Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Membuntuti


__ADS_3

Wajahnya terlihat ceria walaupun peluh membasahi kening dan rambutnya. Pria itu tetap saja berjalan sambil mengobrol dengan Shasa hingga tak sadar mereka sudah mengelilingi hutan kota itu sebanyak 3 kali.


"Kak, capek ah! Pegel!" Shasa membungkuk menyentuh lututnya.


"Masa gitu aja pegel sih, kan cuma jalan kaki aja gak pake olahraga."


"Tapi tetep aja capek Kak!" keluh Shasa yang mulai meluruskan tubuhnya.


"Mmh ... ketahuan nih gak suka olahraga ya?" Abra mencibir.


"Enggak ...."


"Mmh, pantesan badannya gak gede-gede."


"Ih, apaan sih." Shasa menepuk lengan pria itu. "Gak ada hubungannya!"


Abra tertawa. "Yah, gak mau olahraga ...."


"Emang kamu suka olahraga?"


"Suka."


"Nonton bola?"


"Itu sih bukan olahraga."


"Lantas?"


"Olahragaku tinju."


Shasa tertawa.


"Ih, beneran ini. Aku gak bohong."


Gadis itu tertegun. "Iya?"


"Iya."


"Memangnya udah pernah tanding?" tanya gadis itu lugu.


"Ini olahraga bukan buat tanding, tapi bisa juga kalau mau tanding."


"Oh." Shasa menatap wajah Abra lekat.


"Kenapa?"


"Kamu udah keringetan kayak gitu lho! Kan tadi baru habis mandi," sesal Shasa.


"Ini sehat, berkeringat." Abra hampir tertawa. Bajunya pun hampir basah karena keringat.


"Ih, nanti kan mandi lagi!"


"Oh, iya jelas dong! Sini aku peluk, biar kita sama-sama basah berdua," canda Abra mengangkat satu tangannya.


"Eh, gak mau!" Shasa menghindar dan menjerit. Ia berlari mendahului sedang Abra mengejar di belakang sambil tertawa.


Mereka sempat berkejar-kejaran sebentar sebelum akhirnya gadis itu kelelahan.


"Udah ah, gak mau," pinta Shasa saat akhirnya Abra menangkap lengannya.


"Yah, curang. Harusnya kamu kena hukuman."


"Udah ah Kak," rengek Shasa memohon.


Abra mulai tersenyum nakal tapi kemudian buyar ketika mendengar hpnya berbunyi. Ia mengangkatnya. "Kak, ada apa? ... Makan siang?" Ia menoleh pada Shasa. "Aku lagi di luar Kak, di taman kota ... Mau ke sini? Ok." Pria itu menutup teleponnya sambil termenung.


"Kak Kevin?"


"Iya." Abra menjawab dengan wajah serius.


"Kenapa?"


"Makan siang."


"Iya, aku dengar tapi kenapa Kakak kayak bingung."


"Mmh, gak papa. Yuk kita keluar aja sambil cari minum. Kak Kevin katanya mau jemput kita buat makan siang bersama."


"Oh, ok."


Sambil melangkah menyusuri taman, pikiran pria itu tak lepas dari kakaknya Kevin. Ada apa dengannya? Kenapa kakaknya itu belakangan seperti ingin berusaha dekat dengannya? Apa itu keinginannya sendiri atau permintaan ayah mereka? Apa karena ia sakit, tapi sejauh yang ia tahu Kevin tak pernah punya perhatian lebih seperti sekarang ini, mengajaknya bertemu dan mentraktir mereka makan. Bahkan sangat baik pada Shasa.


Shasa? Abra melirik gadis di sampingnya. Ia mengerut dahi. Ah, tidak mungkin. Dia kan sering bertemu artis dan banyak pegawainya yang cantik-cantik, termasuk sekretarisnya. Itupun banyak yang sering kena marah atau dipecat hanya karena sifatnya yang perfeksionis itu, jadi tidak mungkin dia tertarik pada Shasa karena dia jauh dari kriteria sempurna seperti yang diinginkan Kevin. Iya kan?

__ADS_1


Itu hanya tebakan luar biasa Abra sebab pada dasarnya cinta tak butuh logika.


-------+++--------


Aduh lama banget. Damar menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi mobil dan masih mengamati ke depan. Ia kemudian melihat seseorang yang ditunggunya keluar dari gedung. Bener kan, dia kerja juga hari Minggu. Bagus deh!


Seorang pria keluar dari gedung dan mendatangi mobilnya di pelataran parkir. Ia membuka pintu dan memasuki mobilnya.


Gila ya, tuh orang. Hari Minggu tapi masih pake jas. Gak bisa santai sedikit apa, pakai kaos kek. Formal banget. Damar bersiap-siap.


Ketika pria itu menjalankan mobilnya, Damar mengikutinya hingga sampai ke sebuah taman yang ramai di penuhi pengunjung. Apalagi hari Minggu di mana banyak penjual dadakan yang berjualan di sekitar area depan taman itu.


Pria itu menghentikan mobilnya dekat dengan taman yang satu lagi. Hutan kota. Di dekat pintu masuk, mobil itu menjemput dua orang yang sepertinya telah lama menanti.


"Oh, Kak."


Pintu kaca di depan mereka terbuka secara otomatis. "Masuk Bra." Terlihat Kevin dengan kaca mata hitamnya.


"Iya." Abra membukakan pintu belakang untuk Shasa lalu untuk dirinya sendiri. Keduanya masuk secara bersamaan.


"Udah lama nunggu," tanya Kevin. Ia membuka sedikit kaca mata hitamnya.


"Belum lama Kak."


"Ok." Kevin kemudian menjalankan mobilnya.


Oh, bener dia jemput Shasa, tapi siapa pria yang bersamanya itu? Aku belum pernah melihatnya. Namun kemudian Damar kembali mengikuti mobil Kevin.


"Eh ... mmh." Kevin melirik Abra. "Apa tidak sebaiknya kalian berganti pakaian dulu, sebab kita akan makan di restoran mewah."


Yang dilirik memang sedang memakai pakaian olahraga yang longgar dan karena udara yang mulai panas menyebabkan mereka berkeringat.


"Mmh." Abra hanya melirik sekilas.


"Aku harus terus terang bilang bahwa badanmu bau sekali Bra."


Shasa cekikikan di belakang.


"Ya, ya, tau," jawab Abra setengah kesal.


Kembali Kevin melirik ke cermin kecil di atasnya, gadis itu tersenyum simpul.


Kevin memarkirkan mobil di depan gedung apartemen Abra. Mereka bertiga turun dan masuk ke dalam gedung.


Menyusul mobil Damar. Ini apartemen adiknya kan ... tapi katanya adiknya perempuan? Yang mana yang bener sih? Apa ... Kevin itu berbohong? Jadi Shasa tinggal dengan pria? Damar masih mencoba mengerti apa yang dilihatnya. Ia menunggu.


Shasa pun juga berganti pakaian. Tak lama mereka kembali keluar. Mobil Kevin kembali bergerak keluar ke arah jalan raya.


Mobil Damar masih membuntuti mobil Kevin hingga ke sebuah Mall. Ia pun ikut turun untuk mengikuti mereka sampai ke sebuah restoran Italia yang mewah. Satu hal yang paling mengganggu pemandangan matanya adalah, Shasa yang terus berpegangan pada baju Abra.


Siapa sih, pria itu? Apa benar itu adik Kevin? Mmh, wajahnya lumayan sih, tapi kenapa Shasa malah kelihatan dekat dengannya? Ada hubungan dia dengan pria itu? Apa Bima mengetahuinya? Lho, kok aku jadi tambah bingung. Damar mendengus kesal.


Ia kemudian memutuskan untuk makan di restoran seberang tempat mereka makan. Ia kembali menunggu.


Terdengar dering telepon. Shasa hapal dengan dering teleponnya dan mengangkatnya. "Halo?" Gadis itu menjawab sekedarnya. Tak lama ia menyudahinya. "Kak Abra, syutingnya jadi besok. Skripnya sudah dirubah senyaman mungkin."


"Oh, ok."


Kevin melirik keduanya. "Jadi besok syuting?"


"Oh iya Kak, besok aku gak kerja. Aku syuting aja," pinta Abra sambil menyuap.


"Kamu gak perlu izin, kamu kan masih terhitung sakit."


Abra memberi senyum. Ia menoleh pada Shasa dan menggenggam tangan gadis itu yang ada di atas meja. "Kita have fun(seru-seruan) lagi ya Sayang ya?"


Shasa menampakkan senyum kecanggungan karena ada Kevin.


"Aku boleh ikut nonton?"


"Mmh, maaf Kak, artisnya gak profesional."


"Maksudnya?"


"Ya kita kan di sini ceritanya pasangan dan harus bisa memberikan emosi yang pas saat syuting nanti tapi kita kan artis abal-abal jadi harus berkonsentrasi penuh. Takutnya kedatangan Kakak malah mengganggu konsentrasi kita di sana nanti. Maaf ya Kak," terang Abra.


"Mmh." Kevin menyentuh dagunya. Melihat Shasa menjadi candu baginya. Rindu itu siksaan berat yang harus ia tanggung bila tak bertemu sehari dengan gadis itu. "Lama ya prosesnya?"


"Tidak tahu, tapi setahuku iklan itu tidak lama waktu putarnya. Biasanya sekitar 3 menit. Mungkin kurang, tapi tergantung pengambilan gambarnya. Kalau susah bisa lebih dari satu hari."


"Mmh ... Lokasinya di mana?" Pria itu menoleh pada Shasa.


"Ada di 2 tempat berbeda."

__ADS_1


"Ah ...."


"Sudah, jangan tonton kita syuting Kak. Nanti bisa 3 hari gak kelar-kelar," potong Abra sambil tertawa. "Apalagi Shasa. Dia bisa grogi." Ia makin terbahak.


Shasa mengerucutkan mulutnya.


"Maaf Sayang." Abra mengeratkan genggaman tangannya.


Kevin melihat keduanya. "Ya sudah," ucapnya pelan. Ia terlihat kecewa.


Abra menaikkan satu alisnya sedikit penasaran melihat reaksi Kevin. Apa Kak Kevin suka pada Shasa ... tapi rasanya tak mungkin. Kalau iya, dia pasti sudah berusaha merebutnya dariku atau setidaknya cerita. Ah iya ... dia pribadi yang tertutup kan, tapi ah ... masa iya? Aku kok gak yakin dengan hal itu.


Setelah makan siang, Kevin kembali mengantar keduanya ke apartemen mereka kemudian pulang.


Shasa kembali ke kamar. Belum lama ia beristirahat, terdengar notif masuk ke hpnya. Ia membukanya.


'Sha.'


Gadis itu mengerut kening pada nomor yang tidak dikenalnya. Ia mengetik. 'Kamu siapa?'


'Damar.'


Bukan main terkejutnya Shasa melihat hal ini. 'Dari mana Kakak tahu nomorku?'


'Papa. Kenapa? Kaget ya?'


Uh, mau apa sih nih orang?


'Sha, aku di bawah.'


Shasa membelalakkan matanya. Ia kembali mengetik. 'Tahu dari mana Kakak, alamatku?'


''Ada deh!'


Gadis itu mengerucutkan mulutnya.


'Aku mau ketemu kamu sekarang.'


Shasa menghentakkan tangannya di atas tempat tidur. "Iiih! Mau apa sih ... ah!" Ia segera membalasnya. 'Untuk apa?'


'Aku akan menunggu sampai kamu turun. Aku di lobi.'


Shasa terdiam. Sejenak ia mengerutkan dahi dan berpikir. 'Ok," jawabnya.


Ia menuruni tempat tidur dan mengambil tasnya. Ia keluar.


Di kursi sofa ada Abra yang sedang menonton TV. Ia menoleh pada Shasa yang sedang membawa tas. "Mau ke mana?"


"Eh, aku mau ke mini market. Kak Abra ada mau nitip?"


"Mau belanja buat isi lemari es ya? Mau aku temani?"


"Oh, eh, gak usah. Aku suka lama kalau belanja. Ada yang mau dibeliin, nanti aku beli aja," ucap Shasa gugup. Ia tidak ingin Abra ikut karena hanya akan menambah runyam suasana.


Untungnya Abra bukan tipe orang yang gampang curiga. "Gak usah. Nanti berat. Kasih tau aja kalau udah sampai sini, nanti aku bantuin ngangkatnya."


Shasa pamit. Ia langsung turun menggunakan lift. Segera setelah pintu terbuka, ia bisa melihat Damar duduk di sofa lobi gedung itu. Gadis itu datang menghampirinya. "Ada apa?"


Pria itu tertawa tanpa suara. "Hei ... kamu itu seperti buru-buru. Mau ke mana sih? Ayo, duduklah dulu kita ngobrol-ngobrol di sini dulu." Ia menepuk-nepuk dudukan sofa di sampingnya.


"Aku mau belanja."


Damar menatap gadis di hadapan dengan senyum miring dan menghela napas. Gadis itu pasti berusaha menghindarinya walaupun ia tahu Shasa membawa tas bersamanya. "Tidak bisakah kita ngobrol-ngobrol sebentar. Bukankah kamu tadi habis makan siang? Apa yang mesti di buru-buru."


Shasa menautkan alisnya. "Kamu tadi ngikutin aku ya?"


"Sha, jangan berpikiran buruk dulu, aku kan saudaramu."


Saudara? Saudara macam apa yang suka menyiksa saudaranya sendiri?


"Ayolah duduk di sampingku, jangan tegang begitu. Masa ngak ada waktu untuk saudara sendiri walau sebentar saja. Belanjamu kan bisa ditunda kan?"


Walaupun merengut gadis itu terpaksa duduk di samping pria itu, tapi ia segera membuka hpnya untuk memesan ojek online.


____________________________________________


Ada yang baru dari author ini. Cekidot!



Hasrat Terlarang Anak Tiri


Mikaila Anastasia harus menelan takdir buruk, karena dia harus berpisah dengan kekasih yang telah tujuh tahun di pacarinya, hubungan mereka bukan sekedar hubungan biasa, karena waktu yang cukup lama yang telah mereka habiskan bersama, mereka sudah sangat saling mencintai bahkan tidak segan melakukan hubungan layaknya suami istri, bahkan telah berjanji akan selalu setia sampai mati.

__ADS_1


Namun, ternyata takdir berkata lain, Mika harus menerima perjodohan dari ayahnya yang beliau wasiatkan sebelum beliau meninggal, dia harus menikah dengan pria yang umurnya terpaut cukup jauh darinya, tapi siapa sangka, ternyata pria tersebut adalah ayah dari mantan kekasihnya.


Mampukan Mika menahan hasratnya terhadap mantan kekasihnya yang kini telah menjadi anak tirinya? Dan bisakah Mika tetap setia terhadap suaminya yang telah mencintainya dengan tulus dan penuh dengan kesabaran, sementara dirinya juga harus tinggal serumah dengan mantan kekasihnya tersebut.


__ADS_2