
"Apakah Rangga terbunuh paman,"tanya putri Gandari dengan khawatir,"jika di lihat dari kemampuannya saya rasa tidak mungkin gusti putri,"jawab patih Danuraka,"tapi kenapa sampai sekarang dia belum sampai di sini paman,"tanya putri Gandari lagi,"sebaiknya kita tunggu saja di sini sebentar lagi,jika dia belum datang maka terpaksa kita melanjutkan perjalanan tanpa dia,"kata patih Danuraka.
Dengan perasaan cemas dan sedih putri Gandari mencoba tenang menunggu ke datangan Rangga,sesekali putri Gandari menangis sedih jika teringat akan ayahnya, melihat keadaan putri Gandari itu hati patih Danuraka juga ikut sedih dan kasihan padanya.
Tak lama kemudian terdengarlah suara kaki kuda, mendengar itu hati putri Gandari sedikit lega dan berharap itu Rangga.
"Bersiap lah putri kita tidak tahu siapa penunggang kuda itu apakah Rangga atau para prajurit dari kerajaan Markuraka"kata Patih Danuraka memperingatkan.
Tak lama kemudian tampaklah penunggang kuda itu,betapa lega rasanya hati mereka berdua setelah tahu bahwa itu adalah Rangga.
"Ayo cepat kita pergi dari sini, karena setelah ini kita tahu tahu apa yang akan terjadi,"kata Rangga,tanpa banyak bicara keduanya pun langsung naik kuda mereka dan berjalan mengikuti Rangga.
Di Martapura Karang Hitam segera menobatkan dirinya sebagai raja pengganti raja Gandara dan Kala Hitam di nobatkan sebagai patih.
Waktu itu juga Karang Hitam melakukan perombakan besar besaran pada seluruh pejabat istana,mulai dari senopati hingga menterinya,ia menempatkan para murid dari padepokan bukit tengkorak untuk menempati kedudukan itu.
"Setelah menunggu sekian lama akhirnya saat saat seperti ini tiba Kala Hitam,"kata Karang Hitam.
"Benar yang mulia, "kata Kala Hitam, "baiklah Kala Hitam siapkan pasukan sesegera mungkin kita serang Martapura untuk untuk membalas dendam kematian guru kita, juga sekaligus menaklukkan kerajaan itu"kata Karang Hitam.
"Lalu bagaimana dengan putri Gandari, yang mulia,"tanya Kala Hitam.
"Untuk sementara kita lupakan dia, karena aku yakin cepat atau lambat putri Gandari akan datang ke sini , yang terpenting kita fokus untuk menyerang Martapura,"kata Karang Hitam .
Seandainya Karang Hitam tahu jati diri Rangga yang sebenarnya mungkin dia tidak akan melepaskan nya.
"Kita akan kemana Rangga,"tanya putri Gandari,nanti ku jelaskan sebaiknya kalian berdua ikuti saja aku,"jawab Rangga dengan terus memacu kudanya.
Sesuai dengan perkataan Rangga tanpa banyak tanya mereka pun mengikuti Rangga.
Setelah lama mereka menempuh perjalanan akhirnya sampailah mereka di hutan wilayah Argara Rangga pun memperlambat jalan kudanya kemudian berhenti,
"saya pikir sebaiknya kita menuju Argara karena kita butuh istirahat dan makanan"kata Rangga,
"saya rasa juga begitu baiknya Rangga ,"kata patih Danuraka,"baiklah ayo lanjutkan perjalanan,"kata Rangga langsung melarikan kudanya.
Setelah melewati persawahan dan desa sampailah mereka di Argara, tanpa menunggu lama Rangga pun lalu menuju pintu gerbang istana itu.
"Tunggu Rangga bukannya kita cari kedai kenapa masuk istana,"tanya putri Gandari,
Rangga pun menghentikan kuda dan menoleh ke arah putri Gandari.
__ADS_1
"Apa kita akan masuk ke istana ini Rangga,"ucap putri Gandari mengulangi pertanyaannya
"benar kita akan masuk,"jawab Rangga,
"tapi apakah sang raja akan menerima kita,"tanya patih Danuraka , juga meragukan tindakan Rangga
"Kenapa tidak , ayo cepat menuju pintu gerbang,"kata Rangga lalu berjalan, sementara putri Gandari dan patih Danuraka pun saling pandang ,"bagaimana paman,", tanya putri Gandari,"kita ikuti saja dia,"kata patih Danuraka ,lalu mereka pun mengikuti Rangga menuju ke istana itu.
"Buka pintu prajurit,"kata Rangga, prajurit itu memperhatikan Rangga dengan seksama , dan akhirnya ia mengenali ,"yang mulia Rangga,kata prajurit itu lalu menjura hormat dan dengan buru buru langsung membuka kan pintu gerbang.
Patih Danuraka dan putri Gandari pun kembali saling pandang dan tidak mengerti,ada bermacam-macam pertanyaan dalam benak mereka.
"Gusti patih dan tuan putri mari masuk,",kata Rangga, dengan perasaan bingung kedua orang itu pun masuk mengikuti Rangga.
Setelah sampai di dalam datanglah beberapa prajurit menyambut mereka ,"selamat datang yang mulia Rangga,"ucap para prajurit itu, dengan menganggukkan kepala Rangga menerima hormat mereka,"Apakah romo prabu ada di tempat ,"tanya Rangga, kemudian ,"yang mulia ada di dalam bersama gusti putri,"jawab prajurit itu,"kalau begitu cepat katakan aku datang", perintah Rangga,"baik yang mulia kata prajurit itu lalu pergi.
"bisa kau jelaskan semua ini rangg.. putri Gandari tidak tahu harus memanggil apa pada Rangga,dia jadi serba salah,
"kenapa putri ragu menyebut nama saya, sebut saja Rangga juga tidak apa-apa,"kata Rangga, "aku dan paman ingin penjelasan dari mu sekarang juga,"kata putri Gandari,"jika itu yang putri ingin baiklah saya akan jelaskan ,"kata Rangga.
Kemudian secara singkat Rangga menjelaskan siapa dirinya kepada mereka.
"Apakah kamu akan menangkap kami"tanya putri Gandari, setelah mengerti semua tentang diri Rangga,
belum sempat Rangga menjawab pertanyaan putri Gandari ,tiba tiba raja Bargola bersama Dewi Kara datang,
"selamat datang anak prabu menantu ku,"ucap raja Bargola dengan gembira,"selamat datang dinda prabu,"ucap Dewi Kara,
"hormat saya romo prabu,dan juga kanda Dewi Kara,
"hormat kami yang mulia dan tuan puteri ,"kata puteri Gandari dan patih Danuraka,tidak ketinggalan.
Setelah itu mereka di jamu oleh raja Bargola untuk makan makan,
lalu setelah itu Rangga , putri Gandari dan patih Danuraka menghadap raja Bargola.
"Ada keperluan apa anak prabu tiba tiba datang ke sini,"tanya raja Bargola,"begini romo saya akan menyerang kerajaan Markuraka yang saat ini di kuasai oleh senopati Karang Hitam dan saya ingin meminta bantuan pasukan kepada Romo prabu,"ucap Rangga,
"Lalu bagaimana dengan nasib raja Gandara anak prabu,"tanya raja Bargola,
lalu dengan secara singkat Rangga menceritakan tentang semua kejadian di Markuraka itu.
__ADS_1
"Jika begitu baiklah anak prabu berapa pasukan yang kau minta,"tanya raja Bargola,"saya minta lima ribu prajurit romo,"ucap Rangga,
"baiklah akan aku persiapkan,"jawab raja Bargola.
"Saya ucapkan terimakasih romo,"ucap Rangga,"tidak perlu sungkan anak prabu"kata raja Bargola,
"Bagaimana dengan kami berdua prabu Rangga "tanya patih Danuraka, mengganti panggilannya menjadi prabu.
"Untuk sementara paman patih dan putri sebaiknya di sini, sambil menunggu kedatangan pasukan dari Martapura,"jawab Rangga.
"Saya kira juga begitu sebaliknya patih Danuraka dan putri Gandari tetap di sini,"kata raja Bargola,"jika itu yang terbaik menurut kalian baiklah,"ucap patih Danuraka setuju.
"Kalau begitu sekarang juga saya pulang ke Martapura romo untuk bersiap siap,"kata Rangga,
"baiklah anak prabu hati hati,"ucap raja Bargola,"tunggu dinda prabu,"kata Dewi Kara tiba-tiba,"ada apa kanda Dewi Kara,"tanya Rangga,
"sampaikan salam ku untuk Dewi Sekar,"jawab Dewi Kara,
"baiklah Kanda,"jawab Rangga dan terus pergi.
Sementara itu di padepokan bukit tengkorak ki Brajadara sedang mengawasi para muridnya yang sedang latihan
Ia merasa senang dengan kemajuan yang di perlihatkan para muridnya itu.Setelah merasa puas melihat para murid-muridnya itu lalu Ki Brajadara meninggalkan mereka dan masuk ke dalam rumah.
"Kenapa Ki Manggala dari padepokan lembah jiwa belum juga datang apakah mereka ada halangan di jalan "ucap Ki Brajadara,
tok...tok.tok..terdengar pintu di ketuk Ki Brajadara pun bangkit dari duduknya dan langsung membuat pintu, ada apa prajurit,"tanya Ki Brajadara,"saya membawa perintah dari raja Karang Hitam, bahwa Ki Brajadara dan seluruh pasukannya untuk segera berangkat ke istana Markuraka,"jawab prajurit itu.
"Jadi dia telah berhasil merebut istana Markuraka,"kata ki Brajadara dalam hati,
"katakan pada Karang Hitam bahwa saya dan seluruh pasukan akan segera berangkat ke istana"kata ki Brajadara,"kalau begitu saya mohon pamit ,"kata prajurit itu.
Setelah prajurit itu pergi datanglah Ki Mangala dari padepokan lembah jiwa dengan di ikuti oleh murid -muridnya.
"Akhirnya kau sampa juga Ki Manggala,"ucap Ki Brajadara ,
"apakah kita akan segera berangkat ke Markuraka Ki,"tanya Ki Manggala,
"benar sekarang juga kita akan berangkat,"jawab Ki Brajadara.
Karena tak mau mengulur waktu lagi berangkatlah Ki Brajadara dan Ki Manggala menuju ke istana Markuraka.
__ADS_1