Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Hidupku Bersamamu


__ADS_3

Shasa menggandeng suaminya masuk melewati pintu itu.


"Eh, Shasa. Apa kabar? Udah lama ya kita tidak bertemu?" Ibu tiri Abra berdiri menyambut kedatangan mereka. Sekilas ia melirik Abra di belakang Shasa dengan sinis.


Ayah yang berada di sana terkejut melihat kedatangan mereka. Terutama sikap istrinya pada Shasa yang mengejutkan, seperti kata Abra, ramah pada istri Abra.


"Maaf ya Bu, aku baru bisa datang ke sini malam hari. Kami baru datang pagi tadi dan merapikan apartemen dulu, baru bisa ke sini. Ibu sudah terima snack kirimanku dari Mas Abra? Tadi aku titipkan waktu Abra ketemu Ayah di kantor."


Karen menarik tangan gadis itu mendekat. "Sudah, aku sudah coba tadi, sebagian." Ia memindai tubuh Shasa yang terlihat sedikit berisi. "Kamu agak gemukan sekarang."


Gadis itu tersenyum malu. "Masa?"


Dia bahagia bersama Abra. Kenapa Abra? Kenapa harus anak bengal itu? Kenapa tidak anakku Kevin? Kenapa ... anakku yang malah kecelakaan? Pilu, itu yang dirasa saat ini melihat Shasa malah memilih Abra menjadi suaminya, tapi keberadaan Shasa juga sebagai pengobat rasa kesepian wanita itu.


Ia membawa Shasa mendekati tempat tidur Kevin dan menarik tangan gadis itu untuk menggenggam tangan anaknya.


Karuan saja tangan Shasa jadi sedikit kaku dan melirik suaminya yang hanya diam membisu. Begitu juga Ayah Abra yang hanya menjadi penonton.


"Tolong doakan dia ya, supaya cepat bangun. Supaya cepat sembuh. Aku lihat kamu orang terakhir yang akrab dengannya," pinta Karen.


"Oh, iya," jawab Shasa dengan senyum yang dipaksakan.


Wanita itu mengeratkan genggaman tangan gadis itu pada tangan pria itu. Ia menoleh ke arah Kevin dan bicara padanya. "Kevin, cepatlah bangun, semua orang mendoakanmu. Semua ingin kau cepat sembuh Nak. Lihat, ada Shasa di sini menjengukmu."


Shasa sedikit bingung dan tak nyaman, karena ada Abra di situ, tapi ia berusaha memberi senyum terbaiknya untuk ibu tiri suaminya.


Kevin masih terbaring dengan selang infus yang disuntikkan ke tangan dan sebagian wajahnya tertutup masker oksigen. Wajahnya, seperti orang yang sedang tertidur.


Erik tak bisa berbuat apa-apa, melihat istrinya begitu berharap anaknya cepat bangun karena pada dasarnya tak ada obat yang bisa membuat pria itu terbangun. Hanya keajaibanlah yang mereka tunggu. Ia menoleh pada Abra yang bingung harus berbuat apa.


Namun kemudian Abra melihat istrinya tidak nyaman karena sebegitu lamanya gadis itu dibiarkan menggenggam tangan Kevin.


"Eh, Bu. Maaf. Aku tak bisa berlama-lama karena besok kami akan ke kantor. Istriku juga ingin menengok suami sepupunya."


"Oh, eh ... ya." Ibu tiri Abra menyadari bahwa ia tidak bisa menguasai Shasa karena gadis itu telah menikah dengan Abra.


"Besok kalian kerja? Apa kalian sudah dapat pekerjaan?" tanya Erik heran bercampur senang.


"Eh, untuk sementara aku kerja di perusahaan milik almarhum ayah Shasa dan bersama Shasa aku ingin mencoba mengembangkan perusahaannya."


"Oh, that's good. Bagus itu. Mengembangkan usaha bersama istri. I like it, ayah suka. Semoga berhasil ya?" Erik menepuk-nepuk bahu anaknya.


"Makasih Yah."


Ibu tiri Abra cemberut mendengar berita gembira itu. Kenapa dia selalu beruntung, anak sialan, umpat Karen dalam hati.


Abra dan Shasa berpamitan. Mereka kemudian berpindah ke ruang perawatan Bima. Rupanya Bima sedang berlatih berjalan dengan tongkat ketika keduanya masuk.


"Wah, alhamdulillah. Sudah bisa jalan ya?" sapa Abra cepat.


"Eh, Pak Abra. Masuk Pak," ucap pria itu ramah.


Rika pada saat itu hendak bersiap-siap untuk pulang.


"Kak Rika, mau ke mana?" tanya Shasa.


"Pulang."


"Oh, bareng aja. Nanti kita anterin. Ya kan Mas?" Shasa melirik suaminya.


Pria itu sedikit bingung, bukankah Shasa dulu keluar dari rumah Omnya karena Rika, kenapa kini ia baik pada sepupunya itu? Tidakkah berbekas rasa marah atau dendam pada Rika?

__ADS_1


"Oh, iya. Tolong ya?" Bima menyambut baik tawaran Shasa.


Jadilah Abra tertawan permintaan dua orang keluarganya, tapi Abra bersyukur sejak menikah dengan gadis itu, ia punya keluarga baru yang baik dan menerimanya. "Ya, sudah."


Mereka mengobrol sebentar sebelum akhirnya pamit dan membawa Rika bersama mereka.


"Sudah masuk empat bulan ya?" tanya Shasa pada Rika.


Sebenarnya Rika enggan pulang dengan sepupunya itu tapi ia ingin ada seseorang yang mengantarnya pulang karena kondisi Bima yang tak bisa dimintai tolong dan kebetulan Damar pulang agak malam. Biasanya kakaknya Damar menjemputnya, karena ia masih tinggal di rumahnya. Rencananya Bima yang masih tinggal di kos-kosan akan pindah ke rumah Rika karena melihat kondisi Bima yang masih susah berjalan dan Rika yang tengah mengandung.


"Iya."


"Sudah mulai kelihatan ya?" Shasa memperhatikan perut sepupunya itu. "Pakai baju yang agak longgar Kak, kasihan bayinya."


Rika memperhatikan tubuhnya yang semakin gemuk. Ia selalu berpakaian pas untuk ukuran tubuhnya, tapi kini tubuhnya mulai membesar. Sebagian pakaiannya bukan saja mulai ketat tapi sudah tak layak lagi dipakai di tubuh gemuknya itu. Bentuknya sudah tak karuan. "Bajuku sudah sempit semua tapi aku tidak punya teman untuk menemaniku membeli pakaian."


Shasa tersenyum manis. "Nanti aku temenin ya Kak, hari Sabtu."


Saat itu juga Abra ingin protes. Ia tidak ingin kehilangan istrinya, bahkan di hari Sabtu.


"Mas mau nemenin kan?" tanya Shasa pada suaminya.


"Oh, iya." Kalau itu sih gak papa.


Mereka sampai ke tempat mobil Abra di parkir. Setelah ketiganya naik, mobil pun meluncur ke jalan.


Setelah mengantar Rika, mobil mengarah ke apartemen. "Yang, kamu udah baikan sama Rika?"


"Mmh?" Gadis itu menoleh. "Namanya juga saudara. Kadangkala kita bertengkar."


"Tapi sampai kamu terusir dari rumah Ommu—"


Abra melirik sekilas pada istrinya. Gadis itu jauh lebih tangguh daripada yang ia duga, padahal mereka sama-sama punya keluarga yang tidak bisa diandalkan, tapi dirinya memilih mengeluh sementara gadis itu malah memilih mandiri dan tak bergantung pada orang lain. Pastinya orang seperti istrinya lebih bahagia ketimbang dirinya yang masih mengais luka.


Betapa bahagianya bisa mengenal orang yang banyak mengispirasi hidupnya, apalagi dia adalah belahan jiwanya. Benar-benar ia merasa mendapatkan berlian yang paling indah kilaunya di antara yang ada dan dia beruntung mendapatkannya. "Sayang, aku ingin anak yang banyak yang seperti dirimu."


Shasa cemberut sambil membelalakan mata. "Kamu mulai lagi deh!"


Abra tertawa. "Aku beneran lo Sayang, biar kita gak kesepian."


Gadis itu mencubit pinggang suaminya.


"Aduhh Sayang ... jangan begitu dong. Aku lagi nyetir ini." Pria itu mengusap pinggangnya.


"Habis kamunya ...."


"Tapi kamu kok bisa memaafkan Rika, setelah apa yang dilakukannya—"


"Kamu sendiri bagaimana?" potong istrinya balik bertanya.


"Apanya?"


"Kamu dan Kak Kevin. Sebelum kejadian itu, kamu pasti bertengkar dengan Kak Kevin kan? "


"Aku gak pernah bertengkar dengannya, Sha."


"Beneran?" tanya istrinya heran.


"Ya ... cuma waktu itu aku sedikit marah tapi gak pernah sampai bertengkar gitu sama Kak Kevin."


"Berarti kamu termasuk sabar dong!"

__ADS_1


"Oya?" Abra senang dipuji istrinya.


"Tapi kembali lagi, kamu aja sabar sama saudara kamu, Mas. Yang namanya saudara pasti kembali lagi baikan."


"Iya sih."


-------------+++-----------


Pagi itu keduanya sibuk. Mereka bersiap untuk pergi ke kantor.


"Eh Mas, mau pake dasi?" Shasa melirik suaminya yang sedang memasang dasi.


"Iya, hari ini hari pertama kerja. Aku harus bisa memberikan penampilan yang terbaik di depan karyawanku."


"Ok." Shasa mencoba membantu dengan mengambil alih. Ternyata ia pintar memasang dasi. Tak butuh waktu lama, dasi itu terpasang sempurna di leher suaminya.


"Dari mana kau belajar memasang dasi secepat itu?" tanya Abra heran.


"Oh, aku dulu tukang pasang dasi Papa." Gadis itu tertawa.


"Yang bener?" tanya suaminya tak percaya.


"Iya, karena Mama gak bisa masang dasi."


Abra benar-benar hampir tak percaya mendengar kenyataan ini. Adakah yang tidak ia bisa sehingga dirinya berguna?


Shasa sedang memasang kain jilbabnya di kepala dan Abra memperhatikannya. Ia sedang memasang jarum pentul di kepala belakang tapi ia sulit melihatnya.


Segera pria itu mendekat dan menawarkan bantuan. "Sini aku pasangin." Ia menyematkannya di kepala. "Udah."


"Makasih."


"Akhirnya aku berguna."


"Apa sih Mas ...." tanya gadis itu heran.


"Oh, enggak. Yuk!"


Keduanya berangkat ke kantor. Ini untuk pertama kalinya pria itu sekantor dengan istrinya dan bukan itu saja. Kantor itu milik istrinya sehingga tidak akan ada orang lain yang akan mengusik kehidupan rumah tangga mereka. Ia pun merasa bisa fokus bekerja tanpa memikirkan ada orang yang akan menyingkirkan posisinya dari tempat kerja sambil menikmati hari-hari bersama orang-orang tercinta yang akan mendukung kehidupannya.


Ya, jangan lupa, tunggu pelangi setelah hujan reda. Kehidupan berganti dan roda berputar. Kinilah saatnya ia bahagia.


Ketika sampai di kantor ternyata Om Adam telah menunggu mereka. Pria paruh baya itu melakukan pengenalan perusahaan pada keduanya dengan melakukan kunjungan di tiap-tiap divisi yang ada. Shasa dan Abra mempelajari satu-satu tiap bagian perusahaan itu dan kemudian mereka pindah ke pabrik.


Butuh waktu satu jam untuk pergi ke pabrik milik perusahaan Shasa yang terletak di pinggir kota. Mereka mengikuti Om Shasa melihat satu-satu, kantor dan tempat pengelolaan produk.


Abra melihat dengan teliti pekerjaan pekerja pabrik sehingga ia mengerti standar yang diminta untuk pengemasan. Perusahaan milik keluarga Shasa adalah perusahaan pengelolaan frozen seafood(makanan laut yang didinginkan) dan pengalengan ikan. Standar bagus yang dimiliki perusahaan itu menyebabkan produk perusahaan itu diminati hingga ke luar negeri.


Menjelang makan siang, mereka telah kembali lagi ke kantor. Keduanya, Shasa dan Abra lebih memilih tinggal di ruang kerja direksi mempelajari dokumen-dokumen penting milik perusahaan sambil makan siang berdua di ruang itu. Sesekali Abra menjawab pertanyaan istrinya mengenai hal-hal yang tidak diketahuinya mengenai perusahaan. Mereka berdua terlihat fokus tenggelam dalam file-file yang sedang mereka pelajari bersama tanpa menyadari sepasang mata tengah memperhatikan ruang kerja mereka terus dari mejanya.


Damar gelisah. Ia berusaha menghindarinya karena pemandangan ini begitu menyakitkan. Ia akan melihat terus pemandangan ini setiap harinya. Apakah ia mampu bertahan ataukah menyerah dan berhenti bekerja dari perusahaan itu, ia sendiri bingung. Kenapa ia harus jatuh cinta pada sepupunya, kenapa harus Shasa?


____________________________________________


Reader, apa kabar? Sehat-sehat terus ya? Jangan lupa dukung terus author dengan vote, like dan komen, juga hadiah. Ini visual Kevin di rumah sakit. Salam, ingflora. 💋



Ayo intip-intip novel ini.


__ADS_1


__ADS_2