
"Sekarang giliran mu untuk aku buat seperti mereka itu" ucap Ki Jamprang sambil menunjuk ke arah mayat keempat prajurit itu.
"oh begitu ya, baiklah aku tunggu ucapan mu itu"tantang Rangga,
Tak menunggu lama Ki Jamprang pun segera menyerang Rangga dengan pedangnya wuuusss... Rangga segera berkelit menghindarinya dan pedang itu hanya menerpa ruang kosong,
Ki Jamprang segera menarik kembali pedangnya dan mengubah serangan dengan memutar pedang nya secara cepat,tak mau meremehkan lawan nya Rangga segera menyalurkan tenaga dalamnya pada dua pedangnya,
"tiiing..!!! terdengar bunyi senjata mereka bertemu,Ki Jamprang langsung terkejut setelah merasakan benturan itu karena tangan nya seperti membentur batu besar,ia pun segera mengekspos tenaga dalamnya dan meningkatkan serangannya.
Merasakan kekuatan lawannya yang semakin besar itu Rangga pun juga melakukan hal yang sama.
Ki Jamprang pun menjadi penasaran dengan kekuatan lawannya itu dan semakin menggencarkan serangannya, berkali kali pedang mereka saling berbenturan tak ubahnya seperti seorang empu yang sedang menempa sebuah besi.
Tanpa terasa pertarungan mereka pun sudah mempertunjukkan puluhan jurus, namun belum ada serangan dari keduanya yang menemui sasaran.
Dalam hati Ki Jamprang merasa tampak kesal bagaimana tidak,bertarung dengan Rangga beberapa jurus saja sudah harus menguras tenaganya.
Rangga segera berkelebat pergi menjauh dari para prajurit Argara supaya mereka tidak jadi korban dari pertarungan nya dengan Ki Jamprang.
Melihat lawannya pergi Ki Jamprang pun segera melesat mengejarnya,
"Apakah kau mau jadi pengecut lari dari pertarungan ini"ejek Ki Jamprang yang tidak tahu maksud dari Rangga itu.
"terserah apa kata mu orang tua sebaiknya kita selesaikan pertarungan kita di sini"ucap Rangga setelah berada di tempat yang agak jauh dari para prajurit.
"baiklah akan ku selesaikan hidup mu sekarang juga di tempat ini,"Ki Jamprang langsung melompat sambil menyabet kan pedangnya ke arahnya,
Rangga segera menyambut serangan itu dan memutar badannya lalu menangkis sabetan pedang nya Ki Jamprang yang kembali datang itu .
lagi lagi Tubuh Ki Jamprang di buat bergetar setelah berbenturan dengan Rangga tadi.
Dalam hatinya Ki Jamprang benar benar tidak percaya ilmu yang di banggakan selama ini nampak tumpul di hadapan seorang pemuda yang tidak di kenal nya itu.
"Siapa pemuda ini sebenarnya kenapa ilmunya tinggi sekali"gumam Ki Jamprang sambil mengatur nafas nya,
"hai orang tua hari ini juga kau harus bertanggungjawab jawab atas penyerangan bulan Merah pada Prada Jaya tempo hari dengan nyawa mu"ucap Rangga dengan menatap tajam pada Ki Jamprang,
"haaa ....haaa.... lancang mulut mu aku Ki Jamprang tidak akan lari dari mu pemuda sombong"ucap Ki Jamprang dengan jumawa,
mendengar orang di depannya menyebutkan namanya Rangga pun tersentak ia tidak mengira jika orang yang ada di hadapannya itu adalah orang yang membunuh keluarga nya.
"Jadi rupanya kau yang bernama Ki Jamprang itu"ucap Rangga dengan mata melotot tajam menahan marah.
"benar apakah kau merasa takut"ucap Ki Jamprang ,
"aku merasa takut jika hari ini aku tidak bisa membunuhmu Jamprang, tapi sudah ku pastikan hari ini juga kau harus mati di tangan ku "ucap Rangga,
"kau harus bertanggung jawab atas terbunuhnya raja Anggara Dewa dan Saraswati"ucap lanjut Rangga dengan memegang erat pedangnya.
"Siapa kamu sebenarnya kenapa kau tadi menyebut nama Saraswati"tanya Ki Jamprang ,
"Saraswati adalah ibu dan Anggara Dewa adalah ayah ku"ucap Rangga.
"Jadi kau anak kecil yang dalam kereta kuda waktu itu"tanya Ki Jamprang dengan terkejut.
"Benar itulah aku"ucap Rangga dengan emosi yang meluap-luap.
"haaa....haaa...asal kau tahu saja tidak hanya mereka berdua yang aku bunuh begawan Pakuan pun juga mati di tangan ku dan hari kau juga harus menyusul mereka"ucap Ki Jamprang.
Ki Jamprang bergerak cepat menyerang Rangga kembali wuusss... dengan kecepatan luar biasa ia meluncur ,tapi gerakan Jamprang itu tampak lambat di hadapan Rangga karena setelah berlatih di air terjun kecepatan Rangga dan tenaga dalamnya pun meningkat pesat jadi tidak heran jika ia biasa mengatasi perlawanan Ki Jamprang itu dengan mudah.
"apakah cuma segini kecepatan mu Jamprang"teriak Rangga sambil menghindari serangan nya,
Kelihatan nya Rangga sedang mengukur kekuatan Ki Jamprang karena dari tadi dia cuma menghindar dan hanya sesekali melakukan serangan balik.
Ki Jamprang tampak frustasi karena dari tadi tak ada satupun serangan yang mampu mengenainya ia pun segera meningkatkan tempo serangan nya ,
"terima ini Jamprang hiiiaat... duug desss... pukulan Rangga tepat mengenainya dan Ki Jamprang pun jatuh tersungkur.
"kurang ajar cepat sekali gerakan nya sampai sampai aku tidak bisa melihat nya kapan dia memukul ku"ucap Ki Jamprang .
"Bangunlah Jamprang mana keganasan mu yang kau banggakan itu"ucap Rangga .
hiiiaat wuuusss.... sebuah serangan dahsyat datang tiba-tiba ke arah Rangga duuuaaarrr.... dentuman keras menghiasi arena pertarungan itu gumpalan asap menyelimuti tempat Rangga berdiri,
"Apakah kita mengenainya ibu", tanya Brajadewa pada Sariti Ningrum,
"sepertinya pukulan kita mengenainya Brajadewa "ucap Sariti Ningrum langsung mendekat pada Ki Jamprang.
__ADS_1
Sementara asap yang menyelimuti Rangga perlahan-lahan menipis dan kemudian menghilang sama sekali.
"ibu ternyata pukulan kita tidak berpengaruh terhadap nya"ucap Brajadewa setelah melihat Rangga masih berdiri dengan menghilangkan dua pedangnya.
"manusia macam apa dia ayah kenapa pukul an ku tidak mempan padanya"tanya Sariti Ningrum.
"Orang itu ternyata benar benar kuat Sariti , sebaiknya kita keroyokan dia" usul Ki Jamprang,
tanpa sepengetahuan Ki Jamprang dan Sariti Brajadewa meluncur cepat ke arah Rangga untuk menyerangnya,
Melihat serangan datang ke arahnya Rangga segera menyiapkan keduanya pedangnya dan pertarungan pun terjadi .
Brajadewa menyerang Rangga dengan gencarnya dengan jurus jurus pedangnya, Rangga meliuk liuk bagaikan pohon tertiup angin menghindari sabetan pedang Brajadewa.
"Ayah cepat kita bantu Brajadewa ayah"ucap Sariti Ningrum segera meluncur begitu juga dengan Ki Jamprang ia pun segera berkelebat ke arah Rangga.
Pertarungan satu lawan tiga tak bisa terhindarkan , Sariti Ningrum dengan jurus kupu-kupu nya mencoba mengurung Rangga dengan permainan pedangnya, begitu juga Ki Jamprang tak mau ketinggalan ia juga mengirimkan tusuk kan tusukan mematikan ke arah Rangga.
Tapi kelihatannya Rangga masih dapat dengan mudah melayani mereka bertiga walaupun harus sedikit menguras tenaga nya.
Jauh di depan pertarungan Lingga dan Gautama tampak nya berjalan sangat sengit,jual beli pukulan pun tersaji dalam pertarungan itu.
Mereka berdua tampak nya imbang dalam hal kekuatan itu terlihat karena keduanya masih sama-sama menguasai jalannya pertarungan itu .
"Aku sungguh terkesan dengan kau anak muda sampai sejauh ini aku belum bisa menjatuhkan mu"ucap Gautama sambil memperbaiki kuda kudanya.
"terima kasih atas sanjungan mu Ki sanak aku anggap itu sebuah penyemangat bagi ku"ucap Lingga .
"Tapi kali ini aku tak kan ku biarkan kau bisa bernafas dengan lega"ucap Gautama.
"baiklah mari kita buktikan "ucap Lingga,
Pertarungan pun akan segera terjadi tapi kali ini keduanya tampak akan bertarung dengan jurus inti yang mereka masing-masing.
Tubuh Gautama tampak bergetar hebat menandakan ia sedang mengerahkan tenaga dalam nya debu debu tampak berterbangan di sekitar Gautama berdiri,
" sepertinya ia mau mengakhiri pertarungan ini"ucap Lingga .
Ia pun segera menghimpun tenaga dalamnya dan seketika itu juga tubuh lingga pun bergetar beberapa kali.
"bersiaplah kau "teriak Gautama dengan segera melesat ke arah Lingga.
Dengan persiapan yang sudah matang lingga pun segera melesat menyambut serangan Gautama itu,
Dan adu ketangkasan pedang pun tersaji dalam pertarungan itu, Lingga dengan lincah melayani serangan Gautama yang cepat itu dan mematikan itu.
"Sialan rapat sekali pertahanan orang ini ,tak ada celah sedikit pun yang ia tinggalkan "keluh Lingga sambil dengan cermat mengamati pergerakan Gautama .
Melihat lawannya merasa terdesak Gautama pun semakin bersemangat menyerang nya.
Ternyata pengalaman Gautama masih di atas Lingga walaupun dalam tenaga dalam mereka sama berimbang tapi soal pengalaman bertarung Gautama lah yang lebih unggul, hingga tanpa di duga crash.... pedang Gautama berhasil menggores punggung lingga saat Lingga telat menghindarinya.
"Aakh.."seru Lingga merasakan sakit di punggungnya, segera ia melompat menjauhi Gautama dan segera melepaskan bajunya untuk membalut Luka di punggungnya.
"sialan dia benar-benar cepat sampai sampai gerakan nya ada yang luput dari pengawasan ku"ucap Lingga.
"Sekarang sudah terlihat siapa kah yang lebih unggul di antara kita"ucap Gautama dengan tersenyum sinis.
"baiklah mari kita buktikan sekali lagi "tantang lingga.
Lingga pun segera menerjang Gautama yang sudah menantinya itu,
Lingga menyerangnya dengan gencar ia bertekad untuk membalas kekalahan itu, Gautama dengan sigap menangkis setiap serangan Lingga dengan tepat.
Sementara itu Ariani Dewi yang membantu Patih Guntoro tak menemukan lawan yang seimbang sehingga dengan mudah ia menghabisi para prajurit Kumaya itu.
Tidak jauh dari Ariani Dewi Senopati Wijaya juga tampak tidak menemukan kesulitan yang berarti cuma Sancang yang kelihatannya paling tangguh tapi dengan mudah Senopati Wijaya mengalahkannya.
"Serang...serang ...terus "teriak Senopati Wijaya mengobarkan semangat para prajuritnya dan sedikit demi sedikit pasukan Kumaya pun dapat didesak nya .
Sementara itu pertarungan Rangga juga berjalan dengan sengit.
Walaupun menghadapi tiga orang tampak nya tak membuat Rangga merasa keteteran walaupun ia nampak terdesak.
Rangga segera meningkatkan tempo serangannya dengan jurus pedang membelah bulan Rangga mulai mendesak mereka bertiga hingga pada suatu kesempatan ia berhasil menggoreskan pedangnya pada Sariti dan Brajadewa yang ternyata bukan lawan Rangga dalam bermain pedang.
Merasakan perih pada lukanya Sariti dan Brajadewa pun menepi untuk membalut lukanya .
"Apakah kau baik baik saja Brajadewa"tanya Sariti Ningrum,
__ADS_1
Brajadewa hanya mengangguk mendengar pertanyaan ibunya itu,
"kita secepatnya harus balas dia ibu"ucap Brajadewa,
"sudah pasti Brajadewa ibu akan membalasnya"ucap Sariti sambil menahan sakit.
"Apakah kalian masih bisa bertarung "tanya Ki Jamprang,
"Ayah tidak usah khawatir aku masih bisa untuk membantu ayah melayani dia"ucap Sariti Ningrum.
Ki Jamprang menatap Rangga dengan kemarahan yang meluap-luap melihat anak dan cucunya terluka.
"kau harus membayar perbuatan mu pada mereka berdua "ucap Ki Jamprang , kemudian ia menggoyang kan tangan nya dan seketika itu juga muncul sebuah tongkat di tangan nya yaitu tongkat api.
"Kau harus merasa pukulan tongkat ku ini hiiiaat...."ucap Ki Jamprang segera mengayun kan tingkat nya pada Rangga wuuusss....
Rangga menangkis tongkat itu ting.... duuuaaarrr.....ia pun terpental dua tombak kebelakang tapi dalam keadaan masih berdiri.
tapi Ki Jamprang sepertinya tidak mau memberikan kesempatan pada Rangga untuk mengambil nafas,ia segera mengirimkan serangan selanjutnya .
wuuusss.... tongkat Ki Jamprang mengarah ke arah Rangga , melihat serangan itu Rangga segera berpindah kesamping menghindari nya.
Ki Jamprang segera menarik tongkat nya dan mengarahkan pada Rangga kembali, tapi kali ini disertai dengan tenaga dalam sehingga tongkat itu melayang cepat , dengan jurus pedang membelah bulan Rangga menangkis ting....ting... Rangga kembali terpental dua tombak.
"ternyata tongkat itu bukan tongkat biasa "gumam Rangga segera menghilangkan pedangnya dari tangannya.
"Haaa... haaaa..... haaa.... sebentar lagi tubuh mu lah yang akan ku rontok kan dengan tongkat ini"ucap Ki Jamprang dengan tertawa penuh kemenangan.
Dengan tangan tanpa senjata Rangga menanti serangan Ki Jamprang itu
"Hari ini juga kau harus mati di tangan ku "ucap Ki Jamprang segera berlari ke arah Rangga wuuusss dengan ilmu halimunya Ki Jamprang pun hilang dari hadapan Rangga.
"ternyata kau mau main kucing kucingan Jamprang baiklah akan ku layani kau"ucap Rangga dengan berdiri tenang.
Rangga segera menajamkan panca indera seperti saat bersemedi di air terjun ,ia pun tersenyum saat merasakan getaran getaran kecil di sekitarnya ,
"hiiiaat....matilah kau... teriak Ki Jamprang tiba-tiba dari arah samping,
Rangga yang sudah tahu itu segera menapaki serangan Ki Jamprang itu dengan jurus badai menerjang ombak hiaaaat..... duuuaaarrr.....Ki Jamprang pun terpental dengan rasa tidak percaya serangan dapat di baca dengan mudah sedang Rangga masih berdiri di tempatnya dengan kaki terbenam ke dalam tanah setinggi lutut.
Melihat posisi Rangga yang di rasa menguntungkan itu Sariti Ningrum dan Brajadewa segera mengirim kan pukulan nya wuusss.... wuuusss.... menyadari adanya bahaya Rangga segera melompat dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya ke arah mereka,
"jurus dewa pedang membelah bulan hiaaaat.."teriak Rangga dan seketika itu juga keluarlah dua pedang dari tangan dengan menyala terang.
Sariti dan Brajadewa terbelalak di tempatnya dan tak kuasa bergerak mengetahui Rangga sudah ada di depannya wuusss...crash..crash..robohlah Sariti dan Brajadewa ke tanah dengan kepala terpisah dari tubuhnya.
"Sariti , Brajadewa..."teriak Ki Jamprang setelah melihat anak dan cucunya tewas tidak jauh dari hadapannya.
Lalu dengan marah nya Ki Jamprang segera mengirimkan pukulan peremuk tulang padanya wuuusss..... Rangga segera bergerak cepat menghindarinya ,tahu serangan nya gagal Ki Jamprang segera mengirimkan pukulan nya kembali wuusss namun hasilnya tetap sama.
"Serangan seperti itu tak akan ada gunanya Jamprang"ucap Rangga dengan menatap tajam pada Ki Jamprang,
"tidak ku sangka ternyata pedang kembar dua mustika yang selama ini ku cari ternyata ada pada mu"ucap Ki Jamprang dengan gigi gemertakan saking marahnya.
"oh jadi nama pedang ini adalah pedang kembar dua mustika"ucap Rangga yang baru tahu nama pedang itu.
"Aku akan mengadu jiwa dengan mu untuk membalas kematian anak dan cucu ku dan sekaligus merebut pedang itu dari mu "ucap Ki Jamprang segera melesat dengan cepat kearah Rangga yang berdiri empat tombak di depannya.
Dengan pedang kembar dua mustika di tangan nya Rangga pun berniat mengakhiri pertarungan ini sehingga peperangan segera di hentikan.
Hiiiaat.... dengan tongkat membara merah Ki Jamprang langsung menyerang Rangga yang masih berdiri itu wuuusss... Rangga segera menarik badannya ke belakang dan menundukkan badannya menghindari serangan itu.
Ki Jamprang segera memutar tongkat dengan cepat menghujani Rangga dengan serangan tongkat nya , Rangga segera menyalurkan tenaga dalamnya pada kedua pedang nya trang.....trang.. terdengar beberapa kali senjata mereka berbenturan.
Rangga segera melompat setinggi empat tombak dengan pedang terhunus ,
"hiiiaat.... Rangga segera mengayunkan pedangnya melihat serangan dari atas itu Ki Jamprang langsung dengan cepat menyiapkan tongkat nya untuk menangkis nya , namun ternyata pedang kembar dua mustika jauh lebih perkasa dan lebih kuat di bandingkan dengan tongkat Ki Jamprang itu hingga tongkat itu pun patah menjadi dua kena tebas pedang itu ,
"apa... tidak mungkin..!!!"teriak Ki Jamprang tidak percaya melihat tongkat pusakanya patah seketika.
"Matilah kau "teriak Rangga langsung menebaskan Ki Jamprang dengan pedangnya crash.. Ki Jamprang pun roboh ke tanah.
"Ayah,ibu dan kakek orang yang selama ini menyusahkan kalian telah aku bunuh beristirahat lah dengan tenang"ucap Rangga.
Ia pun segera melesat meninggalkan tempat itu menuju ke pertempuran ,
"hentikan peperangan ini ..teriak Rangga sambil menenteng kepala Ki Jamprang, para prajurit Kumaya yang melihat itu pun merasa ciut nyalinya mengetahui pimpinan nya telah tewas,
"Senopati utama telah tewas teriak para prajurit Kumaya bersahutan, Gautama yang sedang bertarung dengan Lingga mendengar itu pun langsung tersentak .
__ADS_1
"Ayah telah tewas "ucap Gautama dengan tidak percaya,
hiiiaat....crash perhatian Gautama pudar saat mendengar kematian Ki Jamprang itu sehingga ia tidak menyadari kalau pedang lingga berhasil menembus perutnya Gautama pun tewas bersimbah darah .