
Di Martapura
Aduuuh....dimana aku"ucap sarpo sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit,
"syukur lah Ki sanak sudah sadar"ucap seorang tabib yang berada di dekat nya.
"Ki sanak tenang saja Ki sanak di tempat yang aman"ucap tabib itu,
"aki ini siapa dan di mana aku sekarang"tanya Sarpo,
"Aku adalah tabib yang merawat mu dan Ki sanak sekarang ini sedang berada di istana Martapura"ucap tabib itu,
"Kenapa saya bisa berada di sini tabib"tanya Sarpo tidak mengerti,
"kau ke sini di bawa oleh Gusti Patih Ki sanak dalam keadaan pingsan "jawab tabib itu,
kemudian Sarpo pun mengingat ingat kejadian yang menimpanya itu,
"Celaka apakah setelah ini saya akan di hukum atas tindakan ku yang memata matai istana Martapura ini"ucap Sarpo dalam hati dengan merasa cemas.
melihat wajah Sarpo yang nampak gelisah itu tabib itu seakan mengerti apa yang dia pikirkan,
"Ki sanak tidak perlu cemas kata Gusti Patih ,jika ki sanak sudah sehat Ki sanak boleh segera pergi dari sini"ucap tabib itu,
"Apa Gusti Patih berkata begitu "tanya Sarpo dengan rasa tidak percaya.
"benar Ki sanak "ucap tabib itu.
"kenapa gusti patih tidak menghukum ku , bukan kah sudah jelas ketahuan memata matai istana ini"ucap Sarpo dalam hati.
Ketika mereka berdua sedang berbincang-bincang itu datang lah Arya Soma menghampiri nya, melihat kedatangan Arya Soma itu sang tabib kemudian memberi hormat,
"hormat hamba Gusti Patih"ucap si tabib,
"bagaimana keadaan dia tabib "tanya Arya Soma,
"dia tidak apa apa Gusti hanya mengalami luka memar saja di wajahnya"ucap tabib itu,
"maafkan saya Gusti yang tidak bisa menyambut kedatangan Gusti Patih"ucap Sarpo di pembaringan nya,
"bagaimana keadaan mu Ki sanak"tanya Arya Soma,
"hamba tidak apa apa Gusti dan hamba mengucap kan terima kasih atas pertolongan Gusti kemarin"ucap Sarpo,
"sudahlah kau tak perlu memperbesar masalah itu Ki sanak "ucap Arya Soma,
"Tabib aku minta pada mu rawatlah dia dengan baik supaya cepat sehat karena keluarga nya pasti sudah menunggunya di rumah"ucap Arya Soma,
"baik Gusti"jawab tabib itu,
mendengar penuturan Arya Soma itu Sarpo benar benar terkejut dan juga terharu dia tidak menyangka akan di perlakukan sebaik itu di Martapura, karena selama di bulan merah ia tak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Ki sanak jika kau sudah merasa sehat pergilah dari sini takkan ada siapa pun yang mencegah mu"ucap Arya Soma sambil melangkah pergi,
"tunggu Gusti"ucap Sarpo,
Patih Arya Soma pun segera menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Sarpo,
"Ada apa Ki sanak"tanya Arya Soma,
"setelah melihat perlakuan Gusti pada hamba, mulai saat ini hamba putuskan untuk mengabdi pada kerajaan ini Gusti"ucap Sarpo,
mendengar perkataan Sarpo itu Arya Soma pun tersenyum,
"kau tidak perlu melakukan itu Ki sanak , bukan kah sudah sepantasnya kita sebagai manusia untuk saling tolong menolong"ucap Arya Soma,
"tidak Gusti , anggaplah saya kemarin sudah mati di tangan teman teman hamba dan hari ini hamba terlahir di Martapura ini jadi izinkan lah saya untuk mengabdi di sini Gusti"ucap Sarpo,
Arya Soma pun tampak diam mendengar perkataan Sarpo itu,
"Apakah Gusti meragukan kesetiaan hamba"ucap Sarpo,
"Untuk menjamin kau kesetiaan mu pada ku apa yang akan kau berikan padaku Ki sanak"tanya Arya Soma,
"jika itu yang Gusti minta ,hamba mempunyai informasi penting yang perlu Gusti tahu"ucap Sarpo.
"informasi masih tentang apa Sarpo"tanya Arya Soma merasa tertarik,
"begini Gusti , kerajaan Bulan Merah akan segera melakukan penyerangan ke negeri ini Gusti"ucap Sarpo,
mendengar perkataan Sarpo itu Arya Soma merasa terkejut bagaikan di sambar petir hari itu,
"kamu jangan main main Ki sanak"ucap Arya Soma dengan nada tinggi,
"nyawa hamba taruhan nya Gusti jika hamba berbohong"ucap Sarpo dengan sungguh-sungguh.a
__ADS_1
"baiklah aku ingin tahu siapa diri mu sebenarnya sehingga kau bisa tahu kalau kerajaan bulan merah akan menyerang kemari"tanya Arya Soma,
"hamba adalah salah satu dari prajurit tilik sandi bulan merah Gusti dan nama hamba adalah Sarpo"ucap Sarpo memperkenalkan dirinya,
"kalau begitu kapan kira kira Bulan Merah akan menyerang kemari"tanya Arya Soma,
"kemungkinan tidak lama lagi Gusti Patih karena akhir akhir ini mereka sudah mempersiapkan pasukannya mungkin beberapa hari ke depan mereka akan sampai di perbatasan "ucap Sarpo,
"apa...!! sudah sedekat itu kah "ucap Arya Soma dengan terkejut bukan main.
"Seberapa besar pasukan bulan merah jika dibandingkan dengan pasukan Martapura menurut mu"tanya Arya Soma,
"maaf Gusti menurut pengamatan hamba pasukan bulan merah jauh lebih besar jika di bandingkan dengan Martapura saat ini , apa lagi jika di tambah dengan pasukan yang sudah ada di Kumaya Gusti"ucap Sarpo,
"jadi pasukan bulan merah saat ini juga sudah ada yang di Kumaya" tanya Arya Soma tercekat.
"Benar Gusti"jawab Sarpo,
"Agar aku lebih yakin dengan perkataan mu sekarang juga akan ku kirimkan tilik sandi ke sana untuk membuktikan nya"ucap Arya Soma , kemudian segera meninggalkan Sarpo.
Di Bulan Merah
Cakra Lembayung dan Ki Balung Waja merasa heran ketika sampai di istana bulan merah karena mereka melihat para prajurit yang sudah berbaris rapi dengan bersenjata lengkap.
"Apakah akan ada perang guru "ucap Cakra Lembayung pada Ki Balung Waja,
"nampaknya benar pangeran , supaya lebih jelas sebaiknya kita masuk dan tanyakan pada paduka raja"usul Ki Balung Waja,
"kau benar guru ,mari kita masuk"ajak Cakra Lembayung,
lalu kedua orang itu pun segera masuk ke dalam istana untuk menemui raja Kala Murka, dengan langkah setengah berlari mereka berdua segera menuju langsung ke balairung ,tak lama kemudian mereka pun sampai di tempat di sana,
melihat kedatangan mereka berdua raja Kala Murka nampak gembira , sehingga ia pun langsung berdiri dari singgasana nya untuk menyambut kedatangan adiknya itu,
"selamat datang adik ku Cakra Lembayung dan Ki Balung Waja, selamat datang di istana bulan merah"ucap raja Kala Murka,
"hormat saya kanda prabu"ucap Cakra Lembayung dan segera memeluk kakaknya itu
"Hormat saya juga paduka raja "ucap Balung Waja,
"Sungguh kedatangan kalian berdua sangat tepat dengan situasi sekarang ini"ucap Kala Murka dengan senyum di bibirnya.
"Saya lihat di depan sepertinya para prajurit mau ke Medan perang kanda"tanya Cakra Lembayung,
"ya kau benar Lembayung secepatnya aku akan segera menaklukkan Martapura"ucap Kala Murka dengan kepercayaan diri yang tinggi,
"benar Ki apakah kau tertarik mau ambil andil dalam perang ini"tanya Kala Murka,
"ini adalah saat saat yang saya tunggu paduka , karena Martapura berhutang banyak pada saya ,jadi sudah jelas saya ikut dalam perang ini"ucap Ki Balung Waja dengan bersemangat,
"haaa....haaa......haaaa...bagus jawab seperti itulah yang ingin aku dengar"ucap Kala Murka.
"kau bagaimana Lembayung apa kau juga tertarik"tanya Kala Murka pada adiknya itu,
"sudah tentu kanda saya sudah berjanji pada guru untuk membantu nya balas dendam pada Martapura"ucap Cakra Lembayung,
"Sebaiknya kalian berdua istirahat lah , kalian pasti lelah setelah menempuh perjalanan dari gunung welirang"tanya Kala Murka,
"benar kanda rasanya kami berdua memang butuh istirahat"jawab Cakra Lembayung,
"kalau begitu segera kalian untuk beristirahat karena aku harus melanjutkan pertemuan ini"ucap Kala Murka.
"baik kanda "jawab Cakra Lembayung dan segera berlalu.
Baiklah kita lanjutkan pembicaraan kita tadi"ucap Kala Murka kepada semua orang yang hadir.
"Hari ini juga pasukan harus segera di berangkat Lanang Seta ,aku tidak mau buang buang waktu lagi"ucap Kala Murka,
"baik paduka"ucap Lanang Seta,
"ingat Lanang Seta aku ingin dalam satu serangan kita harus sudah bisa menundukkan atau sekalian menghancurkan Martapura"ucap Kala Murka.
"Mengenai itu paduka jangan khawatir sebab hamba berencana menyerang mereka dari setiap penjuru dengan begitu hamba yakin kita bisa dengan cepat mengalahkan mereka"ucap Lanang Seta.
"Baik lah kalau begitu cepat kerjakan"perintah Kala Murka.
"Baik paduka"ucap Patih Lanang Seta segera pergi dari hadapan Kala Murka.
Setelah mendapat kan perintah dari raja Kala Murka Patih Lanang Seta pun segera memberangkatkan seluruh prajurit Bulan Merah untuk menuju ke Martapura.
Di depan pasukan terlihat Patih Lanang Seta dan Ramapati memimpin pasukan itu,
"Kapan kita akan bertemu dengan pasukan dari Kumaya Gusti"tanya Ramapati,
"kemungkinan tiga hari lagi kita akan bertemu dengan mereka di hutan sebelum timur Martapura "jawab Patih Lanang Seta,
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan paduka raja Gusti "tanya Ramapati,
"kau jangan pikirkan paduka raja karena dia bisa datang kapan saja bersama dengan pangeran Cakra Lembayung dan Ki Balung Waja"jawab Patih Lanang Seta.
Mendengar penjelasan dari Patih Lanang Seta itu Ramapati pun tidak bertanya lagi dan fokus pada perjalanan nya.
Sementara itu di waktu yang bersamaan dengan bergerak nya pasukan bulan merah ke Martapura sesuatu hal terjadi di Kumaya tanpa sepengetahuan istana bulan merah.
"Serang....!!!! "teriak Rangga , sambil memacu kudanya dengan cepat menuju ke pintu gerbang istana Kumaya dan di ikuti oleh para prajurit Argara di belakangnya.
Rupanya setelah menerima laporan lingga , Rangga cepat mengambil keputusan untuk menyerang para prajurit bulan merah untuk merebut Kumaya, Lingga pun akhirnya membatalkan dirinya untuk kembali ke Martapura setelah mengetahui rencana Rangga itu.
mendengar teriakkan itu prajurit penjaga menara segera buru buru turun sambil berteriak-teriak,
"kita di serang...."teriak prajurit itu dan segera masuk ke dalam istana untuk melapor,
para prajurit pun bergegas menyiapkan diri setelah mendengar teriakkan itu,
"lapor Gusti kita di serang seperti"ucap seorang prajurit penjaga menara.
Ki Jamprang nampak terkejut mendapatkan laporan itu karena ia belum menerima laporan dari tilik sandi yang di kirim nya kemarin itu.
"kurang ajar ternyata Argara benar benar melakukan penyerangan kemari"ucap Ki Jamprang dengan marah,
"cepat siapkan pasukan Gautama dan kita halau mereka "Ki Jamprang dengan panik.
"duuuaaarrr.... pintu gerbang pun hancur oleh sabetan pedang Rangga ,
"cepat masuk dan serang mereka "teriak Ariani Dewi memberi aba-aba kepada para prajurit nya.
"celaka mereka berhasil menjebol pintu gerbang "ucap Gautama segera melesat ke arah prajurit Argara dan langsung mengamuk menghabisi para prajurit Argara.
tidak jauh di belakang Gautama munculah Ki Jamprang dengan di ikuti oleh Sariti Ningrum dan Brajadewa, mereka bertiga segera mengamuk di pertempuran itu.
duuuaaarrr... duuuaaarrr...berkali kali Ki Jamprang melepaskan pukulan nya, Rangga yang mendengar bunyi ledakan itu ia segera bergerak ke sumber ledakan itu,namun gerakan nya terhenti oleh para prajurit yang menghadang di depan nya.
Ariani Dewi dan Lingga pun juga tak kalah menakutkan dengan Ki Jamprang mereka berdua pun juga mengamuk tak terbendung.
"kurang ajar akan ku ***** kepala mereka berdua "ucap Gautama ketika melihat lingga dan Ariani membantai para prajurit nya,ia pun langsung menyambangi mereka berdua.
"hiiiaat....!!! teriak Gautama langsung menyerang mereka,
"mampus kau..!!!"teriak Gautama,
"awas lingga di belakang mu..!!!"teriak Ariani Dewi yang melihat Lingga akan di bokong Gautama itu,
"tinng...!!! bunyi pedang terdengar setelah Ariani Dewi dengan tepat menghalau pedang Gautama.
"kerja bagus Ariani"ucap Lingga setelah berhasil lolos dari maut.
"sepertinya kita menemukan Lawan berat lingga"ucap Ariani Dewi,
"baiklah Ariani serahkan dia pada ku"ucap Lingga,
"majulah kalian berdua biar aku bereskan sekalian"ucap Gautama,
"tidak perlu berdua untuk menghadapi mu Ki sanak cukup aku saja "ujar Lingga dengan posisi siap bertarung,
"kalau begitu majulah"tantang Gautama,
tanpa banyak basa-basi lagi lingga pun segera menyerang Gautama yang ada di depannya itu,
hiiiaat... Lingga menebaskan pedangnya ke arahnya, Gautama berkelit ke samping kemudian mundur dua langkah ke belakang,lalu ia segera menggunakan pedang untuk melayani lingga dan pertempuran dua Senopati pun terjadi.
hiiiaat..duug.. terdengar Lingga dan Gautama beradu pukul hingga membuat keduanya saling terpental ke belakang,
"kau tidak apa-apa lingga"teriak Ariani Dewi setelah melihat Lingga dan Gautama terjatuh,
"tenang saja Ariani ini baru permulaan sebaiknya kau bantu Patih Guntoro cepat"ucap Lingga,
"baiklah jaga dirimu"ucap Ariani Dewi segera pergi dari tempat itu.
"tak ku sangka kau lumayan juga anak muda "ucap Gautama .
"aku tidak butuh pujian mu "ucap Lingga ,
"haaa...haaaa...aku ingin lihat seberapa kau bisa bertahan dengan serangan ku kali ini "ucap Gautama segera menggelar kuda kudanya, melihat lawannya siap menyerang Lingga pun juga segera memasang kuda-kuda nya dan pertarungan pun kembali terjadi.
crash.. crash.. pedang Rangga menghabisi para prajurit kumaya dengan sekali tebas,
Rangga benar benar mengamuk dalam pertempuran itu sampai tak ada satu pun prajurit kumaya yang lolos dari tebasan pedang nya.
Melihat sepak terjang Rangga yang sangat telegas itu para prajurit kumaya pun merasa jeri jika harus berhadapan dengannya mereka pun memilih mundur dari pada harus menjadi tumbal dua pedang lawannya itu.
tiba-tiba..aaaakh.....aaaakh empat prajurit berjatuhan di hadapan Rangga,
__ADS_1
"itulah hukum bagi orang yang lari dari medan perang"ucap orang itu yang tidak lain adalah Ki Jamprang ia membunuh empat prajurit yang berusaha kabur dari hadapan Rangga itu.