Pendekar Pedang Kembar

Pendekar Pedang Kembar
MENUNDA KE MARTAPURA


__ADS_3

"Kemana perginya penyusup itu , cepat sekali larinya"ucap Gautama tampak kesal,


tak lama kemudian Sancang muncul dari arah sampingnya yang juga tampak menunjukkan wajah kesal,


"bagaimana Sancang apa kau melihat penyusup itu"tanya Gautama,


"tidak Gusti sepertinya penyusup itu ilmunya sangat tinggi"ucap Sancang,


"lapor Gusti kami tidak menemukan orang itu"kata prajurit yang tadi mengejarnya,


"memang sulit mencari orang di suasana gelap seperti ini"ucap Sancang,


"sebaiknya kita kembali saja ke istana"ucap Gautama kemudian melesat cepat dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh.


Di dalam istana Kumaya saat itu Ki Jamprang tampak kesal setelah melihat kamar nya di acak acak oleh Lingga,


"Kurang ajar penyusup itu benar-benar keterlaluan berani berani nya masuk ke kamar ku"ucap Ki Jamprang dengan berang,


"apakah ada sesuatu yang hilang ayah"tanya Sariti Ningrum,


"tidak ada barang yang hilang satu pun Sariti"jawab Ki Jamprang ,


"lalu apa tujuan dari penyusup itu datang kemari kakek"tanya Brajadewa,


"Entahlah aku tidak tahu itu Brajadewa"jawab Ki Jamprang kakeknya,


"kami tidak menemukan penyusup itu ayah, ternyata orang itu berilmu tinggi"kata Gautama, setelah sampai di dalam istana,


"benar Gusti sepertinya dia bukan orang biasa"tambah Sancang.


"Ini benar-benar memalukan Gautama,dari sekian banyak prajurit di sini kita bisa kecolongan"ucap Ki Jamprang tampak berang,


"Mulai sekarang kita harus memperketat penjagaan agar kejadian ini tidak terulang lagi, mau taruh di mana muka ku jika berita ini sampai ke istana "lanjut Ki Jamprang.


"menurut Gusti apa tujuan dari penyusup itu"tanya Sancang,


"Itulah yang dari tadi saya bicarakan dengan Sariti dan Brajadewa apa tujuan penyusup itu, karena tidak ada satu pun barang yang dia ambil"terang Ki Jamprang,


"pasti dia itu mata mata ayah"ucap Gautama,


"ya kurasa kau benar Gautama,lalu siapa yang mengirim orang itu"tanya Ki Jamprang,


"Apakah Argara ayah"ucap Gautama,


"kemungkinan begitu, tapi apa tujuan Argara memata matai kumaya apakah mereka aku melakukan penyerangan ke sini"ucap Ki Jamprang,


"sebaiknya kita cepat kirim tilik sandi ke sana supaya kita tahu apakah mereka benar-benar mau melakukan penyerangan atau tidak ayah"usul Gautama.


"Sancang cepat kau kirim tilik sandi untuk memastikan apakah Argara bersiap untuk menyerang kemari atau tidak"perintah Ki Jamprang,


"baik Gusti akan hamba laksanakan sekarang juga"jawab Sancang,ia lalu segera pergi.


"berhubung hari sudah larut saya mau istirahat dulu ayah"ucap Sariti Ningrum ,


"aku juga kakek "ucap Brajadewa,


"baiklah silahkan"ucap Ki Jamprang.


Setelah berpamitan dengan ayahnya Sariti Ningrum dan Brajadewa pun segera meninggalkan Ki Jamprang dan Gautama dan tak lama kemudian Gautama pun juga minta diri untuk beristirahat.


DI MARTAPURA


Senopati baru Martapura yaitu Kencana Loka pagi tampak semangat sekali hari itu berkali-kali ia melompat ke sana kemari dengan pedang di tangannya, rupanya ia sedang melatih ilmu pedangnya walaupun umurnya sudah tidak muda lagi tapi gerakan nya masih terlihat cepat dan gesit.


hiiiaat... duuuaaarrr.... Kencana Loka terlihat berjumpalikkan di udara setelah melepas kan pukulan nya.


huuuuup.... huuuuup.... kencana Loka mengatur pernafasannya,


"setelah lama tidak latihan baru latihan sebentar rasanya pegal semua badan ku"ucap Kencana Loka,


tak lama kemudian muncullah dari dalam seorang wanita dengan membawa nampan yang di atasnya berisi gelas ,kendi dan juga ketela rebus dia adalah Sari seorang pelayan yang tadi di suruh nya untuk membawakan minuman padanya,


"ini minuman dan ketela rebusannya Gusti"ucap Sari ketika melihat kencana Loka sudah selesai latihan.


mendengar panggilan Sari itu Kencana Loka kemudian membalikkan badannya dan segera menghampirinya.


"tepat sekali kau datang nya sari disaat latihan ku selesai"ucap Kencana Loka,


"jangan salah Gusti biar begini begini saya kan juga sakti"cloteh Sari,


"Oh ya"ucap Kencana Loka pendek,


"buktinya saat Gusti Kencana Loka latihannya baru selesai saya tepat sampai sini"ucap Sari


"iya juga ya kenapa aku tidak sadar akan hal itu ya Sari"ucap Kencana Loka sengaja membuat Sari senang.


"Perasaan tadi aku bilang di bawakan air putih kenapa ada ketela rebus nya Sari"goda Kencana Loka,


"karena aku sakti Gusti jadi setelah latihan aku tahu pasti Gusti lapar jadi sengaja aku bawakan ketela rebus ini kemari"ucap Sari ,


"oh jadi begitu karena sakti"ucap kencana Loka sambil mencicipi ketela rebus itu,


"Apakah ketela rebus nya enak Gusti"tanya Sari,


"enak apalagi di makan saat lapar begini"ucap Kencana Loka,


"itu karena saya yang merebusnya Gusti"ucap Sari,


"oh...aku kira karena kamu sakti sari"seloroh Kencana Loka,


"Ah .. Gusti bisa saja berkata begitu"ucap Sari merasa malu,


"Sari bagaimana keadaan Gusti permaisuri"tanya Kencana Loka,


"sepertinya hari kelahirannya semakin dekat Gusti karena perutnya sudah sering sakit-sakitan"terang Sari,


"jadi begitu , baik lah sari terima kasih untuk makanan dan minuman nya"ucap Kencana Loka segera meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


sementara itu di Kepatihan Arya Soma , Wiro Kusumo dan istrinya Dewi Kara tampak sedang terlibat perbincangan hangat pagi itu.


"menurut paman apakah Gusti prabu mengalami kesulitan saat ini di Argara karena sudah hampir dua puluh satu hari kenapa Gusti prabu masih belum kembali juga"ucap Arya Soma minta pendapat,


"kalau mengalami kesulitan saya kira tidak Gusti Patih mungkin ada sesuatu hal yang membuat Gusti prabu tidak segera kembali ke Martapura"ucap Wiro Kusumo,


"Apa tidak sebaiknya kanda kirim utusan ke sana saja aku takut kalau terjadi apa apa di Argara kanda"ucap Dewi Kara,


"Kau benar dinda tapi kita tunggu beberapa hari lagi jika Gusti prabu belum juga kembali aku akan segera kirim utusan ke sana"ucap Arya Soma,


tidak jauh dari Kepatihan tampak Kencana Loka terlihat sedang menodongkan pedangnya pada leher seseorang,


"cepat jalan atau putus leher mu dengan pedang ku ini"ancam Kencana Loka,


Arya Soma yang melihat itu segera bangun dari duduknya, begitu juga dengan Dewi Kara dan Wiro Kusumo juga melakukan hal yang sama,


"itu paman Kencana Loka dengan siapa"tanya Arya Soma,


"kita tunggu saja di sini Gusti"ucap Wiro Kusumo,


tak lama kemudian sampailah Kencana Loka di tempat itu,


"Siapa orang itu paman"tanya Arya Soma,


"hamba menangkap dia sewaktu dia sedang mengendap-endap di balik tembok Gusti"ucap Kencana Loka,


"pasti dia mata mata Gusti "ucap Wiro Kusumo,


"siapa kamu dan apa yang kau lakukan di istana ini Ki sanak"tanya Arya Soma,


tapi orang itu tak juga mau membuka mulutnya hanya diam saja,


"jadi kau tidak mau bicara ya , baiklah paman Wiro Kusumo cepat geledah orang ini"perintah Arya Soma,


"baik Gusti Patih"jawab Wiro Kusumo,ia pun lalu menggeledah orang itu,


setelah beberapa saat menggeledah orang itu Wiro Kusumo menemukan pisau kecil dan sebuah pluit dari bambu.


"cuma ini yang hamba temukan Gusti"ucap Wiro Kusumo,


"kalau begitu lepaskan dia paman"ucap Arya Soma, setelah melihat barang barang itu.


"tapi Gusti "ucap Kencana Loka dan Wiro Kusumo hampir bersamaan nampak tidak setuju,


"apa paman berdua tidak mendengar perintah saya lepaskan dia "ucap Arya Soma mengulangi perkataannya,


"baik Gusti ucap "ucap Kencana Loka segera melepaskan orang itu dengan terpaksa,


"pergilah kau sesuka hati dan ambil barang barang mu"ucap Arya Soma.


dan orang itu pun segera pergi dengan berlari dari Kepatihan itu,


"kenapa Gusti Patih melepaskan orang itu begitu saja bukan kah dia...


"Aku pergi dulu paman huup..."ucap Arya Soma memotong perkataan Wiro Kusumo dan segera melesat meninggalkan mereka di Kepatihan.


"ya kau benar Kencana Loka awalnya saya sempat tidak setuju Gusti Patih membiarkan orang itu di lepaskan begitu saja"ucap Wiro Kusumo,


"memangnya ada apa dengan orang itu paman"tanya Dewi Kara tidak mengerti,


"begini Gusti Dewi hanya seorang mata mata atau tilik sandi lah yang membawa barang barang seperti itu"terang Wiro Kusumo,


"jadi prajurit tadi adalah seorang mata mata paman benar Gusti Dewi"ucap Kencana Loka,


"jadi kanda Patih sengaja melepaskan dia lalu mengikuti nya begitu Paman"tanya Dewi Kara,


"ya Gusti , Gusti Patih benar benar pintar seperti ayahnya prabu Dungga"ucap Wiro Kusumo,


setelah dilepas kan oleh Arya Soma penyusup itu segera menaiki kuda kudanya yang ia ikat di hutan yang letaknya tidak jauh dari istana Martapura.


Tanpa banyak berfikir orang itu langsung menggebah kudanya dengan cepat menuju ke arah timur masuk ke tengah hutan, tidak berapa lama kemudian sampailah orang itu di tengah hutan sebelah timur,


dengan cepat cepat orang itu segera mengikat kudanya dan masuk ke dalam sebuah gubuk yang berukuran cukup sedang itu,ternyata di dalam gubuk itu ada lima orang yang sedang menunggunya.


"Ada apa kamu Sarpo kenapa seperti orang kesetanan"tanya temannya wirka


namun orang itu tidak menjawab pertanyaan temannya itu,malah mengambil air minum karena merasa kehausan.


"Aku ...aku tadi tertangkap di Martapura"ucap Sarpo dengan gagap,


"apa....kau tertangkap di Martapura"l!! tanya teman temannya dengan terkejut.


"benar tapi untungnya nya aku di lepaskan lagi"ucap orang itu,


mendengar itu semua teman temannya pun saling pandang dan mengangguk,


"Kalau aku jadi kamu aku tidak akan lari kemari Sarpo"ucap Wirka dengan menatap tajam,


"Apa maksudmu Wirka"tanya Sarpo tidak mengerti maksud temannya itu.


"Kamu tahu apa yang kau lakukan salah besar Sarpo, dengan larinya kamu kemari berarti kau sudah menunjukkan pada mereka tempat kita ini"ucap Wirka,


mendengar perkataan Wirka itu Sarpo pun merasa terkejut dan membenarkan perkataan Wirka tadi,


"kalau begitu cepat kita pergi dari sini"ucap Sarpo,


"tidak Sarpo kita berlima akan pergi nanti setelah kau pergi dulu ke neraka"ucap Wirka dengan senyum menyeringai,


melihat gelagat yang kurang bersahabat itu Sarpo bersiap siap dengan kemungkinan yang bakal terjadi,


"Serang dia "teriak Wirka kepada teman temannya,


Sarpo segera berdiri langsung berlari keluar gubug itu,


"kau tidak pantas hidup Sarpo kita tidak butuh orang bodoh seperti kamu"ucap Wirka,


"ya benar kau hanya akan membawa sial bagi kami"tambah teman nya,

__ADS_1


"celaka mereka benar benar mau membunuh ku"ucap Sarpo dalam hati setelah melihat mereka mengepung dirinya.


hiiiaat... Wirka segera menyerang Sarpo dengan pedangnya ,Sarpo cepat cepat menundukkan kepalanya mengindari sabetan pedang Wirka itu,tapi dari arah belakangnya sebuah tendangan meluncur bebas mengenai nya dengan telak, tak ayal lagi bagi Sarpo ia pun jatuh tersungkur,


melihat keadaan Sarpo terjatuh itu Wirka segera menyerang Sarpo secara bertubi-tubi tanpa mengenal ampun hingga membuatnya babak belur tak karuan,


"pergilah ke neraka Sarpo"ucap Wirka sambil mengayunkan pedangnya ke arah Sarpo,di saat pedang Wirka tinggal sejengkal mengenai tubuh Sarpo tiba-tiba sebuah batu meluncur membentur pedangnya itu hingga terpental,


"kurang ajar perbuatan siapa ini"ucap Wirka dengan marah,


"pasti ada orang lain di sekitar sini"ucap temannya,


"tapi di mana dia "tanya Wirka sambil mengedarkan pandangannya,


"Apakah kalian mencari ku "ucap orang itu tiba-tiba yang tidak lain adalah Arya Soma,


"jadi itu ulah mu kurang ajar"teriak Wirka dengan amarah yang meluap-luap,


"kau yang kurang ajar, beraninya kalian memasuki wilayah Martapura seenaknya"ucap Arya Soma,


"memangnya siapa kamu dan apa hak mu"ucap Wirka tidak mau kalah,


"dengar baik-baik aku Arya Soma Patih dari kerajaan Martapura "ucap Arya Soma.


Mendengar itu kelima orang itu pun terkejut bukan main,


"siapa pun kamu kami tidak gentar "ucap Wirka padahal dalam hatinya berkata lain.


"Dan perlu kalian semua ketahui siapa pun yang punya maksud tidak baik dengan Martapura maka jangan harap dia punya kesempatan untuk melihat hari esok"ucap Arya Soma.


"Serang ...!!!"teriak Wirka, keempat temannya pun segera menerjang Arya Soma bersama sama.


Tak mau membuang waktu Arya Soma segera mengeluarkan pukulan kilat petir nya hiaaaat... duuuaaarrr.. duuuaaarrr akhirnya mereka berlima pun tewas seketika dengan tubuh gosong.


"Itulah hukuman kalian karena punya maksud tidak baik dengan Martapura"ucap Arya Soma sambil menatap tubuh mereka berlima yang telah hangus.


Setelah puas memandangi tubuh mereka Arya Soma segera menghampiri Sarpo yang tergeletak pingsan itu.


Setelah tahu Sarpo masih hidup Arya Soma pun segera membawa nya ke Martapura dengan naik kuda.


DI ARGARA


"Ada apa Ki sanak "tanya seorang prajurit .


"Aku mau bertanya apakah Gusti prabu Rangga masih di sini"tanya orang itu,


"benar siapa Ki Sanak ini dan ada keperluan apa dengan Gusti prabu Rangga"tanya prajurit itu.


"katakan pada Gusti prabu Rangga bahwa Lingga ingin menghadap "ucap orang itu yang tidak lain adalah Lingga,


"baiklah Ki sanak tunggu di sini"ucap prajurit itu kemudian cepat cepat berlalu dari tempat itu.


Lingga tampak mondar mandir di depan istana Argara itu karena prajurit itu belum juga kembali ,


"jika masih belum juga datang terpaksa aku lompati pagar ini"ucap Lingga,


"maaf kan saya Gusti Senopati yang tidak tahu siapa Gusti sebenarnya"ucap prajurit itu segera membuka pintu gerbang dan Lingga pun bergegas masuk ke dalam.


"hormat saya Gusti prabu dan raja Bargola"ucap Lingga setelah berada di hadapan Rangga dan raja Bargola.


"ya duduklah lingga,dan katakan ada apa kau bisa sampai kemari"ucap Rangga.


"begini Gusti hamba mau melapor tentang penyelidikan hamba"ucap Lingga,


"jadi kamu sudah menemukan tentang asal usul medali itu"tanya Rangga terlihat semangat sekali,


"benar Gusti , ternyata hancurnya kerajaan di sekitar sini adalah karena ulah dari raja Kala Murka Gusti prabu"terang Lingga,


Rangga langsung menoleh ke mertuanya mendengar perkataan Lingga itu,


"jadi maksud kamu raja Kala Murka dari kerajaan Bulan Merah begitu kah Lingga"tanya raja Bargola,


"begitulah Gusti"jawab Lingga,


"bukan kah kerajaan Bulan Merah sudah menyatakan menutup diri dan tidak akan mencampuri urusan kerajaan lain mengapa tiba-tiba saja mereka bertindak seperti itu,ini benar benar aneh"ucap raja Bargola,


"biar Gusti prabu yakin hamba punya bukti nya dan ini hamba temukan di Kumaya"ucap Lingga lalu segera mengambil sesuatu dari balik bajunya,


melihat benda yang di perlihatkan Lingga itu Rangga pun terbelalak ,


"bukan kah medali yang ku berikan pada mu itu perunggu kenapa berubah menjadi perak , jangan jangan kau..


"benar Gusti hamba sengaja menukar medali perunggu dengan medali perak ini"ucap Lingga memotong pembicaraan Rangga.


"aku tidak habis pikir bagaimana marah nya orang itu setelah tahu bahwa medalinya berubah"ucap Rangga sambil geleng-geleng kepala,


"ada hal yang harus Gusti prabu tahu, ternyata di Kumaya sudah terdapat pasukan yang jumlahnya cukup besar Gusti"terang Lingga,


"Apakah mereka berniat untuk menyerang kemari Lingga"tanya Rangga,


"menurut dari yang hamba dengar seperti tidak Gusti "ucap Lingga,


"Romo seperti nya keberangkatan ku ke Martapura harus ku tunda dulu"ucap Rangga tiba-tiba,


"Kenapa anak Prabu berubah pikiran , apakah ada sesuatu yang akan anak prabu lakukan"tanya raja Bargola,


"benar romo aku akan melakukan sesuatu"jawab Rangga,,


"Lingga kau tentu lelah sebaiknya istirahat lah dan besok kembali lah ke Martapura , katakan pada kanda Arya Soma bahwa kepulangan ku ke Martapura mungkin agak sedikit lama"ucap Rangga,


"baik Gusti,maaf Gusti kenapa dari tadi Ariani Dewi dan Pandan Wangi tidak terlihat"tanya Lingga,


"Ariani Dewi sedang menemani Pandan Wangi di kamarnya karena saat ini ia tengah terluka akibat pertempuran kemarin"ucap Rangga,


"Jika kau mau menengok silahkan biar prajurit yang menunjukkan kamar nya"tambah Rangga,


"baik Gusti kalau begitu saya akan segera menengoknya"ucap Lingga , lalu ia pun segera menuju ke kamar Pandan Wangi dengan di temani oleh seorang prajurit.

__ADS_1


__ADS_2