
"Oh ... dekat ya?"
"Kenapa?"
"Mmh? Enggak ...."
Abra melirik anak-anak yang kembali ke ruang tengah untuk menonton TV. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Danisa. "Kamu tertarik padanya?" Pria itu menaikkan kedua alisnya berkali-kali.
Danisa menepuk lengan Abra seraya tersenyum lebar. "Tau aja kamu!"
"Taulah, Nisa. Kita kan udah kenal lama. Bagus jeleknya kamu aku udah tau." Abra memang sudah memperhatikan temannya itu melirik Raven beberapa kali, ia makin mencondongkan tubuhnya pada Danisa. "Gimana? Mau kucomblangi?"
"Ah, gak usah." Wanita itu mengangkat gelas air putihnya dan melirik pria itu. "Tapi kalo mandek, bantuin ya?"
Abra tertawa. "Siap ...." Ia mengangkat ibu jarinya.
Menjelang sore, Danisa pulang lebih dulu. Ia memberikan alamatnya pada Abra agar Raven menjemputnya.
----------+++----------
"Sudah?" Pria itu berdiri ketika Danisa menyambanginya.
Ia berpakaian sederhana dengan memakai baju kemeja kotak-kotak berwarna biru dengan celana jeans khas anak muda sedang Danisa berpakaian kemeja longgar celana katun dengan ikat pinggang yang besar di pinggangnya. Sangat modis, tapi seperti biasa, pria itu acuh.
Ayah Danisa yang sedang mengobrol dengannya, hanya menoleh pada anaknya kemudian Raven, menduga-duga hubungan keduanya.
"Sudah. Yah, pamit." Nisa meraih tangan ayahnya. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Permisi Om," pamit Raven ramah.
"Ngak assalamualaikum juga?"
Raven tersenyum. "Assalamualaikum Om."
"Waalaikumsalam."
Raven dan Danisa berjalan menuju mobil pria itu.
"Ngobrol apa sama ayahku?" tanya Danisa ketika menaiki mobil Raven.
"Mmh? Tidak ada, hanya ngobrol biasa saja." Raven memasang seatbelt-nya. Tak lama mobil keluar dari perkarangan rumah besar itu.
Di dalam studio yang tidak besar itu, sudah ramai orang di sana. Staf TV dan para penonton sudah banyak berdatangan ke dalam studio itu.
"Di mana Abra?" tanya Danisa heran.
"Oh, mereka mungkin sedang di ruangan sendiri untuk mempersiapkan diri. Mbak mau ke sana?" tawar Raven.
"Mmh? Tidak usahlah, kita di sini saja." Anisa memandang ke arah studio dan kembali melirik Raven. Kesempatan kan bisa berduaan, pikirnya senang.
"Mmh ...." Pria itu melanjutkan langkah mendahului wanita itu, mencarikan tempat duduk untuk mereka menonton nanti, dan Danisa hanya mengikuti. "Apa kamu mau di depan?" Sepertinya mereka kehabisan tempat untuk duduk di tengah.
"Iya, gak papa."
Ternyata ada beberapa kursi kosong di depan.
"Mungkin agak sedikit bising ya?" beri tahu Raven dengan sopan.
"Ya sudah."
Keduanya duduk berdampingan. Panggung sedang dipersiapkan.
"Kamu ... katanya mau pulang ke Jogja?" tanya Danisa memulai percakapan.
"Oh, aku masih capek. Nanti saja. Aku rindu si kembar itu dan adikku. Sudah lama aku tak pulang."
"Oh, begitu. Memangnya sudah berapa lama tidak pulang ke Indonesia?"
"Sudah 3 tahun."
"Wah ... lama sekali. Kasihan orang tuamu."
"Aku cuma punya Ayah tapi dia datang mengunjungiku ke New York bila sedang kangen."
"Eh, tapi gak boleh begitu. Kan kasihan ayahmu sendirian," nasehat Danisa.
"Iya sih."
"Ayahku 2 tahun lalu kena stroke. Akhirnya aku meninggalkan pekerjaanku di luar negeri sebagai model."
"Oh, maaf. Aku tidak tahu, tapi bukannya kamu punya Kakak ya?" Raven rupanya sempat bertemu kakak Danisa.
__ADS_1
"Salah satu dari kita harus berkorban dan aku mengalah karena aku memang mau pensiun dari pekerjaan itu. Jadinya aku mengurus perusahaan dan mengurus ayah juga. Intinya aku mau bilang, orang tuamu tidak selamanya sehat, apalagi kamu hanya punya ayah. Pasti dia kesepian walaupun dia punya anak yang lain yang mengurusnya."
"Hanya aku anaknya."
"Tuh ... apalagi. Kasihan kan? Bagaimana kalau tiba-tiba dia sakit?" Danisa mencontohkan.
"Jangan sampai deh!"
"Makanya selagi sehat."
"Mbak ngusir aku pulang ya?"
Keduanya tertawa.
Tak lama acara di mulai. Acara berawal dengan wawancara seorang presenter di dalam set ruang tamu, mewawancara Abra yang datang bersama keluarga kecilnya di sana. Terlihat Lione dipangku Abra karena masih malu-malu sedang Lina dan Shasa duduk di samping mereka. Setelah setengah jam wawancara, Lione diminta menyanyi. Abra mengambil gitarnya.
Karena acara itu live, mereka tak boleh melakukan kesalahan. Abra membesarkan hati Lione agar tak gugup saat menyanyi.
Jauh di tempat lain di sebuah rumah sakit mewah, ternyata ibu tiri Abra tengah menonton acara itu di dalam ruang perawatan Kevin. Ia ingin mendengarkan suara cucu tirinya yang sangat ia sayangi itu.
Ia mendengarkan cucunya bernyanyi dengan sangat terharu. Walaupun lagunya dinyanyikan dengan riang, ia menitikkan air mata karena bangga. Sayang suaminya sedang tidak di tempat karena harus pergi keluar negeri dalam perjalanan bisnisnya, tapi karena stasiun TV itu miliknya pastilah pegawainya membuatkan rekaman khusus untuk suaminya saat ia pulang nanti.
"Bu."
"Mmh."
"Bu ...."
"Apa Kevin ...." Karen sedang mengusap air matanya saat menoleh. Tiba-tiba ia sadar, anaknya Kevin telah bangun. "Ke-Kevin ...?" Matanya terbelalak. "Ka-ka-kau bangun ...?"
"Ibu, a-aku tidak bisa menggerakkan badanku ...."
"Oh, sebentar Nak, sebentar ...." Karen panik dan berjalan hilir mudik karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Ibu ... panggil dokter Bu." Kevin memberi tahu.
"Oh, iya benar." Karen berlarian keluar tanpa memanggil suster lewat bel yang ada di dinding. Ia mendatangi pos suster terdekat dan memberitahukan apa yang terjadi.
Kevin langsung ditangani. Saat Karen kembali Kevin sudah bisa menggerakkan tangannya perlahan.
"Ibu ...."
"Apa Nak?" Karen bergegas mendekati tempat tidur Kevin.
"Apa?" tanya wanita itu bingung.
"Janji."
"Kenapa?"
"Janji."
"Kevin ...."
"Janji Bu."
"Iya Ibu janji." Kevin yang keras kepala tanpa sebab akhirnya membuat Karen berjanji. "Kenapa kau tak ingin orang tau Nak ...."
Tiba-tiba dari arah pintu, masuk beberapa orang suster dan seorang dokter. Mereka langsung memeriksa keadaan Kevin.
Pria itu, wajahnya masih tampak lemah. Tak lama saat bercakap-cakap dengan dokter ia mimisan. "Oh, apa ini?" Ia melihat dirinya dengan diliputi rasa takut yang amat sangat. Apalagi darahnya cukup banyak. "Apa aku akan ...."
"Tenang Pak. Kami periksa dulu ya?" ucap dokter menenangkan sementara seorang suster dengan sigap menangani darah Kevin yang keluar banyak dari hidung hingga menodai pakaiannya.
Karen juga terlihat panik di sampingnya. "Kevin, anak saya ngak apa-apa kan dok?" Air matanya mulai menggenang di sudut matanya.
"Sebentar kita periksa dulu ya Bu."
Sementara hidung pria itu sudah dibersihkan, tempat tidur pria itu kini didorong keluar ruang perawatan itu.
"Kita rontgen dulu ya Bu." ucap dokter itu memberi tahu.
"Iya, iya." Karen kemudian mengikuti ke mana anaknya dibawa.
-----------+++---------
"Hebat banget ya Lione sekarang ...," puji Raven pada bocah kecil yang masih bersandar pada Abra malu-malu. Ia sudah bisa mengusap kepala bocah kecil itu, walaupun Lione masih terlihat bingung.
Abra tertawa kecil. "Kamu sih jarang pulang jadi ponakanmu jadi lupa sama Omnya," ledeknya.
Raven tertawa kecil. "Ya udah, nanti Om sering-sering lagi mainnya ke sana ya?"
Lione hanya mengangguk.
__ADS_1
"Nanti Om ajak main ke Mal, mau?"
Lione menoleh pada Abra, ayahnya.
"Iya nanti bareng Papi ya?" Abra merapikan poni Lione. Ia beralih pada Raven. "Oya, hari Minggu ini kita mau pergi ke kebun binatang. Kamu mau ikutan gak?"
"Berempat?"
"Ya ... sepupu Shasa ikut karena bawa anak-anak. Rika dan suami, dan Damar dengan adikku Diandra. Mereka kan sudah punya anak, Erlangga dan Wisnu."
"Wisnu anaknya Diandra ya? Aku gak sempat lihat dia lahiran, anaknya sudah besar saja."
"Makanya, ikut berarti?"
"Eh, kayaknya ngak bisa ...." Raven menggaruk-garuk kepalanya.
"Beneran? Soalnya gak ada yang megangin anak-anak nih karena Shasa hamil."
Raven mendengar Rika ikut, ia tak ingin membuat runyam suasana. "Bener. Aku ada janji jadi gak bisa ikut. Nanti mungkin bisa bawa pembantu aja biar jaga si kecil di sana."
Abra heran. Biasanya Raven akan selalu ikut apalagi bila dikatakan adik angkatnya Shasa sedang kesulitan, tapi kali ini Raven malah tidak ingin pergi. Ada apa dengannya? "Oh, apa kalian sedang janjian?" Ia tersenyum menunjuk Danisa.
"Oh, bukan. Aku mau ke Jogja menengok ayah. Mungkin lama," lanjut Raven.
Abra mengerut kening. "Biasanya kamu sebentar kalau nengok ayahmu Ven."
"Oh ... a-aku lagi mikirin perusahaan Ayah. Aku ingin kerja di Jakarta tapi Ayah ingin aku kerja mengurus perusahaannya."
"Bukannya kamu bilang perusahaan ayahmu mau dijual?" Abra masih mengerut kening.
"Oh, karena itu aku mau bicara dengan Ayah."
Abra terdiam. Terlihat sekali ia berusaha menghindar, entah apa, karena Raven belum pernah berbohong. "Ya udah, nanti kapan-kapan aja ya?"
"Iya, kapan-kapan aja."
"Udah belum Pi, Lina laper." Lina meraih tangan Abra.
"Oh, iya, iya. Yuk, makan. Kamu sekalian aja Ven, biar tambah kenal anak-anak. Kita makan di restoran."
Akhirnya rombongan itu melangkah ke parkiran.
"Ini bajunya kompakan tapi lucu ya? Yang laki-laki motif macan yang perempuan serba hitam. Siapa yang punya ide begini ya?" tanya Danisa penasaran.
"Lina," jawab kompak Lione, Abra dan Shasa sambil tertawa membuat Danisa dan Raven ikut tertawa.
-----------+++---------
"Bu," ucap Kevin setelah ia kembali ke kamar perawatannya. Dokter dan suster baru saja keluar dari ruang itu.
"Iya Kevin." Karen mendekatinya masih dalam keharuan. Doa-doanya kini telah terkabul melihat Kevin telah sadar dari komanya.
"Mana HP-ku?"
"Eh, ibu pakai supaya nomormu gak hilang. Maaf ya? Ibu jadi pegang dua HP sekarang." Karen mengeluarkan HP Kevin dan menyodorkannya pada pria itu.
Kevin mengambil dan mulai membukanya. "Kabar Shasa gimana Bu?"
"Apa? Eh ...." Tenggorokan Karen terasa tercekat. Ia tak mampu menceritakan yang sebenarnya karena ia takut Kevin bersedih.
Masih dengan mata melihat ke layar HP, Kevin bicara. "Aku tahu dia sudah menikah dengan Abra dan dia sudah punya anak darinya tapi kenapa belakangan ini dia tidak lagi menjengukku Bu?" Kini mata Kevin menatap ibunya.
Ya, ternyata selama ini Kevin tahu siapa-siapa saja yang menjenguknya dan apa yang terjadi di sekelilingnya sehingga Karen tak perlu lagi menerangkannya dari awal pada anaknya.
"Mungkin sedang sibuk dengan perusahaan milik orang tuanya sebab yang aku dengar, Abra kuliah lagi sehingga ia sibuk memimpin perusahaan juga mengurus anak-anaknya. Kan anak Shasa kembar 2."
"Begitu?"
"Mmh."
"Kalau begitu, bisakah ibu mengeluarkan aku dari rumah sakit malam ini juga, Bu. Aku ingin pergi ke villa kita di Puncak."
"Tapi Kevin, hasil tesmu dan hasil rontgen belum dilihat dokter lho, kita belum tahu hasilnya."
"Aku sudah bosan di sini Bu, tapi kalau ibu tidak bisa, aku akan panggil orang untuk membantu kita keluar dari sini." Kevin mulai menyambungkan sebuah nomor telepon. "Aku rindu pada Shasa Bu, aku ingin bertemu."
___________________________________________
Novel ini beberapa bab lagi akan berakhir. Jangan lupa kasih semangat author dengan memberi like, komen, vote atau hadiah di akhir baca agar author tahu kalian masih membaca novel ini. Ini visual Shasa yang harus berpakaian serba hitam untuk manggung anaknya. Salam, ingflora💋
Author tengah menyiapkan novel baru berjudul CEO and the Twins. Bercerita tentang seorang pria bule yang ditinggalkan pacarnya hanya karena punya pacar baru yang lebih kaya dari dirinya. 5 tahun kemudian ia menjadi CEO dan menemukan wanita yang mirip dengan mantan pacarnya. Setelah dilamar, ia baru menyadari, wanita itu adalah kembaran mantan pacarnya itu sehingga menyulut dendam yang akan ia lampiaskan pada kembarannya itu. Apa yang terjadi kemudian? Coming soon.
__ADS_1