Pendekar Pedang Kembar

Pendekar Pedang Kembar
Asal Usul Kitab Pedang Darah (bagian 3)


__ADS_3

Mendengar ucapan dari Rangga yang tidak lain adalah kakak seperguruannya itu, Ariani Dewi tampak merasa senang karena jurus pedangnya telah di nyatakan sempurna.


"Istirahat lah Ariani setelah berlatih seharian tentunya kau merasa lelah,"ucap Rangga,


"benar yang mulia kalau begitu saya mohon diri"jawab Ariani Dewi,lalu melangkah pergi,


"Ariani kau mau kemana,terdengar Dewi Sekar memanggilnya.


"saya mau kebelakang untuk istirahat gusti Ratu,"jawab Ariani Dewi,


"kenapa mesti ke belakang sini saja bersama kami, benarkan kanda?,"tanya Dewi Sekar,


"iya benar Ariani ke marilah"jawab Rangga lalu menyuruh Ariani bergabung.


Akhirnya Ariani pun terpaksa bergabung bersama mereka walaupun sebenarnya ia sedikit agak canggung di hatinya pada Dewi Sekar, tapi apa boleh buat takut menyinggung perasaannya kalau ia sampai menolaknya,ketika mereka sedang berbincang-bincang kemudian datanglah Pandan Wangi menemui mereka,


"hormat saya yang mulia dan gusti ratu,"ucap Pandan Wangi dengan hormat,


"ada apa Wangi tanya,"Rangga,


"begini yang mulia saya mau mengunjungi guru, karena sudah lama saya tidak bertemu dengan beliau,"jawab Pandan Wangi.


"Baiklah silahkan saja, lalu kapan kamu akan berangkat,"tanya Rangga,"


"saya rasa saat ini juga yang mulia mumpung hari masih pagi"jawab Pandan Wangi,


"kalau begitu ajaklah Ariani biar kau punya teman dalam perjalanan mu,"kata Rangga,


"kalau Ariani Dewi mau baiklah yang mulia,"ucap Pandan Wangi,


"bagaimana Ariani apakah kamu bersedia untuk ikut bersama Pandan Wangi,"tanya Rangga,


"baik yang mulia saya bersedia kebetulan hari ini saya sedang ada waktu luang,"jawab Ariani Dewi,


mendengar itu Pandan Wangi pun merasa senang karena punya teman dalam perjalanannya,


"sekarang berangkatlah kalian dan cepat kembali ke sini,"ucap Rangga,


"baik yang mulia saya mohon pamit,"ucap Pandan Wangi ,lalu melangkah pergi bersama Ariani Dewi meninggalkan Rangga dan Dewi Sekar.


Setelah mendapatkan izin dari Rangga, Pandan Wangi dan Ariani Dewi pun segera berangkat, agar cepat sampai ke tempat tujuan,mereka pun kemudian memacu kudanya dengan kencang.


Pandan Wangi mengambil jalan pintas , supaya tidak memakan waktu terlalu lama.


Hingga tak lama kemudian sampailah mereka di sebuah hutan, setelah masuki hutan itu kemudian mereka memperlambat lari kudanya yang kelelahan.


"Pasti guru mu senang kalau melihat kamu datang Wangi,"ucap Ariani Dewi membuka percakapan,


"sudah tentu dan ku harap guru baik-baik saja"jawab Pandan Wangi,


ketika mereka baru mengobrol beberapa kata datang tiga orang penunggang kuda dari arah depan dengan kecepatan tinggi,


"awas minggir Ariani!!"teriak Pandan Wangi pada Ariani Dewi, mendengar itu Ariani Dewi pun dengan sigap menepikan kudanya,


"siapa mereka seperti orang kesetanan saja"ucap Ariani Dewi kesal,


"entahlah tidak penting siapa mereka lebih baik kita lanjutkan perjalanan kita,"ucap Pandan Wangi,namun tanpa sepengetahuan mereka ketiga penunggang kuda itu pun lalu berbalik arah dan mengejar mereka,


"tunggu kalian,!!"mendengar teriakan itu Pandan dan Ariani Dewi pun menghentikan kudanya,


"apakah kalian ingin minta maaf atas perbuatan kalian tadi,"jawab Ariani masih merasa kesal,


"jaga bicara mu bocah,"kata penunggang kuda itu yang tak lain adalah Nyi Sarweda dan kedua murid yaitu Lasmini dan Rukmini,


"ada keperluan apa kalian menghentikan perjalanan kami,"tanya Ariani Dewi dengan nada tinggi,


"kurang ajar kau, ingin rasanya aku menghajar mulut mu yang tidak punya sopan santun terhadap orang yang lebih tua,"ucap Nyi Sarweda dengan emosi,


"melihat gelagat yang tidak beres itu kemudian Pandan Wangi angkat bicara,


"maaf Nyi ada keperluan kiranya pada kami,"kata Pandan Wangi dengan halus,


mendengar ucapan Pandan Wangi itu emosi Nyi Sarweda agak turun,

__ADS_1


"aku cuma mau bertanya pada kalian ,"ucap Nyi Sarweda,


"silahkan saja kami terburu-buru,"ucap Ariani Dewi dengan acuh,


"Kurang ajar gadis itu Rukmini beraninya ia kurang ajar pada guru ,"ucap Lasmini .


"benar Lasmini ini rasanya aku menghajar perempuan itu,"kata Rukmini terpancing emosinya mendengar perkataan Lasmini itu.


"Apakah kalian berpapasan dengan dua orang pemuda lewat sini"tanya Nyi Sarweda, mendengar itu Pandan Wangi pun menoleh ke arah Ariani Dewi, melihat tatapan Pandan Wangi itu ,Ariani Dewi hanya mengangkat bahunya seakan ia malas untuk berbicara.


"Kami berdua tidak melihat atau berpapasan dengan siapa pun Nyi kecuali kalian bertiga,"jawab Pandan Wangi,


"apakah kalian berdua tidak bohong,"ucap Nyi Sarweda tidak percaya,


"itu terserah Nyi saja mau percaya atau tidak kami tidak memaksa,"ucap Pandan Wangi mulai kesal,


" saya rasa mereka bohong guru,"ucap Lasmini, mengkompor-kompori gurunya,


"saya juga berpikir demikian guru,",ujar Rukmini,ikut mengkompor-kompori gurunya,


"cepat katakan sejujurnya jangan buat aku marah,"kata Nyi Sarweda agak emosi,


"dengar Nyi l,pertanyaan mu sudah kami jawab ,lalu Nyi tidak percaya terus kami mau jawab apa lagi "jawab Pandan Wangi tersulut kemarahannya.


Nyi Sarweda tampak terdiam ia merasa bahwa kedua gadis itu benar benar tidak bohong, "Lasmini, Rukmini kita lanjutkan perjalanan kita,"kata Nyi Sarweda segera membelokkan kudanya dan langsung pergi dengan di ikuti oleh dua muridnya.


"Dasar orang tidak tahu diri tidak berterima kasih malah langsung pergi tanpa permisi,"ucap Ariani Dewi dengan perasaan mendongkol,


"sudahlah Ariani jangan pikirkan mereka lebih baik kita melanjutkan perjalanan ,ayo "kata Pandan Wangi dengan menggebah kudanya.


Karena perjalanannya sempat tertunda Pandan Wangi pun memacu kudanya dengan kencang dan diikuti oleh Ariani Dewi di belakangnya, seandainya tadi sempat terjadi bentrokan,maka Nyi Sarweda akan tahu siapa sebenarnya Pandan Wangi itu,yang tidak lain adalah murid begawan Barnowo musuh bebuyutannya.


Di lain tempat Ki Luka Jaya dan dua muridnya Baskara dan Durpala telah sampai di desa Galuh yang merupakan bagian dari wilayah kerajaan Martapura.


"Inikan sudah wilayah Martapura guru, tapi kenapa tidak ada tanda-tanda dari mereka,"tanya Baskara,


"Sebaiknya kita terus cari saja mereka, siapa tahu mereka ada di sekitar sini,"ucap Ki Lukajaya,


"seharusnya mereka sudah tiba disini paling tidak kemarin,"kata Ki Lukajaya memperhitungkan jarak dari sungai yang di singgahi dua orang itu ke Martapura.


Karena di tempat yang pertama di singgahi tidak menemukan orang yang di cari ,Ki Luka Jaya pun terus berkeliling menjelajahi desa Galuh sampai jauh ke dalam,namun pencariannya itu tak nampak membuahkan hasil seperti yang mereka harapkan, akhirnya mereka lalu memutuskan untuk pergi ke kedai untuk beristirahat.


Karena perjalanan tidak menemui halangan Pandan Wangi dan Ariani Dewi akhirnya tiba di lembah sunyi tempat gurunya.


"Sebaiknya kuda kita tinggalkan di sini saja"ucap Pandan Wangi sambil mengikatkan kudanya pada sebuah pohon,


"kenapa tidak di bawa sekalian saja ketempat guru mu Wangi,"tanya Ariani Dewi,


"kalau kamu bisa ke sana silahkan,"jawab Pandan Wangi sambil menunjuk ke dasar jurang, spontan saja Ariani Dewi menepuk jidatnya setelah mengetahui hal itu.


"Lantas bagaimana mana kita turun ke sana,"tanya Ariani Dewi tidak mengerti,


"kau ikuti saja cara ku,"jawab Pandan Wangi dan bersiap untuk melompat,


"tunggu wangi apa kau serius,"tanya Ariani Dewi,Pandan Wangi hanya mengangguk dan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya Pandan Wangi melompat dari satu tebing ke tebing yang lain dan begitu seterusnya ,tak membutuhkan waktu lama akhirnya ia pun sudah sampai di bawah,


"Ariani cepat,"teriak Pandan Wangi sambil melambaikan tangannya,


"baiklah tunggu aku Wangi,"ucap Ariani Dewi., kemudian ia pun menggunakan ilmu meringankan tubuhnya lalu melompat dari satu tebing ke tebing yang lain seperti yang Pandan Wangi lakukan dan akhirnya ia pun sampai di bawah,


"ternyata tidak buruk,"ucap Ariani Dewi,Lalu menghampiri Pandan Wangi.


"Bagaimana tak seburuk yang kau kira bukan,"tanya Pandan Wangi,


" benar juga tak seburuk yang ku kira ,ayo cepat kita temui guru mu,"ucap Ariani Dewi.


Lalu mereka pun menuju ke gubug tempat begawan Barnowo berada, belum sempat mereka membuka pintu ternyata begawan Barnowo sudah menyambut mereka dengan senyum di bibirnya yang keriput itu.


"Hormat saya guru,"ucap Pandan Wangi dan kemudian di ikuti oleh Ariani Dewi.


"Selamat datang Pandan Wangi silahkan kalian berdua masuk,"ucap begawan Barnowo.


Pandan Wangi dan Ariani Dewi pun langsung masuk ke dalam gubuk itu .

__ADS_1


Begawan Barnowo lalu memberikan air minum kepada mereka berdua.


"Untung kamu cepat kemari Pandan Wangi,"ucap begawan Barnowo membuka pembicaraan,


"memangnya ada apa guru,"tanya Pandan Wangi,


"begini Pandan Wangi aku tadi malam bermimpi di temui mendiang guru ku,dia mengatakan bahwa akan ada huru hara di dunia persilatan ini,yang di sebabkan oleh munculnya kembali kitab pedang darah,"kata begawan Barnowo menjelaskan,


"kitab apa itu guru "tanya Pandan Wangi,


"itu adalah kitab kesaktian yang sangat mengerikan, karena orang yang mempelajarinya akan mendapatkan kesaktian yang luar biasa ,yang akan dapat mengubah senjata apa saja menjadi senjata yang ampuh dan sulit untuk di kalahkan,dan yang harus kau tahu pemiliknya akan menjadi orang haus darah atau suka dengan peperangan,"kata begawan Barnowo .


"Bagaimana asal usul dan siapa pemilik kitab itu guru,"tanya Ariani Dewi yang dari tadi menyimak,


"Akan aku ceritakan pada kalian tentang asal-usul kitab itu,"kata begawan Barnowo dengan mulai bercerita.


Dahulu ada seorang pendekar yang sakti mandraguna bernama Kilimanggoro, ia adalah seorang pendekar dari golongan putih,yang gemar membasmi kejahatan yang tidak tanggung-tanggung dalam menghabisi lawannya.


Hingga pada suatu hari ia jatuh cinta pada seorang gadis yang bernama Arum Sari, anak dari seorang penjahat nomor satu yang sangat di benci oleh golongan putih dia bernama Brajakala seorang ketua padepokan.


Arum Sari pun menjelaskan latar belakang dirinya kepada Kilimanggoro, mengetahui hal itu ,Kilimanjaro tidak mempersoalkannya,karena ia tahu di dalam rumah yang jahat pasti ada setitik kebaikan. mendengar perkataan Kilimanggoro itu Arum Sari merasa bahagia karena masih ada orang yang mempercayai dirinya ,bahwa dia orang baik tidak seperti ayahnya.


Hingga pada suatu hari padepokan Brajakala di serang oleh para pasukan gabungan pendekar golongan putih.


Pertarungan antara pasukan Brajakala dan pasukan golongan pasukan golongan putih pun tidak terhindarkan.


Setelah mengalami pertarungan yang sengit akhirnya Brajakala dapat di kalahkan.


Lalu kemudian mereka pun membakar padepokan itu hingga semuanya hangus tanpa sisa. Tanpa sepengetahuan mereka setelah Brajakala dapat dikalahkan ,diam -diam Kilimanggoro melarikan Arum Sari agar tidak jadi korban kemarahan mereka,


ia pun membawanya ke padepokan untuk meminta restu pada gurunya, dengan berat hati gurunya pun akhirnya memberikan restu dan menyuruhnya segera pergi jauh .


Namun rencananya tidak sesuai harapan, karena diam -diam ada murid padepokan yang melaporkan kepada padepokan lain bahwa anak dari Brajakala di sembunyikan oleh Kilimanggoro di tempat gurunya.


Hingga datanglah orang-orang dari berbagai bagi padepokan menuntut pada guru Kilimanjaro untuk menyerahkan Arum Sari kepada mereka,tapi guru Kilimanjaro menolak dengan tegas,dan mengatakan bahwa mereka sudah pergi padahal sebenarnya masih bersembunyi di dalam.


Karena tidak mendapat apa yang mereka inginkan, maka orang-orang itu marah dan langsung menyerang guru Kilimanggoro itu, walaupun seorang sakti mandraguna karena di keroyok oleh orang-orang sakti, ia pun dapat di kalahkan juga.


Mengetahui nasib gurunya itu Kilimanggoro pun langsung keluar dari padepokan untuk menolong gurunya, ia langsung mengatakan pada mereka bahwa Arum Sari itu anak baik dan beda sama ayahnya.


Namun mereka tak mempercayainya, dan mereka mengatakan ,bahwa anak singa tidak mungkin jadi rusa, mereka pun terus mendesak Kilimanggoro untuk menyerahkan Arum Sari,namun Kilimanggoro tetap kokoh pada pendiriannya dan tidak mau menyerahkan wanita yang di cintai nya itu.


Sehingga pertarungan pun terjadi, setelah menjalani pertarungan yang sengit akhirnya Kilimanggoro pun dapat di kalah dengan cara di keroyok dan di ancam akan di bunuh jika tidak menyerahkan Arum Sari.


Mengetahui kekasih dalam bahaya ,akhirnya Arum Sari gadis lembut yang tidak punya kepandaian apa-apa itu pun keluar dari padepokan untuk menolong kekasihnya, melihat Kilimanggoro dalam keadaan luka para ia pun langsung berlari memeluknya.


Melihat itu para tokoh padepokan yang menamakan dirinya golongan putih tidak merasa iba sama sekali,pada keadaan kilimanggoro.


Mereka segera menangkap Arum Sari dan kemudian mereka menggantungnya sampai mati di depan Kilimanggoro.


Mereka melakukan itu supaya suatu hari nanti tidak ada keturunan dari Brajakala yang akan membuat keonaran lagi.


Betapa hancur dunia Kilimanggoro saat itu , bagaimana tidak, orang yang dicintainya meninggal di depan matanya tanpa bisa ia berbuat apa-apa untuk menolongnya .


Tak lama kemudian gurunya pun juga menyusul Arum Sari meninggalkannya, karena menderita luka dalam yang begitu parah.


Hari itu Kilimanggoro kehilangan dua orang yang paling berharga dalam hidupnya, gurunya adalah orang yang selalu melindungi dirinya setiap dia ada masalah,


dan Arum Sari adalah gadis malang yang sangat dicintainya, yang semua orang tidak percaya bahwa ia punya hati yang baik.


Kilimanggoro berteriak sekeras kerasnya ,dan hari itu ia bersumpah pada dua jenazah yang dihadapannya untuk memusuhi semua golongan putih.


Setelah menguburkan gurunya dan Arum Sari orang yang di cintai nya itu,pergilah Kilimanggoro ke sebuah gua Lawa, dan ia pun bertapa brata di sana, setelah menjalani tapa brata selama empat puluh hari empat puluh malam, akhirnya ia di datangi oleh orang tua yang berpenampilan serba hitam dan orang tua itu lalu berkata" bangunlah dari tapa mu, aku tahu keluh kesah mu,ambilah kitab Pedang Darah ini ,dan hancurkan semua musuh mu haaa. ....haaaa.....ha....ha....lalu orang tua itu pun menghilang.


"Kira kira seperti itulah kisah asal usul kitab itu ,"ucap begawan Barnowo mengakhiri ceritanya,


"jadi kitab Pedang Darah itu kitab yang datang karena dendam ,bukan begitu guru,"tanya Pandan Wangi,


"kau benar Pandan Wangi,


"lalu bagaimana mana dengan nasib golongan putih saat itu guru,"tanya Ariani Dewi,


"saya kira mengenai itu kita bahas besok saja apa kalian tidak merasa lapar,"ucap begawan Barnowo kepada mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2