
Sepasang mata yang sedang mengawasi istana kumaya itu tidak lain adalah Lingga.
Ia mendapatkan tugas dari Rangga beberapa waktu lalu untuk mengawasi gerak gerik di istana kumaya itu.
"Seperti nya aku harus menunggu malam tiba untuk mendekati istana itu, agar bisa bergerak dengan leluasa"kata Lingga pada dirinya sendiri,
"tapi ,kira kira siapa ke empat orang tadi itu sepertinya mereka bukan orang orang sembarangan"gumam Lingga sambil terus menatap ke arah istana Kumaya yang berjarak sekitar sepuluh lima tombak di depan nya.
Lingga lalu menyandarkan dirinya pada sebuah pohon ,ia memejamkan matanya sambil memikirkan cara untuk masuk ke dalam istana itu tanpa ketahuan.
Akhirnya malam yang di tunggu-tunggu oleh lingga pun tiba, dengan memakai pakaian hitam dan dengan wajah yang tertutup Lingga pun segera menjalankan aksinya itu.
Dengan berjalan mengendap-endap ia pun mulai mendekati istana itu, huup...ia pun melompat ke pagar istana itu sambil menoleh ke kanan dan ke kiri di rasa aman ia pun segera turun dari tembok itu ,
"sepertinya di sana adalah barak prajurit , baiklah aku ingin tahu seberapa banyak prajurit di sini "ucap Lingga dalam hati,lalu ia pun melangkah dengan hati hati dan waspada,
ketika ia sedang melangkah itu tiba tiba lewatlah senopati Sancang dengan Gautama yang sedang menuju ke barak prajurit untuk memeriksa kesiapan para prajurit itu,
lingga segera menjatuhkan dirinya ke tanah yang tidak jauh sekitar empat tombak dari mereka tapi cukup gelap hingga tak akan terlihat oleh mereka itu ,
dengan jarak sekitar empat tombak itu, ia dapat dengan jelas mendengar kan percakapan mereka itu.
"bagai mana Gusti apakah masih kurang persiapan prajurit kita ini menurut Gusti"tanya Sancang,
"saya rasa sudah cukup bahkan cukup baik Sancang"jawab Gautama,
"aku tidak mengerti mengapa paduka raja tidak menyerang balik Argara bukan kah dengan kekuatan kita saat ini lebih dari cukup untuk menyerang mereka Gusti "ucap Sancang,
"kau benar tapi kemungkin ada rencana lain dari paduka raja Kala Murka Sancang "ucap Gautama,
Lingga yang mendengar mereka menyebut paduka raja Kala Murka pun merasa terkejut,
"bukan kah raja kala Murka itu berasal dari kerajaan Bulan Merah yang sudah sekian lama menutup diri dari dunia luar , kenapa tiba-tiba dia muncul lagi"ucap Lingga dalam hati,
"Ayo Sancang temani aku berkeliling istana ini"ucap Gautama lalu melangkah kaki nya untuk pergi dari situ,
Setelah mereka pergi dari situ Lingga pun bergegas bangun lalu huup.. ia pun melesat ke atas atap istana dan mengendap-endap sambil memperhatikan keadaan sekelilingnya.
"Sariti dan kau Brajadewa ayo kita keluar sepertinya malam ini cuaca bagus "ucap Ki Jamprang,
"benar ayah lihatlah malam ini langit penuh bintang"ucap Sariti Ningrum,
"Bagaimana kalau kita duduk duduk di sana"ucap Brajadewa sambil menunjuk sebuah bangku di bawah pohon,
"kau benar Brajadewa mari kita ke sana"ucap Sariti segera berjalan menuju tempat itu,di ikuti oleh Brajadewa dan Ki Jamprang di belakang nya,
sementara itu Lingga dari atap istana terus memperhatikan mereka mereka bertiga,
"Rupanya mereka orang yang tadi siang itu"ucap Lingga sambil jongkok di atas atap.
"baiklah aku ingin tahu petunjuk apa yang akan ku temukan di sini"gumam Lingga,lalu ia pun memutuskan untuk turun dan bermaksud ke dalam istana Kumaya itu, dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai taraf sempurna ia pun segera turun ke bawah dan nyaris tak terdengar saat suara kaki nya menyentuh tanah.
Dengan langkah hati hati Lingga pun segera memasuki sebuah ruangan di istana itu,
"tunggu....tiba-tiba terdengar suara prajurit dari luar istana di belakang Lingga ia segera merapat dirinya pada sebuah tembok di sampingnya ,ia lalu berhenti dan diam tak bergerak tapi dengan siaga dan kewaspadaan yang tinggi
"apakah dia melihat ku "ucap Lingga dengan rasa cemas ,
"ada apa "jawab temannya prajurit tadi.
"sekarang giliran mu yang berjaga ,aku mau istirahat dulu"ucap prajurit yang tadi itu,
"apa sudah tiba giliran ku"ucap temannya itu,
"ya kini giliran kamu"jawab prajurit yang tadi,
Lingga pun lega setelah mendengar itu,
"sialan aku kira dia melihat ku"maki Lingga,ia pun segera melanjutkan aksinya itu.
Lingga mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu ,dan penglihatan nya pun tertarik pada sebuah kamar yang pintu berwarna kuning keemasan,
"baik aku akan mencoba ke kamar itu"gumam Lingga memutuskan, dengan berjalan mengendap-endap dan hati hati sekali ia pun mendekati tempat itu,namun sial tiba tiba ada dua penjaga yang lewat di depan pintu kamar itu,
"sia...ap , belum sempat penjaga itu menyelesaikan ucapannya Lingga langsung memukul kedua prajurit itu hingga pingsan,
"sebaiknya aku harus cepat , sebelum ada lagi yang lainnya"ucap Lingga dalam hati,ia segera membuka pintu kamar itu yang ternyata tidak di kunci itu,
Lingga pun segera masuk dan langsung menggeledah seisi ruangan itu untuk mencari-cari sesuatu,
__ADS_1
dengan rasa terburu-buru lingga segera membuka lemari dalam kamar itu , namun tidak menemukan sesuatu, lalu ia pun langsung memeriksa laci meja namun juga tidak menemukan apa-apa,
"sialan "maki Lingga merasa jengkel karena tidak menemukan apa-apa,
ia pun lalu memperhatikan ruangan kamar itu dengan seksama dan kemudian perhatiannya tertuju pada sebuah bantal yang ada di tempat tidur kamar itu,
tanpa menunggu lama ia pun mengangkat bantal itu dan betapa terkejutnya setelah ia melihat medali yang tergeletak di bawah bantal itu.
lalu ia pun segera mengambil medali dari balik bajunya yang pernah di berikan oleh Rangga padanya beberapa waktu lalu,
"ternyata sama ,jadi selama ini yang menyerang kerajaan Prada Jaya , Kumaya dan kerajaan lainnya adalah ulah kerajaan bulan merah"gumam Lingga setelah mencocokkan kedua gambar pada medali itu.
Ia pun segera meletakkan medali itu ke tempatnya semula dan segera ke luar dari kamar itu,
melihat keadaan masih baik baik saja lingga pun segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar itu dan melewati tempat yang tadi dia masuk, dengan mempercepat langkahnya ia segera melompat ke atas atap kembali seperti tadi,
namun sial nya sebelum ia sempat melompat ke atap sudah ada seorang prajurit yang melihat nya,
"ada penyusup...ada penyusup..!!!" teriak prajurit itu dan tak lama kemudian para prajurit yang lainnya pun segera berdatangan,
"sialan dia melihat ku"ucap Lingga segera melompat ke atas atap dan segera berlari.
Ki Jamprang, Sariti dan Brajadewa yang mendengar teriakkan para prajurit jaga itu segera menghentikan obrolan mereka,
"apa kalian berdua dengar teriak kan itu"tanya Ki Jamprang,
"cepat kita ke sana "ucap Sariti Ningrum, langsung berlari mendahului mereka berdua.
Para prajurit segera berlarian mengepung tempat itu dengan membawa panah di tangan mereka ,huup..... Gautama segera melesat ke atap untuk mengejar Lingga, namun dia tidak menemukan Lingga di sana karena Lingga sudah melesat cepat melewati tembok pagar istana dan hilang di kegelapan malam.
"cepat kejar jangan biarkan dia lolos !!"teriak Gautama segera melompat ke bawah,para prajurit pun berbondong-bondong keluar istana mengejar Lingga
"mana penyusup itu Gautama "tanya Ki Jamprang setelah tiba di tempat itu bersama Sariti Ningrum dan Brajadewa,
"penyusup itu berhasil Lari ayah"jawab Gautama,
"Sancang dan kau Gautama cepat kejar dia sementara aku akan periksa di dalam "perintah Ki Jamprang,mereka berdua pun segera melesat ke arah Lingga kabur tadi.
Di Gunung Welirang
"Haaa.....haaa...... ternyata pukulan sirna raga ku sudah sempurna haaa....haaa.....haaa..."ucap Cakra Lembayung,
"Dengan menguasai pukulan ini aku sudah tidak malu bertemu lagi dengan kanda Kala Murka"ucap Cakra Lembayung merasa senang.
"oh guru sejak kapan guru ada di sini"tanya Cakra Lembayung,
"sudah sejak dari tadi aku di sini untuk menghirup udara pagi yang segar ini Lembayung"jawab Ki Balung Waja,lalu melangkah kaki masuk ke dalam pondok nya, namun tidak lama kemudian Ki Balung Waja pun keluar dari pondoknya itu dengan membawa sebuah gada di tangan nya,
"buat apa guru membawa barang rongsokan itu "ucap Cakra Lembayung begitu melihat Ki Balung Waja membawa sebuah gada,
"Lembayung terima ini wuuusss...Ki Balung Waja melempar kan gada itu ke arahnya dan gada itu berputar putar di atas kepala Cakra Lembayung yang di iringi bunyi berdengung yang di ciptakan oleh gada itu,
"kenapa makin lama makin terdengar keras suara ini di telinga ku , rasanya seperti mau meledak kepala ku ini"ucap Cakra Lembayung ,ia pun segera menghimpun tenaga dalamnya untuk menghalau suara dengungan itu, hiiiaat.... Cakra Lembayung pun melepaskan tenaga dalamnya duuuaaarrr..dan gada itu pun lalu terlempar ke arah Ki Balung Waja, Ki Balung Waja pun segera menangkap gada itu.
"sialan ternyata tidak bisa di anggap main main benda itu "maki Cakra Lembayung dengan nafas yang tersenggal-senggal,
"haaa....haaa... haaa.... bagaimana mana Lembayung kemampuan gada ini apa kau suka"ucap Ki Balung Waja dengan tertawa setelah melihat keadaan muridnya yang kepayahan itu.
"benar benar luar biasa guru, tak ku sangka ternyata kekuatan gada itu benar-benar ampuh"ucap Cakra Lembayung ,
"apa kau suka benda ini Lembayung"tanya Ki Balung Waja,
"Apa guru akan memberikan gada itu pada ku"tanya Cakra Lembayung,
"maka dari itu saya bertanya pada mu ,apa kau suka benda ini"ucap Ki Balung Waja lagi,
"benar guru aku suka gada itu"jawab Cakra Lembayung,
"ini terimalah "ucap Ki Balung Waja sambil melempar gada itu ke arah Cakra Lembayung,ia pun segera menangkap gada itu dengan sigap,
"Aku akan segera mencoba menggunakan gada ini guru"ucap Cakra Lembayung,
"Silahkan saja aku mau melihatnya dari sini"ucap Ki Balung Waja lalu melompat ke dahan pohon kemudian ia duduk di dahan itu.
hiaaaat... Cakra Lembayung pun melempar gada itu ke atas ,namun hasilnya tidak seperti yang di harapkan nya gada itupun langsung jatuh ke tanah,
"haaaa....haaaa.....haaaa....tak semudah itu Lembayung"ucap Ki Balung Waja dengan tertawa terbahak-bahak,
"Sialan guru mempermainkan aku"maki Cakra Lembayung dengan kesal,
__ADS_1
lalu ia cepat cepat memungut gada itu dan melemparkan nya ke arah Ki Balung Waja yang berada di dahan pohon itu dengan menggunakan tenaga dalamnya wuuusss...gada itu pun melayang layang di atas Ki Balung Waja disertai bunyi dengung an yang memekik telinga hingga membuat telinga Ki Balung Waja terasa mau pecah,
"ternyata suara dengungan ini terasa lebih dahsyat di tangan nya dari pada di tangan balung besi"ucap Ki Balung Waja, hiiiaat.... duuuaaarrr..... terdengar dentuman keras setelah Ki Balung Wesi melepaskan tenaga dalamnya, gada itu pun melayang ke kembali ke arah Cakra Lembayung,
"haaa....haaa ...haaa ... pasti rasanya tidak enak guru mendengar bunyi gada itu"ucap Cakra Lembayung membalas perbuatan gurunya tadi,
"Rupanya kau bisa juga menggunakan gada itu Cakra Lembayung"ucap Ki Balung Waja,
"maksud guru"tanya Cakra Lembayung tidak menyadari bahwa secara tidak sengaja ia telah bisa mengendalikan gada itu,
"coba kau lemparkan kembali gada itu dengan mengerahkan tenaga dalam mu"ucap Ki Balung Waja,
"baik guru "ucap Cakra Lembayung ,
ia pun lalu melemparkan gada itu sesuai dengan perkataan gurunya wuusss.....gada pun melayang layang mengeluarkan bunyi dengung an disertai angin ribut ,
"ternyata aku bisa guru"ucap Cakra Lembayung setelah melihat gada itu terbang berputar-putar tidak jauh di depan nya.
"sudah cukup Lembayung hentikan gada itu"perintah Ki Balung Waja, Cakra Lembayung pun segera melaksanakan perintah gurunya itu dan tanpa menemui kesulitan apapun gada itu kembali ke tangan Cakra Lembayung.
"Nampaknya gada itu sudah menemukan tuannya yang sesungguhnya"gumam Ki Balung Waja,
"guru kapan kita akan ke bulan merah rasanya aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kanda Kala Murka"tanya Cakra Lembayung,
"Saya kira kapan saja Lembayung karena aku rasa kau sudah berhasil dengan baik dalam menguasai ilmu itu"jawab Ki Balung Waja,
"lagi pula aku juga sudah tidak sabar lagi untuk mengobrak abrik Martapura untuk membalas kematian ayah dan adik ku Balung Wesi"ucap Ki Balung Waja,
"guru tenang saja aku pasti akan membantu guru untuk memporak-porandakan Martapura"ucap Cakra Lembayung,
"baiklah lembayung aku terima uluran tangan mu"ucap Ki Balung Waja,
"sebelum kita berangkat ke istana bulan merah aku ingin melihat pukulan tapak besi mu Lembayung coba kau pukul batu di depan mu itu"perintah Ki Balung Waja,
"baik guru "ucap Cakra Lembayung,ia pun segera merapat kan ke dua tangannya lama kelamaan tubuh Cakra Lembayung pun bergetar dan tangan nya pun menyala merah membara bagaikan besi yang baru di bakar api, hiiiaat... Cakra Lembayung pun melepaskan pukulan nya itu duuuaaarrr....dan batu besar di depan nya pun hancur berkeping-keping tak beraturan.
Ki Balung Waja pun tersenyum puas melihat hasil yang di tunjukkan muridnya itu,
"ya..ya...ya...kau sudah cukup sempurna dalam menguasai ajian itu Lembayung"puji Ki Balung Waja,
"ini semua berkat bimbingan mu guru"ucap Cakra lembayung, sambil mengatur pernafasannya.
"Baiklah lembayung saya kira latihan mu sudah cukup , sebaiknya istirahat lah dan besok kita berangkat ke Bulan Merah"ucap Ki Balung Waja.
"Baik guru,"jawab Cakra Lembayung ,lalu mereka berdua pun masuk ke dalam pondok untuk beristirahat.
...DI ARGARA...
Setelah dua minggu dalam pengobatan tabib istana keadaan Pandan Wangi pun makin hari makin membaik.
Ariani Dewi dengan setia menemani Pandan Wangi yang masih berbaring lemah di kamarnya itu dan ia juga yang merawat serta melayani keperluan Pandan Wangi selama dia masih sakit.
Bagi Ariani Dewi, Pandan Wangi sudah di anggap seperti saudaranya sendiri begitu pula dengan Pandan Wangi ia juga merasakan hal yang sama seperti Ariani Dewi.
"maaf kan aku Ariani jika selama ini aku merepotkan mu "ucap Pandan Wangi pelan,
"tak perlu berkata seperti itu Wangi saya rasa sudah sepatutnya saya merawat kamu"ucap Ariani Dewi dengan lembut,
"terima kasih Ariani"ucap Pandan Wangi,
"lalu Gusti prabu di mana wangi,aku ingin mengucap terima kasih padanya"tanya Pandan Wangi kemudian.
"masalah itu jangan kau pikirkan Wangi ,itu soal gampang karena setelah sembuh nanti kau bisa mengucap terima kasih padanya,lagian saat ini Gusti prabu sedang bersama Patih Guntoro dan raja Bargola Wangi "ucap Ariani Dewi menjelaskan.
"baiklah Ariani kalau memang begitu"ucap Pandan Wangi terdengar lemah.
"sebaiknya tidur lah Wangi, kau masih butuh banyak istirahat untuk saat ini"ucap Ariani Dewi,
"kau benar Ariani"jawab Pandan Wangi, sambil memejamkan matanya, Ariani Dewi pun segera keluar dari kamar itu setelah melihat Pandan Wangi tidur terlelap.
sementara itu ruang pendopo Rangga,raja Bargola dan Patih Guntoro sedang berbincang-bincang mengenai rencana Rangga untuk segera pulang ke Martapura,
"jadi anak Prabu tiga hari lagi akan berangkat ke Martapura"tanya raja Bargola,
"Benar romo,aku merasa sudah cukup lama di sini "jawab Rangga,
"lalu bagaimana dengan Pandan Wangi Gusti prabu"tanya Patih Guntoro,
"saya kira Pandan Wangi sudah bisa untuk di bawa ke Martapura paman, nanti biarlah tabib di sana yang melanjutkan pengobatan nya"jawab Rangga,
__ADS_1
"jika anak Prabu memutuskan begitu ,Romo menurut saja,tapi ingat satu hal anak prabu kalau cucu ku sudah lahir cepat cepatlah kirim kabar kemari"ucap raja Bargola,
"baik romo , jangan khawatir saya pasti segera kirim kabar kemari"ucap Rangga merasa geli dengan mertuanya itu.