
Tubuh gadis itu bergetar. Abra baru menyadarinya kini. Ia telah membuat istrinya bingung dan ketakutan dalam waktu bersamaan. Tiada yang bisa dia lakukan saat itu selain menunggu taksi sampai ke hotel tempat mereka menginap.
Sopir taksi pun sempat memperhatikan dari cermin kecil di atasnya, Abra memeluk Shasa sedang gadis itu diam terpaku dengan mata masih berkaca-kaca. Sepertinya mereka habis bertengkar dan yang pria butuh pengampunan, pikir sopir itu.
Setelah sampai, buru-buru Abra membayar taksi dan menggandeng gadis itu ke dalam hotel. Shasa mengekor dengan menundukkan kepala karena tidak ingin ada orang yang tahu ia hampir menangis. Berapa kali ia berusaha melepaskan tangannya tapi pria itu menggenggamnya dengan erat.
Bahkan saat di lift, pria itu coba menggenggam kedua tangan istrinya sehingga pandangan mata mereka saling bertemu. Netra gadis itu mengharapkan Abra melepaskan dirinya karena saat itu ia ingin sendirian sedang kali ini pria itu bertahan untuk tidak membiarkannya pergi. Shasa hanya bisa menunduk, melihat suaminya begitu keras padanya saat ini.
Sebenarnya Abra sangat takut, istrinya pergi kali ini dan mungkin tak kembali. Memutuskan sesuatu yang brutal dan tanpa pikir panjang. Bukankah wanita sering begitu? Sifat gadis itu yang keras dan tidak bisa ditebak maunya membuat ia pusing memikirkan nasib pernikahan mereka. Padahal ia berharap mereka bisa berbicara baik-baik bukan malah salah satunya pergi dan menenangkan diri. Kebiasaan istrinya yang sering kabur dari masalah inilah yang menakutkannya, karena bisa saja ia membuat keputusan diluar dugaan yang mungkin akan mengancam kelangsungan pernikahan mereka.
Ketika lift terbuka, Abra bergegas membawa Shasa keluar. Keduanya yang diam tak bicara selama di dalam lift menyelamatkan keduanya karena tak ada yang curiga telah terjadi sesuatu di antara mereka.
Abra membawa Shasa ke kamarnya kemudian mengunci pintu. Saat itulah ia melepas istrinya.
"Aku ingin ke kamar!" Gadis itu berkeras.
Namun Abra menghalangi di depan pintu.
"Mas ...." Gadis itu mengiba dan matanya mulai berkaca-kaca lagi.
"Ka-kamu tidak lihat apa yang terjadi? Kamu tahu apa yang telah aku lakukan?" Abra sebenarnya hampir menangis. Ia tidak tahu bagaimana membuat gadis itu mengerti sementara ia masih terus dibayangi rasa bersalahnya telah membentak dengan kasar istrinya tadi. Itu semata-mata karena ia panik tak bisa menguasai keadaan sedang ia terjepit pada kenyataan harus menyembunyikan pernikahannya dengan gadis itu, sehingga ia sulit bergerak dan menuntaskan masalah-masalah yang timbul di sekeliling mereka gara-gara hal itu.
"Yang bikin masalah siapa, hah?" Air mata gadis itu mulai menetes. "Aku tidak boleh makan dengan pria lain sementara Mas sendiri asyik bercanda dengan penggemar Mas bahkan terlihat senang digoda oleh mereka. Menurut Mas apa aku tetap salah, begitu? Aku menikah bukan untuk sakit hati melihat Mas bersama wanita lain tapi untuk DIHARGAI! UNTUK BAHAGIA! Kalau aku tidak mendapatkan hal itu untuk apa kita menikah ...."
Abra terdiam dan menunduk.
Shasa kembali berusaha keluar tapi tetap dihalangi. "Mas!"
Pria itu tiba-tiba mulai merengkuh bahkan mencumbunya. "Sha, jangan tinggalkan aku," pintanya mengiba. Hanya itu satu-satunya cara yang terlintas di kepala untuk melunakkan hati istrinya.
Shasa mendorong tubuh pria itu dengan kasar karena kesal. "Jangan jadikan tidur dengan istri itu solusi. Mungkin orang lain bisa tapi aku tidak!" ucap gadis itu tegas.
Abra semakin kalut. Pikirannya buntu. Ketika Shasa mencoba kembali keluar kali ini pria itu jatuh bersimpuh di hadapan gadis itu. "Sha, jangan pergi. Tolong ... katakan padaku, apa yang harus aku lakukan."
Shasa menatap pria itu lekat memastikan apa yang baru saja didengarnya. "Apa kamu bisa mengumumkan pernikahan kita?"
"Sha," Pria itu mulai berdiri. "aku tak bisa melakukan itu. Kamu kan tau masalahnya apa." Ia masih mempertahankan prinsipnya.
Kini mata gadis itu berlinang kembali. Percuma bicara kalau pada akhirnya tak ada satu pun dari mereka yang mau mengalah. Ia sudah muak, ia tak mau mengalah lagi karena ia tidak salah. Ia harus mengambil keputusan pahit ini walau ia tak pernah menginginkannya.
Matanya kini nanar menatap suaminya. "Kalau begitu, kita bubarkan saja pernikahan ini. Toh, kamu tidak pernah ingin orang lain tahu kita pernah menikah. Iya kan?" Air matanya mengalir deras.
__ADS_1
Abra seperti di sambar petir mendengar keputusan istrinya. Dengan cepat ia kembali merengkuh istrinya. Gadis itu berusaha melepaskan diri tapi pria itu makin mengeratkan pelukan. "Itu tidak benar Sha, itu tidak benar. Aku sangat menyayangimu. Aku takkan melepaskanmu begitu saja. Kita pasti bisa melewati masalah ini bersama-sama Sha, percayalah padaku," ucapnya berusaha menenangkan istrinya. Padahal dadanya juga bergemuruh tapi ia berusaha hati-hati kini berbicara dengan Shasa. Istrinya yang gampang meledak-ledak saat sedang marah berusaha ia antisipasi dengan berusaha sabar mengatasinya. Selagi masih bersama, ia akan mengupayakan yang terbaik untuk mereka berdua.
Shasa meronta. Kepalanya sedang panas dan buntu bicara dengan suaminya. "Mas, lepaskan, lepaskan aku! Aku ingin sendiri sekarang, aku ingin menenangkan diriku!" Ia memukul dada bidang suaminya dengan sekuat tenaga tapi pelukan pria itu pada pinggang rampingnya benar-benar kokoh. Pria itu pun sepertinya bergeming menerima perlawanan istrinya.
"Sha, kita harus bicarakan ini sekarang, kita harus membicarakannya sampai tuntas. Kamu tidak bisa terus-terusan kabur karena ini tidak menyelesaikan masalah!" Abra tak kalah tegas. Sakit akibat pukulan istrinya tak diindahkannya karena pikirannya fokus dengan pernikahannya yang baru seumur jagung. Ia harus menemukan solusinya, segera.
Kali ini Shasa kooperatif mendengar perkataan suaminya. Gadis itu menghentikan perlawanan dan pria itu melepas pelukan.
"Yang aku lihat, kita sama-sama punya prinsip dan satu pun tak ada yang mau mengalah."
Abra terkejut dengan pemikiran cerdas istrinya. Gadis itu sudah merangkumnya dengan benar.
"Istri itu mengikuti kata imamnya. Kepala keluarga menyetir demi kebaikan bersama." Abra mengucapkannya dengan lirih.
"Kalau menyetir masuk ke kali, aku takkan ikut!" ucap gadis itu cepat.
"Aku berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk kita berdua, Sha."
"Teori dari idemu itu harus dibuktikan."
"Maksudnya?"
"Tapi aku menjaga perasaan orang tuaku, Sha."
"Menjaga perasaan atau kamu pengecut? Kamu sudah menjadi kepala keluarga sekarang. Kamulah yang menentukan hidup matinya pernikahan kita, bukan orang lain."
Kata-kata istrinya benar-benar menamparnya. Selain kata-kata kasar yang ditujukan padanya, istrinya benar. Lagi-lagi istrinya benar.
"Sha, kita sedang dalam masalah besar. Tadi aku telah memukul wajah Alfian dan itu akan—"
"Kamu masih memikirkan egomu?!!" potong Shasa kesal. Ia hampir tak percaya pria itu tak kunjung mengerti.
"Apa?"
"Tidak ada ujungnya kalau kita terus bertahan seperti ini," gumam gadis itu sambil berpikir.
"Sha, aku sudah mengusahakan yang terbaik."
"Belum!" teriak gadis itu gemas.
"Lalu aku harus bagaimana agar kamu mendengarkanku."
__ADS_1
Lagi-lagi egonya bicara. Ia tidak mendengarkanku. Ia sama sekali tidak mendengarkan istrinya. Shasa kembali berpikir keras. Satu-satunya cara memang Abra harus mengikutinya bukan dia yang mengikuti suaminya karena semua masalah sebenarnya timbul sejak suaminya itu mengikuti saran orang lain walaupun itu adalah ayahnya sendiri, tapi bagaimana caranya? Tiba-tiba terlintas sebuah penawaran yang telah diberikan suaminya dulu. "Kamu ingat ini?" Shasa menyodorkan sesuatu dengan menjepit di kedua jemarinya di depan wajah sang suami.
"Mmh?" Abra masih belum mengerti tapi perlahan ingatannya kembali. "Shasa, jangan bercanda. Kita sedang dalam masalah yang serius ini."
Shasa benar-benar kesal. Air matanya yang mulai mengering kini kembali mengalir. "Kamu pikir aku bercanda, hah? Aku serius Mas!"
"Shasa."
Namun terlambat. Abra tak mampu menahannya ketika gadis itu melempar tiket kasat matanya itu ke udara. "Aku hanya ingin kamu jadi pria yang jujur Mas, suami yang jujur untukku ... Kamu harus mengabulkannya kalau tidak Tuhan akan menghukummu!" Gadis itu telah menyebutkan permintaan dan mantranya sekaligus. Ia berderai air mata saat mengucapkan kalimat itu pada suaminya.
Abra menatap lekat kedua netra istrinya yang tengah nanar menatapnya. Ia akhirnya sadar sesuatu. Apa yang ia tengah pertahanankan ternyata telah membuat istrinya tidak bahagia.
Bagaimana pria itu bisa sadar akhirnya akan kesalahannya? Karena sebenarnya tiket itu dirancang untuk membuat Shasa bahagia dan kini ia tahu bahwa akibat perbuatannya, istrinya tidak bahagia. Bahwa selama ini sia-sia ia menyodorkan bahagia kalau ia tidak pernah bertanya. Bahagia adalah ketika ia mengerti keinginan orang yang ingin ia buat bahagia, bukan dengan malah membuat pagar dan memberi tahu apa yang disebut bahagia karena bahagia tiap orang itu berbeda. Ia tidak bisa membahagiakan orang lain bila tidak bisa memberikan apa yang sebenarnya diinginkan orang itu padanya.
Bahagia itu bukan hidup dalam persamaan tapi keberagaman. Membuat diri mendengarkan orang lain dan mencoba menghormatinya.
Abra perlahan mendekati istrinya itu dan memeluknya hangat. "Maafkan aku Sayang, maafkan aku." Ia mengecup pucuk kepala istrinya dengan lembut. "Aku akan mengumumkan pernikahan kita segera."
Saat itulah pecah tangis Shasa. Gadis itu merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya dan memeluknya erat. Tangis bahagia karena akhirnya suaminya mau mendengarkan permintaannya. Sesuatu yang hampir saja menghancurkan rumah tangganya yang belum lama ia jalani.
Dengan sabar pria itu menunggu hingga surut tangis istrinya seraya mengusap punggung dan kepala gadis itu. Ia juga ikut lega karena masalah mereka berdua kini menuai kata sepakat. Tinggal bagaimana mereka menyelesaikan segala sesuatu yang telah terjadi dan bersiap untuk yang terburuk bersama. Selama bersama istrinya ia merasa siap. Sebesar apapun badai yang akan menerpa.
Terdengar ketukan di pintu. Shasa segera menghapus air matanya dan menyelesaikan isak yang tersisa.
"Sebentar ya Sayang, aku lihat dulu siapa yang datang."
Shasa mengangguk seraya merapikan make up dengan mendekati cermin besar yang berada di salah satu sisi dinding kamar itu. Ia melakukannya dengan cepat.
"Oh, Mbak Sarah." Abra melihat Sarah dan ketiga orang anggota tim promosi berdiri di depan pintu.
"Maaf Pak Abra, tapi sebenarnya apa yang terjadi? Apa boleh kami tahu."
"Oh, silahkan masuk."
Keempat orang itu masuk dan terkejut melihat keberadaan Shasa di dalam kamar. Akhirnya Abra menceritakan semua.
____________________________________________
Ini ada novel remaja, kepoin yuk!
__ADS_1