yang bersemayam di keris pulang Geni ,sedangkan Andana dan Andini adalah arwah yang bersemayam di pedang kembar dua mustika milik Rangga yang melegenda itu.
"Baiklah pedang kembar dua mustika aku akan menonton pertarungan kalian"ucap pulang Geni .
Andini langsung melesat menyambut kedatangan Warok Singa, ia langsung mengubah dirinya menjadi cahaya yang berbentuk pedang dan menghantam Warok Singa duuuaaarrr... Warok Singa pun terpental cukup jauh,ia tidak menyangka akan mendapatkan serangan seperti itu.
Warok Singa segera bangun dengan tertatih-tatih ia mulai menyadari nya bahwa lawannya bukan orang sembarangan.
"Sepertinya aku harus segera pergi dari sini"ucap nya.
Keempat temannya Karang Bolong, Rupaksa Dara dan Kala Weling juga mendapatkan keadaan yang sama seperti Warok Singa, mereka tidak berdaya menghadapi Andana .
Dalam sekali gebrakan saja mereka berempat dapat langsung di kalahkan nya.
"Cepat kita pergi dari sini "teriak Warok Singa kepada teman temannya.
Mendengar teriakkan Warok Singa itu mereka pun segera kembali ke tubuh mereka masing-masing dengan luka dalam yang tidak ringan.
"Tidak ku sangka penjaga Martapura benar benar sakti mandraguna"ucap Rupaksa Dara sambil menyeka mulutnya yang penuh dengan darah.
"Cepat kita pergi dari sini sebelum para prajurit keburu sadar"ucap Karang Bolong .
Akhirnya kelima orang itu pun pergi dengan membawa luka dalam yang mungkin membutuhkan waktu yang lama untuk menyembuhkannya.
"Pulang Geni kenapa kau pergi tidak bilang kepada kami"ucap Andini sedikit kesal.
"Hehe....heee... soalnya aku sudah rindu sekali dengan Martapura Andini "ucap pulang Geni.
__ADS_1
"Sudahlah tidak usah di perdebatkan mari kita kembali ke tuan kita"ucap Andana.
Mereka bertiga pun langsung melesat pergi dari tempat itu untuk kembali ke pada tuannya.