Pendekar Pedang Kembar

Pendekar Pedang Kembar
Mendung Hitam di atas Martapura bagian 2


__ADS_3

Pasukan Bulan Merah langsung melanjutkan perjalanannya pagi itu ,raja Kala Murka tampak di depan memimpin para prajuritnya.


Sementara Patih Lanang Seta dan Ramapati terlihat di sisi kanan dan kiri mendampingi nya.


Bagi Patih Lanang Seta dan pasukannya ini adalah pertama kalinya mereka di pimpin langsung oleh raja mereka.


Karena pada perang sebelumnya mereka tidak pernah di pimpin oleh Kala Murka cuma Patih Lanang Seta lah kerap memimpinnya.


Sepertinya perang kali ini bukan perang biasa itu terlihat pada diri raja kala Murka yang membawa senjata andalan nya yaitu Pedang setan yang bertengger di punggungnya.


Sementara itu Cakra Lembayung dan Ki Balung Waja terlihat di barisan paling ujung bersama para prajurit di belakang, mereka berdua sengaja melakukan itu untuk berjaga-jaga kalau ada hal hal yang tidak di inginkan terjadi.


Hiyaa....hiyaa..... tampak dari kejauhan seseorang memacu kudanya dengan cepat menuju ke barisan itu , berkali-kali ia menggebah kudanya dan makin lama jaraknya pun semakin dekat dengan pasukan itu.


Cakra Lembayung yang melihat kedatangan prajurit itu segera menghentikan jalan kudanya.


"Ada apa pangeran berhenti"tanya Ki Balung Waja,


"sepertinya ada sesuatu guru,, lihat lah"jawab Cakra Lembayung sambil menunjuk ke arah orang yang berkuda itu,


"Bukan kah dia prajurit bulan merah pangeran"ucap Ki Balung Waja.


"Benar guru "jawab Cakra Lembayung.


Sesaat kemudian sampailah prajurit itu di hadapan mereka,


"Ada apa prajurit tanya "Cakra Lembayung,


"Hamba ingin melapor Gusti, bahwa telah terjadi sesuatu di Kumaya tanpa sepengetahuan kita "ucap prajurit itu.


kemudian prajurit itu menceritakan pemandangan yang di lihat nya ketika dirinya sampai di Kumaya.


"Apa ...!!!"ucap Cakra Lembayung dan Ki Balung waja terkejut bersamaan.


"Aku harus memberi tahu kan kejadian ini pada kanda prabu guru"ucap Cakra Lembayung segera memacu kudanya menuju barisan depan.


Dan sesaat kemudian ia pun sampai di barisan paling depan.


"Tunggu kanda prabu...", teriak Cakra Lembayung.


Kala Murka segera mengangkat tangan kanannya ke atas mengisyaratkan pasukannya untuk segera berhenti.


"Ada apa Lembayung"tanya Kala Murka.


Lalu Cakra Lembayung pun menceritakan pada Kala Murka tentang kejadian yang menimpa seluruh prajurit di Kumaya.


Mendengar hal itu raja Kala Murka, Patih Lanang Seta dan Ramapati pun terkejut bukan main dengan rasa tidak percaya.


"Lanang Seta kenapa bisa terjadi peperangan tanpa sepengetahuan ku, hingga menyebabkan seluruh prajurit ku tewas"tanya raja Kala Murka dengan sangat marah.


"Maaf paduka itu di luar sepengetahuan hamba, karena hamba tidak menerima kabar apa pun dari kumaya kalau terjadi peperangan di sana "ucap Patih Lanang Seta.


"Kau benar benar membuat aku kecewa Lanang Seta , bukan kah telah aku serahkan Kumaya dan seluruh prajurit itu pada mu ,kenapa kau sampai tidak tahu Lanang Seta"ucap raja Kala Murka dengan berang.


"Maaf kanda ,saya rasa ini bukan saatnya untuk menyalahkan paman Lanang Seta ,lagian ini tidak sepenuhnya kelalaian dari paman kanda "ucap Cakra Lembayung.


"Apa maksudmu Lembayung"tanya raja Kala Murka.


"Benar apa yang paman Lanang Seta katakan kanda, seharusnya mereka memberikan kabar kepada istana kalau di sana terjadi sesuatu, sehingga Paman Lanang seta bisa mengirim kan bantuan ,tapi buktinya mereka tidak memberikan kabar apa apa pada kita, jadi ini adalah kesalahan pemimpin di sana kanda"ucap Cakra Lembayung.


Raja Kala Murka terdiam mendengar perkataan Cakra Lembayung itu ,sepertinya ia membenarkan apa yang di utarakan adiknya itu.


"Baiklah aku terima alasan mu itu Lembayung, sekarang kita lanjutkan perjalanan "ucap raja Kala Murka .


Sepanjang perjalanan Patih Lanang Seta masih memikirkan tentang tewasnya seluruh pasukan di Kumaya itu ,ia benar-benar sulit untuk mempercayainya , begitu pula dengan Ramapati ia pun juga memikirkan hal yang sama.


"Lanang Seta "ucap Kala Murka.


"iya paduka raja"jawab Lanang Seta.


"Sepertinya kau harus mengganti siasat perang ini setelah semua prajurit di Kumaya tidak ada"ucap Kala Murka sambil memegangi tali kudanya.


"benar paduka ,semula hamba berniat membagi pasukan menjadi empat bagian tapi setelah mengetahui keadaan pasukan di Kumaya hamba akan membagi pasukan menjadi dua saja Gusti"ucap Lanang Seta.


"baiklah suruh pasukan untuk berjalan lebih cepat lagi supaya kita cepat sampai di Martapura "perintah Kala Murka lalu mempercepat lari kudanya.


"percepat jalan kalian"teriak Patih Lanang Seta memberikan aba-aba dan seluruh pasukan pun segera jalan kuda mereka.


Sementara itu Sarpo dan beberapa prajurit telik sandi yang mengawasi gerak-gerik mereka mulai bergerak berpindah tempat, agak menjauhi mereka lalu Sarpo segera menuju ke tempat kudanya yang di ikat di bawah pohon tidak jauh darinya.


"kalian tetap lah di sini untuk terus mengawasi pergerakan mereka sementara aku akan melapor pada Gusti Patih"ucap Sarpo dari atas kudanya,


"bergegaslah kau pergi karena mungkin setengah hari lagi mereka akan sampai di Martapura"ucap temannya itu.


"baik lah hati hati kalian "ucap Sarpo segera memacu kudanya dengan cepat.


"ini benar-benar bahaya aku belum pernah menyaksikan raja Kala Murka mengerahkan pasukannya sebanyak itu selama aku menjadi prajurit bulan merah, sepertinya Martapura akan menghadapi lawan yang berat kali ini", ucap Sarpo sambil memacu kudanya dengan kencang.


...--------------...


Dengan wajah penuh kecemasan dan kekhawatiran Rangga memacu kudanya dengan cepat , karena ia merasa saat ini Martapura dalam keadaan bahaya.


Dalam pasukan itu juga terlihat raja Bargola juga ikut ke Martapura bersama dengan seluruh prajuritnya kecuali Patih Guntoro dan beberapa prajurit yang di perintahkan untuk tetap tinggal di Argara untuk berjaga-jaga di sana selama ia pergi.


"Kita tidak punya banyak waktu lagi percepat jalan kalian"teriak Rangga memberi komando pada pasukannya.

__ADS_1


Mendengar teriakkan Rangga itu para prajurit pun segera mempercepat jalan mereka.


"Pandan Wangi apa kau baik-baik saja"ucap Ariani Dewi yang satu kuda dengan nya,


"aku baik baik saja Ariani"jawab Pandan Wangi.


"Sepertinya pasukan bulan merah sudah dekat dengan Martapura Wangi karena Gusti Prabu terlihat begitu tegang"ucap Ariani Dewi sambil melihat ke arah Rangga yang tidak jauh di depan nya.


" semoga saja kita lebih duluan tiba di sana sebelum pasukan bulan merah Ariani"ucap Pandan Wangi sambil berpegangan erat pada Ariani Dewi.


"Semoga saja begitu Pandan Wangi"ucap Ariani Dewi.


Hiyaa...hiyaa.... Rangga terus menggebah kudanya.


...****************...


"Sebentar lagi pasukan Bulan Merah sampai di sini Gusti Patih"ucap Sarpo melaporkan.


"Baiklah mari kita hadapi mereka"ucap Arya Soma.


"Paman Wiro Kusumo segera persiapkan pasukan pemanah untuk menyambut kedatangan mereka ,kita beri sedikit ucapan selamat datang untuk pasukan Bulan Merah"perintah Arya Soma.


"Baik Gusti Patih Patih akan segera hamba laksanakan"ucap Wiro Kusumo segera berlalu.


"Paman Kencana Loka bawalah pasukan secukupnya untuk melapisi pasukan pemanah"perintah Arya Soma.


"Baik Gusti Patih"ucap kencana loka dan segera pergi hadapan Arya Soma.


Sementara itu di dalam kamarnya Dewi Sekar tampak berbaring dengan di temani Dewi Kara dan beberapa pelayan istana.


Sepertinya hari itu Dewi Sekar akan segera melahirkan anaknya yang pertama.


"Apakah perut dinda masih sakit "tanya Dewi Kara,


"untuk sekarang tidak yunda,tapi rasa sakit ini datang tiba-tiba , apakah ini pertanda aku akan segera melahirkan yunda"tanya Dewi Sekar.


"Benar dinda biasanya orang yang akan melahirkan memang begitu"ucap Dewi Kara.


"terkadang rasanya sakit sekali dinda"ucap Dewi Sekar,


"Itu wajar dinda , semua wanita kalau mau melahirkan memang begitu"ucap Dewi Kara merasa kasihan pada Dewi sekar adiknya .


"Apakah kanda prabu belum kembali yunda "tanya Dewi Sekar .


"Belum dinda, mungkin sebentar lagi ,dinda jangan khawatir aku akan menemani dinda sampai bayi itu lahir", ucap Dewi Kara.


"Terima kasih yunda"ucap Dewi Sekar.


"Bibi Sari apa bayi akan lahir hari ini atau malam nanti"tanya Dewi Kara,


Dewi Kara tampak cemas memandang wajah adiknya yang kelihatan pucat itu ,berkali-kali ia mengusap rambut adik satu satunya itu.


Di halaman depan istana ,hari itu tampak penuh sesak di banjiri para prajurit Martapura yang sedang berbaris ,


Senopati Wiro Kusumo tampak sedang menyiapkan pasukan yang akan segera di berangkatkan nya ,tak jauh dari nya di barak prajurit Senopati kencana Loka pun juga sedang melakukan hal yang sama beserta para Senopati lainnya.


Kali ini Martapura benar benar mengerahkan seluruh prajuritnya untuk menghadapi bulan merah,mulai dari pasukan pemanah, pasukan berkuda ,pasukan berjalan kaki dan juga prajurit cadangan juga tidak ketinggalan.


Dari dalam istana Arya Soma menatap tajam para prajuritnya yang tengah bersiap siap itu dengan wajah nampak tegang, sepertinya ada sesuatu yang di pikirkan nya tapi entah apa itu.


Di saat Arya Soma sedang memperhatikan para prajuritnya itu datanglah seorang prajurit telik sandi untuk melapor,


"Ada apa prajurit", tanya Arya Soma,


"Lapor Gusti Patih ternyata pasukan bulan merah mengambil arah barat Gusti"ucap prajurit itu,


Patih Arya Soma langsung berfikir mendengar laporan prajuritnya itu,


"Apakah seluruh pasukan bulan mengambil arah itu"tanya Arya Soma,


"benar Gusti , seperti mereka menjadi satu tidak ada pembagian pada pasukan mereka "ucap prajurit itu.


"Ternyata mereka akan melakukan penyerangan total"ucap Arya Soma sambil mengelus elus dagunya.


"Berapa lagi mereka sampai di hutan jati menurut perkiraan mu"tanya Arya Soma.


"Sepertinya masih lama Gusti soalnya sebelum mereka masuk ke hutan jati ,pasti mereka akan mengambil waktu untuk istirahat dulu guna memulihkan tenaga mereka Gusti "ucap prajurit telik sandi itu.


"Ya ...ya.. seperti nya aku bisa memanfaatkan kesempatan ini selagi mereka beristirahat"gumam Arya Soma.


"Apakah ada lagi yang ingin kau laporan kan prajurit"tanya Arya Soma.


"Hamba kira sudah cukup Gusti"ucap prajurit telik sandi itu.


"baiklah kembali ke tempat mu"ucap Arya Soma dan prajurit itu pun segera pergi.


"Sepertinya aku harus segera memerintahkan paman Wiro Kusumo dan paman Kencana Loka untuk segera memberangkatkan sebagaian pasukan nya"ucap Arya Soma, segera berjalan menuju ke halaman depan.


"Paman Wiro Kusumo" panggil Arya Soma, ketika sampai di halaman depan istana.


Melihat siapa yang memanggilnya Wiro Kusumo pun segera menghampirinya.


"Ada apa Gusti Patih "tanya Arya Soma,


"Kalau pasukan paman sudah siap ,segera berangkat kan mereka ke hutan jati paman ,kita hadang mereka di sana "ucap Arya Soma.

__ADS_1


"Apakah kita akan menjadikan hutan jati sebagai Medan pertempuran Gusti"tanya Wiro Kusumo,


"Benar paman kita akan hancurkan mereka di sana seperti kita menghancurkan pasukan Jubah Hitam dulu"ucap Arya Soma.


"Baik Gusti hamba akan segera memberangkatkan pasukan sekarang "ucap Wiro Kusumo.


"Apakah paman Kencana Loka juga sudah siap paman"tanya Arya Soma,


"Pasukan hamba sudah siap untuk berangkat Gusti"ucap kencana Loka tiba-tiba datang dari arah samping Arya Soma.


"Kalau begitu berangkat lah kalian berdua dengan pasukan masing-masing "ucap Arya Soma.


"baik Gusti"ucap Wiro Kusumo dan Kencana Loka serempak.


Setelah memberikan perintah kepada mereka berdua ,Arya Soma pun segera menuju ke dalam istana,namun di saat ia akan masuk ke dalam tiba tiba-tiba ada seorang prajurit yang menghentikan langkahnya.


"lapor Gusti Patih ,ada dua orang yang ingin bertemu dengan Gusti prabu"tanya Arya Soma.


"Apakah kamu tidak bilang bahwa Gusti prabu sedang tidak ada di tempat"tanya Arya Soma.


"Hamba sudah bilang begitu Gusti, tapi mereka masih tetap tidak percaya"jawab prajurit itu,


"suruh mereka masuk aku ingin tahu siapa mereka"ucap Arya Soma.


"Baik Gusti"ucap prajurit itu segera berlalu .


"Siapa kira-kira dua orang itu ada keperluan apa dengan Gusti prabu"ucap Arya Soma penasaran.


Tidak lama kemudian datanglah prajurit tadi dengan membawa dua orang yang berjalan di belakangnya.


Melihat orang yang datang bersama prajurit itu Arya Soma pun terkejut bukan main dan segera menyambut kedua tamu nya itu dengan senyuman lebar di bibirnya.


"Aku benar-benar tidak menyangka ratu Gandari dan Patih Danuraka berkunjung kemari , selamat datang di Martapura"ucap Arya Soma dengan gembira.


"Terima kasih Gusti Patih, Saya dan paman Danuraka sebenarnya sudah lama ingin berkunjung ke sini,tapi keadaan tidak memungkinkan hingga akhirnya hari ini kita berdua bisa juga berkunjung ke Martapura"ucap Gandari.


"ya..ya.. aku bisa mengerti kesibukan dari ratu Gandari ,tapi sayang Gusti Ratu datangnya di saat waktu dan suasana tidak tepat"ucap Arya Soma.


"Apa maksud Gusti Patih"tanya Ratu Gandari tidak mengerti.


Lalu Arya Soma pun menceritakan tentang tentang ancaman bulan merah yang akan menyerang ke Martapura serta ketiadaan Rangga di Martapura .


"Pantas saja seluruh kota sepi sekali dan tidak ada kegiatan apa pun "ucap putri Gandari,


"Inilah kesempatan kita untuk bergantian membantu Martapura Gusti ratu seperti dulu Martapura membantu Markuraka dari pemberontak Karang Hitam"ucap Patih Danuraka,


"benar paman Patih aku masih ingat kejadian itu"ucap Ratu Gandari.


"Gusti Patih aku putuskan untuk membantu Martapura dalam perang ini"ucap Ratu Gandari.


"Aku terima senang hati bantuan kalian berdua"ucap Arya Soma dengan gembira.


Tidak lama kemudian datanglah seorang prajurit dengan tergesa-gesa menghadap Patih Arya Soma di Balairung istana.


"lapor Gusti Patih peperangan akan segera di mulai"ucap prajurit itu.


"Ternyata mereka sudah sampai di hutan jati, baiklah aku akan segera ke sana "ucap Pati Arya Soma.


"Gusti Ratu dan Patih Danuraka tampak kita harus cepat menuju ke Medan perang"ucap Arya Soma.


"Baiklah kami berdua juga sudah siap Gusti patih"ucap Ratu Gandari.


"Kalau begitu tunggu kalian di sini"ucap Patih Kencana Loka segera meninggalkan mereka.


Tok...tok..tok... terdengar suara pintu di ketuk dan tak lama kemudian pintu pun terbuka.


"Ada apa kanda"tanya Dewi Kara,


"Kanda akan segera berangkat ke hutan jati kini keamanan keraton ku serahkan pada mu dinda"ucap Arya Soma .


"Baiklah kanda dan lindungi diri kanda "ucap Dewi Kara kemudian memeluk suaminya itu.


Setelah berpamitan dengan istrinya berangkatlah Arya Soma beserta Ratu Gandari dan Patih Danuraka menuju ke hutan jati.


...----------------...


Sementara itu di hutan jati Senopati Wiro Kusumo langsung mensiagakan pasukannya dengan menempatkan mereka di semak semak dan juga di atas pohon.


"Persiapkan panah kalian sebentar lagi mereka datang"teriak Senopati Gautama tampak sedikit tegang.


Mendengar teriakkan Wiro Kusumo itu prajurit pemanah pun bergegas menyiapkan panah mereka masing-masing baik yang ada di atas mau pun di bawah pohon.


Tidak jauh dari pasukan pemanah ada pasukan berkuda yang di pimpin oleh Senopati kencana Loka yang sudah dalam keadaan siap tempur di tempat persembunyiannya.


Rupanya mereka berniat menjebak pasukan bulan merah di dalam hutan itu .


Tiba-tiba datanglah seorang prajurit telik sandi dengan tampak tergesa-gesa yang menuju ke arah mereka.


"Mereka datang..." teriak prajurit telik sandi itu .


"Kalian semua tunggu aba aba dari ku "ucap Wiro Kusumo.


Tak lama kemudian terdengar lah suara kaki kuda bersahutan memasuki hutan jati dan makin lama makin terdengar jelas oleh Wiro Kusumo dan pasukannya suara kaki kaki kuda itu.


Ramapati yang bertindak sebagai pemimpin pasukan itu segera memperlambat jalan kudanya setelah tiba di dalam hutan itu , kemudian memperhatikan keadaan sekitar.

__ADS_1


Karena tidak merasakan adanya tanda-tanda musuh Ramapati pun segera mempercepat lari kudanya kembali dengan diiringi oleh pasukan nya.


__ADS_2