Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Viral


__ADS_3

Sarah akhirnya mengerti kenapa terjadi pemukulan itu dan apa yang telah terjadi. "Mmh, begitu. Jadi sekarang Bapak maunya bagaimana sebab yang Bapak telah lakukan di restoran itu bakal jadi buah bibir karena melibatkan Chef Alfian dan anda berdua yang sekarang jadi figur publik yang sedang naik daun. Bukan tidak mungkin sebentar lagi akan viral berita ini di media Pak, dan kami hanya bisa menutupi sebisa kami. Di luar itu bisa saja ada paparazi(wartawan pencari berita sensasional) berburu berita ini dengan cerita yang mungkin melenceng jauh karena bersumber dari mereka-reka cerita tanpa tahu cerita yang sesungguhnya."


"Aku berniat mengumumkan pernikahan kami agar kami lega dan bisa hidup tenang tanpa ada gangguan." Abra menarik tangan istrinya dan menggenggamnya. "Sebenarnya berat buat saya karena kakak saya sedang koma di rumah sakit tapi godaannya sangat berat di luar sana bila kami tak mengumumkan ini, karena itu aku minta tolong sama Mbak untuk membuatkan konferensi pers buat kami dan pertemukan juga saya dengan Chef Alfian."


Sarah menyanggupi, ia dan rombongan tim promosi akhirnya pamit. "Sebelumnya saya ucapkan selamat ya Pak, Bu, telah menikah dan kami do'akan rumah tangga kalian samawa, mawadah, warahma. Semoga rumah tangga kalian rukun-rukun selalu sampai kakek nenek."


"Amin. Terima kasih," jawab Shasa senang.


Mereka bersalaman dan rombongan itu pun pergi.


Abra menutup pintu dan beralih pada istrinya. Ia kembali pada Shasa dan memeluknya. "Aku kangen."


"Kita kan ketemu terus, kok kangen?"


"Habis berantem rasanya pengen 'gulat' lagi."


Gadis itu tertawa kecil. Ia mencolek hidung suaminya. "Kamu gak laper Yang?"


Seketika perut Abra berbunyi karena telah lama diabaikan. "Oh, iya ...."


Shasa kembali tertawa.


"Ok. Habis makan kita gulat ya Yang?"


Shasa makin tergelak. Tak lama hidangan datang ke kamar Abra. Pria itu kemudian makan siang dengan istrinya. Belum selesai makan siang mereka, Sarah memberitahukan lewat telepon bahwa sejam lagi akan ada konferensi pers yang akan digelar di lantai bawah, di ruang serba guna hotel, sedangkan Alfian sedang dalam perjalanan ke hotel itu.


Mereka terpaksa menggelar konferensi pers dengan cepat karena kasus pemukul itu ternyata sudah viral di internet, karena itu Abra dan Shasa harus cepat mengklarifikasi kejadian tersebut agar tidak berimbas pada produk yang sedang dipromosikan.


Seusai makan siang Sarah kembali menelepon, Alfian telah datang. Abra meminta bertemu dengan pria itu bersama Sarah di kamarnya. "Sayang, kamu kembali ke kamarmu saja ya? Biar Alfian aku yang urus," ucapnya pada Shasa.


"Tidak mau. Aku mau ikut dengar," rajuk gadis itu.


"Untuk apa? Ini urusan laki-laki."


"Urusan laki-laki apa, kan menyangkut diriku?"


Abra menatap istrinya, bimbang. "Tapi kamu diem aja ya?"


"Kenapa aku gak boleh ngomong?"


"Kamu gak percaya sama suamimu ini?"


"Bukan aku gak percaya. Aku kan cuma lihat aja, gak ganggu." Gadis itu beralasan.


"Takutnya kita berdua gak leluasa bicara, Yang." Abra menyentuh kedua lengan istrinya. Gadis itu masih merengut. "Percaya saja, aku akan ngomong baik-baik sama dia. Ngak akan ada yang saling mengancam."


Istrinya masih bertahan dengan wajah kesalnya. Terdengar ketukan di pintu.


"Ya sudah, kalau kamu masih berkeras. Mungkin mereka sudah datang." Abra melangkah ke arah pintu dan membukanya. Berdiri di depannya Alfian dan Sarah. Ia mempersilahkan keduanya masuk.

__ADS_1


Alfian terkejut dengan kehadiran Shasa di kamar itu tapi ia tak berkomentar. Mereka semua kemudian duduk di atas tempat tidur single kecuali Alfian. Ia duduk di kursi yang memang cuma ada satu di kamar itu.


"Maaf, aku mengundangmu ke sini, karena aku ingin mengadakan pertemuan tertutup," Abra dengan segera memulai pembicaraan karena ia merasa ikut bertanggung jawab.


"Sebentar," ucap Alfian. "Sebenarnya aku datang ingin meminta maaf."


"Tidak Mas Alfian, ini sepenuhnya kesalahan kami berdua. Kami punya alasan kenapa kami tidak mengumumkan pernikahan kami tapi karena itu banyak orang yang malah direpotkan termasuk anda."


Shasa lega, ternyata suaminya dengan kesatria mengakui kesalahannya dan Alfian juga meminta maaf.


"Tidak apa-apa, aku mengerti. Aku sudah dengar dari Mbak Sarah tentang pernikahan kalian jadi aku sangat mengerti sekali kalau Mas Abra marah pada saya. Saya sangat mengerti itu. Bagaimana tidak marah kalau istrinya digoda orang, iya kah? Maaf, sekali lagi maaf kalau aku malah membuat ketidaknyamanan ini pada kalian berdua karena saat itu aku tidak tahu kalau Mbak Shanum adalah istri Mas Abra." Pria itu menyatukan tangan di depan wajahnya.


Pertemuan itu berakhir dengan damai. Semua merasa lega, bahkan Alfian berniat ikut klarifikasi di depan para wartawan.


Di sebuah ruangan di lantai satu hotel itu, wartawan sudah memenuhi tempat itu untuk meliput berita sejak setengah jam yang lalu. Untung saja rombongan yang terdiri dari Shasa, Abra, Alfian dan Sarah datang tepat waktu. Mereka kemudian duduk di kursi yang telah disediakan. Abra duduk di samping Alfian sedang di samping kanannya duduk istrinya sedang Sarah mendampingi Alfian.


Di tempat itu Abra memulai pengakuannya. Mereka berdua sudah menikah.


Wartawan yang meliput seketika riuh dan banyak mengambil gambar. Juga ada stasiun TV yang meliputi acara itu. Berbagai pertanyaan muncul kemudian dan banyak mengajukannya pada Abra karena Shasa dan Abra kini mulai dikenal publik sebagai bintang iklan paling diminati penonton dan penggemarnya mulai banyak. Kehidupan pribadinya pun kini mulai diincar sehingga pengakuan ia telah menikah dengan lawan mainnya cukup mengejutkan para wartawan yang berada di sana.


Namun kemudian Alfian ikut bicara. Ia mengatakan bahwa ia sedang melakukan promosi dengan cara melakukan drama ia dipukul Abra dan tidak ada hubungannya dengan dendam pribadi, sehingga ia meminta agar penggemarnya dan penggemar Abra dan Shasa tidak salah paham.


Wartawan kembali riuh. Shasa juga terkejut mendengarnya. Ia menyentuh lengan suaminya dan berbisik, "Mas, kenapa jadi begini?"


"Alfian juga sama dengan kita, Sha. Dia di kontrak juga untuk mempromosi produk yang sama sehingga bisa dibilang, dia akan ikut juga Promo Tur ini bersama kita."


"Apa? Dia dikontrak ekslusif juga?"


Shasa mengangguk-angguk mengerti. Berarti untuk sebulan ke depan mereka bertiga akan mempromosikan produk itu bersama-sama dalam roadshow ke beberapa kota. Tentu saja, tidak boleh ada pertengkaran di antara mereka karena itu akan merusak image produk yang sedang mereka bangun.


Gadis itu bersyukur, pria itu tidak memperpanjang masalah bahkan berbohong demi kebaikan ia dan Abra padahal ia juga ikut merasa bersalah karena tidak berterus terang tentang statusnya pada pria itu dan kini pria itu malah membela mereka berdua di muka umum.


Tidak ada sesi tanya jawab di dalam konferensi pers itu dan ketiganya langsung diamankan keluar dari tempat itu.


Di luar Alfian pamit.


"Terima kasih ya sudah membantu kami keluar dari masalah ini." Kini Shasa yang bicara. Ia menyalami Alfian.


"Tidak apa-apa, sama-sama," sahut pria itu ramah.


Abra pun menyalaminya. "Aku naik duluan ya?"


"Oh, ya. Silahkan."


Abra segera melingkarkan tangannya di bahu istrinya. "Ayo Yang kita ke atas." Ia menarik istrinya pergi.


"Ih, kamu genit banget sih!" Pipi gadis itu memerah karena malu.


"Eh, semua orang sekarang sudah tahu kita menikah. Apalagi? Yuk, kita ke kamar saja, kalau tidak, akan banyak wartawan yang akan mengejar kita sebentar lagi."

__ADS_1


Alfian melihat pertengkaran mereka seiring keduanya berjalan ke arah lift. Ia geleng-geleng kepala. "Keduanya serasi ya?" ujarnya pada Sarah.


"Mmh ... namanya juga baru menikah. Sedang hangat-hangatnya." Wanita itu tersenyum. "Ayo Pak, saya antar keluar."


Alfian mengikuti wanita itu. "Kamu tidak memberi tahu mereka kan kalau kakekku yang punya perusahaan ini?"


"Tidak Pak."


"Bagus. Ok, aku akan kembali ke hotelku. Ingat, jangan pernah satukan kami di hotel yang sama."


"Baik Pak."


-----------+++------------


Berita tentang pernikahan Abra dan Shasa yang diumumkan di media menjadi viral dan akhirnya sampai ke telinga ibu tiri Abra. Wanita itu sangat marah dan kesal hingga memarahi suaminya.


"Bu, pernikahan itu memang sesuatu yang harus diumumkan karena merupakan berita gembira yang semua orang harus tahu. Jadi wajar saja menurutku. Apalagi keduanya sudah mulai tenar. Mau tak mau publik akan mencium kebenarannya," sahut Erik membela Abra.


"Apa kamu berdua tidak punya perasaan? Kevin di sini sudah hampir seminggu tidak ada perubahan dan anak itu enak-enakan mengumumkan berita bahagia ini di media? Ke mana hati nuranimu? Kamu ini bapaknya Kevin, bukan cuma Abra, apa tidak ada rasa kasihan sedikit saja dalam hatimu, heh? Aku tak mengerti jalan pikiranmu, Yah!" Karen gemas dan memukul tepian tempat tidur Kevin karena geram.


"Aku mengerti perasaanmu, tapi bukankah Abra juga tidak melaksanakan pesta sebagai bentuk rasa hormatnya pada keadaan Kevin saat ini? Kalau ia berusaha mengerti kita, kita juga harus berusaha mengerti dia dong Bu, aku pikir Abra juga sudah banyak mengalah."


Karen tetap tidak terima. Ia pergi keluar karena protesnya tidak didengar. Erik hanya bisa mengelus dada. Sangat sulit berada di tengah keduanya, tapi ia selalu berusaha untuk adil walaupun istrinya tidak pernah merasa puas.


Pria paruh baya itu menatap Kevin. Kondisinya masih sama dan tak ada perubahan sejak kecelakaan itu. Ia tak tahu harus bagaimana melanjutkan perusahaan TV itu karena sekarang Abra juga tidak ada di tempat untuk mengurus perusahaan itu. Mau tak mau ia terjun langsung mengurus perusahaan itu sementara Diandra mengurus hotel. Untung saja anak gadisnya sudah bisa dilepas untuk mengurus hotel sendirian.


-----------+++-------------


"Kamu sebenarnya dikasih berapa, uang sama ibu?" Bima memperhatikan istrinya yang baru pulang belanja pakaian setelah mengantar orang tuanya ke stasiun kereta api. Istrinya sibuk mematut diri di depan suaminya, baju yang baru dibelinya.


"Ada deh ...," ucap gadis itu riang.


"Kalau punya duit, disimpan, jangan boros."


Gadis itu merengut. "Suka-suka aku dong!" Ia kesal suaminya tak memuji belanjaannya.


"Iya tapi kan kamu mau lahiran, harus berhemat. Kebutuhan bayi mungkin banyak."


Rika menautkan alisnya. Ia segera menghampiri suaminya dan mencubit paha.


"Aduhh!"


"Jahat, aku kan juga butuh baju. Bajuku semua mulai sempit, tau!" omel gadis itu.


Bima tak menggubrisnya. Ia malah terkejut karena kakinya kini merasakan sakit. "Eh, kakiku kok ...."


____________________________________________


Bagaimana dengan novel ini? Keren kayaknya .....

__ADS_1



__ADS_2