
selamat membaca
Xia'er yang sudah mendengar cerita Menglin hanya bisa tersenyum miris, keadaan dunia ini tidak jauh berbeda dengan dunianya dulu, masih banyak segelintir orang yang selalu menindas orang-orang lemah dengan kekuasaan mereka, dan hal itulah yang paling di benci oleh Xia'er, lebih tepatnya adalah Reynata.
"hmmmm...., ini akan menarik jika nanti kedua Leng bersaudara kembali ke kerajaan ini." ungkap Xia'er dalam hatinya.
"kau bisa kembali sekarang, terimakasih atas informasinya." ucap Xia'er kepada Menglin dan Menglin sendiri langsung meninggalkan meja Xia'er untuk menyiapkan pesanan makanan mereka.
"apa nona akan melakukan sesuatu terhadap orang-orang itu...?" tanya Jiangheeng merasa penasaran dengan sikap apa yang akan nonanya ambil.
"itu tidak ada hubungannya dengan ku, tapi berbeda dengan kedua Leng bersaudara." jawab Xia'er sambil menikmati tehnya.
__ADS_1
"apa maksud nona...?, apa hubungannya saudari Leng dengan ratu kerajaan Wei...?" tanya Jiangheeng semakin penasaran.
"kau akan tau nanti, kau bisa menanyakan langsung kepada mereka." jawab Xia'er yang masa bodoh dengan ekspresi wajah Jiangheeng yang sangat penasaran.
tak lama setelah menunggu, akhirnya pesanan makanan mereka akhirnya datang juga, segera setelah di tata rapi, Xia'er dan juga Jiangheeng langsung menikmati makan siang mereka, setelah selesai menikmati makanan siangnya dengan tenang dan beristirahat sejenak, akhirnya mereka berdua kembali ingin melanjutkan perjalanan, tapi saat mereka sedang menunggangi kuda mereka untuk meninggalkan desa tersebut, terjadi kegaduhan di depan mata mereka.
"tuan..., aku mohon...ampuni putri ku, aku mohon lepaskan dia tuan...." ucap sang wanita paruh baya sambil bersujud memohon kepada seorang pria gendut yang berusia sekitar empat puluh tahun.
"menjauh dariku kau wanita ****** menjijikkan, beraninya kau mengotori bajuku dengan tangan kotor mu itu...." teriak sang pria gendut tersebut sambil menendang si ibu paruh baya tersebut.
"hah......apalagi yang terjadi sekarang...?, tidak bisakah perjalanan ku berjalan dengan mulus tanpa harus melihat adegan memuakkan seperti itu...?" ucap Xia'er dan mendesah dalam hatinya sendiri.
__ADS_1
"nona...., apa kita harus membantu mereka...?" tanya Jiangheeng ingin memastikan.
"kita tidak bisa membantu secara terang-terangan, itu hanya akan menghambat perjalanan kita saja." jawab Xia'er.
"jadi..., apa yang harus kita lakukan nona...?" tanya Jiangheeng lagi.
"teruslah berjalan, dan jangan menengok kebelakang." jawab Xia'er yang juga masih memacu kudanya.
"apa maksud nona, jika kita pergi meninggalkan mereka, itu sama saja kita tidak membantu me...." ucapan Jiangheeng yang ada di dalam hatinya terhenti karena mendengar teriakkan kesakitan dari beberapa orang di belakang mereka, dan itu sudah pasti adalah perbuatan Xia'er yang menggunakan kemampuan telekenesisnya yang mampu menggerakkan benda-benda mati.
Xia'er menggerakkan pedang yang ada di pinggang sang prajurit dan memotong kedua tangan kedua prajurit tersebut, tak cukup sampai di situ, Xia'er juga memotong tangan si pria gendut yang mendorong si ibu paruh baya tadi.
__ADS_1
"arggggggggg....." bunyi teriakan ketiga orang tersebut.
"apa yang terjadi....?, kenapa pedang itu bisa bergerak sendiri....?, apakah itu setan atau iblis....?" teriak yang lainnya yang merasa heran dan bertanya-tanya tentang sesuatu yang baru saja mereka lihat, biasanya orang-orang menggerakkan benda dengan kekuatan angin, tapi kali ini, tak ada angin yang berhembus sama sekali.