
"Jadi kitab itu pernah muncul sebelumnya guru"tanya Lasmini,
"benar kitab itu pernah muncul beberapa tahun yang lalu dan sempat membuat geger seluruh dunia persilatan , hingga para pendekar baik golongan hitam maupun golongan putih berusaha untuk memilikinya"ucap Nyi Sarweda.
"Apakah keistimewaan kitab itu guru", tanya Rukmini yang dari tadi hanya menyimak,
"baiklah akan aku jelaskan pada kalian tentang keistimewaan kitab pedang darah itu,jadi dengarkan baik-baik,"kata Nyi Sarweda,
kemudian ia mulai menjelaskan tentang kitab itu,siapa pun orang yang berhasil mempelajari kitab itu,dia akan menjadi sakti mandraguna dan setiap pedang apa pun yang dia pegang akan menjadi senjata ampuh yang mengeluarkan cahaya kemerahan,tepatnya merah darah,yang dapat menandingi senjata apa pun ,meskipun itu senjata paling sakti,"ucap Nyi Sarweda.
"Kalau begitu, kita juga jangan sampai ketinggalan dengan para pendekar yang lain guru,"ucap Lasmini,
"kau benar Lasmini kita harus secepatnya bertindak untuk mendapatkan kitab itu,lalu setelah itu akan aku habisi Arya Soma dan juga Martapura, serta begawan Barnowo juga tidak ketinggalan akan aku habisi mereka semua,"ucap Nyi Sarweda dengan mengepalkan tangannya.
"Lalu kapan kita akan bergerak untuk mencarinya guru,"tanya Lasmini,
"secepatnya kita bertindak, karena aku juga tidak sabar untuk mendapatkannya,"jawab Nyi Sarweda,
"kalau begitu saya dan Rukmini akan segera bersiap,"kata Lasmini kemudian pergi dari hadapan gurunya.
Sementara itu Luka jaya pun juga mulai bersiap siap untuk berangkat memburu kitab itu.
"Baskara dan Durpala bersiaplah kalian karena sebentar lagi kita akan berangkat,"kata Ki Luka Jaya,
"baik guru,"ucap mereka lalu menghampiri gurunya itu,
"kalian tahu kan kemana perginya dua orang itu,"tanya Ki Luka Jaya,
"benar guru mereka pergi ke arah barat,"jawab Durpala,
Ki Luka Jaya jaya nampak berpikir mendengar itu,
"kalau begitu berarti mereka pasti menuju ke arah Martapura" batin Ki Luka jaya sambil mengangguk-angguk,
"baiklah kita akan menuju ke arah Martapura,"ucap Ki Luka Jaya pada dua orang muridnya.
"apakah mereka menuju ke Martapura guru,"tanya Durpala,
"benar walaupun aku masih ragu, tapi kita akan menuju ke sana,"jawab Ki Luka Jaya,
"baik guru,"ucap Baskara dan Durpala,
"tapi ingat kalian jangan berbuat onar di Martapura kalau tidak ingin berurusan dengan pihak kerajaan,"ucap Ki Luka Jaya memperingatkan,
"kami mengerti guru,"jawab mereka.
__ADS_1
"Ayo cepat berangkat,"ucap Ki Luka Jaya sambil menggebah kudanya dan kemudian di ikuti Baskara dan Durpala di belakangnya.
Sementara itu perjalanan Sugala dan Sugati telah sampai di sebuah perkampungan.
"Di depan sepertinya ada kedai bagaimana kalau kita mampir dulu untuk mengisi perut sugala,"ucap Sugati ,
"itu yang aku tunggu-tunggu ayo cepat karena aku sudah kelaparan,"jawab Sugala langsung menggebah kudanya menuju ke kedai itu
,"dasar Sugala ,"ucap Sugati sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sugala itu.
Tak lama kemudian mereka pun menyantap makanan yang mereka pesan,tiba tiba uhuuk...uhuuk... Sugala tersedak,
"makanya kalau makan itu pelan-pelan,"ucap Sugati,"soalnya makanannya enak sekali jadi mana bisa aku makan pelan,"jawab Sugala,
"dasar kamu ini,"ucap Sugati sambil melanjutkan makannya.
"Apakah masih jauh perjalanan kita ini Sugati,perasaan dari kemarin kita tidak juga sampai,"tanya Sugala sambil makan,
"mungkin tidak lama lagi kita akan sampai di wilayah Martapura,"jawab Sugati,
"kamu itu kalau di tanya jawabnya selalu begitu tidak jelas,"kata Sugala protes,
"makanya cepat kau habiskan makanan mu biar kita bisa langsung melanjutkan perjalanan kita ini,"jawab Sugati,
"apa kamu tidak lihat aku sudah selesai makan dari tadi,"ucap Sugala sambil menunjukkan piringnya,"ya sudah kalau begitu cepat kau bayar terus kita pergi,"kata Sugati,
karena tidak ingin terus berdebat akhirnya Sugati pun mengalah lalu membayar makanan itu dan terus melanjutkan perjalanannya.
Sementara itu Nyi Sarweda dan kedua muridnya yaitu Lasmini dan Rukmini telah melakukan perjalanan menuju ke Martapura untuk mencari kedua pendekar dari gunung Merapi itu.
Rupanya mereka juga mengambil arah yang sama seperti Luka jaya yaitu ke arah Martapura.
"Apakah kalian tidak salah lihat kalau kedua orang itu benar -benar menuju ke Martapura,"tanya Nyi Sarweda,
"karena saya lihat dia menuju ke arah barat guru,"jawab Lasmini,
"benar guru saya juga melihatnya,"ujar Rukmini,
"Apa kira-kira kitab itu ada di sekitar Martapura guru "tanya Lasmini,
"bisa ya bisa tidak, tapi menurut ku kemungkinan besar ada di wilayah Martapura,"jawab Nyi Sarwenda,
"lebih baik kita percepat jalan kita jangan sampai kita kedahuluan orang lain untuk menemukan pemuda itu,"ucap Nyi Sarweda lalu memacu kudanya dengan kencang.
Dengan harapan sebesar gunung Nyai sarweda menggebah kudanya dengan cepat agar cepat sampai di Martapura.
__ADS_1
Di istana Martapura
Setelah dirinya di angkat menjadi panglima perang Martapura , Ariani Dewi pun meminta Rangga untuk melatih cara menyempurnakan ilmu pedangnya,dan pada hari itu Rangga Rangga pun memenuhi permintaannya.
Dengan di temani oleh Dewi Sekar rangga pun melatih Ariani Dewi belakang istana Martapura.
"Sekarang coba kau tunjukkan jurus tebasan seribu pedang yang telah kakek guru ajarkan pada mu,"perintah Rangga,
"baik yang mulia ,"jawab Ariani Dewi.
Lalu Ariani Dewi pun memasang kuda-kuda dan langsung memperagakan jurus tebasan seribu pedang itu di depan Rangga, dengan cermat Rangga memperhatikan setiap gerakan yang Ariani Dewi lakukan,ia mengangguk-angguk setelah melihat seluruh gerakan Ariani Dewi itu.
Tak berapa lama kemudian ia pun selesai memperagakan jurus itu,
"bagaimana yang mulia,"tanya Ariani Dewi,
",aku rasa semua gerakan mu sudah benar,"jawab Rangga,
"menurut yang mulia apa yang harus saya tingkat mengenai jurus ini,"tanya Ariani Dewi,
"saya kira untuk kecepatannya masih belum kau kuasai" jawab Rangga,
"maksud yang mulia,"tanya Ariani Dewi.
"Ingat Ariani ,untuk menggunakan jurus tebasan seribu pedang ini, gerakan tangan mu harus lebih cepat dan bervariasi ,"ucap Rangga menjelaskan.
"Sekarang coba kau serang aku dengan jurus tadi keluarkan seluruh kekuatan mu dan kau tingkat kan lagi kecepatan gerakan mu,"ucap Rangga,
"baik yang mulia,"ucap Ariani Dewi.
Lalu Ariani Dewi pun kemudian menyalurkan tenaga dalamnya pada Pedangnya,ia pun langsung melesat cepat ke arah Rangga dan menyerangnya ,
melihat serangan yang datang itu, Rangga pun lalu mengeluarkan dua pedang kembarnya lalu kemudian menangkis serangan Ariani Dewi itu, ting...ting....ting bunyi pedang terdengar bersahutan ,
Ariani Dewi terus meningkatkan tempo serangnya ,
Rangga pun menghindari dan menangkis serangan itu, kemudian ia melompat melewati Ariani Dewi dan tepat mendarat di belakangnya ,
lalu ia segera mengarahkan pedangnya ke Ariani Dewi, namun dengan gerakan yang cepat Ariani Dewi memutar pedangnya untuk menghalau serangan pedang Rangga itu ,lalu ia balik menyerang Rangga .
"Cukup Ariani saya kira sudah cukup ,"ucap Rangga,
"lalu bagaimana dengan gerakan saya tadi yang mulia"tanya Ariani Dewi,
"Ya seperti itulah gerakan yang saya maksud,"ucap Rangga,
__ADS_1
"apakah berarti jurus pedang saya ini telah sempurna yang mulia"tanya Ariani Dewi,
"benar jurus pedang mu telah sempurna,"jawab Rangga.