
"... Jadi begitu ya Pak." ucap suster itu pada Bima. Ia menyelimuti separuh tubuh pria itu dan merapikannya.
Bima mengangguk. "Ya."
"Untuk sementara kami observasi dulu. Maaf, ketika pingsan tadi kami menghubungi nomor dengan asal karena berharap dapat menghubungi pihak keluarga. Untung anda segera siuman," sahut dokter di sampingnya.
"Ngak papa dok, terima kasih." Bima menganggukkan kepalanya.
Dokter dan suster itu pamit keluar ruangan. Bertepatan dengan itu Shasa dan Omnya datang dan berdiri di samping pintu.
"Kak Bima ...." Shasa berlari menghampiri tempat tidur Bima.
Om Adam mengekor di belakangnya.
"Kak Bima, kenapa jadi begini ...." Shasa menangis di samping Bima.
Bima terlihat canggung. Karena ada Om Adam. "Eh, Om ...."
Adam mengangkat tangannya. " Iya, Om mengerti. Nanti Om gantian saja sama Shasa." Ia pun pamit.
Kini Bima menatap Shasa. Gadis itu menangis memandanginya. Bima menyentuh tangan gadis itu. "Jangan nangis Sha, beri aku semangat agar patah hatiku tidak sia-sia."
Namun gadis itu belum bisa menghentikan tangisnya. Seseorang yang pernah bertahta di relung hatinya tiba-tiba kecelakaan, bagaimana tidak tersayat hati melihatnya.
"Sha, ayo dong, jangan begitu. Kita kan berpisah baik-baik. Ayo saling doakan yang terbaik bagi aku dan kamu."
Gadis itu tak mampu bicara. Matanya sudah bengkak karena terus menerus menangis sejak tadi. Belum masalah penghianatan Kevin, dan ketidak percaya Abra padanya, kini ia di telepon rumah sakit yang mengatakan bahwa Kevin dan Bima kecelakaan.
Ia tak tahu bagaimana keduanya bisa bertemu, tapi kecelakaan ini sungguh menakutkannya. Apalagi mendengar apa yang terjadi dengan Kevin. Ia bersyukur keduanya selamat tapi kalau Kevin koma, bagaimana dengan Bima? Pria itu terlihat biasa saja tapi ia tak tahu, apakah Bima terluka atau tidak dalam kecelakaan itu karena tidak tampak di tubuhnya luka selain ada luka memar di dahi dan sedikit luka di pipi pria itu sebab kabarnya mobil Kevin rusak parah.
"Kak, Kakak gak papa kan?" isak gadis itu tertahan sambil menggenggam sapu tangan untuk menghapus air matanya.
"Oh ... oh, aku gak papa," ucap Bima dengan wajah sedikit aneh.
Shasa curiga. Ia melirik ke arah selimut dan segera membukanya. Ternyata kedua kaki Bima di perban dengan bekas darah di beberapa tempat.
"Sha ...."
"Kak Bima ... Kak Bima kakinya kenapa?!!" Shasa histeris.
Bima malah mencoba menenangkan Shasa. "Eh, Sha. Aku gak papa kok, hanya luka, lebam dan sedikit retak di kaki saja kok. Aku gak papa." Ia menyentuh lengan Shasa.
Dilihatnya lagi oleh gadis itu celana panjang Bima yang koyak dan ada percikan darah di sana sini hingga ke pinggang. "Apa separuh badan Kak Bima—"
"Jangan berpikir yang tidak-tidak Sha, tubuhku akan pulih seperti sedia kala."
"Kak Bima gak bohong kan?" isak gadis itu menatap pria itu.
Bima tersenyum. "Aku baik-baik saja."
Tangis gadis itu pun akhirnya reda.
Saat itulah Bima mulai bicara. "Sha. Aku dengar kau sudah punya seseorang yang bisa menggantikanku."
Shasa menatap Bima lekat. Ia tidak ingin menyakiti hati pria itu di saat seperti ini.
"Kau masih menyimpan cincin itu?"
Shasa mengangguk.
"Kau bawa?"
Kembali gadis itu mengangguk. Ia mengeluarkan dari dalam tas yang dibawanya.
"Berikan padaku agar kau bisa melanjutkan hidupmu dan aku melanjutkan hidupku."
Shasa memberikan kotak itu pada Bima.
"Doakan aku karena aku juga akan mendoakanmu. Hiduplah bahagia."
Shasa mengangguk haru.
Bima menepuk-nepuk tangan Shasa. "Jangan terlalu perhitungan dengan kesalahannya ya?"
Gadis itu tersenyum dan kembali mengangguk.
Di ruang lain, ada tangis histeris dari ibu Kevin yang melihat anaknya koma. Perban menutupi sebagian kepala Kevin. Kabarnya ia terlempar dari mobil karena saking dahsyatnya benturan yang terjadi saat itu. Bima yang masih berada di dalam mobil malah selamat padahal mobil mewah Kevin hancur di bagian depannya.
__ADS_1
Di dalam ruangan itu ada Diandra, Ayah dan Abra yang menemani. Abra yang paling syok melihatnya. Padahal baru beberapa jam yang lalu mereka bertemu dan berselisih paham, tapi kini ia melihat kakak tirinya ini terbaring koma di rumah sakit. Nyawa sangat berharga, kita tidak tahu kapan Sangat Pemilik akan mengambilnya.
"Sudah Bu, kita harus sabar. Mudah-mudahan ia cepat bangun." Ayah menepuk-nepuk bahu istrinya.
"Bagaimana aku gak nangis Yah, dia anak lelaki satu-satunya yang aku punya. Dia masih muda dan belum menikah. Kenapa Tuhan memberi cobaan yang begitu berat pada kami. Ya Allah," ucap Karen sambil mengusap air mata yang terus membanjir. "Bagaimana masa depan anakku ya Allah, belum apa-apa dia sudah koma." Ia terisak.
Ayah menyentuh bahu istrinya. Ia pun juga sangat sedih hingga tak tahu bagaimana harus menghibur istrinya, sedang Diandra yang duduk di tepian tempat tidur hanya bisa merapikan selimut Kevin.
Kevin terbaring dengan masker oksigen di mulutnya dan tangannya diinfus. Wajahnya terlihat pucat karena saat kecelakaan ia kehilangan banyak darah dari kepalanya. Sempat kritis tapi ia bisa melewatinya dan sekarang ia berada dalam keadaan koma.
Polisi hanya bisa berbicara dengan Bima, satu-satunya orang yang bisa ditanyai perihal kecelakaan dan ia menceritakan semuanya pada polisi bagaimana kecelakaan itu terjadi.
Om Adam mendatangi Bima kemudian. Ia menatap pria muda itu yang berusaha tegar. "Kamu tidak apa-apa kan?"
"InshaAllah Om."
Adam berusaha tersenyum. "Manusia itu tidak luput dari masalah, tapi kita harus berbesar hati saja melewatinya. Tak ada yang tak mungkin. Mudah-mudahan kamu cepat sembuh ya?"
"Makasih Om."
Adam memindai tubuh Bima. Ia tak sengaja mendengar keterangan dokter bahwa tubuh pria itu sempat terjepit di dalam mobil dan susah mengeluarkannya. Pria muda itu saat ini lumpuh dari pinggang ke bawah dan masih belum tahu apakah lumpuhnya itu bisa disembuhkan atau tidak.
Tiba-tiba Adam berdiri dari duduknya dan mengunci pintu membuat Bima terkejut.
"Ada apa Om?"
"Maaf." Adam kembali menghampiri Bima. "Aku tidak sengaja mendengar tentang diagnosamu dari dokter yang memeriksamu."
Bima terkejut tapi ia tidak mengerti ke arah mana pembicaraan Adam kini.
Pria paruh baya itu kembali duduk di tepian tempat tidur. "Aku ... impoten. Tidak bisa memiliki keturunan."
Bima membulatkan matanya.
"Kekurangan bukan berarti hidupmu akan terhenti di sana. Ya, benar. Rika bukan anakku tapi aku sangat menyayanginya. Kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu, jangan menyerah."
"Terima kasih Om." Bima terharu. Ayah Rika begitu baik padanya padahal awal perkenalan mereka cukup buruk.
Adam menghela napas. Ia menatap Bima dengan mata nanar. "Apa kau dekat dengan Rika?"
"Oh, maaf Om, saya sudah lama tidak saling kontak."
"Mengenai apa Om?"
"Rika, dia hamil tapi sampai sekarang ia masih menyembunyikan identitas si pria."
Bima kembali terkejut. "Hamil?"
"Iya. Aku pikir dia akrab denganmu. Apa kau tahu kira-kira siapa yang telah menghamilinya? Ia menutup rapat semuanya hingga Om tidak tahu harus bertanya pada siapa sementara kehamilannya semakin membesar. Om takut ia akan jadi gunjingan orang karena punya anak tanpa suami." Adam menggaruk-garuk kepalanya.
Pantas saja tubuhnya sedikit berisi belakangan ini, pasti gara-gara kehamilannya itu. "Maaf, tapi aku gak tau Om." Bima menyatukan tangannya.
"Mmh, maaf ya? Om jadi curhat."
"Tidak apa-apa Om."
Sementara itu Abra dan ayahnya pergi ke kantin untuk menghilangkan kesuntukan. Mereka memesan minuman. Saat itulah Adam datang ke kantin.
"Adam?"
"Erik?"
Adam menghampiri. "Oh, sudah lama sekali kita tak bertemu."
Mereka berjabat tangan.
"Oh, kenalkan ini anakku, Abra."
Abra bersalaman dengan Adam.
"Oh, bukankah anakmu ada satu lagi, Kevin," tanya Adam. Ia ingat kembali ketika mendatangi stasiun TV Indo waktu mencari Shasa.
"Kau mengenalnya? Itulah ... Ia kecelakaan," terang Erik muram.
"Kecelakaan? Ya Allah. Bagaimana ceritanya?" tanya Adam yang mencoba duduk di kursi di depannya.
"Aku tidak tahu karena ia koma. Ia naik mobil bersama temannya dan temannya itu juga masuk rumah sakit."
__ADS_1
"Tunggu dulu. Maksudmu Bima?"
"Iya. Bagaimana kau tahu?"
"Ya Allah, jadi yang bersama Bima, koma itu Kevin?" Adam menyentuh kepalanya. Ia hampir tak percaya.
"Kau mengenal Bima?"
"Karena itu kami ke sini," terang Adam.
"Kami? Kau datang bersama anakmu?"
Abra masih mengaduk-aduk kopinya sambil mendengarkan.
"Oh, tidak. Aku datang bersama keponakanku."
"Keponakan?" Erik mengerut kening. Setahu Erik, Adam hanya punya satu saudara laki-laki dan ia meninggal bersama istrinya karena kecelakaan.
"Iya. Aku kan masih punya satu keponakan."
"Dia masih hidup?" tanya Erik memastikan.
"Masih hidup bagaimana? Kakakku memang meninggal bersama istrinya karena kecelakaan tapi anaknya tidak ikut bersamanya waktu itu karena itu ia selamat."
"Benarkah?"
"Iya."
Erik melirik Abra.
"Apa Yah?" tanya Abra bingung.
"Dulu Ayah menjodohkanmu dengan keponakannya."
"Ayah ada-ada saja."
"Kau sebaiknya bertemu dengannya."
"Serius? Ayah!" ucap Abra kesal.
"Jadi yang dijodohkan dengan anak Mas Bram, ini?" tanya Adam.
"Iya."
"Oh, aku pikir Kevin."
"Kevin saja Yah, bukan aku!" Abra benar-benar kesal. Sudah hubungannya berantakan dengan Shasa, kini ia dihadapkan pada perjodohan.
"Hei!" Erik menepuk lengan Abra. "Barangkali saja kamu suka. Ketemu saja dulu."
Abra memperlihatkan muka sebal. Kenapa di jaman semodern ini masih saja ada orang tua yang menjodohkan anaknya. Ia segera bangkit. Tak tahan mendengar omongan soal perjodohan itu dan melangkah ke luar kantin.
"Abra!"
Panggilan ayahnya tak diindahkan pria itu, tapi tiba-tiba ia bertemu Shasa di pintu kantin. "Shasa?"
Gadis itu pun terkejut.
"Shasa, ayo ke sini!" panggil Adam.
Abra kini ikut terkejut. "Kamu ... keponakannya?"
Karena masih kesal gadis itu tak menjawab. Ia mendatangi Adam. Abra penasaran. Ia mengikuti Shasa.
"Ini lho keponakanku," Adam mengenalkan.
"Shasa?" Erik terkejut. "Kalau dia aku juga tahu. Dia teman kerja Abra. Jadi dia anak Bram?" Sebuah kebetulan yang mengejutkan Erik. Anak yang ia pikir sudah meninggal ternyata selama ini selalu ada di dekatnya. Seorang gadis yang sedang diperebutkan Kevin dan Abra.
"Iya. Oh ternyata kalian sudah saling kenal rupanya ...."
Abra kembali ke kursinya.
"Nah, Bima itu mantan tunangannya, tapi kami masih berhubungan baik." Adam mendorongkan kursi untuk Shasa sehingga gadis itu terpaksa duduk, tapi ia duduk dengan menjatuhkan pandangan karena masih marah dengan Abra sedang pria itu menatapnya tak bergeming.
"Oh, begitu. Apa mereka mau balikan lagi?"
"Entahlah."
__ADS_1
Ketiga pria itu kini menatap Shasa ingin tahu.