Pendekar Pedang Kembar

Pendekar Pedang Kembar
Asal Usul Kitab Pedang Darah (bagian 1)


__ADS_3

"menurut dari yang saya dengar, orang yang mempelajari kitab itu maka dia akan menjadi orang yang mempunyai kemampuan sangat tinggi yang sakti mandraguna serta sulit di cari tandingannya, dengan kata lain dia akan menguasai dunia persilatan ini,"ucap Ki Lukajaya.


"Apakah guru tertarik untuk mendapatkan kitab itu"tanya Durpala,


"Haaa....haaa....haaaa....orang bodoh mana yang mau melewatkan untuk menjadi orang nomor satu di dunia persilatan ini,"kata Ki Lukajaya dengan tertawa setelah mendengar ucapan dari muridnya yang di anggap lucu itu.


Sementara itu di tempat lain.


Setelah menempuh perjalanan tidak kurang dua hari serta melewati beberapa hutan akhirnya sampailah Lasmini dan Rukmini di padepokan lembah jiwa itu,namun mereka terheran-heran karena tempat yang mereka jumpai itu terlihat sepi dan tidak terawat sama sekali.


"Apakah ini benar padepokan lembah jiwa,"tanya Lasmini pada diri sendiri , seakan tidak percaya karena ia tidak melihat orang satu pun di sana.


"Kenapa tempat ini sepi sekali Lasmini,"tanya Rukmini,penuh tanda tanya.


"Aku juga tidak tahu sebaiknya kita masuk kedalam dan memeriksanya"ucap Lasmini,


"kamu benar ayo cepat masuk ,"kata Rukmini dengan tidak sabar.


Lalu mereka berdua pun masuk kedalam padepokan itu, setelah mencari ke sana kemari tidak menemukan orang satu pun lalu mereka duduk di sebuah bangku padepokan itu untuk mengistirahatkan badan mereka yang kelelahan.


"Apakah mereka sudah pindah Rukmini, bagaimana menurut mu"tanya Lasmini,


"ku rasa bisa jadi begitu,kalau di lihat dari keadaan padepokan ini sepertinya mereka sudah lama meninggalkan kan tempat ini,"jawab Rukmini.


Tanpa sepengetahuan mereka berdua ternyata ada sepasang mata yang mengawasi gerak-gerik mereka dari atas pohon yang berdaun lebat dekat mereka duduk.


"Siapa kedua wanita itu dan mau apa mereka di padepokan ini,"ucap orang itu,


"baiklah akan aku terus awasi mereka,"ucap orang itu lagi.


"Lalu apa langkah kita selanjutnya Lasmini,"tanya Rukmini,


"karena hari sudah petang dan sebentar lagi malam sebaiknya kita menginap di sini saja,"jawab Lasmini.


Tak lama kemudian malam pun tiba terdengar bunyi jangkrik dan auman serigala di tengah hutan yang mungkin sedang kelaparan,


sementara itu di halaman padepokan lembah jiwa terlihat Lasmini dan Rukmini sedang duduk didekat perapian untuk menghangatkan badan mereka.


"Aku jadi penasaran dengan mereka ,apa sebaiknya aku temui saja mereka,"tanya orang itu pada dirinya, karena merasa penasaran akhirnya orang itu pun turun dari atas pohon dan langsung melompat , dan mendarat di dekat mereka, sontak saja mereka kaget dan langsung bersiap mencabut pedangnya.


"Tunggu aku tidak bermaksud jahat pada kalian,"kata orang itu,


"kedatangan mu sangat mengagetkan kami cepat katakan siapa kamu dan mengapa kau berada di padepokan ini,"tanya Lasmini dengan garang,


"seharusnya saya yang bertanya bukan kalian,"jawab orang itu,


"apa maksud mu,"tanya Rukmini tidak bisa tinggal diam,


"aku adalah murid dari padepokan ini dan siapa kalian,"tanya orang itu,

__ADS_1


"kami dari padepokan Mawar Hitam nama ku Lasmini dan ini saudara seperguruan ku Rukmini, kami di suruh guru datang kemari untuk bertemu dengan Ki Manggala,"jawab Lasmini,


"lalu siapa nama kisanak ,"ucap Lasmini balik bertanya,


"nama saya Subadra"jawab orang itu.


"Kalau begitu kamu tentu tahu di mana Ki Manggala berada,"tanya Rukmini,


Subadra tidak langsung menjawab pertanyaan Rukmini itu ia terlihat sedih jika teringat akan gurunya,


"kalian terlambat guru saya sudah tiada ia sudah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu,"kata Subadra dengan sedih.


"Apa..!! lalu siapa yang membunuh Ki Manggala,"tanya Lasmini dengan terkejut.


"Guru saya tewas saat ia membantu Markuraka perang melawan Martapura di hutan Gede,"ucap Subadra,


"bukan kah Ki Manggala itu sakti mandraguna,"tanya Rukmini kepada Lasmini,


"kau benar Rukmini,"jawab Lasmini,


"Apakah kamu tahu berhadapan dengan siapa Ki Manggala waktu itu,"tanya Lasmini,


"ya aku masih ingat waktu itu guru berhadapan dengan patih kerajaan Martapura namanya Arya Soma,"jawab Subadra,


"jadi di padepokan ini hanya kamu seorang saja yang selamat,"tanya Lasmini kemudian,


"benar waktu itu ketika saya melihat guru telah tewas kemudian saya memutuskan untuk melarikan diri dan kembali ke sini,"jawab Subadra,


"aku ingin menjadi lebih kuat dan aku akan membalas kematian guru," jawab Subadra bersungguh- sungguh,


"bagus itulah murid yang berbakti pada gurunya,"ucap Rukmini,


"Subadra karena malam semakin larut kami mau istirahat ,dan kau apakah mau bergabung dengan kami,"tanya Lasmini,


"tidak aku mau pergi ada hal yang harus ku lakukan ,"jawab Subadra kemudian pergi.


Karena hari sudah larut Lasmini dan Rukmini pun memutuskan untuk beristirahat dan Subdara pun pergi dari tempat itu.


Di pagi yang masih remang-remang itu tampak dua kuda sedang berkejar-kejaran, mereka adalah Sugati dan Sugala yang sedang berkuda untuk menunaikan tugas dari gurunya.


Tak lama kemudian Sugati dan Sugala pun memasuki hutan jati dan mereka pun memutuskan untuk beristirahat di hutan itu.


"Apakah Martapura masih jauh dari sini Sugati "tanya Sugala,


"benar kira kira kita membutuhkan waktu dua sampai tiga hari untuk sampai ke sana,"jawab Sugati


"ku dengar Martapura itu dipimpin oleh raja yang masih muda dan sakti mandraguna apa benar begitu ,"tanya Sugala,


"memang benar selain sakti dia juga sangat di cintai rakyatnya,dan juga perlu kau ketahui bahwa selain rajanya sakti mandraguna patihnya juga tidak kalah sakti ,jadi kalau kita sampai di sana sebaiknya kita mengindari hal hal yang bisa membuat berurusan dengan mereka,"jawab Sugati menjelaskan,

__ADS_1


"baiklah aku mengerti,"jawab Sugala,


"lebih baik kita melanjutkan perjalanan karena matahari sudah mulai panas,"kata Sugati,lalu mereka berdua pun meninggalkan tempat itu dan melanjutkan perjalanannya.


Di padepokan Kalajengking tampak Ki Lukajaya sedang duduk termenung seorang diri,ia masih teringat akan cerita Baskara muridnya ,mengenai kitab pedang darah yang kini muncul lagi.


Disaat Ki Lukajaya sedang memikirkan kitab pedang darah itu,tiba tiba ada seseorang mengetuk pintu tok..tok...


"masuk "kata Ki Lukajaya, sesaat kemudian masuklah Baskara,


"ada apa Baskara,"tanya Ki Lukajaya,


" begini guru saya mau memberitahu bahwa kemarin selain saya dan Durpala ternyata ada orang lain yang juga ikut mendengarkan pembicaraan orang itu mengenai kitab pedang darah guru,"ucap Baskara.


"Ini benar-benar akan menjadi suatu yang menarik , mulai sekarang kita harus mempersiapkan diri untuk ikut memburu kitab itu,"ucap Ki Lukajaya, kemudian ia bangkit dari duduknya dan pergi keluar rumah dengan mengajak Baskara untuk ikut dengannya.


Setelah lama menempuh perjalanan pulang dari lembah jiwa sampailah Lasmini dan Rukmini di padepokan Mawar Hitam tempat gurunya.


"Apakah kalian sudah bertemu dengan Ki Manggala ,"tanya Nyi Sarweda, mendengar pertanyaan dari gurunya itu mereka berdua saling melempar pandang,


"kenapa hanya diam cepat jawab pertanyaan ku!!"ucap Nyi Sarweda dengan emosi,


"kami tidak bertemu dengan Ki Manggala guru karena dia sudah tidak ada,"jawab Lasmini dengan rasa takut,


"sudah tidak ada bagaimana maksud mu Lasmini jangan bertele-tele bicara yang jelas!"kata Nyi Sarweda dengan marah,


" Ki Manggala sudah meninggalkan dunia,"ucap Rukmini ,


"apa..!!"teriak Nyi Sarweda dengan terkejut,"benar begitu Lasmini,"tanya Nyi Sarweda dengan amarah mau meledak,


"be..benar guru,"ucap Lasmini dengan terbata-bata.


"Kalian tahu dari mana kalau kakang Manggala sudah meninggal cepat katakan,"ucap Nyi Sarweda dengan tidak sabar.


Kemudian Lasmini menceritakan semua apa yang di dengarnya dari Subadra itu.


"Kurang ajar kau Arya Soma akan ku balas kematian kakang Manggala dengan kematian mu Arya Soma serta akan aku obrak- abrik Martapura,"ucap Nyi Sarweda dengan sangat marah.


"Ampun guru ada sesuatu hal yang akan aku tanyakan pada guru"kata Lasmini ,


"pertanyaan apa Lasmini cepat katakan jangan membuat ku tambah marah,"ucap Nyi Sarweda,


"begini guru kemarin aku mendengar seseorang menyebut tentang kitab pedang darah,apa guru tahu tentang kitab itu,"ucap Lasmini.


"Apa..!! kitab pedang darah kata mu.!!"ucap Nyi Sarweda dengan teramat terkejut,


"benar guru" jawab Lasmini,


"di mana kalian mendengar tentang kitab pedang darah itu,"tanya Nyi Sarweda kepada mereka berdua. Lasmini pun kemudian menceritakan di mana ia mendengar tentang kitab pedang darah itu pada gurunya dengan jelas.

__ADS_1


Nyi Sarweda tampak manggut-manggut setelah mendengar cerita dari Lasmini itu,


"ternyata setelah sekian lama menghilang kini kitab itu muncul kembali,",ucap Nyi Sarweda


__ADS_2