Pendekar Pedang Kembar

Pendekar Pedang Kembar
Pasukan Jubah Hitam bergerak


__ADS_3

"Berita apa yang kau bawa Serigala Merah,"tanya Jubah Hitam,"begini tuan ku, ternyata Martapura sudah memberangkatkan sebagian pasukannya ke Argara tuan ku,"ucap Serigala Merah,


"suatu berita yang bagus Serigala Merah,lalu apa saja yang kau ketahui selain itu,"tanya Jubah Hitam,"sejak kemarin saya tidak melihat Rangga di sana tuan ku"jawab Serigala Merah,"persis seperti dugaan ku pasti sekarang dia berada di Argara,"gumam Jubah Hitam.


"Baiklah kita serang Martapura secepatnya dan kau Serigala Merah cepat kembali ke tugas mu,"perintah Jubah Hitam,"baik tuan ku ,"jawab Serigala Merah.


Setelah menempuh perjalanan dari Martapura yang melelahkan itu akhirnya para pasukan yang di pimpin oleh Senopati Wiro Kusumo itu tiba di Argara.


"Selamat datang di Argara paman Senopati Wiro Kusumo,"ucap Rangga menyambut kedatangan Senopatinya itu,"terima kasih yang mulia,"ucap Senopati Wiro Kusumo.


"Sebaiknya paman senopati segera istirahatkan para prajurit itu paman agar besok mereka terlihat segar kembali "ucap Rangga,"baiklah yang mulia,"ucap Senopati Wiro Kusumo, setelah mendengar perintah dari Rangga itu senopati Wiro Kusumo segera memerintah para prajurit untuk segera ke barak prajurit untuk beristirahat.


Raja Bargola tampak senang mengetahui bantuan dari Martapura sudah tiba, diam-diam ia merasa beruntung mempunyai menantu seperti Rangga itu.


"Pasukan dari Martapura sudah datang ,lalu kapan kita akan menyerang Kumaya anak prabu"tanya Raja Bargola,"kita tidak akan menyerang mereka romo,tapi kita akan menyambut kedatangan mereka di sini,"ucap Rangga,"mmm begitu ya... menurut ku itu pemikiran yang bagus, anak prabu"ucap raja Bargola,"benar Romo kita bisa menghemat tenaga,"ucap Rangga.


Sementara itu di kaki gunung Slamet tempat markasnya Jubah Hitam, hari itu sudah mulai ramai , karena Nyi Sarweda,Balung Wesi, Sanca Buana dan teman- temannya juga telah tiba di sana, sepertinya penyerangan ke Martapura sudah semakin dekat saja.


"Ki Sumpit mana Jubah Hitam kenapa dari tadi dia belum kelihatan batang hidungnya,"ucap Nyi Sarweda sambil melihat kanan kiri,"tuan Jubah Hitam masih berada di dalam Nyi,"jawab Ki Sumpit,


"Tunggu apa lagi semua orang sudah berkumpul ayo cepat panggil dia kita tidak usah mengulur-ulur waktu,"kata Nyi Sarweda dengan tidak sabar.


"Tunggu sebentar lagi Nyi bersabarlah,"jawab Ki Sumpit dengan rasa sebal kepada wanita itu.

__ADS_1


"Selalu saja menunggu aku sangat muak dengan yang namanya menunggu ,"ucap Nyi Sarweda .


"Kelihatannya kau tampak tidak sabar lagi Nyi Sarweda,"ucap Jubah Hitam dengan tiba-tiba.


"Benar Jubah Hitam menunggu apa lagi semua sudah ada di sini ,"ucap Nyi Sarweda,


"Baiklah kita akan segera berangkat, tapi kita perlu atur siasat dulu,"ucap Jubah Hitam,


"Sarwati ke sini kamu cepat,"ucap Jubah Hitam kemudian,"ada apa tuan ,"tanya Sarwati.


"Cepatlah kau atur penyerangan ini, karena hari ini juga kita harus bergerak,"ucap Jubah Hitam,"baik tuan ku,"ucap Sarwati kemudian ia membuka gulungan yang di bawa nya,


"baiklah setelah aku mempelajari posisi Martapura aku akan membagi pasukan menjadi dua, pasukan pertama akan di pimpin oleh Balung Wesi dan Sanca Buana,"ucap Sarwati.


"Lalu bagaimana dengan Jubah Hitam sendiri ,"tanya Balung Wesi,


"untuk tuan Jubah Hitam akan saya tempat kan sebagai pengawas pasukan bersama Gajah Ngarang dan Ki Sumpit,"ucap Sarwati.


"Apakah ada pertanyaan ,"tanya Sarwati kemudian," jika tidak baik lah sekarang kita berangkat, untuk pemimpin pasukan segera ke pasukannya masing-masing"ucap Sarwati sambil menutup gulungan itu.


"Aku tidak menyangka Sarwati benar-benar jenius soal peperangan aku sungguh terkesan,"gumam Jubah Hitam dengan bangga.


Akhirnya pasukan yang berjumlah besar itu pun bergerak menuju ke Martapura.

__ADS_1


Di Kumaya raja Sura tampaknya sedang kedatangan tamu agung yang selama ini di tunggu-tunggunya,tamu itu seorang wanita yang berpakaian serba hitam dengan selendang di bahunya, dan umurnya sekitar empat puluh tahun, namun wajahnya masih terlihat sangat mudah dan berkulit halus bagai gadis berumur belasan tahun,


dia adalah Sukarsi seorang pendekar wanita yang penguasa lembah hitam yang terkenal kejam dan karena kekejaman nya itu ,sehingga orang-orang menyebutnya sebagai Dewi selendang maut.


Raja Sura sudah dua kali ini kau minta bantuan ku, apakah kali ini kau juga menghadapi musuh yang berat"tanya Sukarsi,"benar Dewi ,


tapi bukan raja Bargola yang menjadi ancaman bagi Kumaya tapi raja Martapura Rangga namanya yang menjadi persoalan saya,"ucap raja Sura,"apakah untuk menghadapi si Rangga itu kau memanggil saya raja Sura,", tanya Dewi Selendang Maut.


"Aku memanggil mu bukan untuk itu tapi untuk sekedar berjaga-jaga saja ,karena anakku Lintang lah yang nantinya akan berhadapan dengannya,"ucap raja Sura.


"Lalu kapan kita akan berangkat ke Argara raja Sura"tanya Dewi Selendang Maut,"hari ini juga karena pasukan sudah siap untuk berangkat,"jawab raja Sura,


"Lapor yang mulia pasukan sudah siap dan menunggu perintah selanjutnya,"ucap senopati Rogo Rogo Wuling,"segera berangkat kan pasukan mu nanti aku secepatnya menyusul,"perintah raja Sura,"baik yang mulia,"jawab Rogo Wuling dan segera berlalu.


"Baiklah Dewi ku rasa kita juga harus segera bersiap-siap,"ucap raja Sura,"baiklah aku dan murid-murid ku juga akan bersiap untuk segera berangkat,"ucap Dewi Selendang Maut.


Setelah itu raja Sura dan Sukarsi atau yang di kenal dengan Dewi Selendang Maut itu mengakhiri perbincangan mereka dan segera bersiap untuk pergi.


"Ini benar-benar gawat aku harus segera ke melapor kepada Gusti patih ,"ucap senopati Tunggul Jaya, setelah mengetahui pasukan besar bergerak ke arah Martapura,namun ketika dia akan bergerak meninggalkan tempat itu tiba-tiba dari arah belakang ia merasakan sebuah serangan , lalu dengan cepat ia menjatuhkan dirinya dan serang itu pun dapat di hindari ya.


"Siapa yang menyerang saya tadi,"ucap Tunggul Jaya,sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling hutan, namun ia tidak melihat siapa-siapa.


"Lebih baik aku segera pergi dari sini,"ucap Tunggul Jaya, sambil waspada ia pun melangkah dengan hati-hati , setelah merasa aman ia pun segera melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya dan segera meninggalkan kan tempat itu,

__ADS_1


kemudian dari balik pohon Serigala Merah menatap tajam kepergian Tunggul Jaya itu dengan tersenyum menyeringai,"aku harus segera melaporkan ini pada tuan ku Jubah Hitam,"ucap Serigala Merah,dan segera melesat lalu hilang di antara pepohonan.


__ADS_2