
"Jadi hilangnya kitab itu dari gua kelelawar karena di ambil pangeran Lintang,"ucap Pandan Wangi setengah bertanya,
" saya kira untuk lebih jelasnya kalian bisa tanya kan sendiri pada dinda prabu di Argara,"ucap Arya Soma.
"Baiklah gusti patih kalau begitu kami berdua mohon diri untuk bersiap-siap ,"ucap Ariani Dewi,
" Silahkan "jawab Arya Soma,
setelah berpamitan dengan Patih Arya Soma mereka berdua pun segera pergi untuk menyiapkan segala sesuatunya sebelum mereka berangkat ke Argara.
Seluruh para prajurit Martapura hari itu sibuk membersihkan mayat-mayat yang menjadi korban dari perang melawan Jubah Hitam dan pasukannya.
Setelah beberapa hari kemudian Martapura pun sudah terlihat bersih kembali dan saat itu di Kepatihan terlihat Arya Soma dan Lingga tampak sedang berbincang-bincang,
"Seperti yang kemarin aku bilang pada mu Lingga, ada sesuatu yang akan aku bicarakan dengan mu dan ku harap ya,kamu tertarik,"ucap Arya Soma,
"mengenai hal apa itu kiranya gusti patih"tanya Lingga.
"Akibat dari perang kemarin Martapura telah kehilangan salah satu senopati terbaiknya dan aku merasa sangat kehilangan dia Lingga"ucap Arya Soma,
"maksud gusti patih soal gugurnya senopati Tunggul Jaya,"ucap Lingga,
"ya benar sekali senopati Tunggul Jaya adalah seorang senopati yang bertanggung jawab dan juga sangat setia pada Martapura ini,"ucap Arya Soma,
"dan hari ini juga aku meminta kamu untuk menggantikan posisi yang di tinggalkan oleh senopati Tunggul Jaya itu,"lanjut Arya Soma.
Mendengar hal itu Lingga pun terdiam dia tidak menyangka akan mendapatkan tawaran itu langsung dari Arya Soma,
"jika itu yang gusti patih minta baiklah , tapi sebelum nya saya mohon maaf gusti jika dalam mengemban tugas ini hamba tak sepadan dengan mendiang senopati Tunggul Jaya"ucap Lingga ,
"bagus Lingga aku senang mendengarnya dan aku percaya bahwa kau tidak akan kalah dengan senopati Tunggul Jaya,"ucap Arya Soma merasa senang dengan jawaban Lingga itu.
...----------------...
Pagi itu di Argara Rangga membuka matanya dari semedinya ,"akhirnya kanda patih berhasil mengatasi kekacauan di Martapura , dengan begitu sekarang aku bisa fokus untuk menghadapi pangeran Lintang,"ucap Rangga sambil melangkah keluar dari tempat semedinya .
Di Balairung istana raja Bargola tampak gelisah menunggu Rangga yang sudah tiga hari lamanya belum juga keluar dari ruang semedinya,
"kenapa anak prabu lama sekali , padahal menurut prajurit tilik sandi Kumaya sudah bergerak saat ini,"ucap raja Bargola dengan mondar-mandir memikirkannya.
Ketika dalam keadaan gelisah itu raja Bargola mendengar langkah kaki yang menuju ke arahnya , setelah melihat siapa yang datang ia pun berbinar-binar penuh harapan untuk segera berbicara padanya,
"maaf membuat Romo lama menunggu,"ucap orang itu yang tidak lain adalah Rangga,
"bagaimana anak prabu apakah sudah dapat petunjuk mengenai Martapura ,"tanya raja Bargola dengan rasa tidak sabar,
"Martapura baik-baik saja romo karena keris pulang geni dalam tubuh saya sudah tidak bersinar lagi ,"ucap Rangga.
"Syukurlah anak prabu aku sangat senang mendengarnya,"ucap raja Bargola dengan gembira,
"Oh ya anak prabu menurut laporan dari prajurit ,Kumaya saat ini sedang bergerak dengan kekuatan penuh menuju kemari ,"ucap raja Bargola dengan gelisah,
"secepatnya kita harus mengumpulkan para senopati dan yang lainnya untuk segera mengatur taktik menghadapi mereka Romo"ucap Rangga,
"saya kira juga demikian anak prabu ,"ucap raja Bargola,
"hamba menghadap yang mulia,"ucap patih Guntoro, dengan datang tiba-tiba ,
"Ada apa kakang patih"tanya raja Bargola,
__ADS_1
"menurut kabar terbaru dari prajurit tilik sandi kita dalam waktu setengah hari lagi pasukan Kumaya akan tiba di sini Gusti"ucap patih Guntoro,
"segeralah kakang patih kumpul kan para senopati dan temenggung untuk segera berkumpul di sini,"ucap raja Bargola,
"baik yang mulia akan hamba laksanakan dengan segera,"ucap patih Guntoro dan segera pergi.
Debu-debu tampak mengebul di sepanjang jalan mengiringi pasukan Kumaya yang sedang menuju ke Argara pagi itu, terlihat pangeran Lintang di atas kudanya yang tampak gagah dengan pedang di punggungnya,
sementara itu raja Sura dan Dewi Selendang Maut tampak berjalan berdampingan di atas kudanya masing-masing.
"Aku merasakan adanya kekuatan yang besar dalam diri putra mu itu raja Sura"ucap Dewi Selendang Maut,
"benarkah itu Dewi,"tanya raja Sura,
"ya raja Sura sepertinya kita akan memenangkan peperangan ini,"jawab Dewi Selendang Maut dengan yakin,
"semoga saja hal itu terwujud Dewi agar aku bisa membalas penghinaan Argara pada Kumaya,"ucap raja Sura dengan penuh harapan.
"tenang saja raja Sura aku akan berusaha untuk mewujudkan harapan mu itu,"ucap Dewi Selendang Maut dengan penuh keyakinan.
...----------------...
Di Balairung istana Argara tampaknya sudah hadir para senopati dan dan juga para pembesar istana lainnya untuk membahas soal peperangan yang sebentar lagi akan terjadi.
Raja Bargola segera mempersilakan Rangga untuk memimpin pertemuan itu.
"Silahkan anak prabu yang ambil alih pertemuan ini,"ucap raja Bargola kepada Rangga,
"baik romo,"ucap Rangga dan kemudian mulai berbicara,
"Setelah kita tahu bahwa Kumaya benar-benar menginginkan perang dengan kita,maka sudah saatnya kita harus memberikan sambutan yang meriah untuk mereka "ucap Rangga .
"Apakah anak prabu bermaksud menjadikan hutan Praga sebagai Medan pertempuran"tanya patih Guntoro,
"benar paman Patih sebisa mungkin kita kalahkan mereka di sana,"jawab Rangga.
"Mmmm...lalu bagaimana dengan pangeran Lintang anak prabu,"tanya patih Guntoro,
"soal pangeran Lintang biarkan aku yang akan menghadapinya paman patih"ucap Rangga.
"Jika begitu sebaliknya kita cepat bergerak gusti prabu jangan sampai kita ke dahuluan mereka,"ucap senopati Wiro Kusumo,
"baiklah paman senopati segera berangkatkan pasukan paman dan langsung tempat kan pasukan paman di garis paling depan .
Untuk paman patih Guntoro pimpin lah seluruh prajurit Argara untuk mengikuti pasukan senopati Wiro Kusumo"perintah Rangga,
"baik anak prabu"jawab patih Guntoro.
Setelah menerima perintah dari Rangga itu berangkat lah senopati Wiro Kusumo memimpin pasukan yang di bawanya dari Martapura menuju ke hutan Praga dan di ikuti oleh patih Guntoro bersama pasukan di belakangnya.
Akhirnya tibalah Pandan Wangi dan Ariani Dewi di Argara setelah mereka menempuh perjalanan dari Martapura dengan waktu yang cukup lama, mereka berdua langsung menuju ke istana untuk menemui Rangga, namun tiba-tiba perjalanan mereka di hentikan oleh seorang penjaga pintu gerbang,
"tunggu ada keperluan apa kalian,"tanya prajurit itu karena tidak mengenali Pandan Wangi dan Ariani Dewi,
"kami berdua ingin bertemu dengan prabu Rangga jadi biarkan kami masuk,"ucap Pandan Wangi,
"perkenalkan dulu diri kalian sebelum masuk karena situasi saat ini sedang gawat aku takut kalian mempunyai maksud tidak baik,"ucap prajurit itu,
"kurang ajar ingin rasanya aku menghajar prajurit ini "ucap Ariani Dewi dengan jengkel.
__ADS_1
"jaga emosi mu Ariani,"ucap Pandan Wangi,
"kami berdua adalah utusan dari Martapura tuan prajurit "pandan wangi dengan lemah lembut.
"apa utusan dari Martapura ,kenapa kalian tidak bilang dari tadi ,"ucap prajurit itu kemudian mempersilahkan mereka berdua masuk.
Setelah di dalam istana mereka pun bergegas mencari keberadaan Rangga,
"baru kali ini aku datang ke Argara benar-benar indah istana ini ,walaupun masih kalah indah dengan Martapura,"ucap Ariani Dewi,
"huuss ...bukan saat kita memikirkan itu Ariani,"ucap Pandan Wangi.
"Selamat datang di Argara Ariani dan kau Wangi "ucap Rangga tiba-tiba muncul dari arah samping mereka,
"yang mulia,"ucap Ariani Dewi dan Pandan Wangi begitu melihat Rangga ada di depan pintu istana,ia lalu mengajak Ariani Dewi menghampirinya.
"hormat kami yang mulia"ucap Pandan Wangi,
"aku merasa senang sekali kalian telah kembali"ucap Rangga dengan senyum mengembang di bibirnya,
"bagaimana mana dengan Martapura apakah baik-baik saja"lanjut Rangga,
"benar yang mulia Martapura sekarang dalam keadaan baik-baik saja, karena kami bersama dengan gusti patih berhasil mengatasi serangan Jubah Hitam,"ucap Ariani Dewi,
"oh jadi jubah Hitam telah berhasil di kalahkan bagus aku senang mendengarnya,"ucap Rangga dengan lega.
"benar yang mulia,tapi kemenangan Martapura harus di bayar mahal dengan gugurnya senopati Tunggul Jaya"ucap Pandan Wangi,
"apa!!! paman senopati Tunggul Jaya gugur,"ucap Rangga dengan terkejut,
"benar yang mulia,"ucap Ariani Dewi,
" aku ingin mendengar cerita kalian lebih lanjut lagi, tapi setelah kita menghadapi serangan dari kerajaan Kumaya yang sedang menuju kemari,"ucap Rangga,
"maaf yang mulia , menurut gusti patih pangeran Lintang dari Kumaya itu telah menguasai kitab pedang darah, apakah itu benar yang mulia,"ucap Pandan Wangi,
"memang demikianlah kenyataannya Wangi aku tidak mengira kitab itu dapat jatuh ke tangan dan ini menjadi ancaman yang serius bagi kerajaan Argara,"jawab Rangga,
"lalu bagaimanakah untuk mengalahkannya yang mulia,"tanya Ariani Dewi.
"Apakah kalian masih ingat dengan cerita begawan Barnowo bagaimana Kilimanggoro dulu di kalah"ucap Rangga balik bertanya,
"apakah maksud yang mulia untuk mengalah pangeran Lintang harus dengan pedang kembar dan pedang naga mas ini,"tanya Pandan Wangi
"benar Wangi aku bermaksud meniru Jaya laksana dan Danur kencana dalam menghadapi pangeran Lintang itu,"ucap Rangga menjelaskan.
"kalau begitu hamba akan berusaha sekuat tenaga untuk melawan pangeran Lintang dengan pedang naga mas ini yang mulia"ucap Pandan Wangi,
"aku sangat percaya dengan kemampuan mu Pandan Wangi,"ucap Rangga.
"Sebaiknya kita cepat berangkat menyusul paman senopati Wiro Kusumo ke hutan Praga,"ucap Rangga sambil bersiap melesat,
"tunggu kanda "teriak Dewi Sekar dari dalam istana.
Melihat istrinya dan Dewi Kara datang mendekat Rangga pun membatalkan niatnya untuk pergi.
"Apakah dinda juga mau ikut berperang"tanya Rangga setelah melihat Dewi Sekar istrinya itu dengan pedang di punggungnya,
"benar kanda aku dan yunda Kara juga mau ikut mempertahankan Argara dari serangan Kumaya,"jawab Dewi Sekar,
__ADS_1
"kalau begitu mari kita cepat berangkat,"ucap Rangga lalu melesat dengan di ikuti Dewi Sekar, Dewi Kara, Pandan Wangi dan Ariani Dewi.