Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Pernyataan Cinta


__ADS_3

Shasa dan Abra duduk berhadapan di sebuah meja kecil di belakang hotel. Letaknya berada di luar dengan matahari yang tak terlalu menyengat dan angin yang berhembus lembut membuat tempat itu cocok untuk tempat syuting siang itu. Beberapa kru masih merapikan peralatan syutingnya.


"Kak, kita harus bagaimana?" Wajah Shasa terlihat tegang.


"Tidak usah tegang Sha." Abra menggenggam tangannya yang berada di atas meja.


"Bagaimana tidak tegang, ini kan beda dari yang kemarin. Kemarin itu kan hanya foto saja Kak, jadi bisa dipilih fotonya tapi yang sekarang ini kita di video, harus bagus terus saat direkam. itu kan susah."


Abra hanya tersenyum di kulum mendengar komentar gadis itu. "Belum dicoba kok bilang susah."


"Udah bisa ngebayangin!" jawab gadis itu seperti panik.


"Jangan ngebayangin kalo gitu."


Shasa mengerucutkan mulutnya.


Sutradara mendatangi mereka. "Ini adegannya hanya ngobrol berdua saja ya? Suara tidak dibutuhkan hanya saat bicara usahakan banyak tersenyum dan memperlihatkan gigi kalian karena ini iklan pasta gigi. Mengerti kan?"


Abra melirik Shasa yang masih terlihat bingung. "Iya Pak."


Sutradara itu kemudian pergi. Kamera mulai disiapkan.


"Kak?" Shasa terlihat semakin panik.


"Tenang saja Sha, kan ada aku."


"Ih, Kakak becanda. Serius ini."


"Aku dua rius." Abra dengan tenang memberinya senyum.


"Action!(Mulai!)" teriak Sutradara.


Wajah Shasa langsung tegang apalagi kamera yang menyorotnya cukup dekat.


"Sha, lihat aku jangan lihat kamera," bujuk Abra lembut.


"Apa?"


Abra menahan tawa melihat wajah polos gadis itu yang terlihat tegang. Gemas, membuat Abra ingin mencubit pipinya. "Sha."


"Mmh?"


"Senyum biar terlihat deretan giginya."


Shasa mencoba tersenyum, tapi karena tegang senyumnya terlihat aneh karena berusaha memperlihatkan giginya.


"Sha." Abra tersenyum lebar. Kenapa dia lucu sekali sih ....


"Cut!(Berhenti!)"


Shasa langsung menautkan alisnya dengan raut gelisah.


Apalagi Sutradara itu datang lagi. "Mbak Shanum coba tolong lebih santai, relaks. Ngobrol seperti biasa dan jangan melihat ke kamera."


"Eh, sebentar Pak," potong Abra.


"Ya?"


"Biar saya saja yang bicara dengannya," Abra menunjuk Shasa.


"Oh, silahkan." Pria itu kemudian kembali ke tempat semula.


"Sha, mereka akan merekam kegiatan kita yang sedang mengobrol sedang kita diharuskan mengobrol berdua sambil memperlihatkan gigi. Biasanya kalau yang seperti itu tandanya kita menikmati obrolan kita berdua. Bila nanti ada yang tertawa saat bicara, itu malah memberi nilai plus pada rekaman ini."


"Bagaimana caranya?"


"Kita ngobrol yang menyenangkan dan abaikan kamera dan orang-orang di sekitar kita."


Shasa masih menautkan alisnya dan mengerucutkan mulutnya.


Tiba-tiba terlintas ide di kepala Abra. Ia menoleh pada sang Sutradara. "Ok Pak!" teriaknya.


"Eh, Kak. Belum!" bisik Shasa panik sambil menyentuh tangan pria itu.


"Action!" teriak Sutradara itu.


"Gak usah panik. Kemarin kamu mengkhayal bisa."


"I-itu hanya kebetulan saja bisa," jawab gadis itu dengan gugup.


"Pasti tukang berkhayal."


"Ih, enggak," bantah Shasa.

__ADS_1


"Dulu kamu kecil bagaimana?"


"Apa?"


"Berkhayal. Pasti pernah berkhayal jadi putri kan?"


"Eh, itu kan semua anak perempuan pernah berkhayal seperti itu."


"Terus bertemu pangeran."


Shasa terlihat malu-malu mengingat masa kecilnya itu. Ingin jadi putri yang cantik, dan walaupun menemui tantangan di hidupnya ia akan bertemu dengan pangeran tampan yang akan membantunya dan menikah dengannya.


Tiba-tiba Abra mendekat wajahnya pada gadis itu. "Lalu kamu mengharapkan pangeran itu menciummu," ujarnya lagi sambil senyum di kulum.


Shasa terkejut. "Ih, enggak, enggak!" Wajahnya memerah malu. Seketika ia sadar kamera tapi Abra cepat tanggap dengan percakapan yang berikutnya.


"Bagaimana dengan balon?"


"Balon?"


"Oh, atau boneka. Kamu punya banyak boneka?"


"Oh, itu waktu aku kecil. Sekarang tidak," jawab Shasa sambil tersipu-sipu.


"Ada boneka yang berkesan?"


"Oh, ada. Boneka yang bisa ngomong. Itu di beli ibu di Jepang," ucap gadis itu berseri-seri.


Di Jepang? Jadi dia anak orang kaya? Abra merasa iba dengan keadaannya kini yang berbanding terbalik dengan kisahnya dulu.


"Cut!" teriak sang Sutradara lagi.


Kini wajah gadis itu kembali tegang.


Sutradara itu mendatangi mereka. "Good.(Bagus) Hari ini pengambilan gambarnya sangat bagus. Mbak Shasa beberapa kali tersipu-sipu dan itu sangat pas dengan tema jadi kita ambil adegan yang berikutnya ya? Kalian bisa istirahat dulu untuk konsentrasi." Kemudian pria itu pergi.


Shasa hampir tak percaya dengan pendengarannya. "Tadi itu lolos?" tanyanya lugu pada Abra. "Ki-kita kan hanya ngobrol biasa?"


Abra tersenyum dan mengangkat bahu. "Aghh ...." Ia menahan nyeri di bahu. Ia lupa hingga tak sadar mengangkat bahu.


"Kak, Kakak nggak papa?" Gadis itu terlihat cemas.


"Iya, em." Pria itu coba merasa-rasa. Nyeri perlahan hilang.


"Tapi sebentar lagi take(pengambilan gambar) yang berikutnya, gimana?"


"Kakak seharusnya banyak istirahat, tapi keras kepala sih, gak mau denger," omel gadis itu. Ia sudah tak tahan melihat pria itu sakit akibat ulah sendiri.


"Tinggal sedikit lagi Shasa, tanggung."


Shasa menggulung bibir bawahnya. "Kalau gak sanggup bagaimana?"


"Sanggup kok, sanggup. Ya udah kita istirahat di dalam deh."


Abra akhirnya mengikuti saran Shasa duduk di sofa yang berada di lobi hotel.


"Sebentar lagi jam makan Kak, apa kak Abra mau makan siang?"


"Biasanya dari pihak produksi kita dapat jatah makan tapi mungkin tidak boleh dibawa ke dalam hotel karena makanan dari luar. Sebaiknya kita beli saja makanan hotel agar tidak bermasalah dengan pihak hotel," saran Abra yang sudah bersandar di sofa empuk milik hotel itu. "Beli saja di restorannya."


"Kakak mau makan apa?"


"Bawa saja menu dari restoran, pasti boleh. Mereka juga pasti mau mengantar ke sini."


Shasa lalu pergi dengan meninggalkan hpnya di atas meja di hadapan Abra. Tiba-tiba terdengar suara notif pesan yang membuat Abra melirik HP gadis itu. Ia melihat Shasa sudah menjauh dan ia penasaran dengan siapa yang mengirim notif. Mungkin orang kantor Shasa, pikirnya.


Ia terkejut melihat nomor tanpa nama dan HP Shasa juga tidak terkunci. Ia membukanya.


'Sha, nanti malam ketemuan yuk?'


Abra mengerut kening. Ini siapa? Kenapa Shasa tidak menulis namanya? Pria itu kemudian melihat percakapan sebelumnya dan menemukan fakta yang mengejutkan. Damar? Di mana aku pernah dengar nama itu? Ah, dia saudara Rika kalau tidak salah. Eh ... Shasa bertemu dengannya kemarin? Ini kan waktu dia bilang mau belanja ke supermarket. Mereka bertemu di lobi? Jadi pria itu, bagaimana cara dia menemukan Shasa?


Abra mengangkat kepalanya. Dilihatnya Shasa sudah keluar dari restoran. Buru-buru ia menghapus pesan terakhir Damar dan menutup telepon. Ia menunggu Shasa datang.


"Ini Kak, nanti dianterin katanya." Shasa membawakan menu dari restoran.


Sambil melihat-lihat sesekali Abra melirik Shasa. Kasihan, mereka masih mengejar Shasa hingga keluar rumah. Bagaimana caranya aku melindunginya?


-----------+++-----------


Rika dan Mama keluar dari gedung itu. Di depan gedung itu mereka melihat keramaian. Mama menyentuh bahu Rika. "Sebentar lagi kamu adalah bagian dari mereka. Kamu akan jadi mahasiswa."


"Tapi harus kerja keras Ma karena Rika udah telat seminggu gak kuliah."

__ADS_1


"Gak papa telat, baru juga seminggu. Kan kamu gak ikut orientasi kampus kan? Mungkin juga baru masuk, kelasnya. Ayo, kita pulang."


Rika berjalan bersama Mama ke arah mobil yang dikendarai Mama sampai ke kampus itu. Mama terlihat senang.


------------+++----------


Buket bunga masih bergantung di tangan kanan Abra dan ia masih mendengarkan intruksi dari Sutradara. Shasa pun yang kembali duduk di kursi tempat ia tadi syuting mendengarkannya dengan seksama.


"Jadi ini yang akan disorot adalah wajah Mbak Shanum. Perlihatkan bagaimana ekspresi seorang gadis saat mendengar ada seorang pria yang sedang menyatakan cintanya."


"Seperti apa?" tanya Shasa bingung.


"Setiap orang beda cara mengekspresikannya tapi saat orang melihatnya mereka tahu Mbak terkejut dan senang atau bingung terserah bagaimana mengekspresikannya."


Shasa kembali cemas. Bukan apa-apa, dia hanya artis dadakan, semua serba baru baginya. Ia sama sekali tidak mengerti bagaimana memberi ekspresi wajah karena jelas ini bukan bidangnya.


Ia melirik Abra, tapi kali ini pria itu hanya diam tak bicara. Tidak seperti biasanya, yang punya banyak ide brilian dan menenangkannya.


"Mengerti ya?"


"Eh?"


Sutradara itu meninggalkan mereka.


"Bagaimana Kak?"


"Eh?" Abra terlihat ragu-ragu.


"Kakak kenapa?" Shasa balik bingung melihat tingkah Abra.


"Eh, tidak."


"Action!" teriak sang Sutradara.


"Kak!" Shasa mulai panik.


Abra melangkah mendekat. "Ini bunga untukmu." Pria itu menyodori Shasa buket bunga. Gadis itu menerimanya dengan wajah tegang karena menyadari kamera menyorot wajahnya dari beberapa arah.


"Cut!" teriak Sutradara. "Aduhh ... ekspresinya kurang Mbak. Ayo coba lagi."


Adegan itu terpaksa terulang untuk beberapa kali.


"Ekspresi Mbak, ekspresi. Bisa gak Mbak?" tanya Sutradara itu dengan kesal sambil mengangkat tangannya mengarahkan, tapi Shasa tak memperdulikannya. Gadis itu terpaku pada sikap Abra yang berubah dingin. Pria itu tiba-tiba seperti berhenti berusaha menolongnya.


"Kak!" bisik gadis itu sedikit kencang.


Abra seperti sedang tidak berada di sana. Benar. Dia sedang berada di sebuah tempat di dalam angannya. Ia sedang di ujung resah. Shasa, apa aku nyatakan saja cintaku padamu?


"Ok ya?" untuk kesekian kalinya Sutradara itu dengan sabar menerangkan pada Shasa dan gadis itu hanya diam. Ia memperhatikan ucapan sutradara itu tapi juga melirik ke arah Abra. Ada sesuatu yang terjadi dengan pria itu yang telah berubah tapi ia tidak tahu apa.


"Action!"


Aku nekat saja. Bismillah hirohmanirohim. Abra melangkah dengan mantap. Ia menyodorkan bunga itu pada Shasa. "Shasa, I love you.(aku mencintaimu)"


"Apa?" gadis itu terkejut dan menerima bunga itu dalam kebingungan. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang.


Seketika Abra berubah ragu. "Anggap saja ini dari pacarmu."


Shasa makin bingung. Ia tak tahu harus menerima bunga itu dengan perasaan yang bagaimana. Ia memperhatikan bunga yang kini berada dalam genggamannya.


"A-aku sudah lama mencintaimu. Pada pandang pertama di pesta itu," kembali keberanian pria itu muncul kembali.


Shasa menoleh dan kembali terkejut. Ini beneran atau ....


"Pertama kali saat kau menabrakku. Aku tidak bisa lupa itu. Kau sudah mencuri hatiku."


Apa? Tabrakan di pesta? Shasa mencoba mengingat-ingat. Apa yang waktu kutabrak sambil berlari itu ya? Itu dia? Ah, jadi ....


"Cut!" Sutradara itu datang kembali. "Aduhh, emosinya jangan naik turun. Ini sudah mulai bagus. Pertahankan agar lebih stabil ok?"


Perasaan keduanya berkecamuk tak menentu. Abra sedang tanggung menyelesaikan kalimatnya hendak ke arah mana dan Shasa sedang menebak-nebak kebenaran kalimat pria itu barusan. Sebenarnya, mereka harus bagaimana?


____________________________________________


Bagaimana dengan cerita tentang TKI ini?



Blurb:


Liontin adalah Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di Taiwan untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Saat mendapatkan cuti pertamanya, Liontin pulang ke Indonesia untuk menerima pinangan dari kekasihnya, Rangga.


Dua minggu menikah, Liontin harus kembali ke Taiwan karena permintaan David (sang majikan). Mau tidak mau dia harus menjalani LDR dengan sang suami. Di tahun pertama pernikahan, semua baik-baik saja. Namun, suatu hari dia mendapati kenyataan pahit bahwa Rangga sudah menikah lagi dengan perempuan lain. Tak lama setelahnya ia diperkosa oleh David.

__ADS_1


Bagaimanakah Liontin melanjutkan kehidupan ketika berada di titik terendahnya? Mampukah dia melalui semua cobaan?


__ADS_2