
Rangga dan Patih Kencana Loka terus melarikan kudanya, hingga akhirnya mereka pun tiba di wilayah Prada Jaya, tepatnya di desa Karang Sari.
Di desa Karang Sari itu mereka di suguhkan dengan pemandangan yang tidak biasa karena desa itu kini telah porak poranda, seluruh rumah hancur dan banyak mayat di sana sini,Rangga dan Patih Kencana Loka terpaku melihat kenyataan itu.
"Biadab perbuatan siapa ini Kencana Loka"ucap Rangga dengan gigi gemertakan saking marahnya,
"Entahlah aku juga tidak tahu"ucap Patih Kencana Loka,
Rangga segera turun dari kudanya dan memeriksa tempat itu untuk mencari orang yang selamat, namun tak satu pun ada yang di temukan nya.
"Benar-benar biadab"umpat Rangga,
"Rangga saya rasa kita harus cepat cepat menuju ke istana aku khawatir ada apa apa di sana "ucap Patih Kencana Loka,
"baiklah Kencana Loka ayo kita berangkat"ucap Rangga,
mereka pun segera melanjutkan perjalanannya,dalam hatinya Rangga bertanya tanya , siapa orang yang melakukan pembantaian pada orang orang desa itu benar benar di luar batas.
Sementara itu di istana Prada Jaya terdengar jeritan jeritan menyayat hati, banyak mayat bergelimpangan dan darah memenuhi seluruh istana itu,
"Tidak ku sangka ternyata kau lah penyebab semua ini Jamprang"ucap raja Anggara Dewa sambil memegang erat pedangnya,
"haaa....haaa....haaa...asal kau tahu Anggara Dewa sebenarnya aku sudah sejak lama ingin membunuh mu tapi karena putri ku melarang akhirnya aku menundanya dan sekarang sudah waktunya untuk kau mati menyusul Saraswati "ucap Ki Jamprang.
"Putri mu ,siapa Putri mu itu dan apa hubungan nya dengan Saraswati"tanya raja Anggara Dewa,
"kau ingin tahu siapa Putri ku baiklah Sariti Ningrum kemari lah "ucap Ki Jamprang memanggil Sariti Ningrum,
"Aku di sini ayah"jawab Sariti Ningrum dengan tersenyum menghampiri raja Anggara Dewa dan berdiri tiga tombak di hadapan raja Anggara Dewa dengan sorot mata penuh kelicikan dan kekejaman,
"Dasar wanita iblis,jadi dia ayah mu"ucap raja Anggara Dewa sambil menunjuk ke arah Ki Jamprang disertai rasa marah yang meluap-luap.
"benar dia adalah ayah ku ,maaf kalau Gusti prabu baru tahu sekarang"ucap Sariti Ningrum dengan tersenyum mengejek,
raja Anggara Dewa benar benar terkejut mengetahui hal itu,
"mmm... hampir lupa, sebelum kau pergi ke neraka, hari ini akan ku beri tahu sebuah rahasia besar pada mu Gusti prabu "ucap Sariti Ningrum dengan nada mengejek,
"rahasia besar apa maksud mu Sariti..!!"ucap raja Anggara Dewa dengan marah dan rasa penasaran.
"buka telinga mu lebar lebar Anggara Dewa, orang yang selama ini kau cari cari itu sudah lama ayah membunuhnya atas permintaan ku"ucap Sariti Ningrum dengan mata melotot.
"Apa yang kau maksud itu Saraswati "tanya raja Anggara Dewa,
"benar,siapa lagi kalau bukan dia"ucap Sariti Ningrum,
"Kurang ajar...!!! kenapa kau lakukan itu Sariti "tanya raja Anggara Dewa,
"Karena aku tidak suka dengan sikap mu yang terlalu mengistimewakan Saraswati,kau berjanji pada ku akan menjadi aku permaisuri tapi ternyata cuma kebohongan yang aku dapatkan"ucap Sariti Ningrum.
"kakek ,semua penghuni kerajaan ini sudah di bereskan tanpa sisa"ucap Brajadewa tiba-tiba datang melapor,
"Brajadewa jangan jangan dia bukan an..
"benar Anggara Dewa dia bukan anak mu , dan ayah dari anak itu adalah kakang Gautama"ucap Sariti Ningrum memotong perkataan raja Anggara Dewa.
"Dasar perempuan kotor rupanya selama ini kau telah mengkhianati aku"maki raja Anggara Dewa,
ia pun langsung menyerang Sariti Ningrum dengan pedangnya,raja Anggara Dewa kembali di buat terkejut setelah tahu Sariti Ningrum dapat mengelak dari sabetan pedangnya ,dia benar benar tidak menyangka kalau Sariti Ningrum bisa berkelahi,
raja Anggara Dewa kembali menyerang Sariti bertubi tubi tapi tak ada satupun serangan yang mengenainya,
'Aaaaaaakh..,... tiba-tiba sebuah tongkat menusuk tubuh raja Anggara Dewa ,
"biadab kau Jam...prang"ucap raja Anggara dengan terbata- bata sambil berusaha mencekik leher Ki Jamprang,
"rasakan ini Anggara Dewa,Ki Jamprang langsung memukul raja Anggara Dewa dengan pukulan peremuk tulang dan tak ayal lagi raja Anggara Dewa pun terlempar membentur tiang istana dan ambruk ke tanah.
"Lapor guru semua harta benda sudah siap untuk di bawa pergi dari sini"ucap Lasem,
"cepat bawa ke markas dan tarik seluruh anak buah mu"ucap Ki Jamprang,
"baik guru "jawab Lasem segera pergi. Setelah Lasem pergi muncul bayangan berkelebat berpakaian serba kuning di hadapan mereka.
"hormat kami yang Gusti Patih "ucap Ki Jamprang, Sariti dan Brajadewa,
"Jamprang cepat kau selesai tugas mu karena setelah ini ada tugas baru menunggu kita"ucap Patih itu lalu pergi.
"Sariti dan kau Brajadewa cepat berkemas kita pergi dari sini,"ucap Ki Jamprang,
"baik ayah, cepat Brajadewa kita tinggalkan istana ini"ucap Sariti,
Setelah menguras semua harta kerajaan Prada Jaya pergilah Ki Jamprang dan seluruh pasukan nya dan tidak pula mereka juga membakar istana itu.
__ADS_1
Istana Prada Jaya bak kuburan masal saat itu,mayat menyebar di seluruh ruangan istana , benar benar pemandangan yang mengerikan.
Tak lama kemudian sampailah Patih Kencana Loka dan Rangga di depan istana Prada Jaya, mereka terkejut melihat kepulan asap membumbung tinggi,
"Apa yang terjadi Kencana Loka "tanya Rangga,
"cepat masuk ke istana agar kita tahu apa yang terjadi"ucap Patih Kencana Loka segera mempercepat kudanya,
"Ada apa ini siapa yang melakukan ini"ucap Patih Kencana Loka, setelah melihat pemandangan yang menggetarkan hatinya itu,
"benar benar sudah kelewat batas siapa yang melakukan ini"ucap Rangga,
"Gusti prabu..."ucap Patih Kencana Loka ,ia segera berlari kedalam ,
"hati hati dengan dengan api itu kencana Loka"teriak Rangga , melihat Patih Kencana Loka menerobos kobaran api besar itu,Rangga pun segera menyusul nya ,,ia benar benar tercengang melihat banyak mayat yang telah terbakar itu, baunya begitu menusuk hidung.
"Rangga cepat keluar dari istana ini percuma tidak ada yang selamat"ucap Patih Kencana,
"kau benar kencana Loka aku sudah menyusuri ruangan sekitar sini tapi tidak menemukan ada satu pun yang masih hidup jawab Rangga bersiap keluar, namun tiba-tiba ia menghentikan langkahnya ketika melihat sesosok tubuh tergeletak di dekat tiang istana ia pun segera menghampiri orang itu dan segera membawanya keluar.
"Kenapa Rangga belum juga keluar"ucap Patih Kencana Loka sambil menatap ke dalam istana yang penuh kobaran api itu,ia pun bermaksud ke dalam untuk menyusulnya tapi segera membatalkan niatnya setelah melihat Rangga keluar dengan membawa seseorang,
"cuma ini yang saya temukan kencana loka"ucap Rangga,
"Gusti prabu....!!!!"teriak Patih Kencana Loka, setelah melihat orang yang di bawa Rangga itu,
"Ja...di.. dia ayah ku"ucap Rangga jatuh berlutut di hadapan raja Anggara Dewa, dengan kepala tertunduk.
"Maafkan aku Gusti prabu yang tidak berguna ini"ucap Patih Kencana Loka memaki dirinya sendiri ,ia merasa menjadi orang yang bersalah atas kematian raja Anggara Dewa itu.
Rangga benar benar tak kuasa melihat tubuh ayahnya yang mengenaskan itu, timbul rasa penyesalan di hatinya karena telah membencinya.
Rangga segera berdiri dan mendekati tubuh raja Anggara Dewa dan memeluk nya.
"maafkan aku Romo atas keterlambatan ku"ucap Rangga dengan penuh rasa penyesalan,
Melihat adegan di depan matanya itu Patih Kencana benar benar terharu sampai meneteskan air mata.
"Akhirnya kau memaafkan Gusti prabu pangeran"ucap Patih Kencana pelan.
tiba-tiba pandangan Rangga tertuju pada tangan raja Anggara Dewa yang tampak sedang menggenggam sesuatu , ia pun segera mengambilnya dan ternyata sebuah kalung yang berbentuk taring macan.
"Jadi pelaku semua ini adalah gerombolan perampok macan loreng,akan ku cari mereka, kalian harus membayar atas kematian ibu dan ayahku"ucap Rangga, langsung teringat ketika waktu kecil ia juga menemukan kalung persis seperti itu(baca episode ke-1) .
"Baik pangeran"ucap Patih Kencana Loka,
mereka berdua pun segera menggali lubang dan memakan raja Anggara Dewa di belakang istana.
"Beristirahat lah dengan tenang Romo aku berjanji akan mencari mereka untuk menghentikan kejahatan dan kekejaman mereka"ucap Rangga,
"maafkan aku Gusti karena tidak bisa melindungi mu sebagai gantinya akan ku pertaruhkan nyawa ku untuk membela pangeran"ucap Patih Kencana Loka.
Rangga menatapi istana ayahnya yang kini sudah hangus terbakar dan menjadi puing puing itu ,ia tak habis pikir kenapa semua penduduk juga ikut menjadi korban sepak terjang kebiadaban mereka .
"Kencana Loka apa kau tahu siapa yang memakai kalung ini"tanya Rangga sambil menunjukkan kalung itu kepada kencana Loka,
"kalau tidak salah aku pernah melihat Ki Jamprang juga memakai kalung seperti itu ya,, itu milik Ki Jamprang"ucap Patih Kencana Loka dengan yakin.
"Jadi begitu ternyata Ki Jamprang ada hubungannya dengan perampok macan loreng "ucap Rangga.
"Bukan kah para perampok macan loreng telah aku bunuh beberapa waktu lalu,apa mungkin itu sebagian kecil dari mereka"gumam Rangga.(mengenai Rangga membunuh para perampok macan loreng bisa di baca pada episode ke-3).
"Kencana Loka bagaimana menurut mu tentang pembantaian ini"tanya Rangga minta pendapat,
"Jika di lihat dari bekas tempat ini sepertinya telah terjadi penyerbuan besar -besaran pangeran,jelas tidak mungkin kalau hanya beberapa orang mampu membunuh semua para prajurit yang berjumlah cukup besar di istana ini"ucap Patih Kencana Loka.
"Ya..kau benar Kencana Loka seperti nya ada kerajaan lain yang juga menginginkan Prada Jaya ini hancur"ucap Rangga.
"Apa tindakan kita selanjutnya pangeran"tanya Patih Kencana Loka,
"Secepatnya kita harus bergerak untuk mencari apa motif dari pembantaian ini ,aku merasa sepertinya ada sesuatu terselubung di balik hancurkannya Prada Jaya ini"ucap Rangga.
"Kencana Loka ayo cepat kau ikut aku"ucap Rangga,
"kita akan kemana pangeran"tanya Patih Kencana,
"Kita akan pergi ke Martapura untuk membahas masalah ini"ucap Rangga segera menghampiri kudanya.
"Apa pangeran berencana untuk mencari bantuan ke sana"tanya Patih Kencana Loka,
"Ya bisa di katakan begitu"Jawa Rangga segera memacu kudanya dengan diikuti Patih Kencana Loka di belakangnya.
...----------------...
__ADS_1
"Kakang cepat kau serah kitab dan pedang itu secara baik baik pada ku, karena aku tidak menginginkan pertumpahan darah di antara kita,kata orang itu.
"Sayang Jamprang aku tidak tahu apa yang kau bicarakan itu" ucap pria itu yang tidak lain adalah begawan Pakuan,
"Jika kakang masih tetap ngotot tidak mau menyerahkan pedang mustika kembar itu , baiklah akan ku rebut secara paksa"ancam Ki Jamprang,
"Sifat serakah dan jahat mu itu sepertinya belum hilang Jamprang ,setelah mendiang guru menghukum mu ternyata kau belum jera juga dan apakah kau juga belum puas dengan tongkat api pemberian guru itu"ucap begawan Pakuan.
"Aku rasa guru pilih kasih seharusnya aku yang mendapat kan pedang mustika kembar itu, bukan kamu Pakuan, cepat serahkan pada ku"desak Ki Jamprang,
"maaf Jamprang aku hanya menjaga amanat guru untuk menjaganya pedang mustika kembar itu, jadi jangan harap aku akan menyerahkannya pada mu "ucap begawan Pakuan dengan tegas,
"Selain itu aku juga tahu bahwa perampok yang meresahkan orang banyak yang mengatas namakan macan loreng itu adalah perbuatan mu"ucap begawan Pakuan ,
"memang tidak ada jalan lain rupanya"ucap Ki jamprang,
"Cepat Serang dia"perintah Ki Jamprang pada tujuh orang anak buahnya, dan mereka pun segera mengepung begawan Pakuan.
Begawan Pakuan tampak berdiri tenang menghadapi kepungan mereka , Ki Jamprang yang tidak sabar itu segera menyerang begawan Pakuan dengan tongkatnya, begawan Pakuan mundur dua langkah mengindari pukulan tingkat itu, Ki Jamprang segera menarik tongkat dan mengubah arah serangan ,tapi dengan cekatan begawan Pakuan kembali menghindarinya, melihat Ki Jamprang kesusahan melawan begawan Pakuan itu ketujuh orang anak buahnya pun segera mengeroyok nya dan pertarungan delapan orang lawan satu orang pun terjadi,
hiaaaat..duug satu pukulan begawan Pakuan berhasil memukul jatuh anak buah Ki Jamprang , melihat temannya kena pukul enam temannya segera mencabut pedang nya masing-masing, sabetan sabetan pedang itu menghujani begawan Pakuan yang hanya bertangan kosong , namun keenam orang itu bukan lah tandingan begawan Pakuan , dengan gerakan seribu langkah malaikat begawan berhasil menjatuhkan mereka semua,kini tinggal lah Ki Jamprang yang masih berdiri.
"Jangan merasa senang dulu Pakuan "ucap Ki Jamprang segera menyerang kembali dan pertarungan dua orang seperguruan itu pun berlangsung dengan sengitnya.
Dengan ilmu halimunnya Ki Jamprang mencoba membokong begawan Pakuan,tapi tak juga berhasil mengenainya, karena begawan Pakuan dapat bergerak cepat dengan jurus seribu langkah malaikatnya.
Membaca situasi yang sepertinya tidak menguntungkan kan itu Ki Jamprang segera memutar otaknya, hingga akhirnya ..."kakang aku sadar memang tidak seharusnya aku merebut pedang dan kitab itu dari mu ,jika kakang marah pada ku aku siap menerima hukum dari mu"ucap Ki Jamprang segera berlutut di hadapan begawan Pakuan.
Melihat tingkah laku Ki Jamprang itu seketika itu juga begawan Pakuan merasa kasihan dan mendekati nya, namun ketika jaraknya mereka sudah setengah tombak dengan cepat Ki Jamprang segera memukul begawan Pakuan dengan pukulan peremuk tulang dan tak ayal lagi ia pun terlempar dengan remuk dadanya.
"haaa.....haaa.... mampuslah kau Pakuan ,aku tidak mungkin mengalahkan mu dengan bertarung hanya inilah cara satu satunya aku bisa mengalahkan mu..haaa....haaa..haa"ucap Ki Jamprang tertawa penuh kemenangan.
Setelah mengalahkan begawan Pakuan dengan cara licik Ki Jamprang segera menggeladah tubuh begawan Pakuan yang tergeletak itu,tapi tak menemukan apa apa,
"sialan di mana dia menyimpan kitab itu"ucap Ki Jamprang ,ia pun segera menuju ke dalam rumah dan mengobrak abrik isi rumah itu, namun tidak menemukan apa-apa,
"Kurang ajar di mana sialan itu menyimpan kitab itu"maki Ki Jamprang dengan marah.
ia pun segera keluar rumah dan menyadarkan ketujuh orang anak buah nya yang pingsan itu,
"cepat bantu aku mencari kitab dan pedang itu"perintah Ki Jamprang, ketujuh anak buahnya pun segera mengobrak abrik rumah itu tapi hasilnya tetep nihil.
"Tidak ada apa apa ketua"kata anak buahnya,
"benar benar sialan"maki Ki Jamprang, namun tiba-tiba ia teringat sesuatu,
"ya pasti dia yang membawanya , Saraswati"ucap Ki Jamprang,
"ayo cepat kita kejar wanita itu, pasti dia belum jauh"ucap Ki Jamprang kepada anak buahnya.
Sebelum Ki Jamprang datang dengan teman temannya ternyata begawan Pakuan menyuruh Saraswati pergi meninggalkan tempat itu bersama anaknya yaitu Rangga, ia melakukan itu karena ia merasa ajalnya sudah dekat,mula mula Saraswati menolak nya namun setelah begawan Pakuan memberi penjelasan ia pun akhirnya mau juga meninggalkan tempat itu.(selanjutnya seperti pada episode ke-1)
"Kira kira di mana Pakuan menyembunyikan pedang mustika kembar dan kitab itu"ucap Ki Jamprang setelah ia sadar dari lamunannya.
"kenapa seperti hilang di telan bumi"gumam Ki Jamprang.
"Guru di suruh untuk menghadap paduka raja"ucap Lasem tiba tiba-tiba,
"Apa ada sesuatu Lasem "tanya Ki Jamprang,
"kurang guru tapi sepertinya ada sesuatu yang penting , sebaiknya guru segera menghadap"ucap Lasem,
"Baiklah aku akan segera siap siap untuk menghadap" jawab Ki Jamprang.
Setelah merapikan pakaiannya Ki Jamprang pun segera pergi memenuhi panggilan paduka raja itu.
...----------------...
Di kamar nya Sariti Ningrum tampak sibuk membersihkan sebuah pedang yang sudah lama tidak di pakai dan penuh dengan debu itu, seperti nya ada sesuatu yang lain dengan pedang itu
"Brajadewa yang melihat ibunya memegang pedang itu ia pun segera mendekati dan duduk di sampingnya,
"itu pedang siapa ibu"tanya Brajadewa,
"oh kamu Brajadewa "ucap Sariti Ningrum,
"ini adalah pedang paman mu ,karang Kobar Brajadewa"jawab Sariti Ningrum.
"Paman Karang Kobar kenapa pedangnya ada pada ibu lalu di mana paman kenapa aku tidak melihat nya"tanya Brajadewa,
"Paman mu sudah lama tiada anak ku , ia tewas di tangan raja Martapura yang bernama Rangga beberapa tahun lalu"ucap Sariti Ningrum(baca pada episode : 55 tentang kematian karang Kobar) .
"Kenapa ibu dan kakek tidak membalaskan kematian paman,"tanya Brajadewa ,
__ADS_1
"Sudahlah Brajadewa tak usah kau membahas masalah itu,jika tiba saatnya pasti kita akan balas kematian paman mu itu"ucap Sariti Ningrum lalu melangkah keluar mencoba memainkan pedang itu.