
Angin semilir sore itu menambah sejuknya suasana dan di ufuk barat langit tampak terlihat merona merah.
Sementara itu di sebuah batu tampak seorang gadis sedang berdiri memandang ke arah cakrawala entah apa yang sedang ia pikirkan.
Dari arah belakang gadis itu tampak seorang nenek nenek yang berjalan menghampiri nya.
"Ariani Dewi apakah kau mau pergi sekarang"panggil nenek itu.
"ya ,nek hari ini juga aku akan pergi karena sudah lama aku berada di sini"kata Ariani Dewi.
"Kalau itu mau kamu apa boleh buat nenek tak bisa mencegahnya"kata nenek itu.
"Saya ucapkan terimakasih atas pertolongan nenek waktu itu"kata Ariani Dewi.
"Sudah lah hal kecil seperti itu jangan kau pikirkan,lagian sudah sepatutnya kita tolong menolong"ucap nenek itu .
"Apakah nenek tahu siapa yang menang dalam pertarungan kemarin itu"tanya Ariani Dewi.
"Sayangnya nenek tidak tahu siapa yang menang dalam pertempuran itu karena nenek waktu itu aku cepat cepat membawa kamu ke sini"kata nenek itu kecewa.
"Ternyata kelabang Ireng itu benar benar sakti mandraguna"kata Ariani Dewi seperti pada diri sendiri.
"Kau benar Ariani ,tapi pemuda itu nenek yakin bukan pemuda sembarangan karena di lihat dari cara dia bermain pedang mengingatkan ku pada seseorang"kata nenek setengah bercerita.
__ADS_1
"maksud nenek "tanya Ariani Dewi.
"Dengar kan nenek akan bercerita tentang seorang pendekar yang pernah membuat gempar seluruh dunia persilatan waktu itu "kata nenek mulai bercerita.
Ariani Dewi merasa tertarik dengan cerita nenek itu dan ia pun mendengarkan dengan penuh perhatian.
Puluhan tahun yang lalu baik golongan putih maupun hitam sangat segan dengan seorang pendekar pedang yang bernama raja Alam, orang orang menjulukinya pendekar pedang kembar tanpa tanding. Karena permainan pedangnya sangat sulit di cari tandingannya oleh siapa pun pada masa itu.
Raja Alam adalah pendekar aliran putih yang tindak tanduknya sangat di takuti golongan hitam, setiap pendekar golongan hitam yang berhadapan dengannya saat itu pula nyawa mereka lepas dari badannya.
Banyak orang orang dari golongan hitam mengatakan bahwa Raja Alam itu sangat kejam dan tidak mengenal ampun,namun bagi golongan putih dia di anggap sebagai pahlawan karena di pihaknya.
Dia benar-benar di takuti waktu itu,bila ada suatu hal yang menyangkut tentang dia orang orang lebih baik minggir dari pada harus berurusan dengan nya,namun sekarang tidak ada seorang pun yang tahu keberadaan nya apa masih hidup atau tidak kata nenek mengakhiri ceritanya.
"Jadi maksud nenek pemuda itu muridnya Raja Alam"tanya Ariani Dewi penasaran.
"Menurut nenek apa ciri-ciri khusus untuk membuktikan bahwa dia itu murid Raja Alam"tanya Ariani Dewi ingin tahu.
Nenek itu terdiam beberapa saat mendengar pertanyaan Ariani Dewi itu kemudian berfikir .
"kalau tidak salah"kata nenek itu setengah berbisik.
"ya ya dia menggunakan dua buah pedang kembar,karena dulu Raja Alam selalu menggunakan dua buah pedang kembar dalam setiap pertempurannya"jawab nenek itu.
__ADS_1
"Tapi apa benar pemuda kampung itu muridnya Raja Alam"kata Ariani Dewi ragu ragu.
"Jika dia benar benar muridnya Raja Alam sebaiknya kau jaga sifat mu padanya"kata nenek itu menasehatinya.
"Memangnya kenapa nek kalau aku macam macam sama dia"tanya Ariani Dewi tidak mengerti.
"Kalau kau bermusuhan dengan dia ,kau belum tentu memang melawan nya, bukan nenek merendahkan mu Ariani tapi lebih baik kau bersahabat dengan nya"ucap nenek itu.
"Baik nek saya mengerti"jawab Ariani Dewi.
"Apakah kamu jadi berangkat hari ini juga Ariani bukan kah sebentar lagi hari mulai gelap"tanya nenek itu kemudian.
"iya nek, walaupun mungkin saya akan kemalaman di hutan "kata Ariani Dewi menegaskan.
"Ya sudah berhati-hati lah kamu di jalan"kata nenek itu.
"Aku pamit nek"ucap Ariani Dewi.
Ariani Dewi pun pergi meninggalkan kan si nenek itu dengan terus berjalan menuju ke arah utara.
...****************...
Sementara itu Rangga telah tiba di Martapura bersama Arya Soma dan juga Dewi Sekar,
__ADS_1
Mengetahui raja dan patih nya datang prajurit langsung membuka pintu gerbang itu untuk nya
Dari dalam istana terlihat para senopati dan yang lainnya menyambut penuh hormat atas kedatangan raja mereka itu dan hari itu juga Dewi Sekar di perkenalkan kepada mereka semua sebagai permaisuri Martapura.