Pendekar Pedang Kembar

Pendekar Pedang Kembar
Raja Baru Martapura


__ADS_3

Dengan perlahan lahan Rangga pun mulai membuka matanya dan menatap langit langit di kamarnya yang tampak asing.


Hatinya bertanya tanya di manakah dirinya sekarang ini berada.


"Di mana aku ini?" katanya dalam hati, lalu ia pun mencoba bangun dari pembaringan nya,namun badannya terasa berat, akhirnya ia membatalkan niatnya itu.


Tak berapa lama kemudian datang seorang lelaki tua yang menghampirinya , orang tua berpakaian putih dengan kepala tertutup seperti kain sorban.


"syukurlah Yang Mulia sudah bangun" kata kakek itu,


"kakek ini siapa ?"tanya Rangga,


"saya adalah tabib yang mengobati anda yang mulia"jawab kakek itu.


"Yang mulia" gumam Rangga seperti salah dengar,


"Kenapa tadi kakek menyebut saya yang mulia?"tanya Rangga tidak mengerti,


namun kakek itu hanya tersenyum sambil mengangguk mengangguk kepalanya hal itu semakin membuat Rangga penasaran.


"Nama saya Rangga kek ,jangan panggil aku yang mulia"kata Rangga menjelaskan.


Tidak berapa kemudian datang lah raja Dungga , Arya Soma dan yang lainnya langsung hormat pada Rangga.


"Hormat kami yang mulia"kata mereka bertiga serempak,


Melihat sikap mereka itu dalam hatinya Rangga menjadi semakin bingung dan tidak mengerti apa yang terjadi hingga semua orang begitu menghormatinya.


Raja Dungga yang melihat wajah Rangga tampak bingung itu ,ia hanya tersenyum .


"Bagaimana keadaan anda yang mulia apakah sudah sehat" kata raja Dungga pada Rangga ,


"Sudah agak baikan mungkin sebentar lagi juga sembuh yang Gusti prabu" jawab Rangga.


"Baguslah saya senang dan gembira mendengar nya"kata raja Dungga

__ADS_1


"Ternyata tidak sia sia aku mendatangkan tabib hebat untuk mengobati anda yang mulia"sambung raja Dungga.


"Saya ucapkan banyak terima kasih pada Gusti prabu telah sudi mengobati hamba "kata Rangga.


"Ku rasa yanng mulia tidak perlu berterima kasih begitu, malahan saya yang seharusnya berterima kasih pada yang mulia ,karena telah berjasa pada kerajaan ini" kata raja Dungga.


"Kenapa Gusti prabu menyebut hamba yang mulia hamba benar-benar tidak mengerti"tanya Rangga,minta penjelasan.


"Karena sebentar lagi kamu lah yang akan menjadi raja di sini untuk menggantikan saya dan saya bisa beristirahat dengan tenang,setelah kau diangkat menjadi raja di Martapura ini "jawab raja Dungga.


Mendengarkan perkataan dari raja Dungga itu, Rangga pun semakin tidak mengerti,ia merasa aneh dengan sikap raja Dungga dan yang lainnya.


"Raja di kerajaan ini apakah aku sedang bermimpi dan..?"tanya Rangga pada dirinya sendiri


Rangga tidak melanjutkan perkataannya karena raja Dungga langsung memotongnya hingga Rangga pun terpaksa diam.


"Baiklah biar aku ku jelaskan, kamu pasti tahu bahwa untuk memenangkan sayembara itu, syaratnya harus bisa mengalahkan Arya Soma dan bisa mencabut keris pulang geni itu," kata raja Dungga ,


"iya benar yang mulia",jawab Rangga,


"Tapi..tapi saya tidak merasa ikut dalam sayembara itu Gusti prabu "jawab Rangga berkata yang sebenarnya.


"Baiklah biar kamu tidak bingung saya akan jelaskan langsung pada intinya "kata raja Dungga.


"Begini sebenarnya saya dan Arya mengadakan sayembara itu tujuannya adalah mencari orang yang bisa mencabut keris pulang geni itu, dan ternyata kamu adalah orangnya,"kata raja Dungga menambahkan.


Rangga hanya terdiam mendengarkan penjelasan dari raja Dungga itu.


"Tapi apakah Gusti prabu yakin ,bahwa aku adalah orang yang tepat untuk memimpin kerajaan Martapura ini"tanya Rangga,


"saya benar-benar yakin kamu adalah orang yang di tunggu tunggu oleh kerajaan ini,"kata raja Dungga dengan mantap,


"tunggu Gusti prabu ,bukan kah ada pangeran Arya Soma yang lebih berhak mengganti kan Gusti prabu daripada saya"ucap Rangga ,


"Jika itu yang menjadi ganjalan hati mu , baik lah biar Arya Soma yang menjelaskan"ucap raja Dungga,

__ADS_1


"Arya Soma cepat kau jelaskan pada nak Rangga kenapa sebabnya kau tidak mau menjadi raja di kerajaan ini"perintah raja Dungga,


"baik Romo "jawab Arya Soma,


"Begini Rangga, menurut kakek ku raja sebelumnya ,pernah mengatakan bahwa Martapura akan menjadi kerajaan besar dan jaya jika yang memimpin kerajaan ini adalah orang yang bisa mencabut keris pulang geni itu"ucap Arya Soma.


"Jadi sudilah nak Rangga untuk memimpin kerajaan ini"ucap Raja Dungga yang dari tadi hanya diam.


Setelah mendengarkan semua perkataan dari raja Dungga dan pangeran Arya Soma dengan perasaan yang tidak menentu akhirnya Rangga pun menerima pengangkatan dirinya menjadi raja di Martapura.


Dan sesuai dengan keinginannya Arya Soma pun menjadi patih untuk mendampingi Rangga memerintahkan negeri itu.


Kini Martapura sudah memiliki raja dan patih baru yang kuat, sehingga akan membuat kerajaan itu semakin disegani dan di hormati.


Dan setelah penobatan Rangga itu raja Dungga pun berniat pergi menyendiri menjauhi dunia ramai ,karena sudah tua dia berfikir inilah saatnya untuk mendekatkan diri kepada yang maha kuasa dan patih Martoloyo pun juga ikut raja Dungga untuk mengabdikan dirinya sampai akhir hidupnya.


Nama kerajaan Martapura pun semakin naik daun setelah semua dunia persilatan tahu bahwa Rangga adalah seorang raja yang mampu mengalahkan kelabang ireng.


Kerajaan kerajaan yang ada di bawahnya pun semakin mantap di bawah naungan kerajaan Martapura.


Pagi itu Rangga dan Arya Soma yang merupakan raja dan Patih kerajaan Martapura itu sedang berbincang bincang.


"Kakang Arya, saya ada keperluan untuk beberapa hari kedelapan, jadi untuk sementara selama aku pergi ,kakang lah yang menggantikan kedudukan saya,"kata Rangga ,


"kalau boleh tahu dinda prabu mau pergi kemana?"tanya Arya Soma.


"Saya ingin pergi melihat dari dekat kehidupan rakyat kita dan mungkin juga ada keperluan lainnya kanda Arya"kata Rangga menjelaskan.


"Jadi saya serahkan tanggung jawab kerajaan ini pada kanda"kata Rangga.


"Jika itu yang dinda prabu perintah kan saya tidak bisa menolak",kata Arya Soma.


"Lalu kapan dinda prabu akan berangkat"tanya Arya Soma lagi.


"Mungkin besok saya akan berangkat kakang"jawab Rangga.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2