
Setelah menggembleng murid-muridnya dengan latihan yang keras, tibalah hari dimana Nyi Sarweda untuk memberangkatkan seluruh murid-muridnya pergi ke gunung Slamet untuk bergabung dengan pasukan Jubah Hitam.
"Rasanya aku sudah tidak sabar lagi untuk segera menghajar Arya Soma dengan tangan ku,"gumam Nyi Sarweda dengan mengepalkan tangannya,api dendam di hatinya tak kan pernah pada sebelum membalas kematian Ki Manggala dengan kematian Arya Soma.
"semua sudah siap untuk berangkat guru,"ucap Lasmini dengan tiba-tiba,"baiklah ,"ucap Nyi Sarweda bangkit dari duduknya kemudian melangkah keluar, dengan di ikuti Lasmini di belakangnya.
"Hari ini kita balas kematian kakang Manggala dan hancurkan kerajaan Martapura"ucap Nyi Sarweda di hadapan murid-muridnya,"baik guru,"ucap mereka secara serentak.
Akhirnya setelah bicara panjang lebar di dapan mereka semua, berangkatlah Nyi Sarweda menuju ke gunung Slamet.
Sementara itu di Martapura patih Arya Soma sedang menerima utusan prajurit dari Argara.
"Baiklah sampaikan pada dinda prabu,bahwa saya akan sesegera mungkin mengirimkan pasukan sesuai yang dinda prabu minta"kata patih Arya Soma setelah membaca surat dari Rangga itu,
"Lalu mengenai Pandan Wangi dan Ariani Dewi secepatnya akan aku kasih kabar pada dinda prabu setelah aku mengetahui keadaan mereka berdua,"ucap lanjut Arya Soma,"baik gusti patih akan hamba sampai semua apa kata gusti patih ,"ucap prajurit itu yang di utus Rangga itu.
"kalau begitu cepatlah kau kembali ke Argara,"ucap Arya Soma,"baik gusti patih hamba mohon diri ,"ucap prajurit itu dan segera pergi.
Setelah prajurit Argara itu berlalu datanglah senopati Tunggul Jaya menghadap Arya Soma,"hormat saya gusti patih,"ucap senopati Tunggul Jaya,"bagaimana dengan hasil penyelidikan mu Tunggul Jaya,"tanya Arya Soma,
__ADS_1
"Ternyata benar gusti patih, seperti yang gusti patih katakan ,ada gerakan tersembunyi di sekitar kaki gunung Slamet"ucap Senopati Tunggul jaya, Arya Soma mengangguk angguk mendengar perkataan Senopati Tunggul Jaya itu.
"Coba kau jelaskan dengan secara gamblang seperti apa situasi di sana"pinta Arya Soma,"begini gusti patih, terlihat di sana ada pasukan dalam jumlah banyak yang kira-kira sanggup untuk menghancurkan sebuah kerajaan gusti"ucap senopati Tunggul Jaya.
"Lalu apa saja yang kau lihat selain itu senopati"tanya Arya Soma,"oh ya gusti patih di sana saya juga melihat ada banyak para pendekar yang sepertinya mereka adalah pendekar-pendekar kelas satu gusti"jawab Senopati Tunggul Jaya, Arya Soma pun kembali terdiam setelah mendengar penjelasan senopati Tunggul Jaya itu.
"Apakah selain itu ada lagi hal yang menarik perhatian mu Tunggul Jaya"tanya Arya Soma,"ada gusti patih"jawab Senopati Tunggul Jaya,"hal apa itu Tunggul Jaya cepat kau katakan",tanya Arya Soma dengan tidak sabar,"aku di sana juga melihat seseorang yang berpakaian serba Hitam gusti dengan menyandang pedang besar di punggungnya,"ucap senopati Tunggul Jaya.
"Tidak salah lagi itu pasti si Jubah Hitam,"ucap Arya Soma, dengan yakin,"Jubah Hitam siapakah dia itu gusti patih,"tanya senopati Tunggul Jaya,"dia adalah orang yang telah melukai Pandan Wangi dan Ariani Dewi waktu itu,"Jawa Arya Soma.
"Apa itu artinya Jubah Hitam akan melakukan penyerangan ke Martapura gusti patih "tanya senopati Tunggul Jaya setelah melihat pasukan Jubah Hitam itu
"Lalu bagaimana dengan langkah kita selanjutnya gusti patih "tanya Tunggul Jaya,"sebaiknya kau cepat awasi mereka dan cari tau apa tujuan mereka itu,", jawab Arya Soma,"baik gusti patih, hamba mohon diri,"ucap Senopati Tunggul Jaya.
Sore itu di sebuah hutan terdengar suara orang sedang bertarung dengan menggunakan pedang ,banyak daun daun berguguran akibat sabetan-sabetan pedang mereka itu.
Mereka berdua adalah Pandan Wangi dan Ariani Dewi yang telah sembuh dari luka mereka akibat pukulan pelemas tulang.
"Bersiaplah Pandan Wangi"ucap Ariani Dewi,"baiklah Ariani,"ucap Pandan Wangi,"jurus tebasan seribu pedang hiaaaat.... Ariani Dewi melesat cepat ke arah Pandan Wangi dengan pedang tergenggam erat di tangannya, melihat Ariani Dewi datang menyerang, Pandan Wangi pun segera mengeluarkan jurusnya untuk menyambut serangan itu,jurus pedang kilat petir hiaaaat Pandan Wangi segera melesat ke arah Ariani Dewi dan pedang mereka pun kembali bertemu.
__ADS_1
Hutan yang tadinya sepi kini menjadi bising karena suara pedang mereka itu, walaupun hanya cuma sekedar latihan tapi mereka bersungguh-sungguh dalam mengadu jurus mau pun tenaga dalam mereka , hingga adu pukulan pun akhirnya terjadi duuuaaarrr.... mereka sama-sama terdorong ke belakang dan berjumpalikan di udara, kemudian haap .. mereka mendarat dengan sempurna lalu keduanya segera mengatur nafasnya.
"Kurasa pukulan pelemas tulang sudah hilang sama sekali dari tubuh kalian berdua"kata begawan Wisesa guru Lingga itu tiba-tiba, mendengar itu Pandan Wangi dan Ariani Dewi pun segera menghampiri begawan Wisesa ,
"hormat kami begawan,"ucap mereka berdua secara bersamaan,"terima kasih begawan karena atas pertolongan begawan sehingga saya dan Pandan Wangi bisa pulih kembali seperti sedia kala,"ucap Ariani Dewi.
"Sudahlah jangan terlalu di pikirkan , sebaiknya kalian berdua cepat bersiap-siap untuk kembali ke Martapura, karena kedatangan kalian sangat di nantikan"ucap begawan Wisesa.
"Memangnya apa yang telah terjadi di Martapura begawan,"tanya Ariani Dewi,"soal apa itu kalian akan tahu sendiri setelah tiba di sana"ucap begawan Wisesa,"baiklah begawan kami akan segera berangkat,"ucap Ariani Dewi,"ini bekal untuk perjalanan kalian berdua,"ucap Lingga sambil melempar sebuah bungkusan yang berisi makanan ke arah mereka.
"Terima kasih Lingga atas pertolongan mu tempo hari , kami berhutang nyawa pada mu,,"ucap Pandan Wangi,"anggap saja impas karena yang mulia dulu juga pernah menolong saya ,waktu saya hampir di bunuh perampok macan loreng,"ucap Lingga.
"Baiklah jika begitu kami mohon diri begawan dan kau Lingga,"ucap Ariani Dewi dan Pandan Wangi,"baiklah hati-hati kalian di jalan"ucap begawan Wisesa kepada mereka berdua.
Setelah berpamitan dengan Lingga dan gurunya begawan Wisesa pandan wangi dan Ariani Dewi pun segera pergi meninggalkan tempat itu menuju ke istana Martapura.
"Bagaimana dengan pasukan kita Ki Sumpit, apakah semua sudah siap,"tanya Jubah Hitam,
""sudah tuan ku kita tinggal menunggu para pendekar yang lainnya datang,"jawab Ki Sumpit,"lalu bagaimana dengan Serigala Merah kenapa belum memberi laporan,"tanya Jubah Hitam, belum sempat Ki Sumpit menjawab pertanyaan Jubah Hitam itu ,tak lama kemudian Serigala Merah pun datang, maafkan atas keterlambatan ku tuan ,"ucap Serigala Merah.
__ADS_1