
Tidak memakan waktu lama akhirnya sisa sisa pasukan Gagak Hitam pun dapat di tumpas habis semua oleh para prajurit Argara.
"Di mana pun perang selalu banyak makan korban baik nyawa mau pun harta gara gara keserakahan para pemimpin"ucap Rangga sambil memandangi korban korban perang itu.
Melihat Rangga berdiri terpaku menatap semua mayat mayat itu Ariani Dewi pun segera menghampirinya,
"Apakah Gusti prabu baik baik saja"tanya Ariani Dewi merasa khawatir.
"ya saya tidak apa apa Ariani cepat kau kembali lah ke istana"ucap perintah Rangga,
"Baiklah Gusti hamba mohon diri"ucap Ariani Dewi kemudian.
"silahkan Ariani", ucap Rangga,
Rangga lalu mengelilingi bekas Medan peperangan itu untuk mencari barang kali ada salah satu prajurit yang masih hidup,
"Sepertinya ini adalah sebuah awal dari peperangan yang sesungguhnya"ucap Rangga sambil terus melangkah kan kaki nya menjelajahi tempat itu.
Tiba-tiba di bawah pohon ia melihat sesuatu yang bergerak gerak, Rangga pun dengan sikap waspada segera mendekati tempat itu,
Jaka melangkah pelan dan berhati-hati.
setelah dekat dan tahu siapa orang itu Rangga pun terkejut dan bergegas menghampirinya,
"Pandan Wangi"ucap Rangga ,ternyata dia lah Pandan Wangi yang terluka parah setelah bertarung dengan Rawit,
"Apakah kau baik baik saja Wangi"tanya Rangga dengan cemas
"uhuk..uhuuk.. aku tidak apa apa Gusti prabu "ucap Pandan Wangi sangat pelan,
Rangga kemudian memeriksa Pandan Wangi ia pun terkejut setelah tahu Pandan Wangi mengalami luka dalam.
Tanpa berfikir panjang Rangga pun segera menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh pandan wangi,
"bagaimana Pandan Wangi"tanya Rangga dengan khawatir,
"Agak mendingan Gusti"jawab Pandan Wangi,
"Sekarang kita segera ke istana wangi ", ucap Rangga,
Rangga pun segera membantu Pandan Wangi untuk berdiri tapi ternyata Pandan Wangi sudah tak mampu untuk berdiri, melihat keadaan Pandan Wangi itu Rangga segera menggendong nya dan langsung membawa pergi ke istana Argara.
Sepanjang jalan Pandan Wangi terus menatap wajah Rangga tanpa henti di gelapnya malam itu,ia merasa sangat nyaman dalam gendongan nya sehingga ia sedikit terlupa akan luka dalamnya itu.
Ini adalah pertama kalinya pandan wangi dapat menatap Rangga dengan jarak yang begitu dekat,diam diam ia mengagumi wajah rajanya itu dan dia berharap tidak ingin cepat cepat sampai di istana.
Dan tidak lama kemudian sampailah mereka berdua di halaman istana Argara, ternyata semua prajurit sudah sampai sejak tadi hanya mereka berdua lah yang terakhir sampai di istana itu.
Melihat Rangga datang bersama Pandan Wangi yang terluka itu Patih Guntoro segera berlari menghampirinya,
"Apakah dia terluka parah Gusti"tanya Patih Guntoro,
"Benar paman "jawab Rangga, segera membawa Pandan Wangi menuju ke kamarnya dengan di ikuti oleh Patih Guntoro di belakangnya,
Tidak lama kemudian Rangga pun sampai di kamar Pandan Wangi dan lalu membaringkannya di tempat tidurnya.
"Paman cepat panggilkan tabib istana"perintah Rangga setelah membaringkan Pandan Wangi
"baik Gusti"jawab Patih Guntoro segera berlalu,
melihat Patih Guntoro berjalan tergesa-gesa itu Ariani Dewi segera memanggilnya.
"Tunggu paman"ucap Ariani Dewi,
Patih Guntoro segera berhenti mendengar Ariani Dewi memanggilnya.
"Ada apa Ariani"tanya Patih Guntoro,
" paman seperti nya tergesa-gesa sekali ada apa"tanya Ariani Dewi,
"Pandan Wangi terluka Ariani cepat lah kau lihat dia"ucap Patih Guntoro,
"Apa..!!! Pandan Wangi terluka, sekarang dia di mana paman"tanya Ariani Dewi dengan tidak sabar.
"Dia ada di kamarnya bersama Gusti prabu"jawab Patih Guntoro,
"baiklah paman aku akan segera ke sana"ucap Ariani Dewi segera meninggalkan Patih Guntoro dan pergi menuju ke kamar pandan wangi.
"Pasti luka pandan wangi sangat parah sampai paman Guntoro cemas begitu "ucap Ariani Dewi dengan mempercepat langkahnya.
Sesaat kemudian Ariani pun sampai di kamarnya Pandan Wangi,ia langsung masuk karena pintu terbuka.
"Bagaimana keadaannya Gusti prabu"tanya Ariani Dewi,
"Cukup parah Ariani sepertinya ia terlalu memaksakan diri sewaktu menggunakan tenaga dalam disaat dirinya sudah luka dalam, sehingga lukanya bertambah parah seperti ini jawab Rangga menjelaskan.
"jadi Pandan Wangi butuh waktu yang lama untuk sembuh Gusti"tanya Ariani Dewi,
"Aku tidak bisa mengatakan itu ,kita tanya saja nanti sama tabib setelah dia memeriksa nya"jawab Rangga,
"Ariani kau jagalah dia selama dia belum sembuh karena aku tidak ingin terjadi apa apa dengannya "ucap Rangga ,
"Gusti prabu tenang saja aku pasti akan menjaga pandan wangi dengan baik "ucap Ariani Dewi,
"bagus aku senang mendengarnya"ucap Rangga sambil menepuk-nepuk bahu Ariani Dewi kemudian meninggalkannya.
"Tampaknya Gusti prabu sangat mengkhawatirkan dia ,apa lukanya Pandan Wangi sangat parah ya"ucap Ariani Dewi,
Setelah keluar dari kamar Pandan Wangi Rangga pun berniat untuk ke kamarnya untuk beristirahat, tapi ia segera mengurungkan niatnya itu ketika melihat raja Bargola tampak termenung seorang diri,ia pun lalu menghampirinya.
"Ada apa Romo kenapa terlihat murung begitu"tanya Rangga,
"tidak apa apa anak prabu saya cuma lagi bertanya tanya pada diri ku sendiri apakah perang ini sudah berakhir atau belum anak prabu"jawab raja Bargola.
"Saya harap perang ini segera berakhir Romo agar tidak ada korban lagi"ucap Rangga seraya mengambil tempat duduk di dekat raja Bargola.
"lalu bagaimana menurut anak prabu tentang Gagak Hitam itu apakah dia itu sengaja perang sendiri atau memang ada yang memerintah"tanya raja Bargola,
__ADS_1
"aku juga masih bertanya-tanya Romo tentang hal itu dan sampai sekarang pun aku belum juga menemukan jawaban nya" ucap Rangga.
"oh ya anak prabu bagaimana kabar Dewi Sekar dan dan Dewi Kara di Martapura"tanya raja Bargola mengalihkan arah pembicaraan.
"Ada kabar gembira buat Romo ,maaf baru bisa saya sampaikan sekarang ini Romo"ucap Rangga,
"kabar gembira apa maksud anak prabu"tanya raja Bargola penasaran,
"Dewi Sekar saat ini tengah mengandung Romo "ucap Rangga,
"Apa anak prabu bilang Dewi Sekar mengandung"tanya raja Bargola untuk memastikan tidak salah dengar,
"Benar romo Dewi Sekar tengah mengandung delapan bulan dan sebentar lagi aku dan Romo akan mempunyai seorang jagoan"ucap Rangga,
"haaa..haaa..... akhirnya aku akan menimang cucu sebentar lagi"ucap raja Bargola dengan tertawa penuh kebahagiaan,ini adalah waktu yang di tunggu tunggu olehnya selama ini.
"tapi kenapa anak prabu tinggalkan Sekar bukankah dia butuh teman"tanya raja Bargola,
"Apa Romo lupa disanakan ada yunda Kara kenapa romo cemas"jawab Rangga,
"benar juga ya kenapa aku sampai lupa haaa...haaa....haaa... "ucap raja Bargola kembali tertawa dengan bahagia,
"menurut Romo laki laki atau perempuan "tanya Rangga,
"laki laki perempuan sama saja bagi ku yang penting dia nanti bisa aku aku ajak bermain pasti bahagia sekali anak prabu"ucap raja Bargola kejauhan menghayal.
"Saya juga berfikir seperti itu Romo laki laki atau perempuan tidak masalah"ucap Rangga,
"Apakah kamu sudah siapkan nama untuk cucu ku anak prabu"tanya raja Bargola,
"Apakah harus sampai sejauh itu Romo kan bayinya belum lahir"tanya Rangga sambil menggelengkan kepalanya.
"tidak... tidak... tidak pokonya romo minta anak prabu harus siapkan nama untuk cucu ku dari sekarang"desak raja Bargola,
"Jika Romo mendesak begitu baiklah akan segera aku pikirkan "ucap Rangga segera berfikir untuk mencari sebuah nama,
"Jangan Kelamaan anak prabu ", ucap raja Bargola dengan tidak sabar,
"sudah Romo aku sudah menemukan nama yang bagus untuk cucu Romo, "ucap Rangga,
"katakan anak prabu Romo ingin dengar"ucap raja Bargola dengan tidak sabar.
"Sini Romo ku bisikan"ucap Rangga,
raja Bargola pun segera mendekat kan telinganya ke mulut Rangga,
"itu kalau laki laki lalu bagaimana kalau cucu ku itu perempuan anak prabu"tanya raja Bargola,
Kemudian Rangga pun kembali membisikan ke telinga mertua nya itu ,
"Bagaimana menurut Romo",tanya Rangga ingin tahu pendapat ayah mertuanya itu.
"Sebuah nama yang cukup bagus dan indah anak prabu,saya benar-benar tidak menyangka anak prabu pandai mencari nama"ucap raja Bargola memuji menantunya itu.
Rangga hanya tersenyum mendengar pujian dari ayah mertuanya itu.
"baik Gusti prabu"jawab prajurit itu segera berlalu,
"memangnya ada apa Romo dengan paman Patih"tanya Rangga dengan heran,
"haaa...haaa...nanti anak Prabu juga tahu", jawab raja Bargola dengan enteng.
Tak lama kemudian tibalah Patih Guntoro di hadapan raja Bargola,
"Ada perintah apa Gusti prabu"ucap Patih Guntoro dengan menjura hormat,
"Aku perintah kan kau untuk segera mengabarkan pada semua rakyat Argara bahwa sebentar lagi Argara akan punya penerus yang baru ,maka dari itu cepat kau undang seluruh rakyat untuk makan makan di sini untuk merayakan kehamilan anak ku Dewi Sekar"ucap raja Bargola,
mendengar kabar itu Patih Guntoro pun tampak senang dan langsung mengucap kan selamat pada raja Bargola dan Rangga,
"Akhirnya Gusti prabu akan menimang cucu setelah sekian lama menanti, selamat Gusti prabu dan juga anak prabu"ucap Patih Guntoro,
"ya terima kasih paman"ucap Rangga,
raja Bargola hanya tersenyum mendengar ucapan Patih Guntoro itu,
"kalau begitu hamba mohon diri Gusti prabu"kata Patih Guntoro dan segera berlalu,
"Saya kira Romo terlalu berlebihan"ucap Rangga merasa geli dengan tingkah mertuanya itu,
",Aku tidak perduli anak prabu mau berkata apa ,yang penting cahaya hidupku sebentar lagi tiba haaa....haaa ....."ucap raja Bargola dan berlalu meninggalkan Rangga sambil tertawa karena saking bahagianya.
Rangga hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah laku mertuanya itu.
Dan pada malam harinya rakyat Argara pun berdatangan ke istana setelah mendengar pengumuman yang di sampaikan oleh Patih Guntoro pada siang tadi.
Malam itu seluruh rakyat Argara benar benar dalam suasana bahagia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dengan langkah tegap dan dada membusung serta wajah di penuhi brewok tebal, berjalanlah seorang laki laki dengan membawa dua trisula di pinggangnya,para prajurit menunduk hormat ketika orang itu lewat di depannya dia adalah Ramapati seorang senopati utama kerajaan bulan merah.
Saat itu ia sedang berjalan menuju ke balairung istana untu menghadap raja Kala Murka ,yang saat itu sedang mengadakan pertemuan dengan Patih Lanang seta.
"Hormat saya paduka raja"ucap Ramapati setelah tiba di Balairung istana,
"Duduklah Ramapati dan kita mulai pertemuan ini"ucap raja Kala Murka,
"Patih Lanang Seta coba jelaskan apa penyebab kegagalan Gagak Hitam dalam penyerbuan kemarin malam itu"tanya raja Kala Murka,
"ampun paduka menurut hamba pasukan Gagak Hitam terlalu ceroboh dan kurang perhitungan dalam bertindak ,selain itu mereka juga menolak waktu hamba akan memberikan bantuan pasukan"jawab Patih Lanang Seta menjelaskan.
"Benar paduka mereka terlalu meremehkan Argara dan tidak melakukan penyelidikan terlebih dahulu sebelum melakukan penyerangan itulah salah satu kebodohan mereka"tambah Ramapati,
"Kenapa kalian tidak peringatkan hal itu pada mereka"tanya raja Kala Murka,
"maaf paduka bukan nya hamba tidak menyarankan hal itu tapi mereka yang tidak mau mendengar kan perkataan hamba"ucap Patih Lanang Seta,
__ADS_1
"Benar begitu Ramapati"tanya raja Kala Murka,
"Benar paduka raja"jawab Ramapati dengan singkat,
"Aku benar-benar kecewa dengan kekalahkan kali ini, seharusnya hari ini ku cabut nyawa kali berdua"ucap raja Kala Murka terbesit kemarahan di wajahnya.
mendengar perkataan Kala Murka itu Lanang Seta dan Ramapati pun menundukwlkan kepalanya dalam dalam,
"Ampun paduka ,jika paduka menghendaki hari ini juga hamba dan Ramapati akan segera berangkat ke Argara untuk membalas ke kalahan ini paduka"ucap Patih Lanang Seta.
"Kalian berdua tidak perlu buang buang tenaga hanya karena Argara ,sebaiknya kalian fokuskan perhatian kalian untuk segera menyerang ke Martapura"ucap raja Kala Murka.
"Lalu bagaimana dengan Argara paduka raja"tanya Ramapati,
"Argara bukan apa-apa jika di bandingkan dengan Martapura,kalau kita berhasil mengalahkan Martapura maka untuk mengalahkan Argara akan lebih mudah seperti kita membalikkan telapak tangan saja"ucap raja Kala Murka.
Patih Lanang Seta dan Ramapati pun mengangguk angguk mendengar itu.
"Lalu kapan kita akan melakukan penyerangan itu paduka"tanya Ramapati,
"Sebulan lagi kita akan melakukan penyerangan itu dan tugas kalian adalah untuk menyelidiki Martapura , kumpulan kan informasi yang sebanyak banyaknya tentang mereka ,setelah itu kita gempur mereka secara besar-besaran"ucap Kala Murka.
"Baik paduka raja"ucap Lanang Seta dan Ramapati secara serempak.
"Lanang Seta ku serahkan tugas ini pada mu tentang penyerangan Martapura dan ingat aku tidak mau ada lagi kegagalan"ucap raja Kala Murka ,lalu berkelebat menghilang.
"Ramapati sebaiknya kita cepat bertindak,tapi ingat kita pelan pelan saja karena kita tahu Martapura itu sebuah kerajaan yang besar jadi kita harus berhati-hati"ucap Patih Lanang Seta,
"Baik Gusti Patih"jawab Ramapati,
lalu mereka berdua pun meninggalkan ruangan itu, Ramapati menuju ke kediaman nya sementara itu Patih Lanang Seta berjalan menuju ke sebuah taman, rupanya ada seseorang yang sudah menunggunya di sana,tak lama kemudian dia pun terlibat pembicaraan yang serius dengan orang itu.
...----------------...
Setelah mendapat kan perintah dari Patih Lanang Seta, Ki Jamprang dan yang lainnya pun pergi ke Kumaya untuk memperkuat pasukan di sana, setelah menempuh perjalanan beberapa hari akhirnya ia pun tiba di istana Kumaya.
Melihat kedatangan empat orang itu prajurit penjaga gerbang segera menghentikannya ,karena mereka berniat masuk ke dalam istana tanpa menunjukkan tanda pengenal.
"siapa kalian "tanya prajurit penjaga itu,
"apakah kalian tidak tahu siapa aku "tanya Ki Jamprang setengah emosi,
"demi ke aman sebaiknya tunjukkan tanda pengenal tuan"ucap prajurit itu,
dengan perasaan kesal akhirnya Ki Jamprang pun mengeluarkan medalinya,dan betapa terkejutnya penjaga pintu gerbang itu setelah melihat itu.
"ampun Gusti saya benar benar tidak tahu"ucap prajurit penjaga pintu itu kemudian menjura hormat,
"cepat beritahu senopati Sancang bahwa Senopati kedua telah tiba"perintah prajurit itu kepada temannya, tanpa menunggu lama temannya itu pun segera lari ke dalam istana.
"Silahkan masuk Gusti Senopati "lanjut prajurit itu,
Dengan langkah tegak dan penuh kesombongan Ki Jamprang pun masuk bersama Gautama dan yang lainnya,
Begitu sampai di dalam terlihat Senopati Sancang sudah berdiri tegak di halaman istana untuk menyambut kedatangan Ki Jamprang itu,
"beri hormat pada Gusti senopati"ucap Sancang kepada para anak buahnya.
setelah mereka mendengar perintah dari Sancang yang merupakan senopati ke empat dari kerajaan bulan merah itu,
semua prajurit dan senopati lainnya pun segera memberikan hormat pada Ki Jamprang,
"Selamat datang Gusti senopati , perkenalkan nama saya Sancang"ucap Sancang memperkenalkan dirinya.
"hmmmm.... sebuah sambutan yang menarik"ucap Ki Jamprang terus melangkah masuk ke dalam.
"prajurit cepat siapkan makanan yang enak untuk gusti senopati dan teman temannya, yang lain cepat siap kan kamar untuknya "perintah Sancang.
"baik Gusti mohon tunggu sebentar"jawab prajurit itu segera berlalu.
"Apakah di sini baik baik saja Sancang"tanya Ki Jamprang,
"Selama saya di sini belum pernah terjadi gangguan apa pun Gusti"ucap Sancang,
"Aku ingin bertanya sesuatu pada mu Sancang"ucap Ki Jamprang,
"silahkan Gusti mengenai apa itu"tanya Sancang,
" apakah kau tahu kenapa Gagak Hitam bisa menjadi pasukan yang setia dan patuh pada paduka raja , bukan kah mereka itu kumpulan orang orang yang tidak mau di diatur"tanya Ki Jamprang,
"begini Gusti Patih waktu itu Gagak Hitam pernah mengacaukan Prada Jaya ,tapi mereka dapat dikalahkan oleh seorang pendekar yang sangat sakti mandraguna yang saat itu membela PradaJaya ,kemudian sisa sisanya yang masih hidup lari ke bulan merah dan oleh paduka raja mereka di rawat kemudian mereka di jadikan pasukan oleh paduka raja"ucap Sancang
Ki Jamprang dan yang lainnya mengangguk angguk mendengar penjelasan Sancang itu,
"Tapi sayangnya mereka sudah di tumpas habis oleh pasukan Argara waktu mereka menyerang ke sana "ucap Ki Jamprang,
"benar Gusti karena kesombongannya mereka sendiri yang menolak bantuan dari kami"ucap Sancang,
"lalu apa rencana selanjutnya dari Gusti Patih , Gusti"tanya Sancang,
"Aku belum tahu tentang rencana Gusti Patih selanjutnya kita tunggu saja di sini sampai perintah itu datang"ucap Ki Jamprang,
"makanan nya sudah siap Gusti senopati"kata seorang prajurit tiba-tiba,
"sebaiknya kita lanjutkan perbincangan ini setelah makan Sancang"ucap Ki Jamprang,
"baik Gusti silahkan "ucap Sancang,
Lalu keempat orang itu pun pergi ke meja makan karena mereka sudah kelaparan.
Keempat orang itu langsung menyantap makanan yang ada di atas meja itu karena sudah merasa kelaparan sekali.
"Kelihatannya aku merasa betah di sini ayah"ucap Sariti Ningrum, sambil mengunyah makanan
"bagus kalau begitu ,jika kau merasa bosan kau bisa pergi berburu "ucap Ki Jamprang sambil membetulkan duduk nya,
sementara itu tidak jauh dari istana itu ada sepasang mata yang sepertinya sudah lama mengawasi tempat itu.
__ADS_1