
Sementara itu di Martapura Arya Soma terlihat sedang berlatih menyempurnakan pukulan tapak dewanya ke tingkat tujuh.
Hiiiaat..... hiiiaat...... duuuaaarrr..... duuuaaarrr... ledakan terdengar begitu Arya Soma melepaskan pukulannya.
"Jurus belah raga"teriak Arya Soma .
Kemudian Arya Soma pun berubah menjadi dua, rupanya ia ingin menguji pukulannya pada bayangan itu.
"baiklah akan aku jadikan bayangan ini sebagai latih tanding ku,"ucap Arya Soma , ia langsung menyerang bayangan itu dengan pukulan tapak dewa mautnya, bayangan dirinya pun juga mengeluarkan jurus yang sama pula,
"akan aku coba seberapa dahsyat pukulan tapak dewa maut tingkat tujuh ini, hiaaaat..... kedua Arya Soma pun sama-sama melesat dan mengadu pukulan tapak dewa maut itu dan duaaarrr.... ledakan dahsyat pun terjadi di tempat itu, kedua Arya Soma pun terpental beberapa tombak ke belakang.
"benar-benar dahsyat pukulan ini"ucap Arya Soma sambil memegangi dadanya,lalu ia segera semedi untuk mengatur nafasnya ,
Bayangan Arya Soma langsung menghilang begitu ia menyapukan tangannya.
Dari dalam istana ledakan itu terdengar jelas sekali hingga membuat lingga langsung menuju ketempat sumber ledakan itu.
Setelah ia tiba di tempat itu ia terkejut melihat pemandangan di depan matanya yang tampak berantakan sekali.
"ada apa gusti patih,"tanya Lingga setelah melihat tempat itu porak -poranda,
"tak ada apa-apa Lingga,aku cuma sekedar latihan saja"ucap Arya Soma lalu berdiri dan menghampiri Lingga,
"Untuk sementara ini akan aku pasrahkan keamanan Martapura kepada mu Lingga,"ucap Arya Soma sambil membersihkan bajunya dari debu yang mengotori pakaiannya.
"maksud gusti patih "tanya Lingga tidak mengerti,
"aku bermaksud untuk menyusul gusti prabu ke Argara, karena bagaimana pun pangeran Lintang merupakan ancaman bagai seluruh kerajaan-kerjaan di tanah jawa ini lingga,"ucap Arya Soma,
"apakah begitu mengkhawatirkan kitab pedang darah itu gusti patih,"tanya Lingga,
"benar Lingga,apa lagi orang yang menguasai kitab itu di hatinya penuh dengan dendam maka akan semakin kuat pula kekuatan yang dimilikinya,"ucap Arya Soma.
"Maaf gusti patih , bukankah di sana sudah ada gusti prabu,"ucap Lingga,
"aku tahu itu Lingga, aku bermaksud membantu gusti prabu untuk segera menyelesaikan permasalah itu agar dia bisa secepatnya kembali ke Martapura,"ucap Arya Soma,
"baiklah gusti patih hamba mengerti,"ucap Lingga,
"oh ya Lingga ,nanti kau suruh beberapa prajurit untuk membereskan tempat ini agar rapi kembali,"ucap Arya Soma sambil menunjuk tempat yang sudah porak poranda itu, kemudian ia pergi meninggalkan lingga.
"baiklah Gusti patih "jawab Lingga sambil menatap kepergian Arya Soma ,
"benar-benar pukulan yang dahsyat , bagaimana kalau sampai mengenai tubuh seseorang,"gumam Lingga dengan menggelengkan kepalanya dan tak bisa membayangkan hal itu.
Di hutan Praga
__ADS_1
Sementara itu di hutan Praga ,yang biasanya sepi lengang kini tampak ramai penuh sesak dengan orang-orang yang bersenjata lengkap.
"Gusti patih bersiap mereka sebentar lagi tiba,"kata senopati Wiro Kusumo memperingatkan,
"tenang saja senopati, aku dan seluruh prajurit sudah tidak Sabar menyambut kedatangan mereka,"ucap patih Guntoro.
Tidak lama kemudian munculah sebuah pasukan besar memasuki hutan Praga itu.
Hiiyaaa.... hiiyaaa... terdengar suara kaki kuda bergemuruh menuju hutan Praga,
"tetep waspada kalian semuanya ,"teriak senopati Rogo Wuling .
"seraaaaang.."teriak senopati Wiro Kusumo dengan segera menggebah kudanya dengan di ikuti oleh patih Guntoro dan seluruh prajurit nya,
"rupanya mereka sudah menunggu di hutan ini, baiklah seraaaaang...." teriak senopati Rogo Wuling juga tak mau kalah,
pertempuran pun segera terjadi antara kubu Argara dan Kumaya , tidak mengira dua kerajaan yang dulu erat mengikat tali persahabatan kini menjadi saling bunuh gara-gara ulah anak anak mereka.
Di atas kudanya senopati Wiro Kusumo langsung mengamuk membabat prajurit-prajurit Kumaya, demikian juga dengan patih Guntoro juga tidak mau kalah dengannya ia juga mengamuk dengan keris di tangannya korban pun tak terhindarkan.
Di lain tempat tak jauh dari mereka senopati Rogo Wuling pun juga tidak kalah hebat telah puluhan prajurit kumaya yang ia jatuhkan.
Sementara itu pangeran Lintang masih menatap jalanannya pertempuran dengan duduk di atas kudanya,
"majulah kalian hancurkan prajurit Argara ,"perintah Dewi Selendang Maut kepada murid-muridnya, mereka pun langsung menerjunkan dirinya setelah mendengar perintah dari gurunya itu.
Melihat sepak terjang murid-murid Dewi selendang Maut itu senopati Rogo Wuling tampak senang dan bersemangat. Banyak para prajurit di pihak Argara yang berjatuhan di ujung pedang murid Dewi selendang Maut itu.
Di belakang pasukan Argara tampak Rangga, Dewi Sekar, Dewi kara, Ariani Dewi dan Pandan Wangi sedang memperhatikan pertempuran itu,
tampaknya pasukan yang baru datang itu mempunyai kemampuan di atas para prajurit-prajurit kita kanda,"ucap Dewi Sekar sambil terus memperhatikan pertempuran itu,
"dinda benar,"ucap Rangga,
"rasanya aku harus segera terjun untuk membantu para prajurit kita kanda,"ucap Dewi Sekar,
"baiklah jika itu keputusan dinda, Ariani Dewi tolong kau jaga gusti ratu mu ,"ucap Rangga,
"baik yang mulia ,"ucap Ariani Dewi kemudian berkelebat menyusul Dewi Sekar.
Dewi Sekar langsung memutar pedangnya menghadapi para murid Dewi selendang Maut itu, dengan gerakan lembut tapi mematikan Dewi Sekar mengayunkan pedangnya dan korban pun berjatuhan, Ariani Dewi yang tidak jauh dari Dewi Sekar pun juga mengamuk dengan ganasnya, sambil berkali-kali menengok ke arah Dewi Sekar untuk memastikan dia baik baik saja, karena Rangga telah berpesan untuk menjaga keselamatannya.
Melihat permainan pedang Dewi Sekar itu, Pandan Wangi tampak tercekat karena tahu betul dengan jurus itu.
"jangan.. jangan gusti ratu.."ucap Pandan Wangi tidak melanjutkan kata-katanya dan memutuskan untuk melihatnya lebih jauh lagi.
Melihat para murid-muridnya tewas satu persatu Dewi selendang Maut pun habis kesabarannya,
__ADS_1
"siapa keduanya perempuan itu raja Sura ,"tanya Dewi Selendang Maut sambil menatap tajam ke Dewi Sekar dan Ariani Dewi,
"wanita itu adalah permaisuri Martapura dan yang satunya lagi aku kurang tahu,tapi aku rasa dia juga dari Martapura karena selama ini aku belum pernah melihat dia di Argara Dewi,"ucap raja Sura,
"aku harus memberi mereka pelajaran padanya raja Sura ,karena mereka telah membunuh murid-murid ku,"ucap Dewi Selendang Maut.
"silahkan Dewi jika itu keputusan mu,"ucap raja Sura, Dewi selendang maut pun lalu berkelebat menuju ke tempat Dewi Sekar dan Ariani Dewi berada.
"Dinda prabu aku juga harus segera ambil andil dalam pertempuran ini karena akulah penyebab peperangan ini ,"ucap Dewi Kara,
"baiklah yunda Kara silahkan,"ucap Rangga, Dewi Kara pun langsung melesat ke tengah pertempuran,
"Pandan Wangi perhatikan terus yunda Kara jangan sampai lolos dari pengamatan kita , karena aku merasa pangeran Lintang mengincar ke munculnya,"ucap Rangga,
"serahkan pada saya yang mulia,"ucap Pandan Wangi dan langsung berkelebat menyusul Dewi Kara.
Pertarungan di hutan Praga berjalan cukup sengit, tebasan pedang dari masing masing Senopati memakan korban yang tidak sedikit.
Bau amis darah terasa menusuk hidung, karena begitu banyaknya darah yang tertumpah di peperangan itu.
Dewi Kara yang baru masuk ke medan peperangan langsung mengamuk, sabetan Pedangnya berkali kali memakan korban para prajurit dari kumaya.
Itu puas dengan menggunakan pedangnya Dewi Kara pun melepaskan pukulannya ke arah para pasukan kumaya yang datang ke arahnya, duuuaaarrr... duuuaaarrr..... para prajurit itu langsung hangus bak ayam bakar.
Hiiyaaa.... hiyaaaa....Arya Soma memacu kudanya dengan kencang ,
"aku harap tidak terlambat untuk sampai di sana "gumam Soma, sambil terus sambil memegangi tali kudanya, namun tiba-tiba di kejauhan tampak samar-samar terlihat seseorang menghadang perjalanannya dengan berdiri di tengah jalan,
"berhenti...!!! teriak orang itu hingga membuat kuda yang di tunggangi Arya Soma langsung berhenti seketika,
"apa yang kisanak perbuat dengan kuda ku,"tanya Arya Soma dengan marah,
"aku mempunyai urusan dengan mu Arya Soma,"jawab orang itu,
"siapa kisanak ini dan punya urusan apa dengan ku "tanya Arya Soma.
"Aku Datuk Ampar akan membalas atas kematian dua murid ku yang telah terbunuh dalam perang kemarin,"ucap orang itu yang ternyata Datuk Ampar,
"kisanak jangan bicara ngawur aku tidak merasa membunuh murid-murid mu kisanak,"ucap Arya Soma,
"kau mungkin tidak membunuhnya tapi aku yakin orang-orang mu lah yang telah membunuh mereka"ucap Datuk Ampar.
"Kalau begitu apa mau mu kisanak,"tanya Arya Soma,
"yang aku mau adalah kepala mu Arya Soma,"ucap Datuk Ampar,
mendengar itu Arya Soma pun kemudian turun dari kudanya,
__ADS_1
"baik ambillah kalau kau bisa kisanak bisa,"ucap Arya Soma langsung menantangnya.