
"Saya sangat berterimakasih pada kalian berdua telah mengusir perempuan tua itu,"ucap Sugati,
"ku dengar perempuan tadi itu , menyebut tentang kitab,apa kalian mengetahui tentang kitab itu"tanya Pandan Wangi, mendengar itu Sugati dan Sugala pun saling berpandangan timbul rasa curiga di pikiran mereka,
"kalian tak perlu curiga pada kami, karena kami berdua tidak bermaksud untuk memiliki kitab itu"ucap Pandan Wangi, setelah melihat keraguan di mata Sugati dan Sugala.
"Kalau saya boleh tahu siapa kalian sebenarnya,"tanya Sugala,
"supaya kalian yakin aku akan menjelaskan pada kalian berdua ,kami berdua adalah utusan yang mulia Rangga dari kerajaan Martapura untuk mencegah kitab itu agar tidak jatuh ke tangan orang orang jahat,jadi kalian tidak perlu curigai pada kami"ucap Pandan Wangi menjelaskan,
"benar kami di utus yang mulia untuk memastikan kitab itu baik baik saja ,nama ku Ariani Dewi dan dia Pandan Wangi", imbuh Ariani Dewi memperkenalkan dirinya,
mendengar itu Sugati dan Sugala pun menjadi lega, karena mereka berdua di pihaknya, mereka berdua pun memperkenalkan diri mereka.
"aku Sugala dan dia Sugati,kamu di suruh guru untuk menemukan kitab itu, karena menurut ramalan guru kitab itu akan menimbulkan kekacauan di zaman ini"ucap Sugala menerangkan,
"jika begitu izinkan kami untuk menyertai perjalanan kalian, karena kami khawatir orang orang seperti Nyi Sarweda akan bermunculan untuk memperebutkan kitab itu,"ucap Ariani Dewi,
"Baiklah kami merasa tidak berkeberatan bahkan kami sangat senang dan berterima kasih,"ucap Sugati,
"Sebaiknya kita cepat bergerak"ucap Pandan Wangi,
"benar ayo kita berangkat,"ucap Sugati.
Tanpa banyak cakap lagi keempat orang itu kemudian berjalan meninggalkan tempat itu,namun tanpa sepengetahuan mereka serigala Merah terus menguntit mereka secara diam-diam.
...----------------...
Di Martapura siang itu Rangga dan Arya Soma tampak sedang bersiap-siap untuk segera berangkat menyusul Ariani Dewi dan Pandan Wangi, "prajurit cepat siapkan dua ekor kuda untuk aku dan dinda prabu,"perintah Arya Soma,
"baik gusti "jawab prajurit itu,tak lama kemudian Rangga muncul dari dalam menghampiri Arya Soma,"mari kita berangkat kanda,"ucap Rangga,
" kita tunggu prajurit yang sedang menyiapkan kuda untuk kita dinda prabu"jawab Arya Soma,
"tidak perlu kanda lebih baik kita jalan kaki saja biar kita bergerak dengan senyap"ucap Rangga.
"Jika itu yang dinda prabu inginkan baiklah,"ucap Arya Soma,
"kita jangan menunda-nunda lagi kanda ayo cepat bergerak,aku takut Ariani Dewi dan Pandan Wangi dalam kesulitan,"ucap Rangga,lalu melesat cepat kemudian Arya Soma pun mengikutinya .
...****************...
Terlihat seseorang orang berdiri dengan wajah tertutup kain hitam serta pedang panjang dan besar di bahunya,ia menatap jauh ke depan terlihat potongan bajunya berkibar diterpa angin ,dia adalah si jubah hitam seorang tokoh aliran hitam yang sangat menakutkan,tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki mendekati orang itu.
"saya mau melapor tuan ku,"ucap Ki Sumpit,"cepat katakan ada apa,"ucap si jubah dengan dingin.
" mereka hampir sampai tuan dan mereka mendapat pengawalan dua orang gadis dari kerajaan Martapura,"ucap Ki Sumpit,
"jangan bergerak dulu sebelum kitab itu di tangan mereka ,tetap awasi mereka secara diam-diam sumpit,"ucap si Jubah Hitam,
"baik tuan ,"ucap Ki Sumpit segera pergi .
"Seandainya tidak ada kabut itu pasti aku bisa mengambil kitab itu dan mungkin sudah sejak lama aku menguasai dunia persilatan ini dan menghancur leburkan Martapura,"ucap si Jubah Hitam dengan mengepalkan tangannya.
"Bagaimana pun inilah saatnya aku akan mewujudkan cita-cita ku itu "lanjut Jubah Hitam kemudian ia pun menghilang.
Pagi itu di sebuah hutan Pandan Wangi dan Ariani Dewi tampak sedang menghangatkan badan mereka di dekat perapian karena udara di tempat itu masih terasa sangat dingin"apakah gua itu masih jauh Ariani,"tanya Pandan Wangi,
"ku rasa tidak, tapi biar jelas kita tanyakan saja nanti pada mereka berdua,"ucap Ariani Dewi,
__ADS_1
Tak lama setelah itu muncullah Sugati dan Sugala dengan membawa dua ekor ayam hutan, yang sudah siap di bakar karena Sugati dan Sugala telah membersihkan bulu-bulunya.
"Kita bakar ayam ini lalu segera kita lanjutkan perjalanan,"ucap Sugala dengan semangat lalu ia segera meletakkan ayam itu di perapian.
"Pasti enak ayam ini "ucap Pandan Wangi.
"Sudah pasti apa lagi di saat lapar begini"ucap Sugati.
"perjalanan kita sebentar lagi akan sampai jadi bersiaplah dengan kemungkinan -kemungkinan yang bakal terjadi "kata Sugati,sambil membolak-balik ayam itu,
"kira-kira seberapa jauh dari sini gua itu" tanya Pandan Wangi ,
"kira-kira setengah hari lagi perjalanan kita akan sampai menurut peta ini Wangi"jawab Sugati.
"Sebaiknya kita jangan berlama-lama di sini , karena aku yakin pasti sekarang ini tidak hanya kita yang menuju ke sana"ucap Pandan Wangi.
"Benar apa yang Wangi katakan kita harus bergegas"ucap Ariani Dewi.
"Jika begitu setelah perut kita terisi segera kita lanjutkan perjalanan"ucap Sugati.
Tak lama kemudian ayam bakar pun matang , mereka berempat segera menikmati ayam hutan yang sudah matang itu dengan lahap.
Lalu mereka berempat melanjutkan perjalanannya setelah menghabiskan ayam bakar itu, setelah melewati hutan dan menyeberangi sebuah sungai dan kemudian masuk hutan lagi tibalah mereka di gua yang mereka tuju.
"Apakah ini guanya"tanya Sugala,
"menurut petunjuk dari peta ini tidak salah lagi benar gua ini,"jawab Sugati dengan mantap,
"cepatlah kalian masuk biar aku dan Pandan Wangi yang berjaga di luar,"ucap Ariani Dewi,
"baiklah ayo cepat Sugala,"ucap Sugati langsung berlari masuk ke dalam gua itu.
"ada apa Sugala "tanya Sugati,
"apa kau tidak curiga dengan tempat gua ini,"tanya Sugala.
"curiga bagaimana maksud mu,"tanya Sugati,
" Sugati bekas kayu obor ini,"ucap Sugala sambil menunjuk kayu bekas obor kepada Sugati,
"jangan -jangan kitab itu ......tanpa menyelesaikan kata katanya Sugati langsung berlari masuk kedalam gua itu,
Pandan Wangi dan Ariani Dewi yang berjaga-jaga di luar itu nampak gelisah karena
sudah hampir sepeminum teh mereka berdua belum juga keluar dari dalam gua.
"kenapa mereka lama sekali Wangi,"tanya Ariani,
"bagaimana kalau kita susul mereka ,"ucap Pandan Wangi,
"baiklah ,"ucap Ariani Dewi lalu mereka pun langsung menyusul Sugati dan Sugala masuk ke dalam gua .
"Bagaimana Sugala apakah kalian sudah menemukan kitab itu,"tanya Ariani setelah sampai di dalam melihat Sugala tampak kebingungan.
"kami belum menemukan kitab itu,"ucap Sugati dengan tangannya terlihat memegang sebuah peta,
"apakah kita salah gua,"tanya Ariani Dewi,
"tidak mungkin karena menurut peta ini,gua inilah tempat kitab itu berada,"ucap Sugati tanpa keraguan,
__ADS_1
"Kalian cepat kemari"teriak Pandan Wangi, mendengar teriakkan itu mereka bertiga segera menghampirinya.
"Ada apa Wangi "tanya Ariani Dewi.
"Ini lihatlah,"ucap Pandan Wangi sambil menunjukkan peti kosong kepada mereka bertiga,
"apakah menurut mu peti ini ada hubungannya dengan kitab itu,"tanya Sugati .
"kemungkinan ya "jawab Pandan Wangi,
"jadi menurut mu kitab itu sudah di temukan orang, lalu orang itu pergi dan sengaja meninggalkan peti kosongnya di sini, ucap Ariani Dewi setengah bertanya.
"Ya aku rasa begitu, karena kalian bisa lihat sendiri di sini ada bekas obor,"ucap Pandan Wangi.
"Aku sependapat dengan kamu Wangi,"ucap Sugati,
"Apa kalian sudah mencarinya ke segala penjuru gua"tanya Ariani Dewi,
"sudah tujuh kali kami bolak-balik mencarinya tapi tidak menemukan apa-apa"jawab Sugala,
"dari awal masuk ke sini aku sudah curiga dengan gua ini,"ucap Sugati dengan rasa kecewa karena tidak bisa menjalankan perintah gurunya dengan baik.
"Curigai bagaimana maksud mu,"tanya Pandan Wangi,
"guru pernah bilang selama kitab itu masa ada di tempatnya ,maka akan ada kabut yang melindunginya akan tetapi jika yang datang itu adalah pewaris dari kitab itu ,maka kabut itu akan menghilang dengan sendirinya dan seperti yang kalian lihat di sini tidak ada kabut apa pun yang muncul"ucap Sugati.
Mendengar perkataan Sugati itu Pandan Wangi tampak diam dan berfikir tentang kejadian di gua itu.
"Aku boleh bertanya tentang guru mu Sugati,"ucap Pandan Wangi,
"silahkan kau mau tanya apa,"jawab Sugati,"kenapa guru mu bisa tahu akan tentang gua ini,"tanya Pandan Wangi,
"baiklah akan ku ceritakan tentang guru ku pada kalian berdua"ucap Sugati,
Beliau adalah salah satu dari murid kepercayaan Kilimanggoro, hingga suatu ketika Kilimanggoro terlibat dalam pertarungan menghadapi Danur kencana dan Jaya Laksana dia menyerahkan kitab itu kepada guru saya sebelum pertarungan itu terjadi.
Dan guru kemudian menyembunyikannya kitab itu di sini,"ucap Sugati,"tapi mengapa guru mu tidak berniat memiliki kitab itu,"tanya Ariani Dewi dengan terkejut mengetahui gurunya Sugati dan Sugala itu muridnya Kilimanggoro.
"Guru ku semula memang berniat begitu,tapi setelah ia melihat pertarungan tadi,yang menyebabkan Kilimanggoro terbunuh akhirnya ia mulai sadar ,bahwa setinggi-tingginya orang pasti dapat di kalahkan juga ,guru pun kembali ke gua ini untuk menghancurkan kitab itu tapi tidak sempat karena kejar orang- orang golongan putih dan ia pun melarikan diri sampai ke gunung Merapi,ucap Sugati menjelaskan,
"lalu tentang kabut itu,"tanya Pandan Wangi.
"menurut guru, kabut itu berasal dari kitab itu sendiri dan akan hilang jika kitab itu berjodoh dengan orang yang di ke kehendaknya"kata Sugati,
"kamu bilang kabut itu akan hilang dengan orang yang di kehendaki nya,"ucap Ariani Dewi,
"benar" jawab Sugati,
"seandainya kitab itu masih di sini apa bisa kita mengambil kitab itu karena ada kabut yang melindunginya,"ucap Pandan Wangi,
"mengenai itu guru sudah mengajarkan kepada kami berdua tentang mantra penghilang kabut itu"jawab Sugati.
"Berarti kitab itu sudah benar benar raib dari gua ini"ucap Pandan Wangi dengan penuh keyakinan.
"Ku rasa tidak ada gunanya kita terus di sini sebaiknya kita keluar,"ucap Ariani Dewi setelah tidak menemukan kitab itu .
"Baiklah mari kita keluar dari gua ini,"ucap Sugati sambil melangkah keluar dengan di ikuti oleh Pandan Wangi, Ariani Dewi dan Sugati.
Tanpa mereka sadari di luar gua bahaya sudah menghadap mereka.
__ADS_1